lapsus gnaps

Download Lapsus Gnaps

Post on 20-Feb-2016

35 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gromerulonefritis

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Glomerulonefritis merupakan penyakit ginjal dengan suatu inflamasi dan proliferasi sel glomerulus. Peradangan tersebut terutama disebabkan mekanisme imunologis yang menimbulkan kelainan patologis glomerulus dengan mekanisme yang masih belum jelas. Pada anak kebanyakan kasus glomerulonefritis akut adalah pasca infeksi, paling sering infeksi streptokokus beta hemolitikus grup A.Insiden terjadinya gromerulonefritis kebanyakan anak laki daripada perempuan dengan perbandingan 2 : 1 , Penyakit ini terutama menyerang kelompok usia sekolah 5-15 tahun, pada anak < 2 tahun kejadiannya kurang dari 5%. Usia >6 tahun sebanyak 76.4%). Terdapat di daerah tropik dan golongan sosio-ekonomi rendah (68.9%), Golongan pendidikan rendah ( 82% ). Timbulnya GNA didahului infeksi ekstrarenal terutama disaluran nafas dan kulit oleh kuman streptococcus beta hemolitikus grup A. Tipe radang dari saluran nafas atas M 1,4, 12, 25. Tipe kulit M 2, 42, 49, 56, 57 , 60.Mekanisme terjadinya gromerulonefritis : Terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang melekat pada membrane basalis gromerulus dan kemudian merusaknya Proses autoimun kuman streptococcus yang nefritogen dalam tubuh menimbulkan pembentukan kompleks autoimun yang merusak gromerulus. Streptococcus nefrinogen dan membrane basal gromerulus mempunyai komponen antigen yang sama sehigga dibentuk antibodi langsung merusak membrane basal ginjal. Manifestasi klinis yang paling sering dari GNAPS berupa sindrom nefritik akut, manifestasi klinis lainnya dapat berupa sindrom nefrotik, atau glomerulonefritis progresif cepat.2Sindrom nefritis akut merupakan kumpulan gejala klinis akibat penurunan secara tiba-tiba dari laju filtrasi glomerulus dengan disertai retensi air dan garam, pada analisis urin ditemukan eritrosit, cast eritrosit dan albumin. Meskipun penyebab umum (80%) dari sindrom nefris akut adalah GNAPS, tetapi karena penyebabnya beragam,maka perlu difikirkan diagnosa diferensial yang lain. Manifestasi lain biasanya ditandai dengan adanya hematuria, oliguria, edeme ringan terbatas disekitar mata atau seluruh tubuh, dan hipertensi. Dapat juga timbul akibat gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan, konstipasi, dan diare. Bila terdapat ensefalopati hipertensi dapat timbul sakit kepala, kejang, dan kesadaran menurun.Berbagai faktor memegang peran dalam menetapkan prognosis GNAPS antara lain umur saat serangan,derajat berat penyakit, galur streptokukus tertentu, pola serangan sporadik atau epidemik, tingkat penurunan fungsi ginjal dan gambaran histologis glomerulus. Anak kecil mempunyai prognosis lebih baik disbanding anak yang lebih besar atau orang dewasa oleh karena GNAPS pada dewasa sering disertai lesi nekrotik glomerulus

1.2 Rumusan masalahPenulis merumuskan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:1. Apakah definisi gromerulonefritis ?2. Bagaimana insiden gromerulonefritis?3. Apakah etiologi gromerulonefritis ?4. Bagaimana patogenesis gromerulonefritis?5. Apakah manifestasi klinis gromerulonefritis?6. Bagaimana cara diagnosis gromerulonefritis ?7. Bagaimana penatalaksanaan gromerulonefritis?

