preskas anestesi

Download PRESKAS ANESTESI

Post on 25-Dec-2015

13 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

anestesi ppt

TRANSCRIPT

Diapositiva 1

PRESENTASI KASUSPemantauan Kedaruratan Anestesi pada Pasien dengan Perforasi Gaster, Pneumonia, Sepsis dan Acute Kidney InjuryDISUSUN OLEH:

Fenni Cokro030.09.086Maulita Agustine 030.10.171Adisti Zakyatunnisa030.10.006

DOKTER PEMBIMBINGdr.Vera Irawaty, Sp.An, KICPENDAHULUANLaparatomiPerforasi GastrointestinalLAPORAN KASUSIdentitasNomor RM : 01335897Nama: Tn. IUmur : 66 tahunJenis Kelamin: Laki-lakiAgama: IslamDiagnosis: Peritonitis umum ec perforasi gaster, pneumonia, sepsis dan acute kidney injury (AKI)Rencana Operasi : Laparatomi Eksplorasi

AnamnesisKeluhan Utama : nyeri pada seluruh regio perutRiwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan nyeri pada seluruh regio perut sejak 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Nyeri seperti tertusuk dan timbul secara tiba-tiba dan hilang apabila beristirahat. Nyeri akan bertambah jika pasien batuk dan bergerak. Lebih kurang 3 bulan pasien sering mengeluh merasa kembung dan terkadang perut terasa keras, sehingga pasien berobat ke salah satu rumah sakit di Jakarta dan keluhan tidak berkurang. Pasien memiliki kebiasan minum jamu untuk menghilangkan pegal selama beberapa tahun belakangan ini.Riwayat Operasi : (-)Riwayat Alergi : obat (-), makanan (-)Riwayat penyakit yang sedang / pernah diderita : Asma (-), Diabetes Melitus (-), Hipertensi (-), Infeksi Saluran Napas Atas (-), Stroke (-). Obesitas (-), Penyakit Paru (Pneumonia), Penyakit Ginjal (AKI), Penyakit Jantung (-), Penyakit Hati (-), Pembekuan Darah (-).Pemeriksaan FisikTanda Vital :Kesadaran: Compos MentisKesan Umum: Tampak Sakit SedangBerat Badan: 50 kgTinggi Badan: 165 cmTekanan Darah: 140/90 mmHgSuhu: 36,9CFrekuensi Nadi: 130 x/menitFrekuensi Pernapasan: 25 x/menitPemeriksaan Leher dan Kepala :Trismus : gangguan motorik nervus V (-), spasme otot pengunyah (-), kesulitan membuka mulut (-)Leher : gangguan mobilisasi leher (-), trauma tulang belakang (-), leher pendek (+), massa / tumor (-), perbesaran KGB (-), deviasi trakea (-)Mallapati score : class IKeadaan gigi mulut : hilangnya gigi (-), gigi palsu (-), maksila / gigi maju (-), micronagtia (-), mandibula menonjol (-), gerak TMJ terbatas (-)Pemeriksaan Jantung :Inspeksi : ictus cordis tidak terlihatPalpasi: ictus cordis teraba di ICS IV 1 cm medial linea midclavicula sinistra, thrill (-)Perkusi: Batas jantung atas setinggi ICS II garis parasternalis kiri dengan suara redup, batas paru dan jantung kanan setinggi ICS III V garis sternalis kanan dengan suara redup, batas paru dan jantung kiri setinggi ICS V axillaris anterior kiri dengan suara redup.Auskultasi : irama teratur, dengan frekuensi heart rate 130x/mnt, SI dan SII pada keempat katup jantung reguler, SI lebih terdengar keras pada mitral dan trikuspid, SII lebih terdengar keras pada aorta dan pulmonal, tidak ada spliting, suara jantung tambahan(-), gallop (-), tidak terdapat ejection sound, sistolik clik, opening snap, SIV. Murmur (-) pada keempat katup jantung

