Ppt Resume Bedah Saraf

Download Ppt Resume Bedah Saraf

Post on 14-Dec-2014

42 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bedah saraf power point

TRANSCRIPT

RESUME

Oleh : Reschita Adityanti Sofina Kusnadi Asih Novea K. Dyah Listyorini Evander Aloysius R. D. Evan Nugroho S. G9911112121 G9911112132 G9911112024 G9911112059 G9911112067 G99121015

Pembimbing: dr. Hanis Setyono, Sp.BSKEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR.MOEWARDI SURAKARTA 2013

RIWAYAT LOGO PENYAKIT

Sakit kepala onset (mendadak, hilang timbul), frekuensi, durasi lokasi sifat gejala penyerta (muntah, gangguan penglihatan)

Gangguan penglihatan onset, frekuensi, durasi kerusakan : salah satu/kedua bola mata, kehilangan penglihatan total/sebagian, kehilangan lapang pandang keseluruhan/sebagian diplopia, halusinasi

Kehilangan kesadaran onset, frekuensi, durasi faktor memperberat lidah tergigit, inkontinesia, kejang penyalahgunaan obat/alkohol cedera kepala gejala kardiovaskuler maupun respiratorik

Gangguan berbicara onset, frekuensi, durasi kesulitan dalam artikulasi, ekspresi, maupun pemahaman

Gangguan motorik : onset, frekuensi, durasi faktor memperberat (ex : berjalan), faktor memperingan (ex : istirahat) kurangnya koordinasi keseimbangan kelemahan pergerakan, canggung, kesulitan berjalan, ekstremitas kaku gerakan involunter

Gangguan sensorik : onset, frekuensi, durasi, lokasi faktor memperberat (ex : berjalan, gerakan leher), faktor memperingan (ex : istirahat) nyeri, mati rasa, kesemutan

Gangguan otot sphincter : onset, frekuensi, durasi kandung kemih, anal tidak dapat dikontrol (inkontinesia, retensi)

Gangguan saraf bawah kranial : onset, frekuensi, durasi faktor memperberat (ex : gerakan leher, posisi kepala) tuli/tinitus satu sisi/kedua sisi vertigo sekitarnya terasa berputar keseimbangan/goyang - arah susah menelan perubahan suara

Gangguan mental : onset, frekuensi, durasi penurunan daya ingat/kepandaian perubahan kepribadian/tingkah laku

LOGO PEMERIKSAAN

Sistem saraf pusat dijabarkan secara sistematis dari kepala hingga bawah serta mencakup: Nervus kranialis 1-12 Tingkat kesadaran dan fungsi luhur (kemampuan kognitif, daya ingat, kemampuan berpikir, status emosional) Tubuh (sensasi, refleks) Sphincter Ekstremitas atas : sistem motorik (kelemahan otot, tonus, kekuatan), sistem sensorik (sensasi nyeri, sentuh, suhu, propiosepsi, stereognosis), reflek, koordinasi

Ekstremitas bawah : sistem motorik (kelemahan otot, tonus, kekuatan), sensorik (sensasi nyeri, sentuh, suhu, propiosepsi), koordinasi, gaya berjalan, cara berdiri Cara lainnya, pemeriksa dapat memilih memeriksa masing-masing sistem untuk keseluruhan tubuh (ex : motorik sistem, sistem sensorik)

sistem reflek,sesuai sistem

PENILAIAN TINGKAT KESADARANGangguan intrakranial dan sistemik yang luas penurunan tingkat kesadaran. Sistem penilaian tingkat kesadaran dengan pembagian seperti stupor, semicoma, dan deepcoma, dan tingkat kesadaran dijelaskan dalam pembagian seperti membuka mata, respon verbal, dan respon motorik. Membuka Mata 4 Kategori

Respon Verbal 5 Kategori (i) Terorientasi : mengetahui lokasi dan waktu (ii) Bingung : berbicara dalam kalimat namun disorientasi lokasi dan waktu (iii) Kata : dapat mengucapkan kata-kata namun tidak berupa kalimat (iv) Suara : mengerang, tidak mengucapkan kata (v) Tidak sama sekali

Respon Motorik 6 Kategori (i) Mengikuti perintah (ii) Melokalisir nyeri : memberikan stimulus nyeri pada nervus supraorbital, jika pasien bereaksi dengan menggerakan tangan ke atas hingga ke dagu = melokalisir nyeri.

