Lapsus Saraf Mielitis Transversa

Download Lapsus Saraf Mielitis Transversa

Post on 03-Jan-2016

112 views

Category:

Documents

15 download

DESCRIPTION

laporan kasus saraf mielitis transversa RSUD ulin banjarmasinFK UNLAM banjarmasin

TRANSCRIPT

STATUS PENDERITAIDENTITASNama:Ny. L Jenis Kelamin: PerempuanUmur: 26 tahunBangsa: IndonesiaSuku: BanjarAgama: IslamPekerjaan: SwastaStatus: Sudah MenikahAlamat: Sei Andai Blok K No.14MRS: 18 Juni 2012No RMK: 99-74-65ANAMNESISKeluhan Utama : Kelemahan kedua tungkaiKeluhan yang berhubungan dengan keluhan utama : Tidak bisa BAK dan BABPerjalanan Penyakit : Os mengalami kelemahan kedua tungkai sejak pukul 14.00 tanggal 18 Juni 2012. Os tidak merasa dan tidak bisa menggerakkkan badan sampai ujung kaki. Os merasakan nyeri di daerah pundak dan menjalar sampai lengan atas. Kurang lebih 1 bulan yang lalu os mengeluh nyeri dada serta rasa raba perlahan-lahan hilang. Pasien ada riwayat pekerjaan mengangkat berat 3 bulan yang lalu. Pasien tidak ada buang air kecil dan buang air besar sejak tadi subuh. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak ada riwayat diabetes mellitus dan tidak ada hipertensi. Pasien tidak memiliki riwayat asma. Intoksikasi : Tidak ditemukan riwayat keracunan obat, zat kimia, makanan dan minuman.Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak terdapat riwayat diabetes mellitus dan hipertensi pada keluarga.STATUS INTERNA SINGKATTanda Vital :Tekanan Darah:110/60 mmHgNadi:24 kali/menitRespirasi:84 kali/menitsSuhu Badan:36,8oCGizi: BaikKepala/leher:Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), JVP meningkat (-), KGB tidak membesarThorakParu-paru:Suara nafas vesikuler,ronkhi (-/-), wheezing (-/-)Jantung:SI dan SII tunggal, bising jantung tidak adaAbdomen:BU (+) N, Hepar/lien tidak teraba. Ekstremitas:atrofi (-), edema (-), akral hangatSTATUS PSIKIATRI SINGKATEmosi dan afek:BaikProses berfikir:BaikKecerdasan:Sesuai dengan pendidikanPenyerapan:BaikKemauan:BaikPsikomotor:BaikSTATUS NEUROLOGISKESAN UMUMKesadaran:Kompos Mentis,GCS 4-5-6Pembicara:Disarti (-)Afasia:Motorik (-)Monoton (-)Sensorik (-)Scanning (-) Amnestik (Anomik) (-)Kepala:besar normalMuka:Mask (-)Asimetri (-)Myopathik (-)Sikap Paksa (-)Fullmoon (-)Tortikolis (-)lain-lain : tidak adaPEMERIKSAAN KHUSUSRangsangan Selaput OtakKaku kuduk (-) Laseque (-)Kernig (-) Brudzinski I dan II (-) / (-)Saraf OtakN. OlfaktoriusHyposmia :(-)Parosmia: (-)Halusinasi : (-)N. OpticusVisus:(+)Yojana Penglihatan:(-)Melihat Warna:(+)Funduscopi: tdk dilakukanN. III, IV, VIKedudukan bola mata:Tengah/TengahPergerakan bola mata:Nasal:(+)Temporal:(+)Atas:(+)Temporal Bawah:(+)Ptosis Celah Mata:(-) / (-)Exoptalmus:(-) / (-)PUPILBentuk:bulatLebar:3 mm/ 3 mmPerbedaan lebar:isokorRekasi cahaya langsung:N/NReaksi cahaya konsensuil:N/NReaksi akomodasi:(+)Reaksi konvergensi:(+)N. TrigeminusCabang MotorikOtot maseter:NOtot temporal:NOtot pterygoideus:NCabang SensorikOftalmikus:NMaksilaris:NMandibularis: NRefleks Kornea