Ilmu kalam II

Download Ilmu kalam II

Post on 24-Jun-2015

996 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>ANALISIS DAN PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN TENTANG SIFAT-SIFAT TUHAN Salah satu persoalan yang menjadi bahan perdebatan di antara aliran-aliran kalam adalah masalah sifat-sifat Tuhan. Tarik menarik diantara aliran-aliran kalam dalam menyelesaikan persoalan ini, tampaknya dipicu oleh truth claim yang dibangun atas dasar kerangka berfikir masing-masing. A. Aliran Mutazilah Pertentangan paham antara kaum Mutazilah dengan kaum Asyariyah berkisar sekitar persoalan apakah Tuhan mmpunyai sifat atau tidak. Jika Tuhan mempunyai sifatsifat itu, sifat itu mestilah kekal seperti halnya dengan zat Tuhan. Dan selanjutnya jika sifat-sifat itu kekal, maka yang bersifat kekal bukanlah satu, tetapi banyak. Tegasnya, kekalnya sifat-sifat akan membawa kepada paham banyak yang kekal (taaddud alqudama atau multiplicity of eternals). B. Aliran Asyariyah Pendapat kaum Asyariyah berlawanan dengan paham Mutazilah di atas. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Menurut al-Asyari, tidak dapat diingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat karena perbuatan-perbuatannya. Ia juga mengatakan bahwa Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa, dan sebagainya di samping mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya. Sementara itu, Al-Baghdadi melihat adanya konsesus di kalangan kaum Asyariyah bahwa daya, pengetahuan, hayat, kemauan, pendengaran, penglihatan, dan sabda Tuhan adalah kekal. Sifat-sifat ini, kata Al-Ghazali, tidaklah sama dengan esnsi Tuhan, malahan lain dari esensi Tuhan, tetapi berwujud dalam esensi itu sendiri.</p> <p>C. Aliran Maturidiyah Berkaitan dengan masalah sifat Tuhan, dapat ditemukan persamaan pemikiran antara Al-Maturidi dan Al-Asyari, seperti dalam pendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat seperti sama, bashar, dan sebagainya. Kaum Maturidiah Bukhara, yang juga mempertahankan kekuasaan mutlak Tuhan, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Persoalan banyak yang kekal mereka selesaikan dengan mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri, juga dengan mengatakan bahwa Tuhan bersama-sama sifat-Nya adalah kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.</p> <p>SUNNATULLAH DAN MUKJIZAT A. SUNNATULLAH Allah SWT adalah zat yang maha merajai seluruh alam semesta ini. dia mengatur segala sesuatu yang ada di dalam kerajaan-Nya dengan kebijaksanaan dan kehendak-Nya, karena itu apa yang terjadi di alam semesta ini berjalan sesuai kehendak yang telah di rencanakan sejak semula oleh Allah dan juga mengikuti peraturan yang telah di tetapkan dalam alam ini (sunnatullah). B. MUKJIZAT Yang di maksud dengan mukjizat ialah sesuatu yang di luar kebiasaan, sehingga tidak seorang pun yang mampu melakukan hal seperti itu. Akan tetapi, mukjizat itu ialah bukanlah sesuatu yang mustahil atau sesuatu yang yang bertentangan dengan hukum akal seperti ada dua hal yang saling bertentangan dapat bertemu atau menghilangkan dalam</p> <p>waktu yang sama. Dalam hubungan dengan mukjizat ini terdapat beberapa defenisi yang perlu kita ketahui, yaitu : 1. Mukjizat adalah kejadian yang luar biasa yang lahir pada seseorang yang mengakui dirinya sebagai Rasul dari Allah 2. Karamah yaitu kejadian yang luar biasa yang lahir pada orang-orang saleh atau wali-wali Allah yang tidak mendakwahkan dirinya sebagai nabi. 3. Maunah, yakni kejadian yang luar biasa yang lahir pada orang-orang awam sebagai bantuan Allah kepadanya untuk melepaskan atau menyelamatkan diri dari malapetaka. 4. Ihanah yakni kejadian yang luar biasa yang lahir pada orang yang mengaku dirinya sebagai nabi, padahal sebenarnya ia pendusta. 