chf ec cad, hhd

Download CHF ec CAD, HHD

Post on 30-Jun-2015

2.373 views

Category:

Documents

95 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan rahmat-Nya sehingga laporan kasus yang berjudul CHF ec CAD, HHD dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui pencapaian pembelajaran dalam kepaniteraan klinik senior di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada dr. Maruli T Simanjuntak, Sp.JP (K) atas saran dan bimbingannya dalam menyelesaikan laporan kasus ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan kasus ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis dan pembatasan waktu. Oleh sebab itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan laporan kasus ini. Akhir kata, penulis berharap agar laporan kasus ini memberi manfaat kepada semua orang.

Medan, 07 Februari 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Jantung merupakan organ yang terpenting dalam sistem sirkulasi. Kerja jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh pada setiap saat, baik saat beristirahat walaupun saat bekerja atau menghadapi beban. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian yang terutama di Indonesia. Salah satunya Acute Coronary Syndrome yang menyebabkan angka perawatan Rumah Sakit yang sangat besar di Pusat Jantung Nasional dibandingkan penyakit jantung lainnya, dan merupakan masalah utama saat ini.1 Acute Coronary Syndrome (ACS) adalah suatu istilah atau terminologi yang digunakan untuk menggambarkan spektrum keadaan atau kumpulan proses penyakit yang meliputi angina pektoris tidak stabil/APTS (unstable angina/UA), infark miokard gelombang non-Q atau infark miokard tanpa elevasi segmen ST (Non-ST elevation myocardial infarction/ NSTEMI), dan infark miokard gelombang Q atau infark miokard dengan elevasi segmen ST (ST elevation myocardial infarction/STEMI).2 Manisfestasi klinis ACS dapat berbeda-beda. Bisa asimtomatis tanpa gejala, nyeri pada dada (angina pectoris), infark miokard akut, dekompensasi kordis, aritmia jantung, sinkop atau mati mendadak. Nyeri dada (angina pectoris) biasanya timbul saat beraktivitas dan bersifat kronis. Nyeri prekordial dirasakan terutama di daerah retrosternal terasa seperti ditekan, diremas, panas atau tercekik. Rasa nyeri sering menjalar ke lengan kiri atas/bawah bagian media leher, daerah maksila hingga dagu atau ke punggung tetapi jarang ke lengan kanan. Nyeri yang dirasakan berlangsung singkat. Pada Infark miokard akut, nyeri dirasakan lebih sakit dan lama. Penatalaksaan ACS mengalami perubahan yang sangat cepat seiring dengan banyaknya penelitian pada pasien STEMI dan NSTEMI. Sehingga untuk memperoleh penatalaksanaan yang terkini dibutuhkan suatu studi kepustakaan yang komprehensif. Selain itu, Hipertensi juga masih menjadi ancaman untuk menyebabkan gangguan kardiovaskuler. Dimana Hipertensi merupakan suatu penyakit yang umum sebagai akibat dari peningkatan tekanan darah yang terus menerus, dan salah satu faktor risiko dari penyakit kardiovaskuler. Sebagian besar pasien memerlukan kombinasi obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah dan dianjurkan menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja panjang yang memberikan efikasi 24 jam. Penambahan obat lain sebagai kombinasi akan lebih bermanfaat daripada meningkatkan dosis obat pertama.

1.2 Tujuan Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik senior di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gagal Jantung 2.1.1. Definisi Gagal jantung adalah suatu sindroma klinis yang kompleks yang disebabkan oleh kelainan struktur dan fungsional jantung sehingga terjadi gangguan pada ejeksi dan pengisian.1 Pada keadaan ini jantung tidak lagi mampu memompa darah secara cukup ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.2 Gagal jantung adalah sindrom dimana pasien harus memilki gambaran sebagai berikut: gejala gagal jantung, biasanya sesak nafas saat istirahat atau selama aktivitas, dan atau kelelahan; tanda tanda retensi cairan seperti kongesti paru atau bengkak pada tungkai; serta bukti objektif dari kelainan struktur atau fungsi jantung saat istirahat. Respon klinis terhadap pengobatan gagal jantung tidak cukup untuk menegakkan diagno tetapi cukup sa, membantu ketika diagnosa tidak jelas meskipun telah dilakukan pemeriksaan yang sesuai. 1 Tabel 2.1. Definisi Gagal Jantung Definisi Gagal Jantung Gagal Jantung adalah sindroma klinis dimana pasien memiliki ciri -ciri berikut: y Simpton yang sering dijumpai pada gagal jantung (sesak nafas pada saat istirahat atau beraktivitas, fatigue, mudah lelah, edema pretibial) dan y Tanda-tanda yang sering dijumpai pada gagal jantung (takikardi, takipnoe, ronki basah, effuse pleura, peninggian tekanan vena jugularis, edema perifer, hepatomegali) y Bukti objektif abnormalitas struktural atau fungsional pada saat istirahat (kardiomegali, bunyi jantung III, desah jantung, abnormalitas pada ekokardiogram, peningkatan konsentrasi natriuretik peptida) (sumber : ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure 2008) 2.1.2. Etiologi Ada beberapa penyebab dimana fungsi jantung dapat terganggu. Yang paling sering menyebabkan kemunduran dari fungsi jantung adalah kerusakan atau berkurangnya otot jantung, iskemik akut atau kronik, meningkatnya resistensi vaskuler dengan hipertensi, atau adanya takiaritmia seperti atrial fibrilasi (AF). Penyakit jantung koroner adalah yang paling