langsung:+/+Reflleks kornea konsensuil:+/+N. FasialisWaktu diamKerutan dahi:NormalTinggi alis:NormalSudut mata:Normal Lipatan nasolabial:NormalWaktu gerakMengerutkan dahi:NMenutup mata:NBersiul: NMemperlihatkan gigi:NPengecapan 2/3 depan lidah:tdlHiperakusis:(-) / (-)Sekresi air mata:N/NN. VestibulocochlearisVestibularVertigo:(-)Nistagmus:(-)Tinitus Aureum:(-)Tes kalori:(-)CochlearisRinne:tdlWeber:tdlSchwabah:tdlTuli Konduktif:tdlTuli perseptif:tdlN. Glossopharingeus dan N. VagusBagian MotorikSuara:NMenelan:NKedudukan arcus pharinx:N/NKedudukan uvula:sentralPergerakan arcus pharinx/ : NUvula:NDetak jantung: NBising Usus:NBagian SensorikPengecapan 1/3 belakang lidah:tdlReflek muntah:NReflek palatum Mole:NN. AccessoriusMengangkat bahu:NMemalingkan wajah:NN. HypoglossusKedudukan lidah waktu istirahat:NKedudukan lidah waktu bergerak:NAtrofi:(-) / (-)Fascikulasi / Tremor:(-) / (-)Kekeuatan lidah menekan pipi:NSISTEM MOTORIKKekuatan OtotTubuhOtot perut:NOtot pinggang: NKedudukan diafragma:NLenganM. Deltoid:NM.Biseps:NM. Triseps:NFlexi sendi pergelangan tangan:NEkstensi pergelangan tangan:NMembuka jari-jari tangan:NMenutup jari-jari tangan:NTungkaiFlexi art. Coxae:Menurun/MenurunExtensi art. Coxae:Menurun/MenurunFlexi sendi lutut:Menurun/MenurunExtensi sendi lutut:Menurun/MenurunFlexi plantar kaki:Menurun/MenurunExtensi dorsal kaki:Menurun/MenurunGerakan jari-jari:Menurun/MenurunBesar ototAtrofi:(-)Pseudohipertrofi:(-)Respon terhadap perkusiMyotonik:(-)Palpasi ototNyeri:sdeKontraktur:(-)Konsistensi:NTonus ototlengantungkaiHipotoni(-) / (-)(+) / (+)Spastik(-) / (-)(-) / (-)Rigid(-) / (-)(-) / (-)Rebound phenomen(-) / (-)(-) / (-)Gerakan involunterTremorWaktu istirahat: (-) / (-)Waktu diam:(-) / (-)Chorea:(-) / (-)Athetose:(-) / (-)Myokloni:(-) / (-)Torsion spasme:(-) / (-)Fasikulasi:(-) / (-)KoordinasiJari tangan jari tangan:NJari tangan hidung:NIbu jari kaki jari tangan:tdlTumit Lutut:tdlPronasi supinasi:NTapping dengan jari-jari tangan : tdlTapping dengan jari-jari kaki : tdlGait: tdlStationRomberg test:tdlSISTEM SENSORIKRasa eksteroseptiklengan tungkaitubuhNyeri superfisialNNSuhuNNRaba ringanNNRasa propioseptikRasa getartdltdltdlRasa tekanNNNyeri tekanNNrasa gerak/posisiNNRasa enteroseptikReffered pain:NRasa kombinasiSterognosis: tdlBarognosis:tdlGraphestesi:tdlTwo popint tactil discrimination:tdlSensory exctintion:tdlLoss of body image:tdlFungsi luhurApraxia:(-)Alexia:(-)Agraphia:(-)Fingeroesthesia:(-)Membedakan kanan dan kiri:(-)Acalculia:(-)Refleks-refleksRefleks kulitRefleks dinding perut: ( / ( ( / ( ( / (Refleks cremaster:tdlRefleks intescapularis:tdlRefleks gluteal:tdlRefleks anal: tdlRefleks tendonRefleks biseps:N/ NRefleks triceps: N/ NRefleks patella:N/ NRefleks Achiles:N/ NRefleks patologisTungkaiRefleks babinsky: (-) / (-)Refleks Chaddock: (-) / (-)Refleks Rossolimo:(-) / (-)Refleks Gordon:(-) / (-)Refleks Schaefer:(-) / (-)Refleks Mendel Bacterew:(-) / (-)Refleks Stransky:(-) / (-)Refleks Gonda:(-) / (-)LenganRefleks Hoffman tromer: (-) / (-)Refleks Leri: (-) / (-)Refleks Meyer: (-) / (-)Refleks primitifGrasp refleks: -Snout refleks:-Sucking refleks:-Palmomental:-Susunan Saraf OtonomMiksi:- Defekasi: BAB (-)Sekresi keringat:NSalivasi:NGangguan vasomotor:(-)Ortostatik hipotensi:(-)Gangguan tropikKulit:(-)Rambut:(-)Kuku:(-)Columna VertebralisKelaianan LokalSkoliosis:(-)Kyphosis:(-)Khyposkoliosis:(-)Gibbus:(-)Nyeri tekan/ketuk:(-)Nyeri tekan sumbu:(-)Nyeri ketuk sumbu:(-)Gerakan cervical vertebraeFlexi:(+)Extensi:(+)Lateral deviation:(+)Rotasi:(+)Gerakan dari tubuh:(+)Membungkuk:tdlExtensi: tdlLateral deviation:tdlPEMERIKSAAN PENUNJANGRoentgenTidak didapatkan kompresi pada medulla spinalisLaboratorium Darah lengkap (tanggal 25 Mei 2012)Hb:11,2 gr%Leukosit: 9,8 ribu/ulEritrosit:4,04 juta/mmkHematokrit: 33,7 vol%MCV: 83,5 flMCH: 27,7 pgGranulosit : 76,3 %Limfosit: 18,0 %LDH: 781 U/LCKMB: 96 U/LGula Darah Puasa:112 mg/dl%Ureum:65 mg/dlCreatinin:0,8 mg/dlClorida: 105,3 mmol/lRESUME1. Anamnesis :Os mengalami kelemahan kedua tungkai sejak pukul 14.00 tanggal 18 Juni 2012. Os tidak merasa dan tidak bisa menggerakkkan badan sampai ujung kaki. Os merasakan nyeri di daerah pundak dan menjalar sampai lengan atas. Kurang lebih 1 bulan yang lalu os mengeluh nyeri dada serta rasa raba perlahan-lahan hilang. Pasien ada riwayat pekerjaan mengangkat berat 3 bulan yang lalu. Pasien tidak ada buang air kecil dan buang air besar sejak tadi subuh. Tidak terdapat riwayat hipertensi dan diabetes mellitus pada Ny. L dan juga keluarganya.2. PemeriksaanStatus internaTD:110/60 mmHgNadi:84 kali/menitRR:24 kali/menitSuhu:36,8o CGizi:baikK/L: takThorak:takAbdomen: takExtermitas:akral hangat, paraparese ekstremitas inferior tipe flaksidStatus psikiatri: dalam batas normalStatus neurologiGCS:4 5 6Pupil:pupil bulat, isokor 3mm/3mm. refleks cahaya +/+Meningeal Sign:kaku kuduk (-), Brudzinski I dan II (-)Nn. Craniales:dbnMotorik:5511Tonus: NNSensorik:NNRefleks fisiologis:BPR++++KPR++TPR++++APR++BHR( (( (( (Refleks patologias Babinsky (-) /(-). Chaddock (-)/(-), H/T (-)/(-)Susunan saraf Otonom :inkotinensia uri (-), inkotinensia alvi (-)Columna Vertebralis:dalam batas normalKeterangan singkatan : tdl : tidak dilakukan tak : tidak ada kelainanDIAGNOSIS KERJADiagnosis Klinis:Paraparese Inferior tipe FlaksidDiagnosis Etiologis:Suspek Myelitis TransversaDiagnosis Topis:Dermatom thorakal 7DIAGNOSA BANDING1. Mielopati akibat kompresi medulla spinalis2. Infeksi epidural3. Polineuritis pasca infeksi akut PENATALAKSANAAN1. Terapi Umum Menjaga jalan nafas agar tetap bebas, beri oksigen jika sesak Mempertahankan tekanan darah agar aliran darah ke otak tetap adekuat Memperhatikan keseimbangan cairan, ginjal dan saluran kemih Pengawasan kesadaran dan tanda-tanda peningkatan TIK Menjaga nutrisi tetap cukup dan baik Perubahan posisi penderita setiap 2-4 jam untuk mencegah dekubitus Pemasangan kateter diperlukan karena adanya retensi urin, konstipasi diatasi dengan pemberian laksan.2.Terapi Medikamentosa Infus