(iii) Reaksi fleksi : jika pasien tidak mampu melokalisir rangsang nyeri supraorbita, berikan tekanan dengan pena atau benda keras pada kuku. Lihat gerakan fleksi lengan sebagai reaksi menghindar terhadap nyeri.

(iv) Reaksi ekstensi : jika dengan respon yang sama, gerakan ekstensi lengan terlihat. Anggap sebagai reaksi bertahan terhadap nyeri.

(v) Tidak ada reaksi : sebelum menilai respon pada tingkat ini, yakinkan bahwa rangsangan nyeri sudah adekuat.

PENILAIAN FUNGSI LUHURKemampuan Kognitif Mendengarkan pola bahasa - bimbang - fasih Apakah pasien mengerti perintah simple/komplek pembicara? Ex : angkat kedua tangan, sentuh telinga kanan dengan jari kelima tangan kiri Meminta pasien menyebutkan nama benda Apakah pasien membaca dengan tepat? Apakah pasien menulis dengan benar? Meminta pasien untuk menghitung angkaangka Dapatkah pasien mengingat sebuah benda? Gangguan hemisfer dominan

Disfasia ekspresif Disfasia reseptif Disfasia reseptif

Disfasia normal Disleksia Disgrafia Gangguan hemisfer tidak Diskalkulia dominan Agnosia

Kemampuan Kognitif

Gangguan hemisfer tidak dominan

Melihat kemampuan pasien untuk menentukan jalan pulang di sekitar tempat inap atau rumahnya Mampukah pasien berpakaian sendiri? Melihat kemampuan pasien untuk meniru sebuah bentuk geometri

Agnosia geografikal

Apraxia pakaian

Apraxia konstruksi

Tes Memori (Daya Ingat) - memerlukan konsentrasi - Ingatan jangka menegah berhitung, meminta pasien mengulang sebuah kalimat yang berisikan 5, 6, atau 7 nomor acak - Ingatan jangka sekarang meminta pasien untuk menjelaskan sakit yang dirasakan saat ini, lamanya menginap di rumah sakit, atau suatu kejadian di berita akhir-akhir ini - Ingatan jangka lama menanyakan tentang suatu kejadian dan sekitarnya terjadi lebih dari 5 tahun yang lalu - Ingatan verbal meminta pasien untuk mengingat sebuah kalimat atau sebuah cerita pendek kemudian di tes 15 menit setelahnya - Ingatan visual meminta pasien untuk mengingat sebuah obyek di atas suatu tempat kemudian di tes 15 menit setelahnya

Catatan: Retrograde amnesia kehilangan daya ingat suatu kejadian yang mengarah pada cedera otak Post-traumatic amnesia kehilangan daya ingat suatu kejadian yang menetap dalam suatu jangka waktu setelah terjadi cidera kepala

Kemampuan Pikir dan Penyelesaian Masalah Menguji pasien dengan perhitungan satu-dua, ex: saya ingin membeli permen sebanyak 5 buah dengan harga tiap permen Rp 100,00, berapa banyak kembalian yang saya terima jika membayar dengan uang Rp 1.000,00 Meminta pasien untuk membalik 3 atau 4 nomer acak Meminta pasien untuk menjelaskan peribahasa Meminta pasien mengambil beberapa kartu dan menyusunnya Pemeriksa harus membandingkan kemampuan pertimbangan pasien saat ini dengan kemampuan yang diharapkan berdasarkan riwayat pekerjaan dan pendidikan Status Emosional Catatan : - cemas atau gembira - depresi atau apatis - perilaku emosional - perilaku hiperaktif - keterlambatan gerak maupun respon - tipe kepribadian dan perubahannya

NERVUS OLFAKTORIUS (I) Uji persepsi dan identifikasi menggunakan bahan berbau non iritatif yang mencegah stimulasi serabut saraf trigeminus pada mukosa nasal, ex: soap, tembakau. Satu lubang hidung ditutup ketika pasien sedang mecium bau dengan lubang hidung lainnya.

