makalah uts

Download Makalah Uts

Post on 07-Feb-2016

42 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

MORFOLOGI

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

Bahasa merupakan alat komunikasi yang membantu manusia dalam memberikan dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan, adapun manusia dalam hal ini dapat menyampaikan ide dan gagasan, baik verbal maupun non verbal. Pentingnya sebuah bahasa harus diikuti dengan pemahaman bahasa dan elemen-elemennya pula, seperti kosa kata bahasa, struktur bahasa, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, bahasa muncul dan berkembang karena interaksi antar individu dalam suatu masyarakat. Sehubungan dengan peran penting bahasa sebagai bagian dari komunikasi dalam kehidupan manusia dan keterterkaitan bahasa yang diikuti oleh pemahaman juga elemen-elemennya, Morfologi hadir sebagai tataran linguistik atau ilmu bahasa yang sangat penting dalam mengkaji seluk beluk kata. Untuk itu, penulis mengangkat masalah Morfologi kedalam tema sebuah analisis bahasa, dimana adanya sebuah proses pembentukan sebuah kata yang diawali oleh pembahasan dasar-dasar analisis sampai pada proses morfofonemik.Bentuk menurut Kridalaksana (2011:32) merupakan penampakan atau rupa satuan bahasa, satuan gramatikal atau leksikal dipandang secara fonis atau grafemis. Selanjutnya, menurut Samsuri (1994: 190), proses morfologis ialah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Beberapa pengertian antara bentuk dan proses morfologis menjadi proses awal dan inti yang mengawali juga mendasari ikhwal terbentuknya kata dengan segala bentuk-bentuknya.Terkait dengan teori yang mengawali pembahasan materi tersebut, adapun pembahasan secara lengkap mengenai analisis bahasa morfologi dalam bab pembahasan, seperti dasar-dasar analisis, pengenalan morfem, wujud morfem, jenis-jenis morfem, proses morfologis, konstruksi morfologis, dan morfofonemik..

BAB IIPEMBAHASAN

2.1 Dasar-dasar AnalisisDalam pembahasan mengenai dasar-dasar analisis akan dibahas mengenai bentuk-bentuk yang berulang, bentuk dan pengertian, dan ujaran.Skema 1. Dasar-dasar Analisis 2.1.1 Bentuk-bentuk Yang Berulang Bentuk menurut Kridalaksana (2011:32) merupakan penampakan atau rupa satuan bahasa, satuan gramatikal atau leksikal dipandang secara fonis atau grafemis. Untuk mengetahui bentuk-bentuk yang berulang kita dapat membandingkan kata-kata dalam bahasa Indonesia berikut ini:(1) buku dengan bukunya; kata dengan katanya; di serambi; meja dengan di meja;(2) mendekat dengan dekatkan;mendengar dengan dengarkan.Pada (1) yang berulang yaitu buku, kata, serambi, meja, nya, dan di (2) ialah dekat, dengar, men, dan kan. Di dalam membandingkan urutan-urutan seperti di atas itu tidak bisa manasukan atau melokasikannya secara sembarangan, tetapi terdapat dasar-dasarnya, dalam hal ini dasar tersebut meliputi bentuk, yang berupa fonem atau urutan fonem-fonem, dan pengertian. Contoh misalnya dalam bahasa Indonesia karena terdapat nya yang berulang pada urutan bukunya dan bertanya, kita tidak dapat mengambil simpulan ada bentuk buku, berta, dan nya. Hal ini karena nya yang kedua dan juga berta tidak mempunyai pengertian setidaknya dalam bahasa Indonesia. Bentuk-bentuk yang berulang harus memenuhi syarat bentuk dan pengertian yang sama atau mirip. Bandingkan kalimat-kalimat berikut ini:1) Amat sedang membaca buku.2) Buku tebu ini amat keras.Maka bentuk-bentuk /amat/ dan /buku/ di dalam kedua kalimat itu tidak bisa dianggap berulang, karena walaupun sama bentuk tetapi tidak memenuhi syarat persamaan pengertian.