RL 20 tetes/menit Metilprednisolon 125 mg vial 3 X 1 /hari Methycobal 1 x 1 / hari Ranitidin 2 x 1 / hari Ceftriaxon 2 x 2 / hari3.Rehabilitasi untuk membatasi kecacatan baik fisik maupun mental dengan fisioterapi dan bladder training PROGNOSISDubiaPEMBAHASANMielitis Transversa (MT) adalah sindrom klinis dimana prosesnya dimediasi oleh sistem imun menyebabkan cedera neural medula spinalis dan mengakibatkan berbagai derajat disfungsi motorik, sensori, dan autonom. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak maupun dewasa pada semua usia. Akan tetapi puncak usia adalah antara usia 10-19 tahun dan 30-39 tahun.1Mielitis transversa adalah kelainan neurologi yang disebabkan oleh peradangan sepanjang medulla spinalis baik melibatkan satu tingkat atau segmen dari medulla spinalis. Istilah mielitis menunjukkan peradangan pada medulla spinalis, transversa menunjukkan posisi dari peradangan sepanjang medulla spinalis. Serangan inflamasi pada medulla spinalis dapat merusak atau menghancurkan mielin yang merupakan selubung serabut sel saraf. Kerusakan ini menyebabkan jaringan parut pada sistem saraf yang menganggu hubungan antara saraf pada medulla spinalis dan tubuh.1Mielitis transversa merupakan suatu gangguan neurologi yang disebabkan oleh kehilangan selubung mielin pda medulla spinalis, disebut juga sebagai demielinisasi. Demielinisai ini muncul secara idiopatik menyertai infeksi atau vaksinisasi, atau disebabkan multipel sclerosis. Salah satu teori mayor tentang penyebabnya adalah bahwa inflamasi immune-mediated adalah sebagai suatu hasil paparan terhadap antigen virus. Kelainannya berupa inflamasi melibatkan medulla spinalis pada kedua sisinya. Pada mielitis transversa akut, onset terjadi tiba tiba dan progresif dalam beberapa jam dan atau beberapa hari. Lesi dapat terjadi di setiap bagian dari medulla spinalis meskipun biasanya terbatas pada bagian kecil saja.2 MT ditandai dengan peradangan fokal di dalam medula spinalis dan menghasilkan manifestasi klinis berupa disfungsi neural sistem motorik, sensori dan autonom yang berada di dalam dan melewati area peradangan. Bukti adanya peradangan akut dapat terlihat dalam MRI spinal dan pungsi lumbal. Fokus terapi MT adalah mengurangi peradangan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberi terapi imunomodulator seperti steroid, plasmapheresis, dan imunomodulator lain.2Para peniliti tidak dapat menentukan secara pasti penyebab mielitis transvera. Infalamasi yang menyebabkan kerusakan yang luas pada serabut saraf dari medulla spinalis dapat disebabkan oleh infeksi viral, reaksi autoimun yang abnormal atau menurunnya aliran darah melalui pembuluh darah yang terletak pada medulla spinalis. Mielitis tranversa dapat juga terjadi sebagai komplikasi dari syphilis, campak, penyakit lyme, dan beberapa vaksinasi termasuk chichenpox dan rabies. Beberapa kasus yang penyebabnya tidak dapat diketahui disebut idiopatik.3 Mielitis transversa sering terjadi setelah infeksi virus. Agent infeksi