CUTANEUS LARVA MIGRAN / CREEPING ERUPTION

Download CUTANEUS LARVA MIGRAN / CREEPING ERUPTION

Post on 16-Aug-2015

65 views

Category:

Health & Medicine

17 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ol><li> 1. DIAGNOSIS BANDING Skabies Herpes Zoster Insect Bites </li><li> 2. Skabies Definisi Penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes Scabei. Skabies dari bahasa latin scabere, yang artinya to scratch. Sarcoptes scabei, yaitu kutu parasit yang mampu menggali terowongan dikulit dan menyebabkan rasa gatal. Skabies ditularkan orang ke orang. </li><li> 3. GAMBARAN KLINIS Gejala Klinis : ( Menemukan 2 dari 4 tanda kardinal sebagai berikut ) : Pruritus nokturna Menyerang sekelompok keluarga, misal : keluarga, asrama. Adanya terowongan (kunikulus) Menemukan tungau Penyakit Skabies/ Kudis </li><li> 4. Herpes Zoster Definisi Herpes zoster atau shingles adalah penyakit neurokutan dengan manifestasi erupsi vesikular berkelompok dengan dasar eritematosa disertai nyeri radikular unilateral yang terbatas pada satu dermatom.( Reaktivasi infeski late endogen viru varisela zoster ) Etiologi Virus Varisela Zoster </li><li> 5. Gambaran Klinis Gejala Klinis : Timbul gejala prodormal 1- 10 hari ( misal : malaise, demam) Timbul erupsi terbatas dermatom berupa makula kemerahan dan disertai papul yang menjadi vesikel jernih 3-5 hari Vesikel menjadi vesikel keruh dan pecah menjadi krusta 7- 10 hari. Penyakit Herpes Zoster </li><li> 6. Hipersensitivity of Insect Bites Gigitan Serangga Definisi Satu penyakit kulit pada bayi dan anak yang banyak dijumpai sehari hari oleh gigitan serangga, sengatan serangga atau kontak dengan bagian tubuh serangga. Etiologi Nyamuk Kutu berkaki 6 Kutu busuk ( Cimex lectularius ) dll. </li><li> 7. Gambaran Klinis Gejala Klinis : Urtikaria papular Pada diagnosa klinis tampak adanya papul yang dipuncaknya terdapat pungtum ,papul yang dikelilingi urtika dan zona erimatosa pada tempat gigitan. Gigitan Serangga </li><li> 8. Anamnesis 1. Identitas (NUPPAASS) 2. KU? 3. Onset? 4. Dari mana mulainya? 5. Munculnya bagaimana? Menyebar ke mana saja? 6. Bagaimana perubahannya? 7. Keluhan yang dirasakan? Nyeri, gatal, atau malah tidak merasakan apa-apa? Kapan saja? Kapan atau apa yang membuat keluhan semakin berat? 8. Asal sumber penyakit? Orang sekitar, lingkungan, makanan, benda, faktor internal 9. Apakah sudah dikasih obat? Atau apa saja yang sudah dilakukan untuk meringankan keluhan? 10. Riwayat : Traveliing ke daerah Endemis </li><li> 9. Pemeriksaan Jasmani </li><li> 10. Gambaran Efloresensi Tampak papul eritema ukuran miliar susunan linier dengan penyebaan sirkumskrip dan serpiginosa. </li><li> 11. Pemeriksaan Penunjang Biopsi </li><li> 12. Prinsip Pengambilan Spesimen </li><li> 13. Informasi yang harus tercantum dalam label Nama pasien : No. Rekam medis : Nama dokter pengirim : No. Telpon dokter pengirim yang dapat dihubungi : Ruangan / Bagian / Poliklinik : Tanggal pengambilan : Waktu pengambilan : </li><li> 14. Pengambilan bahan Pada pengambilan bahan harus diperhatikan : - Jumlah spesimen untuk pemeriksaan * biakan kuman * tes resistensi antibiotika. </li><li> 15. Spesimen - Bagian terpenting dalam mengawali suatu pemeriksaan - Hasil pemeriksaan laboratorium tidak lebih baik dari mutu spesimen yang diperoleh. - Dalam pemeriksaan mikrobiologi, adanya