sindrom hepatorenal

Post on 19-Jul-2015

877 views

Category:

Documents

16 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Refrat

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN SINDROM HEPATORENAL

Oleh: Yarah Azzilzah NIM 04061001026 Pembimbing: dr. H. Syadra Bardiman Rasyad, SpPD, K-GEH

DEPARTEMEN PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT DR. MOH. HOESIN PALEMBANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2011

KATA PENGANTARPuji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan di setiap langkah penyusunan refrat ini sehingga atas izinNya refrat yang berjudul Diagnosis dan Penatalaksanaan Sindrom Hepatorenal dapat terselesaikan. Refrat ini dibuat dengan maksud sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang periode 11 April 2011 11 Juni 2011. Dalam menyelesaikan refrat ini, penulis memperoleh banyak dukungan dari berbagai pihak, dan pada kesempatan ini, penul is menyampaikan ucapan terima kasih kepada dr. H. Syadra Bardiman Rasyad, SpPD, K-GEH selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulisan refrat ini. Terima kasih pula penulis sampaikan kepada para residen, teman-teman koass, dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan refrat ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan yang dimiliki, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak guna penyempurnaan refrat ini. Semoga refrat ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, April 2011

Penulis

HALAMAN PENGESAHANREFRAT berjudul

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN SINDROM HEPATORENALoleh: Yarah Azzilzah NIM 04061001026

telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang periode 11 April 2011 11 Juni 2011

Palembang,

April 2011

dr. H. Syadra Bardiman Rasyad, SpPD, K-GEH,

DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL..................................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN........................................................................................... ii KATA PENGANTAR................................................................................................... iii DAFTAR ISI ............................................................................................................ iv DAFTAR TABEL.......................................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR..................................................................................................... vii BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 1 BAB II SINDROM HEPATORENAL ......................................................................... 3 2.1. Definisi ............................................................................................................. 3 2.2. Epidemiologi..................................................................................................... 3 2.3. Patogenesis dan Patofisiologi........................................................................... 4 2.4. Faktor Presipitasi dan Faktor Prediktif............................................................. 12 BAB III DIAGNOSIS SINDROM HEPATORENAL.................................................. 14

3.1. Manifestasi Klinis............................................................................................ 14 3.2. Diagnosis.......................................................................................................... 16 BAB IV PENATALAKSANAAN SINDROM HEPATORENAL.............................. 19 4.1. Penatalaksanaan Umum .................................................................................. 19 4.2. Penatalaksanaan Medikamentosa.................................................................... 20 BAB V RINGKASAN.................................................................................................. 25 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 26

BAB I PENDAHULUANAkhir abad ke-19, Frerich (1861) dan Flint (1863) melaporkan adanya hubungan antara penyakit hati lanjut, asites, dan gagal ginjal tanpa ditemukannya perubahan signifikan pada histologi ginjal.1,2 Pasien dengan sirosis dan asites sering berkembang menjadi gagal ginjal yang bersifat khusus, yang dikenal dengan nama sindrom hepatorenal (SHR). Istilah sindrom hepatorenal pertama kali diperkenalkan P. Merklen tahun 1916 dan diambil oleh W. Nonenbruch tahun 1939.2 Sindrom hepatorenal (SHR) adalah gangguan fungsi ginjal sekunder pada penyakit hati tingkat berat, baik akut maupun kronis, yang bersifat fungsional dan

progresif.3 Berdasarkan International Ascites Club (1994), sindrom hepatorenal adalah sindroma klinis yang terjadi pada pasien penyakit hati kronik dan kegagalan hati lanjut serta hipertensi portal yang ditandai oleh penurunan fungsi ginjal dan abnormalitas yang nyata dari sirkulasi arteri dan aktifitas sistem vasoactive endogen.4 Pada sindrom hepatorenal ditemukan adanya vasokonstriksi di sirkulasi ginjal yang menyebabkan laju filtrasi glomerulus rendah dan vasodilatasi arteriol yang luas pada sirkulasi di luar ginjal sehingga menyebabkan penurunan resistensi vaskuler sistemik total dan hipotensi.4,5 Sindrom hepatorenal umumnya terjadi pada pasien sirosis hepatis dengan asites, hepatitis yang disebabkan oleh penggunaan alkohol berat (alcoholic hepatitis), atau gagal hati akut.6 Selain itu, kejadian sindrom hepatorenal dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor presipitasi yang dapat menyebabkan fungsi hati semakin memburuk dengan cepat, misalnya infeksi (spontaneous bacterial peritonitis), perdarahan dari traktus gastrointestinal, parasentesis volume besar tanpa infus albumin, ketidakseimbangan elektrolit, atau penggunaan obat-obat diuretik yang berlebihan.1,2 Sindrom hepatorenal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penyakit sirosis. Sekitar 20% pasien sirosis hepatis dengan asites disertai fungsi ginjal yang normal akan mengalami sindrom hepatorenal (SHR) setelah 1 tahun dan 39% setelah 5 tahun perjalanan penyakit.3 Gines dkk melaporkan kemungkinan insiden SHR pada pasien sirosis hepatis mencapai 18% pada tahun pertama dan akan meningkat hingga 39% pada tahun ke lima.1,5 Pada stadium awal, gangguan fungsi ginjal pada sindrom hepatorenal bersifat reversibel, yaitu dapat membaik dengan intervensi medis. Akan tetapi, stadium ekstrim dari gangguan fungsi ginjal ini bersifat ireversibel.3 Secara umum prognosis sindrom hepatorenal adalah buruk. Tanpa transplantasi hati atau pengobatan dengan vasokonstriktor yang tepat, rerata angka ketahanan hidup kurang dari 2 minggu.3 Oleh karena itu, pencegahan terjadinya sindrom hepatorenal harus mendapat perhatian utama. Tingginya angka kejadian sindrom hepatorenal pada pasien yang mengalami sirosis hepatis serta masih terbatasnya kepustakaan mengenai sindrom hepatorenal