perkirakan penyebab mielitis tranversa termasuk varicella zooster ( virrus yang menyebabkan chickenpox dan shingella ), herpes simplek, sitomegalovirus, Epstein-Barr, influensa, echovirus, human immunodeficiency virus ( HIV ), hepatiti A dan rubella. Mielitis transversa juga dihubungkan dengan beberapa infeksi bakteri pada kulit, infeksi telinga tengah( otitis media), dan Mycoplasma pneumoniae ( pneumonia bakterial ).3 Pada kasus mielitis transversa post infeksi, mekanisme sistem immun baik pada viral atau infeksi bakteri tampaknya berperan penting dalam menyebabkan kerusakan saraf spinal. Walaupun peneliti belum mengetahui secara tepat mekanisme kerusakan saraf spinal. Rangsangan sistem immun sebagai respon terhadap infeksi menunjukkan bahwa suatu reaksi autoimmune yang bertanggung jawab. Pada penyakit autoimun, sistem imun yang secara normal melindungi tubuh terhadap organisme,melakukan kesalahan dengan menyerang jaringan tubuh sendiri yang menyebabkan inflamsi dan pada beberapa kasus merusak mielin medulla spinalis. Mielitis transversa juga terdapat pada beberapa penyakit autoimun seperti systemic lupus erythematosus, Sindrom Sjogren's, dan sarcoidosis. Kadang kadang pada mielitis transversa akut yang berkembang dengan cepat sebagai tanda awal serangan dari multipel sklerosis.4 Beberapa kasus mielitis transversa disebabkan oleh malformai arteri-vena spinalis ( kelainan yang merubah aliran darah ) atau penyakit vaskuler seperti atherosklerosis yang menyebabkan iskemik. Sehingga menurunkan kadar oksigen pada jaringan medulla spinalis. Iskemik dapat disebabkan perdarahan (hemorragik) dalam medulla spinalis, pembuluh darah yang menyumbat atau sempit, atau faktor lainnya. Pembuluh darah membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan medulla spinalis dan membuang hasil metabolisme. Saat pembuluh darah tersumbat atau menyempit dan tidak dapat membawa sejumlah oksigen ke jaringan medulla spinalis. Saat area medulla spinalis menjadi kekurangan oksigen atau iskemik. sel dan serabut saraf mulai mengalami perburukan secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan inflamasi yang luas kadang kadang menyebabkan mielitis transversa.4Makroskopis pada medulla spinalis yang mengalami peradangan akan tampak edema, hiperemi dan pada kasusberat terjadi perlunakan ( mielomalasia ).2 Mikroskopis akan tampak pada leptomening tampak edema, pembuluh pembuluh darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler dan pada medulla spinalis tampak pembuluh darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler ( limfosit / leukosit ) di substansia grisea dan alba. Tampak pula kelainan degeneratif pada sel - sel ganglia, pada akson akson dan pada selubung mielin, disamping itu tampak adanya hiperplasia dari mikroglia. Traktus traktus panjang disebelah atas atau bawah daripada segemen yang sakit dapat memperlihatkan kelainan kelainan degeneratif.2Mielitis tranversa dapat terjadi secara akut ( terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari ) atau subakut ( terjadi dalam satu atau dua minggu ). Gejala awal umumnya meliputi sakit pinggang didaerah yang terlokalisasi, parastesia yang mendadak ( perasaan yang abnormal seperti terbakar, gatal, tertusuk, atau perasaan geli) di kaki, hilangnya sensorik dan paraparesis ( kelemahan pada sebagian kaki). Paraparesis sering menjadi paraplegia ( kelemahan pada kedua kaki dan pungung bagian bawah). Gangguan fungsi kandung kemih dan buang air besar sering terjadi. Beberapa penderita juga melaporkan mengalami spasme otot, gelisah, sakit kepala, demam, dan hilangnya selera. Tergantung pada segmen medulla spinalis yang terlibat, beberapa penderita mengalami masalah dengan sistem respiratori. Dari beberapa gejala, muncul empat gejala klasik mielitis tranversa :1 Kelemahan otot atau paralisis kedua lengan atau kaki. Nyeri Kehilangan rasa pada kaki dan jari jari kaki Disfungsi kandung kemih dan buang air besarBeberapa penderita mengalami tingkatan kelemahan yang bervariasi pada kaki dan lengan. Pada awalnya penderita dengan mielitis tranversa terlihat bahwa mereka terasa berat atau menyerat salah satu kakinya atau lengan mereka terasa lebih berat dari normal. Pergerakan tangan dan kaki misalnya kekuatan dapat mengalami penurunan. Beberapa minggu penyakit tersebut secara progresif berkembang menjadi kelemahan kaki secara menyeluruh, akhirnya menuntut penderita untuk menggunakan suatu kursi roda.1 Nyeri adalah gejala utama pada kira- kira sepertiga hingga setengah dari semua penderita mielitis transvera. Nyeri terlokalisir di pinggang atau perasaan yang menetap seperti tertusuk atau tertembak yang menyebar ke kaki, lengan atau badan.1 Dalam kasus ini os mengeluhkan kelemahan dan hilangnya rasa pada kedua tungkai. Os tidak merasa sensasi raba, os juga tidak ada buang air kecil dan buang air besar, os tidak bisa merasakan jari-jari kaki os.Selain itu juga Ny. L mengalami anemia, anemia ini bisa disebabkan oleh: Defisiensi besi Anemia karena penyakit kronis dan inflamasi Insuffisiensi Renal Defisiensi Nutrient Hormon SexPrognosis penyakit ini meragukan. Sebagai pedoman bila dalam waktu 3-4 minggu setelah awitan penyakit terlihat tanda-tanda perbaikan maka prognosisnya cukup baik.DAFTAR PUSTAKA1. National Institut of neurological disorder and stroke, myelitis trasversa dalam www.ninds.nih.gov/disorder/trasversemyeilitis.2. Harsono, dr. 2003. Mielitis transversa Dalam Kapita Selekta Neurologi, Gajah mada University press, Yogyakarta3. Igusti Gede Ngoerah,dr,Prof. 1994. Mielitis Dalam Dasar Dasar Ilmu Penyakit Saraf, Airlangga University Press, Surabaya4. Khrisnan, C., Kaplin, A.I., Deshpande D.M., Pardo C.A., Kerr. D.A. 2004, Transverse Myelitis: Pathogenesis, Diagnosis and Treatment, 9: 1483-1499, Frontiers in Bioscience.Laporan KasusMIELITIS TRANSVERSAOleh Purnama, S.KedI1A008053Pembimbing :dr. Oscar Nurhadi, Sp.SBAGIAN / SMF ILMU PENYAKIT SARAFFK UNLAM - RSUD ULINBANJARMASINJuni, 201223

Recommended

View more >