27320465 compartment syndrome deep vein thrombosis fat embolism syndrome

Download 27320465 Compartment Syndrome Deep Vein Thrombosis Fat Embolism Syndrome

Post on 22-Jan-2016

136 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

REFERAT

REFERAT

ILMU BEDAH

KOMPLIKASI FRAKTUR

Compartment Syndrome, Deep Vein Thrombosis,

dan

Fat Embolism Syndrome

Pembimbing:dr. Erwin Manaf, Sp.OT

Penyusun

Dhenni Hartopo, S.Ked2003.04.0.0120

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HANG TUAH

SURABAYA

2009KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia dan rahmat-Nya, penyusun dapat menyelesaikan referat yang berjudul KOMPLIKASI FRAKTUR -- Compartment Syndrome, Deep Vein Thrombosis, dan Fat Embolism Syndrome. Referat ini merupakan salah satu tugas yang harus diselesaikan dalam masa kepaniteraan klinik di bagian bedah RSAL dr. Ramelan Surabaya.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada dr. Erwin Manaf, Sp.OT selaku pembimbing referat dan semua pihak yang telah membantu, hingga tersusun referat ini

Penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan demi menyempurnakan referat ini.

Semoga referat ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi kita semua.

Surabaya, 17 Agustus 2009Penyusun

Daftar Isi

1. Kata Pengantar

i

2. Daftar Isi

ii

3. Bab I Pendahuluan

1

4. Bab II Pembahasan

2

Compartment Syndrome (Volkmanns Ischaemia)

2

Definisi

2

Insiden

3

Etiologi

4

Patofisiologi

4

Signs and Symptoms

7

Pemeriksaan Penunjang

8

Diagnosis

8

Manajemen

9

Prognosis

11

Komplikasi

11

Preventif

12

Anatomi Kompartemen Tungkai Bawah

12

Deep Vein Thrombosis (DVT)

14

Definisi

14

Insiden

14

Etiologi

15

Patofisiologi

16

Signs and Symptoms

17

Pemeriksaan Penunjang

18

Diagnosis

19

Manajemen

20

Prognosis

21

Komplikasi

21

Preventif

22

Fat Embolism Syndrome (FES)

23

Definisi

23

Insiden

24

Etiologi

25

Patogenesis

25

Signs and Symptoms

28

Pemeriksaan Penunjang

31

Diagnosis

32

Manajemen

33

Prognosis

34

Preventif

34

5. Bab III Kesimpulan

36

6. Daftar Pustaka

40

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam suatu kejadian fraktur dapat terjadi berbagai komplikasi baik yang dikarenakan cedera itu sendiri maupun yang terjadi secara iatrogenik. Referat ini akan membahas beberapa komplikasi yang sifatnya iatrogenik.

Komplikasi yang bersifat iatrogenik adalah yang disebabkan oleh manajemen dari fraktur tersebut. Komplikasi ini kebanyakan dapat dicegah dan berhubungan dengan tiga faktor utama, yaitu: tekanan lokal yang berlebihan, traksi yang berlebihan, dan infeksi.(1)Klasifikasi dari Komplikasi karena Manajemen Fraktur(1)1. Komplikasi kulit

Efek tato dari abrasi

Lesi tekanan (luka tekanan)

Bed sores (ulkus dekubitus)

Cast sores (ulkus bebat)

2. Komplikasi vaskuler

Lesi traksi dan tekanan

Volkmanns ischemia (Compartment syndrome)

Gangren dan gas gangrene

Thrombosis vena dan emboli pulmonal

3. Komplikasi neurologis

Lesi traksi dan tekanan

4. Komplikasi sendi

Infeksi (septic arthritis) yang memberi komplikasi pada operasi terbuka padafraktur tertutup

5. Komplikasi tulang

Infeksi (osteomyelitis) yang memberi komplikasi pada operasi terbuka padafraktur tertutup

Adanya berbagai macam komplikasi ini menuntut kita untuk lebih mengetahui tentang penyakit itu sendiri, cara mendiagnosa, penanganannya, prognosa, komplikasi, dan pencegahan yang dapat kita lakukan untuk kasus-kasus tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

Compartment Syndrome (Volkmanns Ischaemia)

Definisi

Menurut Salter, Compartment syndrome adalah peningkatan tekanan dari suatu edema progresif di dalam kompartemen osteofasial yang kaku pada lengan bawah maupun tungkai bawah (di antara lutut dan pergelangan kaki) yang secara anatomis menggangu sirkulasi otot-otot dan saraf-saraf intrakompartemen sehingga dapat menyebabkan kerusakkan jaringan intrakompartemen.(1)Menurut Michael S. Bednar et al, compartment syndrome adalah kondisi yang terjadi karena peningkatan tekanan di dalam ruang anatomi yang sempit, yang secara akut menggangu sirkulasi dan yang kemudian dapat menggangu fungsi jaringan di dalam ruang tersebut.(2)Menurut Stephen Wallace dan 1, compartment syndrome adalah syndrome yang ditandai dengan gejala 7P yaitu pain (nyeri), paresthesi, pallor (pucat), puffiness (kulit yang tegang), pulselessness (hilangnya pulsasi), paralisis, dan poikilotermis (dingin).(1,3)Menurut Andrew L. chen, diagnosis compartment syndrome dapat ditegakkan jika pada pemeriksaan ditemukan tekanan intrakompartemen yang meningkat di atas 45 mmHg atau selisihnya dengan tekanan diastolik kurang dari 30 mmHg.(4)Dapat disimpulkan bahwa compartment syndrome adalah sindrom yang disebabkan oleh peningkatan tekanan dari suatu edema progresif di dalam kompartemen osteofasial yang kaku pada lengan bawah maupun tungkai bawah (di antara lutut dan pergelangan kaki) yang secara anatomis menggangu sirkulasi otot-otot dan saraf-saraf intrakompartemen sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan di dalam kompartemen tersebut dan pada pemeriksaan ditemukan tekanan intrakompartemen yang meningkat di atas 45 mmHg atau selisihnya dari tekanan diastolik kurang dari 30 mmHg serta ditandai dengan tanda dan gejala berupa 7P yaitu pain (nyeri), paresthesi, pallor (pucat), puffiness (kulit yang tegang), pulselessness (hilangnya pulsasi), paralisis, dan poikilotermis (dingin).