menjadi alasan dibuatnya refrat ini. Refrat yang berjudul Diagnosis dan Penatalaksanaan Sindrom Hepatorenal ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

BAB II SINDROM HEPATORENAL21.. Definisi Sindrom hepatorenal (SHR) adalah gangguan fungsional ginjal reversibel yang terjadi pada seseorang dengan sirosis hati lanjut atau kegagalan hati fulminan.1 Sindrom hepatorenal ditandai dengan berkurangnya laju filtrasi glomerulus (GFR) dan aliran plasma renal (RPF) tanpa adanya penyebab lain dari disfungsi ginjal.1,2 Sindrom hepatorenal bersifat fungsional dan progresif. Sindrom hepatorenal merupakan suatu gangguan fungsi ginjal pre renal, yaitu disebabkan adanya hipoperfusi ginjal, namun

dengan hanya perbaikan volume plasma saja ternyata tidak dapat memperbaiki gangguan fungsi ginjal ini.2,3 Berdasarkan International Ascites Club (1994), sindrom hepatorenal adalah sindroma klinis yang terjadi pada pasien penyakit hati kronis dan kegagalan hati lanjut serta hipertensi portal yang ditandai oleh penurunan fungsi ginjal dan abnormalitas yang nyata dari sirkulasi arteri dan aktivitas sistem vasoaktif endogen.4 Karakteristik khas dari sindrom hepatorenal adalah vasokonstriksi yang kuat dari sirkulasi ginjal disertai vasodilatasi arteriol yang luas pada sirkulasi di luar ginjal yang menyebabkan penurunan resistensi vaskular sistemik total dan hipotensi. 2.2. Epidemiologi Sekitar 20% pasien sirosis hepatis dengan asites disertai fungsi ginjal yang normal akan mengalami sindrom hepatorenal (SHR) setelah 1 tahun dan 39% setelah 5 tahun perjalanan penyakit.3 Gines dkk melaporkan kemungkinan insiden SHR pada pasien sirosis hepatis mencapai 18% pada tahun pertama dan akan meningkat hingga 39% pada tahun ke lima. 1,5 Pasien dengan peritonitis bakterial spontan memiliki kesempatan sepertiga untuk mengalami perkembangan menjadi SHR.5 2.3. Patogenesis dan Patofisiologi Sindrom Hepatorenal (SHR) merupakan salah satu komplikasi sirosis hepatis. Karakteristik khas pada SHR adalah vasokonstriksi yang kuat dari sirkulasi ginjal namun disertai pengurangan pengisian arteri sistemik yang disebabkan oleh vasodilatasi arteri pada sirkulasi splanik.5 Mekanisme yang mendasari SHR belum sepenuhnya dipahami, namun mungkin mencakup peningkatan faktor vasokonstriktor dan penurunan vasodilator pada sirkulasi ginjal.1 Ada tiga faktor dominan yang terlibat dalam patogenesis SHR, yaitu:1,6

-

Perubahan hemodinamik dimana terjadi vasodilatasi arteri perifer

yang luas dengan sirkulasi hiperdinamik dan vasokonstriksi sirkulasi ginjal. Stimulasi sistem saraf simpatis ginjal. Peningkatan sintesis humoral dan mediator vasoaktif ginjal. Selain itu, ada tiga teori yang dianut untuk menerangkan hipoperfusi ginjal yang timbul pada penderita SHR, yaitu: Hepatorenal Refleks Teori ini berdasarkan percobaan binatang ya