tugas individu farida orem

Download Tugas Individu Farida Orem

Post on 16-Oct-2015

30 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

good

TRANSCRIPT

BAB II

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembatasan aktivitas yang terlalu lama pada pasien Gagal Jantung Congestive (CHF) dapat mengakibatkan penurunan moral seperti; depresi karena pasien merasa tidak berguna dan tidak mungkin kembali normal, selain itu akan mengakibatkan cardiac neurosis, hipotensi ortostatik dan takikardi yang tidak baik bagi pasien CHF hal ini disebabkan hipovolemia. Pada pasien yang tirah baring lebih dari 10 hari akan mengalami berkurangnya sirkulasi darah yang bersirkulasi sebanyak 700 -800 ml, hal ini karena volume plasma berkurang lebih banyak dibandingkan sel darah merah. Oleh karena itu Lewis (2000) menganjurkan chair treatment, yaitu duduk dikursi 1 2 jam pada hari kedua dirawat di rumah sakit. Terapi ini baik karena akan menambah pengisian pembuluh darah perifer dan mengurangi venus return, sehingga akan mengurangi beban kerja jantung. Kegiatan fisik pasien CHF penting dilakukan, yang bertujuan untuk mencapai kembalinya keadaan fisik, mental dan sosial secara optimal, Sehingga pasien dapat hidup serta bekerja kembali normal.Berdasarkan hal-hal diatas maka dapat dimengerti bila aktivitas dini akan mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan pada pasien CHF, asalkan memperhatikan syarat-syarat dibawah pengawasan tenaga kesehatan. Salah satu tujuan dari aktivitas ini adalah untuk memandirikan pasien, hal ini sesuai dengan model konseptual Dorotea E Orem yang kita kenal dengan model self care deficit. Teori Orem merupakan suatu pendekatan yang dinamis dimana perawat bekerja untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam merawat dirinya sendiri dan bukan menempatkan pasien pada posisi bergantung, karena self care merupakan perilaku yang dapat dipelajari.Berdasarkan hal tersebut diatas, penulis akan mencoba mengaplikasikan teori model keperawatan Orem (Self Care) yang berfokus pada aktivitas fisik pasien gagal jantung congestive.B. Tujuan Penulisan

Menganalisis penerapan teori model keperawatan menurut Dorothea E. Orem yang berfokus pada aktivitas fisik pasien gagal jantung congestive (CHF).BAB II

TINJAUAN TEORI

I. KONSEP TEORI MODEL OREMA. Sejarah Konsep Model Dorothea E. Orem

B. Penjabaran Teori Dorothea E. OremPengertian self care menurut Orem (1991) yaitu kemampuan individu untuk memprakarsai dirinya dalam melakukan perawatan diri sendiri dalam rangka mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan. Sedangkan menurut Benner (1980) yaitu perawatan yang diberikan oleh diri sendiri, merupakan tindakan nyata untuk memenuhi kebutuhan secara spesifik menuju proses hidup yang efektif, yang dipengaruhi oleh perilaku, kemampuan intelektual dan standar penampilan self care. Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa self care adalah suatu upaya atau tindakan individu dalam memenuhi kebutuhan dirinya dengan mengoptimalkan kemampuan intelektual, perilaku dan pendayagunaan lingkungan yang menunjang pemenuhan self care dalam mencapi kesehatan yang optimal.Menurut Marriner A., (1986) Orem menetapkan teori perawatan diri (self care) sebagai teori secara umum. Orem membagi Self Care menjadi 3 (tiga) konsep yang saling berhubungan, yaitu teori Self Care, teori self Care Deficit dan teori Nursing System, yang mencakup enam konsep sentral yaitu, Self Care, Self Care Agency, Therapeutik Self Care Demand, Self Care Deficit, Nursing Agency, Nursing System dan Conditioning Factor. Seperti pada gambar dibawah ini: Untuk lebih jelas dapat terlihat pada gambar 2.1.

Conditional factor Conditional factor Dari gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut ;

1. Teori Perawatan Diri (Self Care)Self care merupakan suatu hal yang terus menerus dilakukan orang dewasa terhadap eksistensi, kesehatan dan kehidupannya. Self care adalah tindakan atau aktifitas dimana individu memulai dan membentuk dirinya dalam hal pemeliharaan hidup, kesehatan dan kesejahteraannya. Perawatan diri yang dilakukan secara efektif dan menyeluruh dapat membantu menjaga integritas struktur dan fungsi tubuh serta berkontribusi dalam perkembangan individu.

Untuk mencapai keadaan self care ini diperlukan beberapa syarat pencapaiannya. Syarat-syarat perawatan mandiri adalah tujuan yang harus dicapai melalui macam-macam usaha perawatan, yaitu :

a. Universal Self-Care Requisites

Universal self-care requisites merupakan yang terdapat pada manusia dan termasuk didalamnya adalah keseimbangan udara, cairan, makanan, eliminasi, aktifitas dan istirahat dan menyendiri dan interaksi sosial, pencegahan kecelakaan dan meningkatkan fungsi individu dan perkembangan dalam kelompok sosial sesuai dengan potensi, keterbatasan dan kemampuan pasien untuk menjadi normal.

