bab ii tinjauan pustaka 2.1 nyeri 2.1.1 definisi nyeri ii.pdfآ  1) nyeri somatik luar adalah nyeri...

Download BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Nyeri 2.1.1 Definisi Nyeri II.pdfآ  1) Nyeri somatik luar adalah nyeri tajam

Post on 03-Jan-2020

6 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 9

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Nyeri

    2.1.1 Definisi Nyeri

    Pada tahun 1996, the International Association for the Study of Pain (IASP),

    mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak

    menyenangkan akibat adanya kerusakan atau ancaman kerusakan jaringan

    (Rosenquist, 2013). Berdasarkan definisi tersebut, nyeri merupakan suatu gabungan

    dari komponen obyektif (aspek fisiologik sensorik nyeri) dan komponen subyektif

    (aspek emosional dan psikologis). Rasa nyeri memberikan informasi terhadap

    stimulus noksius yang memungkinkan tubuh merespons terhadap kerusakan

    jaringan yang terjadi. Rasa nyeri ini bersifat individualisme sehingga sulit dinilai

    secara obyektif dan harus dilakukan observasi serta penilaian secara rutin dengan

    menggunakan alat bantu (Steeds, 2009).

    Adanya nyeri yang bersifat akut merupakan alasan individu untuk mencari

    sumber pelayanan kesehatan dan pada umumnya timbul setelah terjadinya trauma,

    pembedahan, atau suatu proses penyakit. Nyeri akut didefinisikan sebagai nyeri

    yang disebabkan karena cedera jaringan tubuh dan terjadi aktivasi transducer

    nosiseptif pada tempat terjadinya kerusakan jaringan lokal. Cedera lokal ini

    menyebabkan terjadinya perubahan karakteristik nosiseptor dan koneksi ke sentral,

    serta sistem saraf otonom. Cedera pada nyeri somatik akut berasal dari permukaan

    tubuh atau jaringan muskuloskeletal, sedangkan nyeri viseral akut

  • 10

    berasal dari organ-organ internal dalam. Secara umum, nyeri akut berlangsung

    dalam kurun waktu yang relatif singkat, dan berangsur-angsur menghilang bila

    proses patologis yang mendasari dapat diatasi (Marsaban AHM, 2009).

    Nyeri akut pascaoperasi merupakan salah satu kekhawatiran bagi pasien-

    pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan. Studi yang dilakukan oleh

    Warfield, 2001 di Amerika Serikat melaporkan bahwa sekitar 77% pasien

    merasakan nyeri pascaoperasi, dimana 80% diantaranya melaporkan nyeri dengan

    intensitas sedang berat. Nyeri pascaoperasi tidak hanya terjadi setelah pembedahan

    mayor, bahkan terjadi pada pembedahan yang relatif minor. Selanjutnya terjadi

    respon individu terhadap berbagai kerusakan jaringan yang terjadi akibat

    pembedahan berupa perubahan neurofisiologi, endokrin, serta fungsi metabolisme.

    Berlandaskan pada hal tersebut, penanganan nyeri akut pascaoperasi ini mutlak

    dilakukan secara agresif, efektif, dan aman dengan menggunakan pendekatan

    multimodal (Marsaban AHM, 2009).

    2.1.2 Klasifikasi Nyeri

    Berdasarkan jenisnya nyeri juga dapat diklasifikasikan menjadi (Ballantyne,

    2008):

    a. Nyeri nosiseptif. Nyeri yang diakibatkan oleh kerusakan jaringan baik

    somatik maupun viseral. Stimulasi nosiseptor baik secara langsung maupun

    tidak langsung akan mengakibatkan pengeluaran mediator inflamasi dari

    jaringan, sel imun dan ujung saraf sensoris dan simpatik.

  • 11

    b. Nyeri neurogenik. Nyeri yang didahului atau disebabkan oleh lesi atau

    disfungsi primer pada sistem saraf perifer. Hal ini disebabkan oleh cedera

    pada jalur serat saraf perifer, infiltrasi sel kanker pada serabut saraf, dan

    terpotongnya saraf perifer. Sensasi yang dirasakan adalah rasa panas dan

    seperti ditusuk-tusuk dan kadang disertai hilangnya rasa atau adanya rasa

    tidak enak pada perabaan. Nyeri neurogenik dapat menyebakan terjadinya

    alodinia. Hal ini mungkin terjadi secara mekanik atau peningkatan

    sensitivitas dari noradrenalin yang kemudian menghasilkan sympathetically

    maintained pain (SMP). SMP merupakan komponen pada nyeri kronik.

    Nyeri tipe ini sering menunjukkan respon yang buruk pada pemberian

    analgetik konvensional.

    c. Nyeri psikogenik. Nyeri ini berhubungan dengan adanya gangguan jiwa

    misalnya cemas dan depresi. Nyeri akan hilang apabila keadaan kejiwaan

    pasien tenang

    Berdasarkan klasifikasi yang dikembangkan oleh IASP didasarkan pada

    lima aksis yaitu:

     Aksis I : regio atau lokasi anatomi nyeri

     Aksis II : sistem organ primer di tubuh yang berhubungan dengan

    timbulnya nyeri

     Aksis III : karakteristik nyeri atau pola timbulnya nyeri (tunggal, reguler,

    kontinyu)

     Aksis IV : waktu mula/onset terjadinya nyeri

     Aksis V : etiologi nyeri

  • 12

    Berdasarkan timbulnya nyeri dapat diklasifikasikan menjadi (Latief, 2001):

    a. Nyeri akut. Nyeri yang timbul mendadak dan berlangsung sementara. Nyeri

    ini ditandai dengan adanya aktivitas saraf otonom seperti: takikardi,

    hipertensi, hiperhidrosis, pucat, midriasis dan perubahan wajah seperti

    menyeringai atau menangis. Bentuk nyeri akut dapat berupa:

    1) Nyeri somatik luar adalah nyeri tajam di kulit, subkutis dan mukosa.

