problematik ninja

Download ProbLematik Ninja

Post on 27-Jun-2015

323 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ini materi probLematik (pra proposaL)

TRANSCRIPT

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi yang semakin pesat seiring dengan

perkembangan jaman turut berimbas pada berkembangnya industri otomotif. Salah satu yang tampak ialah pada perkembangan industri sepeda motor. Salah satu yang menjadi indikator peningkatan ini dapat dilihat dari semakin bertambahnya pengendara sepeda motor di jalan raya. Saat ini di daerah jawa timur saja berdasarkan data Ditlantas Polda Jatim jumlah motor di Jatim hingga Agustus mencapai 8.795.903 unit. Tahun ini telah bertambah 665.566 unit (Agustus 2009 sampai Agustus 2010). Penambahan itu sedikit lebih banyak ketimbang penambahan tahun sebelumnya yang tercatat 662.385 unit. Sepeda motor tidak hanya dilihat dari sisi fungsi atau penggunaannya saja, namun telah menjadi bagian dari gaya hidup para pengendaranya sehingga para Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) pun banyak bersaing pada sepeda motor yang menggambarkan gaya hidup tertentu karena saat ini model-model sepeda motor yang laris dipasaran adalah model yang sesuai dengan selera gaya hidup (SWA, 2010). Menurut sutisna (2002:145), gaya hidup secara luas didefinisikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia disekitarnya (pendapat). gaya hidup didefinisikan sebagai pola dimana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uangnya (Engel dkk, 1994:383). 1

Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya (Kotler, 2002:192). Karena gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup pula yang membuat pasar sepeda motor tidak pernah surut, meski krisis global sempat melanda dunia. Sehingga konsumsi karena tuntutan gaya hidup akan selalu berusaha dipenuhi konsumen meskipun kadang berada pada situasi yang tidak rasional karena gaya hidup pada dasarnya adalah pencitraan diri seseorang. Hierarki kebutuhan Maslow menjelaskan bahwa setelah manusia mampu memenuhi kebutuhan yang penting dan mendasar, maka ia akan segera memenuhi kebutuhan pada tingkatan berikutnya karena kebutuhan itu menjadi sesuatu yang mendesak baginya dan begitu seterusnya (Kotler, 2007).Penelitian

tentang

gaya

hidup

(Engel, 1994:391)

telah

banyak

dikembangkan, Menurut sumarwan (2002 : 58-64), pengukuran mengenai gaya

hidup dapat dilakukan dengan psikografik. Psikografik adalah adalah suatu instrumen untuk mengukur gaya hidup, yang memberikan pengukuran kuantitatif dan bisa dipakai untuk menganalisis data yang sangat besar. Psikografik berarti menggambarkan (graph) psikologis konsumen (Psycho). Psikografik sering diartikan sebagai pengukuran AIO (Activity, interest, opinion), yaitu pengukuran kegiatan, minat dan pendapat konsumen.Adapula Stanford Research Institute yang menghasilkan suatu perangkat pengukuran mengenai gaya hidup yang disebut Values and Lifestyle (VALS). VALS ini kemudian direvisi menjadi VALS 2 yang merupakan penelitian

psikografis konsumen paling baik yang menghasilkan delapan segmen konsumen

2

yaitu actualizers, fulfilleds, believers, achievers, strivers, experiencers, makers, dan strugglers (Lamb & Mc. Daniel, 2001:293).

Loudon dan Bita menyebutkan bahwa perilaku masyarakat (customer behavior) adalah proses pengambilan kepuusan dan aktifitas fisik yang dilakukan oleh seseorang dalam menilai, memperoleh, menggunakan atau meninggalkan produk dan jasa. Indikator dari perilaku masyarakat ini adalah penentuan kebutuhan/masalah (Problem recognition), pencarian informasi (information search), penilaian alternatif (evaluation of alternatives), keputusan membeli (purchase decision) dan perilaku pasca pembelian (postpurchase behavior). Oleh karena itu perilaku konsumen adalah kegiatankegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam dan mempergunakan barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Kotler (2007:216) menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen. Faktor tersebut antara lain : 1. Faktor Kebudayaan Kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. 2. Faktor Sosial Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok referensi, keluarga, peranan dan status. 3. Faktor Pribadi Keputusan seseorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi diantaranya usia dan daur hidup, pekerjaan, status ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri.