Pemeriksaan Paru :Inspeksi : bentuk thorax normal, simetris mengembang saat inspirasi dan mengempis saat ekspirasi, tidak ada yang tertinggalPalpasi: pergerakan dada saat saat bernapas simetris kiri kanan, tidak ada hemithorak yang tertinggal, vocal fremitus sama kuat kiri dan kanan teraba sama kuat.Perkusi : sonor pada kedua lapang paruAuskultasi: suara napas vesikuler +/+ Ronki +/+. Wheezing -/-, slam -/- Pemeriksaan Abdomen :Inspeksi: bentuk abdomen cembungPalpasi: tegang, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak terabaPerkusi: timpani pada 9 regio abdomenAuskultasi: bising usus 1x per menitPemeriksaan Ekstremitas : jari tabuh (-), sianosis (-), luka (-), infeksi kulit (-), edema (-)Pemeriksaan Punggung : deformitas vertebrae (-), infeksi (-)Status Neurologis : Status Mental : baikKesadaran: E4, M6, V5Fungsi motorik sensorik : baikPemeriksaan Ekstremitas : jari tabuh (-), sianosis (-), luka (-), infeksi kulit (-), edema (-)Pemeriksaan Punggung : deformitas vertebrae (-), infeksi (-)Status Neurologis : Status Mental : baikKesadaran: E4, M6, V5Fungsi motorik sensorik : baikKekuatan motorik 5555 5555 5555 5555 Pemeriksaan PenunjangLaboratorium02 Desember 2014Hemoglobin : 12,4 g/dlHematokrit : 40%Leukosit : 8800/lTrombosit : 349000/lUreum : 111 mg/dlKreatinin : 2,8 mg/dlGDS : 151 mg/dlNatrium : 136 mmol/lKalium : 4,75 mmol/lKlorida : 105 mmol/lPT : 13.0 detikINR : 0,95APTT : 31.0 detik

03 Desember 2014pH : 7,458PCO2 : 24,7 mmHgPO2 : 63,6 mmHgHCO3 : 17,1 mmol/LBE : -4.8 mmol/LSaturasi O2 : 93,8%Rontgent Thorax tanggal 03 Desember 2014Trakea di tengahAorta baikMediastinum superior tidak melebarCor : kesan tidak membesarPulmo : kedua hillus tidak menebalTampak infiltrat diperihiler bilateral dan parakardial kananKedua sinus kostofrenikus dan diafragma baikTulang-tulang costae intakKesan : cor dbn, infiltrat diperihiler bilateral dan parakardia kanan, DD/ pneumoniaAssasment : ASA III EPlaning: Surat izin operasi, surat izin tindakan anestesiPuasa 6 jam pre operasiSedia darah PRC 500 cc, FFP 500 ccPost op ICULaporan Anestesi19.40Pasien masuk ruang operasi, dipasang monitor EKG, tensimeter, saturasi oksigen, IV line terpasang (tangan kanan no 22 G dan 18 G). Dengan TD 140/90 mmHg, nadi 130x / menit, RR 25x/menit, dan saturasi oksigen 95-96% dengan udara bebas.19.45Dilakukan premedikasi dengan fentanyl 200 mcg, induksi dengan propofol 160 mg. Intubasi difasilitasi dengan rocuronium 40 mg, menggunakan ETT kinking no 7,5 Cuff (+). Terjadi kesulitan intubasi dikarenakan leher yang pendek. Maintenance dengan menggunakan 50% air, 50% O2 dan sevoflurane 2% MAC. Dengan TD 140/60 mmHg, nadi 118 x/menit dengan saturasi oksigen 100%.20.00Operasi laparatomi dilakukanOperasi berlangsung selama 2 jam 30 menitSelama operasi, frekuensi nadi: 100-130 x/menitTekanan darah: 100-150 / 55-85 mmHgSaturasi oksigen: 96-100%Produksi urin: 250 ccCairan masuk: Kristaloid 1500 cc, Koloid 1000 ccPerdarahan: 300 cc22.30Operasi selesai dengan TD 120/60 mmHg, nadi 120 x/menit, saturasi oksigen 98%. Kemudian pasien di reverse dengan menggunakan sulfas atropin dan prostigmin 2:2. Secara perlahan dengan bantuan pasien dapat bernapas spontan dan dilakukan suction untuk membersihkan jalan napas. Terdapat refleks menelan. Kemudian dilakukan ekstubasi dan diberikan oksigen selama 2 menit dan tampak pasien dapat bernapas spontan.23.00Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan tampak seperti kesulitan bernapas dengan keadaan umum somnolen dan gelisah. TD 138/79 mmHg, nadi 125 x/menit, RR 35 x/menit dengan saturasi oksigen 85%. Pasien tampak sianosis kemudian dilakukan intubasi ulang dengan fentanyl 100 mcg dan propofol 100 mg. Keadaan umum dalam pengaruh obat, TD 125/77 mmHg, nadi 120 x/menit, RR 30x/menit dengan saturasi oksigen 97-99% dengan Jackson Reese 10 lpm dan pasien langsung dipindahkan ke ICU dengan keadaan umum dalam pengaruh obat, TD 122/70 mmHg, Nadi 120x/menit dengan ventilator mode SIMV TV 500 RR 12 PEEP 5 FiO2 50% dan tampak saturasi oksigen 100% dengan analgetik fentanyl 25 mcg/jam.