sering menyebabkan penyakit miokard, dan 70% akan berkembang menjadi gagal jantung. Masing -masing 10% dari penyakit jantung katup dan kardiomiopati akan menjadi gagal jantung juga. Tabel 2.1.2. Etiologi Gagal Jantung Penyebab paling sering pada gagal jantung disebabkan penyakit myokardial Penyakit Jantung Koroner Banyak manifestasi Hipertensi Biasanya berhubungan dengan hipertrofi ventrikel kiri dan fraksi ejeksi yang dipertahankan Kardiomyopati Familial/genetik atau non-familial/non-genetik (termasuk yang

didapat,e.g.myokarditis), hipertrofi (HCM), dilatasi (DCM), restriktif (RCM), ventrikel kanan aritmogenik (ARVC), tidak diklasifikasikan Obat-obatan Toxins Endokrin B-Blocker, Kalsium antagonis, antiaritmia, agen sititoksik Alkohol, medikasi, kokain, trace elements (merkuri, kobalt, arsenik) Diabetes mellitus, hipo/hipertiroidism, Cushing syndrome, adrenal

insufficiency, kelebihan hormone pertumbuhan, phaeochromocytoma Nutrisional Infiltratif Lain-lai Defisiensi tiamin, selenium, carnitin, obesitas, cachexia Sarcoidosis, amyloidosis, haemochromatosis, penyakit jaringan ikat Chagas disease, HIV, peripartum kardiomyopati, end-stagerenal failure

(sumber : ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure 2008) Penyebab dari gagal jantung dapat diklasifikasikan berdasarkan gagal jantung kiri atau gagal jantung kanan dan gagal low output atau high output. Jantung kiri primery y y y y y y

Jantung kanan primery y y y y

Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung hipertensi Penyakit katup aorta Penyakit katup mitral Miokarditis Kardiomiopati Amyloidosis jantung 7

Gagal jantung kiri Penyakit pulmonari kronik Stenosis katup pulmonal Penyakit katup trikuspid Penyakit (VSD,PDA) jantung kongenital

y y

Hipertensi pulmonal Embolisme paru masif7

Gagal output rendahy y y y y y y y y

Gagal output tinggiy y y y

Kelainan miokardium Penyakit jantung iskemik Kardiomiopati Amyloidosis Aritmia Peningkatan tekanan pengisian Hipertensi sistemik Stenosis katup Semua menyebabkan gagal ventrikel kanan sekunder disebabkan penyakit paru

Inkompetensi katup Anemia Malformasi arteriovenous Overload volume plasma

(sumber: Concise Pathology 3rd Edition) 2.1.3. Klasifikasi Klasifikasi Gagal Jantung berdasarkan Mew York Heart Association (NYHA) 1,3 Klasifikasi Fungsional NYHA (Klasifikasi berdasarkan Gejala dan Aktivitas Fisik) Kelas I Tidak ada pembatasan aktivitas fisik. Aktivitas sehari hari tidak menyebabkan kelelahan, palpitasi atau sesak nafas. Kelas II Sedikit pembatasan aktivitas fisik. Berkurang dengan istirahat, tetapi aktivitas sehari hari menyebabkan kelelahan, palpitasi atau sesak nafas. Kelas III Adanya pembatasan yang bermakna pada aktivitas fisik. Berkurang dengan istirahat, tetapi aktivitas yang lebih ringan dari aktivitas sehari hari menyebabkan kelelahan, palpitasi atau sesak nafas. Kelas IV Tidak dapat melakukan aktivitas sehari hari tanpa adanya kelelahan. Gejala terjadi pada saat istirahat. Jika melakukan aktivitas fisik, keluhan akan semakin meningkat.

Klasifikasi Derajat Gagal Jantung berdasarkan American College of Cardiology dan American Heart Association 1 Tahapan Gagal Jantung berdasarkan ACC/AHA (Derajat Gagal Jantung berdasarkan struktur dan kerusakan otot jantung) Tahap A Risiko tinggi berkembang menjadi gagal jantung, tidak ada dijumpai abnormalitas struktural dan fungsional, tidak ada tanda atau gejala. Tahap B Berkembangnya kelainan struktural jantung yang berhubungan erat dengan perkembangan gagal jantung, tetapi tanpa gejala atau tanda. Tahap C Tahap D Gagal jantung simptomatik berhubungan dengan kelainan struktural jantung. Kelainan struktural jantung yang berat dan ditandai adanya gejala gagal jantung saat istirahat meskipun dengan terapi yang maksimal.

Gagal jantung secara umum juga dapat diklasifikasikan menjadi gagal jantung akut dan gagal jantung kronik. A. Gagal jantung akut, didefinisikan sebagai serangan cepat dari gejala atau tanda akibat fungsi jantung yang abnormal. Dapat terjadi dengan atau tanpa adanya penyakit jantung sebelumnya. Disfungsi jantung dapat berupa disfungsi sistolik atau disfungsi diastolik. Irama jantung yang abnormal, atau ketidak