3

4. Faktor Psikologis Pilihan pembelian seseorang juga dipengaruhi oleh 4 faktor psikologis yaitu: motivasi, persepsi, pembelajaran, kepercayaan dan sikap. Dengan memperhatikan dan memahami berbagai faktor yang mempengaruhi pembelian konsumen tersebut, ATPM berusaha untuk mengeluarkan produk sepeda motor Sport yang dapat benar-benar memuaskan pengendaranya. Swan dalam buku Fandy Tjiptono (2004) mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai evaluasi secara sadar atau penilaian kognitif menyangkut apakah kinerja produk relatif bagus atau jelek atau apakah produk bersangkutan cocok atau tidak cocok dengan tujuan/ pemakaiannya. Salah satu jenis sepeda motor yang memainkan konsep ini dengan jelas adalah jenis Motor sport. Besar dan gagah, dengan roda-roda tebal yang seolah-olah ingin menaklukkan seluruh jalanan. Bagi sang pemilik, mengendarai motor besar ini serasa bisa meningkatkan status sosial dan gengsi mereka (www.bentengcity.com). Kebanggan sebagai pengendara dari suatu jenis/ type motor tertentu akan semakin terasa ketika kebanggan itu diakumulasikan bersama pengendara tipe motor yang sama dalam suatu wadah yang bisa disebut sebagai club motor atau komunitas motor. Menjadi biker berarti menjadi bagian dari komunitas biker, bukan sekedar menjadi pengendara sepeda motor. menjadi biker berarti pula menjadikannya sebagai gaya hidup yang membawa nama komunitas klub motor dalam dirinya. kemanapun seorang biker pergi ia membawa serta membawa identitas klub / komunitasnya sebagai entitas yang tidak terpisahkan dari dirinya. klub / komunitas motor melebur dalam dirinya menjadi satu

4

dengan harga dirinya. klub / komunitas motor telah menjadi gaya hidup masa kini. (www.megaproserang.blogspot.com mengutip dari Bromagz, 2010). Bagi produsen maupun ATPM, Membidik pasar motor sport cukup beralasan, walau segmen terbesar pasar domestik adalah segmen sepeda motor bebek. Namun adanya respon pasar yang menjanjikan membuat produsen tidak takut untuk berinovasi pada segmen ini.6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 2005 2006 2007 2008 2009 Scooter Sport Underbone

Gambar 1.1 Volume Penjualan Sepeda Motor

60 50 40 30 20 10 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Yam aha Honda Suzuki Kawasaki TVS

Sumber : AISI, diolah Penulis Gambar 1.2 Penguasaan Pangsa Pasar Motor Sport

5

Sejak kemunculannya, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) telah bermain dengan kelas motor Sport dengan diluncurkannya Kawasaki Ninja kelas pertama yaitu seri 2 tak 150 cc. Namun terobosan terbesar KMI adalah pada Kawasaki Ninja adalah pada tahun 2008 dengan diluncurkannya Motor Sport Model 250R Langkah yang dilakukan KMI pada saat itu tergolong tepat. Pasalnya, KMI adalah satu-satunya produsen yang mengusung mesin empat tak 250 cc dan mengadopsi mesin motor mirip Formula 1. Pihak KMI sendiri mengakui, ada beberapa alasan utama dihidupkannya kembali Ninja setelah hampir 18 tahun tidak merilis model baru. Pertama, brand Kawasaki identik dengan motor Ninja sehingga image terhadap brand Ninja sudah menancap erat di benak konsumen sebagai motor Sport berkelas. Merek adalah nama penting bagi sebuah produk atau jasa yang merupakan simbol dan indikator kualitas dari sebuah produk (Sumarwan, 2004:303). Nama Ninja sudah dipatenkan oleh Kawasaki, termasuk warna hijau (green line) kebanyakan warna motor Ninja yang juga sudah dipatenkan. Kedua, kontribusi yang diberikan Ninja terhadap total penjualan Kawasaki didominasi oleh Ninja.

Sumber : Perseroan, diolah penulis Gambar 1.3 Penjualan Sepeda Motor Kawasaki (Jan Okt 2010)

6

Pencapaian KMI di kelas Ninja 250 R pada sepanjang Januari-Juli 2010 melesat sekitar 25,25% yakni dari 4.752 unit pada periode sama 2009 menjadi 5.952 unit. Promo yang dilakukan oleh pihak KMI tidak segencar ATPM motor Sport lain. Promosi yang dilakukan Ninja cenderung bersifat edukasi terutama di media massa mengingat Ninja sudah menjadi top of mind di benak konsumen. Komunitas Ninja sudah ada, Top of mind Ninja pun sudah terbentuk. Makanya kami tidak jor-joran soal promosi. Target konsumen Ninja sudah jelas, tandas Freddyanto Basuki, Manager Marketing & Research Development

Departemen, Marketing Division PT Kawasaki Motor Indonesia. Saat ini KMI memposisikan Ninja N250R pada segmen premium classy yang dibanderol Rp 46,5 Juta per unitnya yang ditujukan untuk kalangan eksekutif pada usia 25 sampai 45 tahun. Brand (Merek) merupakan suatu kata yang tertanam di benak konsumen yang membuat konsumen ingat akan suatu produk. Konsumen mengidentifikasi suatu produk dan membedakan dengan produk sejenis dengan menggunakan merek. Oleh sebab itu, branding sangat diperlukan untuk memudahkan konsumen mengenal suatu produk. (ries, 2000). Yang akan berlangsung dalam kancah persaingan bisnis dewasa ini bukanlah lagi perang kualitas produk melainkan perang merek. Kualitas produk menjadi hal standar yang dapat dengan mudah dan cepat ditiru dan dimiliki oleh siapapun, sementara satu-satunya atribut yang sulit untuk ditiru adalah merek yang kuat, yang memberikan pedoman, jaminan, keyakinan dan harapan kepada pelanggan bahwa dia akan terpuaskan. Semakin terlihat bahwa

7

keputusan pelanggan dalam membeli suatu produk telah menjadi sangat subjektif da