Gambar 1 Gambar Kompartemen Tungkai Bawah(5)Insiden

Compartment syndrome paling sering melibatkan kompartemen flexor dari lengan bawah dan kompartemen tibia anterior dari tungkai bawah (meskipun dapat terjadi pada kompartemen osteofsial manapun). (1)Insiden compartment syndrome tergantung pada traumanya. Pada fraktur humerus atau fraktur lengan bawah, insiden dari compartment syndrome dilaporkan berkisar antara 0,6-2%. Pasien dengan kombinasi ipsilateral fraktur humerus dan lengan bawah memiliki insiden sebesar 30%. Secara keseluruhan, prevalensi compartment syndrome meningkat pada kasus yang berhubungan dengan kerusakan vascular. Abouezzi et al melaporkan fasiotomi dilakukan pada 29,5% kasus arterial injuries, 15,2% kasus venous injuries, dan 31,6% pada kasus dengan kombinasi keduanya; kasus-kasus tersebut tidak melibatkan tindakan memperbaiki vena ataupun ligasi. Feliciano et al melaporkan secara keseluruhan, 19% pasien dengan kerusakan vaskuler memerlukan fasiotomi.(6)DeLee dan Stiehl menemukan bahwa 6% dari pasien dengan open fraktur tibia berkembang menjadi compartment syndrome sedangkan pada closed fraktur tibia hanya 1,2%.(7)Insidens compartment syndrome yang sesungguhnya mungkin lebih besar dari yan dilaporkan karena sindrom tersebut tidak terdeteksi pada pasien yang keadaanya sangat buruk. Prevalensinya juga lebih besar pada pasien dengan keusakkan vascular. Feliciano et al melaporkan secara keseluruhan, 19% pasien dengan kerusakan vaskuler memerlukan fasiotomi, namun pada pasien tanpa fasiotomi diperkirkan angka kejadiannya sekitar 30%. Insiden yang sesungguhnya mungkin tidak akan diketahui karena banyak ahli bedah melakukan profilaksis fasiotomi ketika melakukan perbaikkan vaskuler pada pasien risiko tinggi.(7)Di Amerika, prevalensi sesungguhnya dari compartment syndrome belum diketahui; namun sebuah penelitian menemukan angka kejadian anterior chronic exertional compartment syndrome (CECS) sebesar 14% pada individual yang mengeluhkan nyeri tungkai bawah. Laki-laki dan perempuan presentasinya adalah sama dan biasanya bilateral meskipun dapat juga unilateral. Chronic exertional compartment syndrome (CECS) biasanya terjadi pada atlet yang sehat dan lebih muda dari 40 tahun. Atlet dengan CECS yang meningkatkan latihannya dengan hebat dapat meningkatkan risiko terjadinya eksaserbasi akut, demikian pula pada orang yang tidak aktif yang kemudian memulai latihan yang serius.(8)Secara internasional, prevalensi compartment syndrome belum diketahui. (8)Etiologi(1,2,4,9)1. Penyebab tersering dari compartment syndromes adalah adalah fraktur (tersering pada fraktur supra kondiler humeri dengan kerusakan arteri brakhialis pada anak-anak dan fraktur pada sepertiga proksimal tibia).(1)2. bebat eksternal/pemasangan gips yang terlalu kompresif.(9)3. traksi longitudinal yang berlebihan pada penatalaksanaan fraktur femur pada anak.(1)4. soft tissue crush injuries(2)5. cedera arterial dengan perdarahan lokal atau bengkak postiskemik.(2)6. Koma karena obat yang menyebabkan tekanan pada arteri besar karena berbaring di atas permukaan keras dengan posisi yang tidak nyaman dalam waktu yang lama.(1,2)7. luka bakar.(2)8. olah raga(4)Patofisiologi(1,3,4,5,9,10)

Patofisiologi dari compartment syndrome terdiri dari dua kemungkinan mekanisme, yaitu: berkurangnya ukuran kompartemen dan/atau bertambahnya isi dari kompartemen tersebut. Kedua mekanisme tersebut sering terjadi bersamaan, ini adalah suatu keadaan yang menyulitkan untuk mencari mekanisme awal atau etiologi yang sebenanya. Edema jaringan yang parah atau hematom yang berkembang dapat menyebabkan bertambahnya isi kompartemen yang dapat menyebabkan atau memberi kontribusi pada compartment syndrome.

Tidak seperti balon, fasia tidak dapat mengembang, sehingga pembengkakan pada sebuah kompartemen akan meningkatkan tekanan dalam kompartemen tersebut.