tugas gawat darurat

Download tugas gawat darurat

Post on 03-Jul-2015

373 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

resume materi-materi kuliah...

TRANSCRIPT

TUGAS KEPERAWATAN GAWAT DARURAT II LAPORAN PENDAHULUAN CIDERA OTAK SEDANG (COS)

OLEH : CLAUDIA CHRISTYAN PUTRA PRADIGDA NIM. P27820108044

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SOETOMO SURABAYA 2011DAFTAR ISI

Halaman SAMPUL ... DAFTAR ISI. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan . BAB II KONSEP DASAR... 2.1 Pengertian Cidera Otak Sedang... 2.2 Etiologi... . i ii 1 1 2 2 3 3 3

2.3 Patofisiologi.. 3 2.4 Klasifikasi Cidera Kepala. 4 2.5 Manifestasi Klinis. 5 2.6 Jenis Perdarahan yang sering ditemui.. 2.7 Penanganan Pertama Kasus Cidera Kepala. 2.8 Fokus Pengkajian. BAB III PENUTUP...... 3.1 Kesimpulan.. DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 5 7 15 16 16 17

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Cedera kepala pada dasarnya dikenal dua macam mekanisme trauma yang mengenai kepala yakni benturan dan goncangan (Gennereli and Meany, 1996). Berdasarkan GCS maka cidera kepala dapat dibagi menjadi 3 gradasi yaitu cidera kepala derajat ringan, bila GCS : 13 15, Cidera kepala derajat sedang, bila GCS : 9 12, Cidera kepala berat, bila GCS kuang atau sama dengan 8. Pada penderita yang tidak dapat dilakukan pemeriksaan misal oleh karena aphasia, maka reaksi verbal diberi tanda X, atau oleh karena kedua mata edema berat sehingga tidak dapat di nilai reaksi membuka matanya maka reaksi membuka mata diberi nilai X, sedangkan jika penderita dilakukan tracheostomy ataupun dilakukan intubasi maka reaksi verbal diberi nilai T. Prinsip - Prinsip pada Trauma Kepala: 1. Tulang tengkorak sebagai pelindung jaringan otak, mempunyai daya elastisitas untuk mengatasi adanya pukulan. 2. Bila daya/toleransi elastisitas terlampau akan terjadi fraktur. 3. Berat/ringannya cedera tergantung pada : a. Lokasi yang terpengaruh : 1) Cedera kulit. 2) Cedera jaringan tulang. 3) Cedera jaringan otak. b. Keadaan kepala saat terjadi benturan. 4. Masalah utama adalah terjadinya peningkatan tekanan intrakranial (PTIK) 5. TIK dipertahankan oleh 3 komponen : 1) Volume darah /Pembuluh darah ( 75 - 150 ml). 2) Volume Jaringan Otak ( . 1200 - 1400 ml). 3) Volume LCS ( 75 - 150 ml).

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah pengertian cidera otak sedang? 1.2.2 Apakah etiologi pada cidera otak sedang? 1.2.3 Bagaimanakah patofisiologi cidera otak sedang? 1.2.4 Bagaimana klasifikasi cidera kepala? 1.2.5 Bagaimana manifestasi klinis cidera otak sedang? 1.2.6 Bagaimana jenis perdarahan yang sering ditemui pada cidera kepala? 1.2.7 Bagaimana penanganan pertama kasus cidera kepala? 1.3 Tujuan 1.3.1 Dapat mengerti dan memahami pengertian pengertian cidera otak sedang. 1.3.2 Dapat mengerti dan memahami etiologi pada cidera otak sedang. 1.3.3 Dapat mengerti dan memahami patofisiologi cidera otak sedang. 1.3.4 Dapat mengerti dan memahami klasifikasi cidera kepala. 1.3.5 Dapat mengerti dan memahami manifestasi klinis cidera otak sedang. 1.3.6 Dapat mengerti dan memahami jenis perdarahan yang sering ditemui pada cidera kepala 1.3.7 Dapat mengerti dan memahami penanganan pertama kasus cidera kepala.

BAB 2 KONSEP DASAR 2.1 Pengertian Cidera Otak Sedang Cidera otak sedang adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak. Cidera kepala sedang yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi-decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan. Cidera Kepala Sedang (COS): 1. GCS 9 12 2. Saturasi oksigen > 90 % 3. Tekanan darah systale > 100 mm Hg 4. Lama kejadian < 8 jam 2.2 Etiologi 1. Kecelakaan 2. Jatuh 3. Trauma akibat persalinan

2.3 Patofisiologi Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral. Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik.

Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 - 60 ml / menit / 100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output. Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi . Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar. 2.4 Klasifikasi Cidera Kepala 1. Cidera kepala primer Akibat langsung pada mekanisme dinamik (aselerasi-deselerasi rotasi) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Pada cidera primer dapat terjadi : 1). Geger kepala ringan 2). Memar otak 3). Laserasi. 2. Cedera kepala sekunder Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti: 1). Hipotensi sistemik 2). Hiperkapnea 3). Hipokapnea 4). Udema otak 5). Komplikasi pernapasan 6). Infeksi komplikasi pada organ tubuh yang lain. 2.5 Manifestasi Klinis 1. Jika klien sadar akan merasakan sakit kepala hebat. 2. Muntah proyektil. 3. Papil edema. 4. Kesadaran menurun. 5. Perubahan tipe kesadaran. 6. Tekanan darah menurun, bradikardia. 7. An isokor. 8. Suhu tubuh yang sulit dikendalikan

2.6 Jenis Perdarahan yang sering ditemui 1. Epidural hematoma Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang cabang arteri meningeal media yang terdapat diantara duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena sangat berbahaya . Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis. Gejala gejalanya : 1). Penurunan tingkat kesadaran 2). Nyeri kepala 3). Muntah 4). Hemiparese 5). Dilatasi pupil ipsilateral 6). Pernapasan cepat dalam kemudian dangkal ( reguler ) 7). Penurunan nadi 8). Peningkatan suhu 2. Subdural hematoma Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut dapat terjadi dalam 48 jam 2 hari, 2 minggu atau beberapa bulan. Gejala gejalanya : 1). Nyeri kepala 2). Bingung 3). Mengantuk 4). Menarik diri 5). Berfikir lambat 6). Kejang 7). