refleksi kasus lupus nefritis

Download Refleksi Kasus Lupus Nefritis

Post on 03-Sep-2015

25 views

Category:

Documents

14 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

nefrologi

TRANSCRIPT

Bagian Ilmu Kesehatan AnakRefleksi Kasus Neurologis

Fakultas Kedokteran

Universitas Mulawarman

LUPUS NEFRITIS

Disusun oleh:

Ria Afriyanti

Pembimbing:

dr. Sherly Yuniarchan, Sp. A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

JULI 2015

Refleksi Kasus

Lupus Nefritis

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian stase Anak

RIA AFRIYANTI

Menyetujui,

dr. Sherly Yuniarchan, Sp. A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

JULI 2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, hidayat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan yang berjudul LUPUS NEFRITIS.

Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan tutorial kasus ini tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si selaku Rektor Universitas Mulawarman

2. Bapak dr. H. Emil Bachtiar Moerad, Sp.P, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.

3. dr. Sukartini, Sp. A selaku Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman selaku Ketua Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unmul serta

4. dr. Sherly Yuniarchan, Sp. A., selaku dosen Pembimbing yang dengan sabar memberikan arahan, motivasi, saran dan solusi yang sangat berharga dalam penyusunan laporan kasus ini dan juga yang selalu bersedia meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, saran, dan solusi selama penulis menjalani co.assisten di lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak.Seluruh pengajar yang telah mengajarkan ilmunya kepada penulis hingga pendidikan saat ini.

5. Dosen-dosen klinik dan preklinik FK UNMUL khususnya staf pengajar Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak, terima kasih atas ilmu yang telah diajarkan kepada kami..

6. Rekan-rekan dokter muda di Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD AWS/FK UNMUL dan semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Akhir kata, Tiada gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis membuka diri untuk berbagai saran dan kritik yang membangun guna memperbaiki laporan tutorial kasus ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semuanya.

Samarinda, 4 Juli 2015

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

Nefritis lupus, salah satu dari manifestasi paling serius dari lupus erimatosus sistemik (SLE). Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus, atau SLE) adalah penyakit autoimun sistemik idiopatik yang berbeda dari penyakit autoimun lainnya dalam hal keberagaman manifestasi klinis, perbedaan perjalanan penyakit, dan dasar anomali imunologisnya. SLE dapat melibatkan seluruh sistem organ. Biasanya pada nefritis lupus muncul dalam 5 tahun setelah diagnosis. Nefritis lupus tampak jelas secara histologis pada kebanyakan pasien dengan lupus erimatosus sistemik, bahkan mereka yang tidak menunjukkan manifestasi klinis penyakit ginjal.6

Secara histologis, ginjal terpengaruh sampai derajat tertentu pada pasien lupus erimatosus sistemik (SLE). Perkiraan prevalensi keterlibatan ginjal secara klinis pada pasien lupus erimatosus sistemik (SLE) berkisar antara 30-90% pada studi-studi yang sudah dipublikasikan. Prevalensi sesungguhnya dari nefritis lupus klinis pada pasien lupus erimatosus sistemik (SLE) kemungkinan sekitar 50%, lebih sering pada anak-anak dan etnis tertentu. Lupus erimatosus sistemik (SLE) lebih sering pada orang kulit hitam dan ras hispanik. Nefritis lupus yang berat terutama lebih sering ditemukan pada orang kulit hitam dan ras Asia dibandingkan ras lain. Karena prevalensi lupus erimatosus sitemik lebih tinggi pada wanita ( rasio wanita : pria= 9:1 ), nefritis lupus juga lebih sering dijumpai pada wanita. Kebanyakan pasien dengan lupus erimatosus sistemik (SLE) terkena nefritis lupus pada awal perjalanan penyakitnya. Lupus erimatosus sistemik lebih sering terjadi pada wanita di dekade tiga kehidupannya, dan nefritis lupus juga sering terjadi pada pasien usia 20-40 tahun.7

Selama 4 dekade terakhir, perubahan dari manamejen nefritis lupus telah meningkatkan kemungkinan hidup pasien, saat ini rata-rata 10 year survival rate dari lupus erimatosus sistemik (SLE) telah melebihi 90%, sebelum tahun 1995,5-year survival rate kurang dari 50%, penurunan mortalitas terkait SLE dapat merupakan kontribusi diagnosis lebih awal, perbaikan pengobatan spesifik dan kemajuan ilmu kedokteran secara umum.7

Morbiditas dari nefritis lupus terkait dengan penyakit ginjalnya sendiri, selain komplikasi pengobatan dan komorbiditas seperti penyakit kardiovaskular dan trombosis. Gagal ginjal progresif dapat berakhir pada anemia, uremia dan gangguan asam basa serta elektrolit. Komplikasi infeksi yang terkait SLE aktif dan pengobatan imunosupresi saat ini merupakan penyebab utama kematian pada SLE fase awal yang aktif, dan arteriosklerosis dini adalah penyebab kunci mortalitas pada fase lanjut. Framingham Offspring Study menunjukkan bahwa wanita usia 35-44 tahun dengan LES adalah 50 kali lebih mudah mengalami iskemia miokardial dibandingkan wanita sehat. Penyebab PJK dini pada pasien LES bersifat multifaktorial, termasuk disfungsi endotel, mediator inflamasi, atherogenesis yang diinduksi kortikosteroid dan dislipidemia yang terkait dengan penyakit ginjal.2