2.1.2 Bentuk dan PengertianSebuah penyelidikan morfosintaksis ditentukan oleh perpaduan bentuk dan pengertian. Keduanya merupakan sebuah komposit, karena pengertian itu selalu diberikan oleh bentuk atau kadang-kadang oleh tak adanya bentuk. Pada nyatanya perbedaan bentuk membawa perbedaan pengertian pula. Sering terdapat bentuk yang berulang dengan pengertian yang sama tidak selalu tepat sama, melainkan ada perbedaan yang disebabkan oleh fonem yang berdekatan dan perubahan itu baik yang kecil maupun yang besar disebabkan oleh konvensi kebiasaan.Dalam memperhatikan pengertian kita harus teliti dan hati-hati, karena hal ini tidak bisa diperlakukan secara eksak. Kecuali itu, bahasa mempunyai beberapa macam pengertian. Selain ada pengertian leksikal, yang dimiliki oleh bentu-bentuk itu sendiri, ada juga pengertian gramatikal, yaitu yang diberikan pada bentuk itu oleh keseluruhan hubungan distribusi dengan bentuk-bentuk yang lain. Apabila kita telah menyadari hal-hal tersebut, kita pasti akan lebih berhati-hati dalam memperlakukan komposit bentuk-pengertian itu. Sering kita temukan bahwa pengertian itu tidak merupakan lingkupan yang biasa ditentukan oleh keliling bentuk itu. Mungkin di dalam menentukan pengertian bentuk kaki tidak terlalu mengalami kesulitan, biarpun diikuti oleh bentuk-bentuk yang berbeda, seperti: orang, kucing, meja, kursi, gunung, atau langit. Tetapi bagaimana tentang pengertian bentuk akar bila diikuti bentu-bentuk yang berbeda seperti: tanaman, gigi, dan sembilan misalnya?Karena sifat pengertian itu, tidak dapat dielakan bahwa orang dapat memberikan perlakuan yang kurang eksak. Biarpun demikian, komposit bentuk-pengertian itu tetap kita pertahankan, karena jika komposit itu ditinggalkan maka pekerjaan analisis bentuk-bentuk ini akan jauh lebih rumit dan tidak terselesaikan.

2.1.3 UjaranKemampuan berbicara adalah bakat tunggal manusia. Sekelompok manusia, betapapun primitifnya, mempunyai bahasa sebagai alat komunikasi di antara mereka. Semua manusia di dunia ini menguasai ujaran bahasanya, tetapi hanya setengah dari mereka yang mempunyai tulisan bagi bahasanya. Ujaran memanipulasikan bunyi-bunyi bahasa, sehingga sepenggal bunyi bisa merupakan salah satu aspek kebahasaan yang penting sekali. Ada bahasa-bahasa yang mempergunakan nada untuk memberikan perbedaan pengertian. Ada pula yang mempergunakan panjang (bunyi-bunyi) untuk menyatakan modalitas atau waktu, serta ada pula bahasa yang memakai tekanan untuk berbagai macam aspek kebahasaan yang lain.Di dalam ilmu bahasa, ujaran memang lebih penting. Karena bahasa terlebih dahulu adalah ujaran. Walaupun ujaran itu bisa lenyap selamanya, tetapi sekarang setelah ada alat-alat untuk merekam, tentu bisa dipakai untuk merekam ujaran, sehingga ujaran bisa diabadikan juga.Untuk meneliti bahasa sendiri, seorang ahlibahasa bisa mempergunakan bentuk tulisan jika bahasanya itu telah mempunyai sistem tulisan. Peneliti semacam ini bisa mengucapkan dan mengajarkan tulisan-tulisan itu, sehingga ia tidak akan mengalami kesulitan untuk memperoleh data bahasanya yang lengkap. Akan tetapi, apabila ahli bahasa itu meneliti bahasa lain, ia harus meneliti ujaran bahasa itu, baru kemudian mungkin bisa ditambahkan dengan bentuk tulisan bahasa itu, jika bahasa itu telah ada tulisannya, serta apabila ahlibahasa itu tahu membaca tulisan bahasa itu. Karena itu maka penelitian terhadap ujaran bahasa itu menjadi hal yang utama. Sebuah aspek kebahasaan yang sangat penting tetapi sering dilupakan orang ialah intonasi. Intonasi dalam bahasa-bahasa tertentu demikian pentingnya karena bisa menyampaikan dan membedakan berbagai variasi pengertian yang tidak bisa diberikan oleh bentuk tulisan. Intonasi hanya bisa dipelajari melalui ujaran. Walaupun si peneliti adalah pembicara bahasa yang ditelitinya, untuk memperoleh data intonasi, ia harus mengambil ujaran sebagai bahannya. 2.2 Mengenal MorfemDalam pembahasan mengenai pengenalan morfem akan diperinci menjadi empat kategori bahasan, yakni morf, morfem, dan alomorf, prosedur pengenalan morfem, prinsip-prinsip pokok, dan prinsip-prinsip tambahan. Skema 2. Mengenal Morfem