5. Istidraj yakni kejadian yang luar biasa yang lahir pada orang fasiq yang mendakwa dirinya sebagai tuhan.6. Irhash yaitu kejadian yang luar biasa yang lahir pada seorang nabi sebelum menjadi rasul, seperti nabi. ANALISIS SURGA DAN NERAKA</p> <p>A. Surga dan Neraka Tiap-tiap manusia dari bani adam dan tiap-tiap jin tidak boleh mereka mesti menepati salah satu dari (dua negri) : Darun nar (neraka) yaitu suatu tubuh yang halus</p> <p>membakarkan atau darun naim suatu tempat yang penuh nikmat (surga). Neraka ada tujuh tingkat, yaitu :</p> <p>1. Jahannam 2. Ladha 3. Huthamma 4. Sair 5. Saqar 6. Jahim7. hawiyah</p> <p>Surga dan neraka itu adalah suatu hak yang di tetapkan Al-kitab, As-sunnah dan ijmaummah. Oleh karena itu mengimaninya adalah wajib dan menitiqadkannya adalah hak. Surga dan neraka adalah tempat kembalinya makhluk, baik dari manusia ataupun jin, dan mereka tidak bisa terlepas dari salah satu tempat itu, yakni adakalanya kesurga atau neraka. a. Pendapat golongan ahli kalam tentang surga dan neraka Tokoh qodariyah dan mutazilah mengingkari telah adanya surga dan neraka yang telah dijadikan sekarang ini. mereka mengatakan bahwa Allah akan menjadikan neraka pada hari kiamat. Ahlu Sunnah wal jamaah telah berijma bahwa adzab terhadap orang kafir itu tidak putus-putusnya sebagaimana nikmat itu terhadap ahli-ahli surga tidak habishabisnya. Golongan Al-jahmiyah membantah dan mengatakan bahwa surga dan neraka itu keduanya akan fana. Golongan ini mengikuti jahm bin safwan, pendapat yang seperti ini tak ada dari sahabat, tabiin dan tak ada dari ulama-ulama lain. Seorang ahli hadis pun</p> <p>tidak ada mengatakan seperti perkataan Jahmiyah itu. Walaupun demikian setengah ulama telah menghikayatkan dua pendapat tentang keabadian neraka. Jadi persoalan kekal tidaknya neraka dan surga ini ada tujuh pendapat :1. Pendapat Khawarij dan Mutazilah yaitu segala orang yang masuk neraka,</p> <p>tidak keluar selamanya dari neraka itu. Tiap yang ada didalamnya tetap kekal selamanya. 2. Ibnu Araby Ath Thy mengatakan bahwa ahli neraka itu di azab di dalamnya kemudian ditukar dan di jadikan bertabiat api 3. Pendapat yang mengatakan bahwa ahli neraka diazab di dalamnya hingga waktu yang terbatas, kemudian mereka dikeluarkan dari neraka itu dan digantikan dengan kaum yang lain 4. Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa ahli neraka itu dikeluarkan dari padanya sedang api terus menerus bernyala dengan tidak ada seorang pun yang diazab di dalamnya. 5. Pendapat Jahm, bahwa neraka itu fana dengan sendirinya karena dia baharu,setiap yang baharu, mustahil kekal dan abadi. 6. Orang yang berada didalam neraka itu gerak geriknya fana, mereka menjadi benda yang beku dan tidak merasa kepedihan.7. Pendapat yang mengatakan bahwa Allah yang memfanakan neraka, karena</p> <p>Allahlah tuhannya, penciptanya, dan pemeliharanya. Dan Allah menjadikan neraka itu titik penghabisan yang harus diakhiri.</p> <p>FREE WILL (QADARIYAH) DAN PREDESTINATION (JABARIYAH)</p> <p>A. JABARIYAH (PREDESTINATION) 1. Asal usul Jabariyah Kata Jabariyah berasal dari kata Jabara yang berarti memaksa atau mengharuskannya melakukan sesuatu. Lebih lanjut Asy- Syahrastsan menegaskan bahwa faham al- jabr barati menghilangkan perbuatan manusia dan menyandarkannya kepada Allah. Dengan kata lain, manusia malakukan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Tuhan mempunyai hak mutlak terhadap manusia. Faham Jabariyah pertama kali</p> <p>diperkenalkan oleh Jad Bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm Bin Shafwan dari Khurasan. Berkaitan dengan kemunculan aliran Jabariyah, ada yang mengatakan</p> <p>bahwa kemunculannya diakibatkan oleh pengaruh pemikiran asing yaitu, pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama kristen bermazhab Yacobit. 