Perbedaan presentasi klinis dan histologis serta kendali komplikasi pengobatan yang kompleks dari pasien LES menuntut adanya suatu pendekatan individualisasi terapi yang tepat. Saat ini pun, sedang berlangsung banyak penelitian pada obat-obatan yang mungkin dapat menjadi harapan baru bagi penderita LES seperti mycophenolate dan rituximab. Pe ndekatan diagnosis dan kemungkinan terapi dari pasien dengan manifestasi renal dari lupus eritematosus sistemik, yang dicurigai suatu nefritis lupus.9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Nefritis lupus adalah komplikasi ginjal pada lupus erimatosus sitemik (SLE). Lupus erimatosus sistemik (SLE) adalah penyakit reumatik autoimun yang ditandai adanya inflamasi tersebar luas yang mempengaruhi setiap organ atau sistem dalam tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan deposisi autoantibodi dan kompleks imun sehingga mengakibatkan kerusakan jaringan. Diagnosis nefritis lupus ini ditegakkan bila pada lupus erimatosus sistemik (SLE) terdapat tanda-tanda proteuniria dalam jumlah lebih atau sama dengan 1gram/24jam atau dengan hematuria (>8 eritrosit/LPB) atau dengan penurunan fungsi ginjal sampai 30%.10

Nefritis lupus merupakan suatu proses inflamasi ginjal yang disebabkan oleh sistemik lupus erimatosus, yaitu suatu penyakit autoimun, selain ginjal, SLE juga dapat merusak kulit, sendi, system saraf dan hampir semua organ dalam tubuh.12

Gambar 1: Proses terjadinya Nefritis Lupus.

B. EPIDEMIOLOGI

Di Amerika, prevalensi lupus erimatosus sistemik adalah 1 kasus per 2000 penduduk pada populasi umum. Karena kesulitan diagnosis dan kemungkinan banyak kasus tidak terdeteksi, sebagian besar peneliti menyarankan bahwa prevalensi mungkin lebih dekat ke 1 kasus per 500-1000 populasi. Data prevalensi lupus erimatosus sitemik di indonesia sampai saat ini belum ada, jumlah penderita lupus erimatosus di indonesia menurut yayasan lupus indonesia sampai dengan tahun 2005 diperkirakan mencapai 5000 orang.8 Keterlibatan ginjal lupus erimatosus sistemik merupakan manifestasi penyakit yang umum di jumpai dan merupakan prediktor kuat luaran yang buruk. Prevalensi penyakit ginjal pada studi kohort besar yang terdiri atas 2649 pasien lupus erimatosus sitemik bervariasi antara 31-65%. Di dapatkan insidensi penyakit ginjal akut sebesar 10%, bedasarkan data dari Asia, keterlibatan renal berkisar antara 6-100% secara keseluruhan.13

Perkiraan prevalensi keterlibatan ginjal secara klinis pada pasien Sle berkisar antara 30-90% pada studi-studi yang sudah di pulikasikan. Prevalensi sesungguhnya dari nefritis lupus klinis pada pasien SLE kemungkinan sekitar 50%. SLE lebih sering ditemukan pada orang yang berkulit hitam dan ras Asia dibandingkan denganras lain, karena prevalensi SLE lebih tinggi pada wanita (rasio wanita:pria=9:1) nefritis lupus juga sering dijumpai pada wanita. Kebanyakan pasien dengan lupus erimatosus sistemik (SLE) terkena nefritis lupus pada awal perjalanan penyakitnya. Lupus erimatosus sistemik lebih sering terjadi pada wanita di dekade tiga kehidupannya, dan nefritis lupus juga sering terjadi pada pasien usia 20-40 tahun. Anak dengan SLE memiliki risiko penyakit ginjal lebih tinggi daripada dewasa dan lebihsering mengalami cedera akibat penyakit agresif dan toksisitas akibat pengobatan.

Selama 4 dekade terakhir, perubahan dari manamejen nefritis lupus telah meningkatkan kemungkinan hidup pasien, saat ini rata-rata 10 year survival rate dari lupus erimatosus sistemik (SLE) telah melebihi 90%, sebelum tahun 1995,5-year survival rate kurang dari 50%. Penurunan mortalitas terkait SLE dapat merupakan kontribusi diagnosis lebih awal (termasuk kasus ringan), perbaikan pengobatan spesifik dan kemajuan ilmu kedokteran secara umum.11

Morbiditas dari nefritis lupus terkait dengan penyakit ginjalnya sendiri, selain komplikasi pengobatan dan komorbiditas seperti penyakit kardiovaskular dan trombosis. Gagal ginjal progresif dapat berakhir pada anemia, uremia dan gangguan asam basa serta elektrolit. Hipertensi akan semakin meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Sindroma nefrotik dapat menimbulkan edema, asites dan hiperlipidemia. Komplikasi infeksi yang terkait SLE aktif dan pengobatan imunosupr