cemaran mikroba bukan penyebab infeksi akan sangat mengganggu. - Mikroba penyebab harus dapat diperoleh dan dipertahankan hidup. - Dilain pihak, sedapat mungkin mikroba penyebab tidak dibiarkan berkembang biak sampai proses inokulasi, terutama bila akan di lakukan kuantitasi. - Oleh karena itu, cara pengambilan, penyimpanan dan transportasi spesimen yang baik merupakan salah satu faktor penentu mutu pemeriksaan. </li><li> 16. Berdasarkan cara pengambilan, spesimen digolongkan menjadi 2 kelompok: Spesimen non-invasif: urin, sputum, feses, luka. Relatif mudah diambil ulang jika terjadi kesalahan identifikasi. Spesimen invasif: kultur darah, cairan tubuh steril, cairan amnion, spesimen yang diambil dalam kamar operasi (tetap diperiksa dengan persetujuan klinisi meski tidak memenuhi kriteria spesimen). </li><li> 17. Perlu diperhatikan spesimen harus diambil dari tempat yang kemungkinan besar mengandung kuman penyebab infeksi. LOKASI PENGAMBILAN SPESIMEN </li><li> 18. 1) Jumlah spesimen yang diambil harus cukup untuk dapat dipakai pada pemeriksaan yang dikendaki. 2) Waktu pengambilan juga harus tepat. 3) Tempat/wadah spesimen harus steril dan dapat ditutup dengan baik, mencegah kontaminasi dan juga mencegah pencemaran spesimen itu kepada petugas laboratorium kontak dengan kuman patogen yang mungkin terdapat pada spesimen tersebut. Jumlah dan waktu pengambilan spesimen </li><li> 19. 1. Spesimen untuk pemeriksaan mikrobiologi harus segera dikirim ke laboratorium untuk mendapatkan hasil yang dipercaya. 2. Bila bahan disimpan terlalu lama maka hasil positif akan berkurang atau berlebihan (misalnya pada feses yang mengandung Salmonella / Shigella bila tidak segera ditanam maka sulit diisolasi karena terdesak oleh pertumbuhan kuman-kuman usus komensal). 3. Pada keadaan tertentu, laboratorium cukup jauh sulit pengiriman spesimen lebih cepat maka perlu ditanam pada perbenihan media transpor. Pengiriman spesimen </li><li> 20. 4. Spesimen tertentu dapat juga disimpan ditempat yang dingin. Hati-hati dengan spesimen yang mengandung Nesseria meningitidis, sebab penyimpan pada suhu dingin akan cepat mati. 5. Untuk kuman-kuman anaerob, hindari kontak dengan oksigen. Pengiriman yang menggunakan media cair atau spesimen yang berupa cairan harus dimasukkan pada botol screwcap dan dibungkus berlapis untuk mencegah kerusakan dan dikemas dengan baik-baik. 6. Bahan perlu diperhatikan harus disertai keterangan- keterangan/data-data klinik yang lengkap. Pengiriman spesimen </li><li> 21. WORKING DIAGNOSA CUTANEOUS LARVA MIGRANS / CREEPING ERUPTION </li><li> 22. Pendahuluan Merupakan peradangan berbentuk linerar atau berkelok kelok, menimbul dan progresif yang disebabkan invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing atau kucing. ( IPKK FK UI, 2015 ) </li><li> 23. Etiologi Larva cacing tambang : Ancylostoma brazilinse Ancylostoma caninum Hospes Definitif : Kucing dan Anjing Menyebabkan Creeping Eruption pada manusia </li><li> 24. Morfologi Ancylostoma braziliense mempunyai dua pasang gigi yang tidak sama panjang Panjang cacing : - Jantan : 4,7-6,3mm - Betina : 6,1 8,4mm </li><li> 25. Morfologi Ancylostoma caninum mempunyai tiga pasang gigi. Panjang cacing : - Jantan : 10mm - Betina : 14mm </li><li> 26. Faktor Risiko </li><li> 27. Faktor Risiko Anak Anak lebih besar dari Dewasa