2.2.1 Morf, Morfem, dan AlomorfSudah disebutkan dan diterangkan sebelumnya bahwa urutan-urutan seperti buku, meja, nya, di, dekat, men, dan kan adalah bentuk-bentuk, atau istilah asingnya adalah morf. Bentuk-bentuk seperti mem, men, meny, dan meng pada urutan-urutan membaca, mendengar, meyembelih, dan menggambar dapat dikatakan mirip. Oleh karena bentuk-bentuk itu mirip susunan fonemnya dan dengan lingkupan pengertian yang sama atau mirip maka disebut morfem. Bentuk-bentuk atau morf-morf ini jika mendapatkan cukup data akan berulang, dan karena itu bentuk-bentuk tersebut juga dikatakan morfem. Jadi morfem adalah komposit bentuk-pengertian terkecil yang sama atau mirip yang berulang. Atau menurut Ramlan (2009:32) morfem adalah satuan gramatik terkecil yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya. Dalam bahasa Inggris morfem terbagi menjadi dua buah kategori, seperti free morpheme dan bound morpheme. Free morpheme dalam pengertiannya adalah sebuah kata dasar yang telah memiliki makna sendiri (contoh: happy, well, polite, dll), sedangkan bound morpheme adalah satuan terkecil yang tidak bisa berdiri sendiri terhadap makna. Seperti imbuhan-imbuhan (prefiks dan subfiks: im-, in-,-less, dll). Lebih jelasnya perbedaan morf, alomorf, dan morfem ditunjukkan pada ilustrasi di bawah ini:

Bentuk atau morf itu dapat terdiri atas sebuah fonem atau lebih, baik segmen ataupun prosodi. Perhatikan urutan-urutan mengguntingi dan menulisi, yang masing-masing terdiri atas menggunting + i dan menulis + i. Kedua akhiran /i/ itu mempunyai pengertian yang sama, sehingga jelas sebuah fonem bisa merupakan sebuah morf atau morfem, dan bentuk /i/ tersebut ialah sebuah morfem. Bentuk-bentuk /mm/, /mn/, /m/, dan /m/ masing-masing disebut morf, yang semuanya merupakan alomorf (anggota morfem yang sama) dari morfem {mN}. Untuk membedakan morfem dengan alomorf-alomorfnya, morfem ditulis di dalam kurung kurawal, sedangkan alomorfnya dituliskan diapit oleh garis miring.

2.2.2 Prosedur Pengenalan MorfemPengenalan morfem-morfem itu dilakukan dengan membanding-bandingkan bagian-bagian yang berulang, dan dengan mengdakan substitusi. Misalnya urutan-urutan berikut: tergigit, termakan, terminum. Kita kenal begian ter yang berulang yang mempunyai pengertian yang sama, yaitu tak sengaja dilakukan. Cara mengenal morfem-morfem itu didasarkan atas tiga prinsip pokok dan tiga prins