    2) Nyeri somatik dalam adalah nyeri tumpul pada otot rangka, sendi dan

    jaringan ikat.

    3) Nyeri viseral adalah nyeri akibat disfungsi organ viseral.

    b. Nyeri kronik. Nyeri berkepanjangan dapat berbulan-bulan tanpa tanda-tanda

    aktivitas otonom kecuali serangan akut. Nyeri tersebut dapat berupa nyeri

    yang tetap bertahan sesudah penyembuhan luka (penyakit atau operasi) atau

    awalnya berupa nyeri akut lalu menetap sampai melebihi 3 bulan. Nyeri ini

    disebabkan oleh :

    1) kanker akibat tekanan atau rusaknya serabut saraf

    2) non kanker akibat trauma, proses degenerasi dll

    Berdasakan derajat nyeri dikelompokan menjadi:

    a. Nyeri ringan adalah nyeri hilang timbul, terutama saat beraktivitas sehari

    hari dan menjelang tidur.

    b. Nyeri sedang nyeri terus menerus, aktivitas terganggu yang hanya hilang

    bila penderita tidur.

  • 13

    c. Nyeri berat adalah nyeri terus menerus sepanjang hari, penderita tidak dapat

    tidur dan sering terjaga akibat nyeri.

    2.1.3 Fisiologi Nyeri

    Salah satu fungsi sistem saraf yang paling penting adalah menyampaikan

    informasi tentang ancaman kerusakan tubuh. Nosisepsi termasuk menyampaikan

    informasi perifer dari reseptor khusus pada jaringan (nosiseptor) kepada struktur

    sentral pada otak. Sistem nyeri mempunyai beberapa komponen (Marsaban AHM,

    2009):

    a. Reseptor khusus yang disebut nosiseptor, pada sistem saraf perifer,

    mendeteksi dan menyaring intensitas dan tipe stimulus noksius.

    b. Saraf aferen primer (saraf A-delta dan C) mentransmisikan stimulus

    noksius ke susunan saraf pusat

    c. Kornu dorsalis medulla spinalis adalah tempat dimana terjadi hubungan

    antara serat aferen primer dengan neuron kedua dan tempat kompleks

    hubungan antara lokal eksitasi dan inhibitor interneuron dan traktus

    desenden inhibitor dari otak.

    d. Traktus asending nosiseptik (antara lain traktus spinothalamikus)

    menyampaikan signal kepada area yang lebih tinggi pada CNS.

    e. Traktus thalamo-kortikalis yang menghubungkan thalamus sebagai pusat

    relay sensibilitas ke korteks cerebralis pada girus post sentralis.

  • 14

    Gambar 2.1

    Lintasan nyeri

    f. Keterlibatan area yang lebih tinggi pada perasaan nyeri, komponen afektif

    nyeri,ingatan tentang nyeri dan nyeri yang dihubungkan dengan respon

    motoris (termasuk withdrawal respon).

    g. Sistem inhibitor desenden mengubah impuls nosiseptik yang datang pada

    level medulla spinalis.

  • 15

    Bila terjadi kerusakan jaringan/ancaman kerusakan jaringan tubuh, seperti

    pembedahan akan menghasilkan kerusakan sel dengan konsekuensi akan

    mengeluarkan zat-zat kimia bersifat algesik yang berkumpul sekitarnya dan dapat

    menimbulkan nyeri, akan terjadi pelepasan beberapa jenis mediator seperti zat-zat

    algesik, sitokin serta produk-produk seluler yang lain, seperti metabolit, radikal

    bebas dan lain-lain. Mediator-mediator ini dapat menimbulkan efek melalui

    mekanisme spesifik (Rosenquist, 2013).

    Rangkaian proses yang menyertai antara kerusakan jaringan sampai

    dirasakan nyeri adalah suatu proses elektrofisiologis yang disebut nosisepsi. Ada 4

    proses yang mengikuti suatu proses nosisepsi yaitu (Rosenquist, 2013)

    1. Tranduksi adalah perubahan rangsang nyeri menjadi aktifitas listrik pada

    ujung-ujung saraf sensoris. Zat-zat algesik seperti prostaglandin, serotonin,

    bradikinin, leukotrien, substans P, potassium, histamin, asam laktat, dan

    lain-lain akan mengaktifkan atau mensensitisasi reseptor-reseptor nyeri.

    Reseptor nyeri merupakan anyaman ujung-ujung bebas serat-serat aferen A

    delta dan C. Reseptor-reseptor ini banyak dijumpai dijaringan kulit,

    periosteum, di dalam pulpa gigi dan jaringan tubuh yang lain. Serat saraf

    aferen A delta dan C adalah serat-serat saraf sensorik yang mempunyai

    fungsi meneruskan sensorik nyeri dari perifer ke sentral ke susunan saraf

    pusat. Interaksi antara zat algesik dengan reseptor nyeri menyebabkan

    terbentuknya impuls nyeri.

    2. Transmisi adalah proses penerusan impuls nyeri melalui A-delta dan C

    serabut yang menyusul proses tranduksi. Oleh serat aferen A-delta dan C

  • 16

    impuls nyeri diteruskan ke sentral, yaitu ke medulla spinalis, ke sel neu