Syarat-syarat ini akan mempengaruhi perilaku manusia yang akan membawa pada kondisi internal dan eksternal yang dapat mempertahankan struktur dan fungsi manusia, sehingga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan manusia baik fisik maupun psikologis.

b. Developmental Self-Care Requisites

Kebutuhan self-care disesuaikan dengan proses perkembangan dan kematangan seseorang menuju fungsi optimal untuk mencegah terjadinya kondisi yang dapat menghambat perkembangan dan kematangan serta penyesuaian diri dengan perkembangan tersebut.

Terdapat dua tipe Developmental Self-Care Requisites yaitu 1) untuk siklus kehidupan normal, dan 2) untuk kondisi-kondisi khusus. Masing-masing tahap perkembangan manusia mulai dari fetal sampai lansia memiliki karakteristik kebutuhan perawatan diri yang berbeda-beda. Kemampuan perawatan diri secara mandiri atau tergantung sesuai tahapannya sangat mempengaruhi proses perkembangan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan kesejahteraan.c. Health Deviation Self-Care Requisites

Merupakan bagaimana memenuhi kebutuhan manusia dengan menghubungkan faktor genetic dan gangguan yang menetap, gangguan struktur dan fungsi manusia (ketidakmampuan) atau efek dari pengobatan dan tindakan. Health deviation (penyimpangan kesehatan) seperti sakit, luka atau kecelakaan dapat menurunkan kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan perawatan dirinya (self-care), baik secara permanen maupun temporer. Kebutuhan ini meliputi :

1) Mencari pengobatan yang tepat dan aman

2) Menyadari dampak dari patologi penyakit

3) Memilih prosedur diagnostik, terapi dan rehabilitatif yang tepat dan efektif.

4) Memahami dan menyadari dampak dari program pengobatan

5) Memodifikasi konsep diri untuk dapat menerima status kesehatannya.

6) Belajar hidup dengan keterbatasan

Menurut Taylor, S.G. & Renpenning, K.M. (2001) selainn 3 konsep di atas masih terdapat lagi suatu teori yang menentukan dalam self care yaitu conditioning factor.

d. Conditioning Factor

Merupakan faktor internal atau eksternal dari individu yang mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan self care atau mempengaruhi jumlah dan macam kebutuhan self care.

Faktor ini meliputi : usia, jenis kelamin, status perkembangan, status kesehatan, orientasi sosiokultural, faktor Health care system (diagnosa medis dan terapi), faktor sistem keluarga, pola hidup termasuk aktivitas yang bisaa dilakukan, faktor lingkungan serta ketersediaan dan keadekuatan sumber.

Orem (2001) menjelaskan pula tentang beberapa hal yang berhubungan dengan self care yaitu standar dari keadaan perawatan diri (Therapeutic self care demand), dan individu yang memberikan bantuan (self care agency)

Therapeutic Self Care Demand merupakan totalitas dari tindakan perawatan diri yang terbentuk dalam beberapa rentang waktu dalam rangka untuk menemukan kebutuhan perawatan dirinya dengan menggunakan metode yang valid.

Self Care Agency merupakan kemampuan seseorang untuk dapat memperhitungkan kemampuan merawat dirinya sendiri. Terdapat tiga pengertian yang berhubungan, yaitu : Agent (seseorang yang melakukan tindakan), Self care agent (penyedia perawatan diri) dan Dependent care agent (penyedia perawatan) 2. Kurang Perawatan Diri (Self Care Deficit)

Teori ini merupakan inti dari teori Orem. Kurang perawatan diri merupakan hubungan antara self-care agency dan therapeutic self-care demand dimana self care agency tidak mampu untuk memenuhi therapeutic self-care demand. Hal ini menentukan kapan dan kenapa ilmu keperawatan dibutuhkan.Menurut Aggleton, P. & Chalmers, H. (2000) Orem mengidentifikasi 5 metode untuk memberikan bantuan keperawatan :

a. Memberikan pelayanan langsung dalam bentuk tindakan keperawatan

b. Memberikan arahan dan memfasilitasi kemampuan pasien dalam memenuhi kebutuhannya secara mandiri.

c. Memberikan dorongan secara fisik dan psikologik agar pasien dapat mengembangkan potensinya sehingga dapat melakukan perawatan mandiri.

d. Memberikan dan mempertahankan lingkungan yang mendukung perkembangan pribadi pasien untuk meningkatkan kemandirian dalam perawatannya.

e. Mengajarkan pasien tentang prosedur dan aspek-aspek tindakan agar pasien dapat melakukan perawatan dirinya secara mandiri.

Perawat dapat membantu individu dengan menggunakan metode-metode ini dalam memberikan bantuan perawatan diri. Untuk dapat memberikan bantuan yang tepat, maka perawat harus mengkaji kondisi pasien untuk menentukan metode yang tepat.

Orem (2001) mendefinisikan 5 area aktifitas praktek keperawatan :

a. Membina dan menjaga hubungan perawat-pasien baik individu, keluarga atau kelompok.

b. Menentukan kondisi pasien yang memerlukan bantuan perawat.

c. Berespon terhadap permintaan, keinginan dan kebutuhan pasien akan kontak dan bantuan perawat.

d. Menetapkan, memberikan dan meregulasi bantuan secara langsung pada pasien.

e. Mengkoordinasikan dan mengintegrasikan asuhan keperawatan dengan kegiatan sehari-hari pasien, perawatan kesehatan lain, pemberian pelayanan sosia