Laporan ICUTanggal 04 Desember 2014 (01.00 06.00 WIB)

PembahasanPersiapan sebelum operasi :Penilaian fungsi respirasiMenilai fungsi jantungPuasa (pasien)Diberikan metoclopramide 10 mg secara intravena selama 1 jam preoperasi dan Na Citrate 30 mL peroral 10 menit sebelum operasi

Monitoring intraoperasi :Monitoring hemodinamikSaturasi oksigenEnd tidal CO2

Pasien sulit di intubasi karena leher pendek penanganan cepat untuk jalan nafas dan memperhatikan resiko aspirasi.

Operasi berlangsung 2 jam 30 menit. Nadi : 100-130x/mnt, tekanan darah : 100-150/55-85 mmHgSaturasi oksigen : 96-100%Urine : 250 ccCairan masuk : kristaloid 1500 cc dan koloid 1000 ccPerdarahan : 300 cc

Pasca OperasiPasca operasi, dilakukan ekstubasi dimana pada pasien ini selain menderita perforasi gaster juga terdapat pneumonia, sepsis dan gangguan ginjal akut. Kelalaian ini yang menyebabkan terjadi syok septik pada pasien.Pneumonia ditemukan pada hasil foto thorax berupa gambaran infiltrat. Tidak ditemukan dalam anamesis dan pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan ronkhi pada kesua lapang paru. Pneumonia paling umum menyebabkan sepsisDari pemeriksaan lab ditemukan kretinin serum > 2 mg/dl atau penigkatan > 2mg/dl AKI

Sepsis pada pasien kemungkinan disebabkan oleh adanya pneumonia yang juga diperberat dengan perforasi gaster sehingga menimbulkan respon infeksi dan inflamasi yang sistemik. Hal ini yang menyebabkan keadaan umum pasien menjadi buruk.

Dikatakan syok septik dikarenakan beberapa faktor predisposisi seperti diabetes, penyakit saluran kemih, terapi kortikosteroid, immunosupresan, atau radiasi. Faktor pencetus yang umum meliputi tindakan bedah, manipulasi saluran kemih, saluran empedu atau ginekologi. Syok septik dapat menimbulkan adanya penimbunan cairan di sirkulasi mikro, pembentukan pintasan arterio-venous dan penurunan tahapan vaskular sistemik, kebocoran kapiler secara menyeluruh, depresi fungsi miokard, semua hal tersebut diatas menyebabkan terjadinya syok septik yang ditandai dengan hipovolemia dan hipotensi. Penanganan pada pasien syok berupa stabilisasi fungsi-fungsi vital, identifikasi dan koreksi gangguan hemodinamik dan metabolik.Keadaan pasien ini diperberat dengan ditemukan asidosis metabolik dan asidosis respiratorik pada pemeriksaan analisa gas darah. Gagal sirkulasi menyebabkan asidosis laktat dan gagal pernapasan membawa ke hiperkapnia. Asidosis metabolik repiratorik campuran juga dapat terjadi pada pasien penyakit paru yang mengalami gangguan ginjal atau sepsis.

Tinjauan PustakaPerforasi GasterPerforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. Penyebab perforasi gastrointestinal adalah : ulkus peptik, inflamasi divertikulum kolon sigmoid, kerusakan akibat trauma, perubahan pada kasus penyakit Crohn, kolitis ulserasi, dan tumor ganas di sistem gastrointestinal. Perforasi paling sering adalah akibat ulkus peptik lambung dan duodenum. Perfor