1.3 Tujuan PenulisanTujuan penulisan dari makalah ini antara lain:1. Untuk mengetahui definisi gromerulonefritis2. Untuk mengetahui insiden gromerulonefritis3. Untuk mengetahui etiologi gromerulonefritis4. Untuk mengetahui patogenesis gromerulonefritis5. Untuk mengetahui manifestasi klinis gromerulonefritis6. Untuk mengetahui cara diagnosis gromerulonefritis7. Untuk mengetahui penatalaksanaan gromerulonefritis

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 DefinisiGlomerulonefritis adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk menjelaskan berbagai macam penyakit ginjal yang mengalami proliferasi dan inflamasi di glomerulus akibat suatu proses imunologis.Istilah glomerulonefritis akut pasca infeksi termasuk grup yang besar dari dari glomerulonefritis akut sebagai akibat dari bermacam-macam agen infeksi. Pada glomerulonefritis pasca infeksi, proses inflamasi terjadi dalam glomerulus yang dipicu oleh adanya reaksi antigen antibodi, selanjutnya menyebabkan aktifasi lokal dari sistem komplemen dan kaskade koagulasi. Kompleks imun dapat terjadi dalam sirkulasi atau in situ pada membrane basalis glomerulus.

2.2 Insiden GNAPS dapat terjadi secara sporadik ataupun epidemik. Biasanya kasus terjadi pada kelompok sosio ekonomi rendah, berkaitan dengan higiene yang kurang baik dan jauh dari tempat pelayanan kesehatan.2-4 Risiko terjadinya nefritis 5% dari infeksi kuman streptokokus beta hemolitikus grup A yang menyerang tenggorokan sampai 25% yang menyerang kulit (pioderma),sedangkan tanpa melihat tempat infeksi risiko terjadinya nefritis 10-15%. Rasio terjadinya GNAPS pada pria dibanding wanita adalah 2:1. Penyakit ini terutama menyerang kelompok usia sekolah 5-15 tahun, pada anak < 2 tahun kejadiannya kurang dari 5%.Kejadian glomerulonefritis pasca streptokokus sudah mulai menurun pada negara maju, namun masih terus berlanjut pada negara berkembang, penurunan kejadian GNAPS berkaitan banyak faktor diantaranya penanganan infeksi streptokokus lebih awal dan lebih mudah oleh pelayanan kesehatan yang kompeten.Di beberapa negara berkembang, glomerulonefritis pasca streptokokus tetap menjadi bentuk sindroma nefritik yang paling sering ditemui. Attack rate dari glomerulonefritis akut terlihat memiliki pola siklus, yaitu sekitar setiap 10 tahun.

2.3 EtiologiFaktor faktor penyebab yang mendasari GNA dapat dibagi menjadi kelompok infeksi dan non infeksi. Kelompok infeksi Penyebab yang paling sering GNA adalah oleh infeksi spesies streptococcus beta hemoliticus group A. Dua jenis telah dijelaskan, yang melibatkan serotip yang berbeda : Serotype M 1, 4, 12, 18, 25 nefritis post streptococcus akibat infeksi saluran pernafasan atas, yang terutama di musim dingin. Serotype M 2, 42, 49, 56, 57 , 60 nefritis post streptococcus karena infeksi kulit , biasanya diamati pada musim panas dan gugur dan lebih merata di daerah selatan amerika. GNA pasca infeksi streptococcus ( GNAPS ) biasanya berkembang 1-3 minggu setelah infeksi akut dengan strain nephritgenic spesifik group A streptococcus beta hemolitik. Insiden GNA tersering adalah sekitar 5-10 % pada orang dengan faringitis dan 25 % pada mereka dengan infeksi kulit. GNA pasca infeksi non streptococcus mungkin juga hasil dari infeksi oleh bakteri lain, virus, parasite, atau jamur. Bakteri selain streptococcus group A yang dapat menyebabkan GNA termasuk diplococcic, steptoccocus lain , dan mikrobakteri, salmonella typhosa, brucella suis, treponema palidum , corynebacterium bovis, dan antinobacilli juga telah didentifikasi.Kelompok non infeksi :Penyebab non infeksi dari GNA dibagi menjadi penyakit ginjal primer, penyakit sistemik, dan kondisi Lain-lain atau agen. Penyakit sistemik multisystem yang dapat menyebabkan GNA meliputi : Vasculitis (misalnya wegener granulomatosis ) ini menyebabkan gromerulonefritis yang menggabungkan nephritides granulomatosa atas dan bawah Penyakit kolagen-vaskular ( misalnya SLE ) ini menyebabkan gromerulonefritis melalui deposisi kompleks imun pada ginjal Vasculitis hipersensitivitas ini mencakup sekelompok heterogen pembuluh darah kecil dan penyakit kulit. Cryoglobulinemia Polyrtheritis nodosa ini menyebabkan nefritis dari vasculitis melibatkan arteri ginjal. Henoch schlein purpura ini menyebabkan vasculitis umum mengakibatkan gromerulonefritis.Penyebab non infeksi lainnya dari GNA meliputi : Sindrom guillain barre Iradiasi sindrom wilms Serum sicknes