NERVUS OPTIKUS (II) Ketajaman penglihatan : Defisit berat Mampukah pasien melihat cahaya atau gerakan lambaian tangan Defisit ringan Menilai tajam penglihatan dengan snellen chart atau kartu baca Pemeriksaan lapang pandang dengan uji konfrontasi Pemeriksaan lapang pandang sentral dan perifer dengan perimeter Goldmann Pemeriksaan ophalmoscopy Pemeriksaan pupil

NERVUS OKULOMOTORIUS (III), TROKLEARIS (IV), DAN ABDUCENS (VI) Lesi pada nervus ke III menyebabkan ketidaksamaan pada pergerakan mata begitupula gangguan pada resspon pupil, pupil dilatasi dan menjadi terfiksir pada cahaya

Ptosis terjadi akibat kelopak mata jatuh menutupi sebagian pupil pada saat mata terbuka akibat dari lesi pada saraf ke III atau lesi saraf simpatis yang mengganggu M. levator palpebra

Pergerakan okuler Nistagmus

NERVUS TRIGEMINAL (V) Lakukan tes nyeri, tes temperature, dan sentuhan ringan pada seluruh permukaan wajah. Bandingkan tiap sisinya. Catatlah bagian yang mengalami defisit sensorik. Tes dari bagian yang abnormal ke normal. Periksa reflek corneal Periksa motorik,obsevcasi m. temporalis

Jaw jerk examination

NERVUS FACIALIS (VII) Observasi pasiensaat berbicara dan tersenyum. Nilai penutupan mata, asimetris dari ujung mulut, pendataran dari nasolabial. Kemudian pasien diintruksikan untuk mengerutkan dahi (frontalis) menutup mata sedang pemeriksa berusaha membuka (orbiculais oculi) Mengerutkan bibir sedang pemeriksa menekan pipi (bucinator) menunjukan gigi (orbicularis orris). Uji sensorik pada lidah dapat menggunakan gula dan NaCl. Bahan uji diletakkan di bagian anterior pada sisi yang tepat pada lidah yang dijulurkan.

NERVUS AUDITORIUS (VIII) Komponen cochlearis Tes menggunakan bisikan angka. Sedangkan pada sisi telinga sebaliknya ditutupi. Jika pendengaran lemah periksa meatus eksternal dan membrane tympani dengan auroskope untuk menyingkiran infeksi atau sumbatan. Perbedaan tuli konduktif dan tuli perspektif menggunakan : 1. Weber test Jika terdapat tuli konduktif suara terdengar lebih jelas pada yang terdapat kelainan. Pada tuli perspetif suara lebih terdengar pada telinga yang normal.

2. Rinne test Pada tuli konduktif, konduksi tulang lebih baik daripada konduksi udara. Pada tuli perspektif konduksi tulang dan udara sama-sama lemah.

NERVUS GLOSSOPHARYNGEUS (IX) DAN NERVUS VAGUS (X) Perhatikan suara pasien. (N.X) Perhatikan ada tidaknya gangguan menelan. Perhatikan ada tidaknya pergerakan dinding palatum yang asimetris (parese N.X) Periksa reflek muntah.

NERVUS ACCESSORIUS (XI) Periksa M. sternomastoideus.

Periksa M. trapezius.

www.themegallery.com

NERVUS HIPOGLOSUS (XII) Minta pasien untuk membuka mulut. Lihat ada tidaknya atrofi lidah dan fibrilasi. Kemudian minta pasien menjulurkan lidah. Periksa ada tidaknya deviasi. Jika ada, maka lidah akan tertarik ke sisi yang lemah. Disartria dan disfagia dapat terjadi tetapi minimal.

Company Logo

Pemeriksaan Ekstremitas