2. Para Pemuka Jabariyah dan Doktrin- Doktrinnya Menurut Asy- Syaratsani, Jabariyah dapat dikelompokkan menjadi dua, ekstrim dan moderat. Diantara doktrin Jabariyah ekstrim adalah pendapatnya yang menyatakan bahwa segala perbuatan manusia bukan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang di paksakan atas dirinya. a.Jahm bin Shofwan Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia berasal dari Khurasan, bertempat tinggal di Kuffah, ia seorang dai yang fasih dan lincah, banyak usaha yang dilakukan nya yang tersebar ke berbagai tempat,Tirmidz dan Balk. Pendapat Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi adalah:</p> <p>a) Manusia tidak mampu berbuat apa- apa. Ia tidak mempunyai daya, dan kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. b) Surga dan neraka tidak kekal, tidak ada yang kekal selain Tuhan. c) Iman adalah marifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini pendapatnya sama dengan iman yang dimajukan Muyrjiah. d) Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah maha suci dari segala sifat dan keserupaan dalam manusia seperti berbicara, mendengar, melihat. Begitu pula Tuhan tidak dapat dilihat dengan indra mata. a. Jad bin Dirham Al- Jad adalah seorang ulama Bani Hakim, tinggal di Damaskus, ia dibesarkan di lingkungan orang kristen yang senang membicarakan teologi. Semula ia percaya untuk mengajar di lingkungan Bani Umayyah tapi setelah tampak pikiran- pikirannya yang controversial. Doktrin pokok Al-Jad secara umum sama dengan pikiran Jahm, AlGhuraby menjelaskan pendapat Al-Jad adalah: a) Al- Quran adalah makhluk. Oleh karena itu, ia baru, sesuatu yang baru tidak dapat di sifatkan kepada Allah. b) Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, baik itu bicara, mendengar maupun melihat.</p> <p>B. FREE WILL (QADARIYAH) 1. Sejarah Munculnya Qadariyah</p> <p>Qadariyah berasal dari bahasa arab, yaitu qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan. Adapun secara terminologi, qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak ada intervensi Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiaptiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. Ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya sesuai dengan kemauannya sendiri. Dalam hal istilah Inggrisnya dinamakan free will atau free act. Aliran ini dipelopori oleh Ghailani Ad- Dimasyki dan Mabad Al- Jauhani. Mabad adalah seorang orator yang terpercaya dan pernah berguru kepada Hasan AlBasri. Adapun Ghailani Ghailan adalah seorang orator dari Damaskus, dan ayahnya menjadi maula Utsman bin Affan. Menurut ibn Natabah, Mabad Al-Jauhani dan Ghailan Ad- Damsyki menganbil faham ini dari seorang kristen yang masuk islam di Irak. Dan menurut Zahabi, Mabad adalah seorang tabiin yang baik. 2. Doktrin- Doktri Qadariyah Dalam kitab Al- Milal wa An- Nihal, pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan Mutazilah. Dari penjelasan ini dapat difahami doktri Qadariyah pada dasarnya menyatakan bahwa segala tingkah laku atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendak sendiri, baik itu perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dengan pemahaman tersebut, Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyandarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan. Dokrin- doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin islam sendiri. Banyak ayat Al-Quran yang dapat mendukung pendapat ini, misalnya dalam surat Al- Kahfi ayat 29.