2.5 Patogenesis Mekanisme dari pathogenesis terjadinya jejas glomerulus pada GNAPS sampai sekarang belum diketahui, meskipun telah diduga terdapat sejumlah faktor host dan faktor kuman streptokokus yang berhubungan dalam terjadinya GNAPS.2.5.1 Faktor hostPenderita yang terserang infeksi kuman streptokokus grup A strain nefritogenik, hanya 10-15% yang berkembang menjadi GNAPS, mengapa hal ini demikian masih belum dapat diterangkan, tetapi diduga beberapa faktor ikut berperan.3 GNAPS menyerang semua kelompok umur dimana kelompok umur 5-15 tahun (di Indonesia antara umur 2.5 15 tahun, dengan puncak umur 8.4 tahun) merupakan kelompok umur tersering dan paling jarang pada bayi.Anak laki-laki menderita 2 kali lebih sering dibandingkan anak wanita. Rasio anak laki-laki dibanding anak wanita adalah 76.4%:58.2% atau 1.3:1.6 GNAPS lebih sering dijumpai di daerah tropis dan biasanya menyerang anak-anak dari golongan ekonomi rendah. Di Indonesia 68.9% berasal dari keluaga sosial ekonomi rendah dan 82% dari keluarga berpendidikan rendah. Keadaan lingkungan yang padat, higiene sanitasi yang jelek, malnutrisi, anemia, dan infestasi parasit, merupakan faktor risiko untuk GNAPS, meskipun kadang-kadang outbreaks juga terjadi dinegara maju. Faktor genetik juga berperan, misalnya alleles HLA-DRW4, HLA-DPA1 dan HLA-DPB1 paling sering terserang GNAPS.

2.5.2 Faktor kuman streptokokusProses GNAPS dimulai ketika kuman streptokokus sebagai antigen masuk kedalam tubuh penderita,yang rentan, kemudian tubuh memberikan respon dengan membentuk antibodi. Bagian mana dari kuman streptokokus yang bersifat antigen masih belum diketahui. Beberapa penelitian pada model binatang dan penderita GNAPS menduga yang bersifat antigenik adalah: M protein, endostreptosin, cationic protein, Exo-toxin B, nephritis plasmin-binding protein dan streptokinase.3Kemungkinan besar lebih dari satu antigen yang terlibat dalam proses ini, barangkali pada stadium jejas ginjal yang berbeda dimungkinkan akibat antigen M protein dan streptokinase.Protein M adalah suatu alpha-helical coiled-coil dimer yang terlihat sebagai rambut rambut pada permukaan kuman. Protein M menentukan apakah strain kuman tersebut bersifatrematogenik atau nefritogenik. Strain nefritogenik dibagi menjadi serotype yang berkaitandengan faringitis (M 1, 4, 12, 25) dan serotipe infeksi kulit (M 2, 42, 49, 56, 57, 60).Streptokinase adalah protein yang disekres