Higinitas yang buruk - berjalan tanpa alas kaki - tidak mencuci tangan setelah kontak dengan pasir atau tanah. Pekerja kebun - ex : petani Memelihara hewan ( anjing atau kucing) </li><li> 28. EPIDEMIOLOGI </li><li> 29. EPIDEMIOLOGI Insidens yang sebenarnya sulit diketahui. Predileksi terjadi di negara tropis dan subtropis (Amerika tengah dan selatan, Karibia, Afrika, Australia, Asia tenggara termasuk Indonesia) Di Amerika serikat ( Florida, Texas, New Jersey) tercatat 6,7% dari 13.000 wisatawan mengalami CLM setelah berkunjung kedaerah tropis. </li><li> 30. Emedicine.medscape.com </li><li> 31. CDC.gov </li><li> 32. Patofisiologi </li><li> 33. Pendahuluan Life Cycle </li><li> 34. Patofisiologi Kontak : tanah lembap, kotoran anjing atau kucing Larva melakukan penetrasi dengan enzim protease, hyaluronidase, dan sekresi- sekresi protein litik Melewati Folikel rambut, kelenjar sebasea, fissura, menembus stratum corneum Mencerna molekul- molekul besar dan jaringan kulitmenghancurkan komponen-komponen dari matriks ekstraseluler Larva stadium tiga menembus kulit manusia dan bermigrasi beberapa sentimeter perhari, di kulit berjalan-jalan tanpa tujuan sepanjang dermoepidermal. </li><li> 35. Menginduksi reaksi inflamasi eosinofilik setempat Papula eritema dan vesikel Terbatas pada epidermis : larva tidak mempunyai enzim kolagenase yang cukup untuk penetrasi membran basalis sampai ke dermis Timbulnya Keluhan Larva bermigrasi pada Epidermis tepat di atas membran basalis dan jarang menembus ke dermis. Berkelok kelok, menimbulkan burrow / terowongan ( Serpiginosa ) Enzim proteolitik Menyababkan inflamasi sehingga terjadi rasa gatal dan progresi lesi. </li><li> 36. Manifestasi Klinis Gatal dan Panas Papul khas Linier dan berkelok, burrow </li><li> 37. Penatalaksanaan </li><li> 38. Pengobatan Semprotan Kloretil ( Ethyl Chloride Spray) dengan penekanan selama 45 60 selama 2 hari berturut turut. Albendazol 400mg selama 3 hari berturut-turut. Tiabendazol 25-50mg/kgBB sehari 2 kali. Pada anak &lt; 2 tahun albendzaol diberikan dalam bentuk salep 2% </li><li> 39. Buanglah kotoran hewan hewan peliharaan kesayangan Anda seperti kucing atau anjing pada tempat pembuangan khusus. </li><li> 40. Pakailah alas kaki jika menginjak tanah. </li><li> 41. Cuci Kaki dan Tangan </li><li> 42. KOMPLIKASI Ekskoriasi dan infeksi sekunder oleh bakteri akibat garukan. Infeksi umum disebabkan oleh streptococcus pyogenes. </li><li> 43. Selulitis Selulitis disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, yang paling sering adalah Streptococcus dan Staphylococcus tetapi biasanya terbatas di daerah yang lebih sempit Jika kulit terluka, maka bakteri bisa masuk dan tumbuh di dalam tubuh, menyebabkan infeksi dan peradangan. Jaringan kulit yang terinfeksi menjadi merah, panas dan nyeri. </li><li> 44. Loefflers Syndrome Reaksi hipersensitivitas akibat dari migrasi larva dari kulit hingga ke paru terjadi infiltrate pada paru (menyebabkan sesak napas ) Pada pasien dengan keterlibatan paru-paru didapatkan larva dan eosinofil pada sputumnya. </li><li> 45. Prognosis CLM tidak mengancam kehidupan. Prognosis penyakit ini biasanya baik dan merupakan penyakit self-limited, dimana larva akan mati dan lesi membaik dalam waktu 4-8 minggu. Dengan pengobatan progresi lesi dan rasa gatal akan hilang dalam waktu 48 jam. </li></ol>