</p> <p>Analisis Dan Perbandingan Melihat Tuhan Diakhirat</p> <p>Karena Tuhan bersifat rohani dan tidak jasmani maka menurut akal, tuhan tak dapat dilihat dengan mata kepala. Dalam risalah, Muhammad Abduh tidak menjelaskan pendapatnya apakah Tuhan yang bersifat rohani itu dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepalanya kelak diakhirat. Nas- nas Quran, secara lahiriah telah menyebutkan bahwa orang- orang mukmin akan melihat Tuhannya. Misalnya firman Allah: Q.S.Al- Muthafifin: 15 1.Aliran Mutazilah Logika mengatakan bahwa Tuhan, karna sifat immateri, tak dapat dilihat dengan mata kepala. Dan inilah pendapat kaum mutazilah. Sebagai argumen, AbAljabbar, mengatakan bahwa Tuhan tak mengambil empat. Dan juga kalau Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala, Tuhan akan dapat dilihat sekarang dalam alam ini juga. Dan tak ada orang yang melihat Tuhan di alam ini. 2.Aliran Asyariyah Kaum asyariyah sebaliknya, berpendapat bahwa Tuhan kan dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepala diakhirat nanti. Paham ini sejajar dengan pendapat mereka bahwa Tuhan mempunyai sifat- sifat tajjasum atau anthropomorphis, sungguhpun sifat- sifat itu tidak sama dengan jasmani manusia yang ada dalam alam materi ini. Tuhan berkuasa mutlak dan dapat mengadakan apa saja. Sebaliknya akal manusia lemah dan tak selamanya sanggup memahami perbuatan dan ciptaan Tuhan. Argumen yang dimajukan Al- Asyari untuk memperkuat pendapat diatas adalah yang berikut. Yang tak dapat dilihat hanyalah yang tak mempunyai wujud.</p> <p>3.Aliran Maturidiah Kaum Maturidiah dengan kedua golongannya dalam hal ini dengan kaum Asyariyah. Al- Maturidiah juga berpendapat bahwa Tuhan dapat dilihat karena ia mempunyai wujud. Menurut Bazdawi, Tuhan dapat dilihat, sungguh pun tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat dan tak terbatas.</p> <p>Analisis dan Pemikiran tentang Pelaku Dosa Besar Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwasannya persoalan kalam yang pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Adapun kerangka berfikir yang digunakan tiap- tiap aliran ternyata mewarnai pandangan mereka tentang status dosa besar. Berikut ini adalah pandangan mereka tentang dosa besar: A. Aliran Khawarij Ciri yang menonjol dari aliran khawarij adalah watak ekstriminitas dalam memutuskan persoalan- persoalan kalam. Adapun dalil yang membuat mereka bersikap ekstrim adalah berdasarkan surat Al- Maidah Al-Maidah ayat 44. Semua pelaku dosa besar menurut aliran khawarij adalah kafir dan akan disiksa di neraka selamanya. Kemudian adapun contoh dosa besar yang dikatakan golongan khawarij misalnya berbuat zina, maka menurut golongan ini orang yang mengerjakan zina telah menjadi kafir dan keluar dari islam. Begitu pula membunuh sesama manusia tanpa sebab yang sah adalah dosa besar. Maka perbuatan manusia menjadikan sipembunuh keluar dari islam dan menjadi kafir.</p> <p>B. Aliran Asyariyah Pandangan Asyariyah tentang pelaku dosa besar tidak mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. Menurut mereka masih tetap sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun mereka berbuat dosa besar. C.Aliran Murjiah Pandangan aliran Murjiah tentanh status pelaku dosa besar dapat ditelusuri dari defenisi iman yanh dirumuskn oleh mereka. Tiap-tiap sekte Murjiah berbeda pendapat dalam merumuskan defenisi iman itu sehingga pandangan tiap-tiap sekte tentang setatus dosa besar pun berbeda- beda pula. Secara garis besar sekte Murjiah dapat dikategorikan dua golongan yaitu ekstrim dan moderat. Harun Nasution berpendapat bahwa sub sekte Murjiah yang ekstrim adalah mereka yang berpendapat bahwa keimanan terletak didalam qalbu. Adapun dan ucapan tidak selamanya merupakan refleksi dari apa yang ada dalam qalbu. Oleh karena itu, segala perbuatan dan ucapan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berati telah menggeser atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna dimata Tuhan. Adapun Murjiah moderat ialah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal didalamnya, bergantung pada dosa yang dilakukannya.</p> <p>KEHENDAK MUTLAK TUHAN DAN KEADILAN TUHAN Pangkal persoalan kehendak mutlak dan keadilan Tuhan adalah keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Adapun pendapat- pendapat dari beberapa aliran kala...</p>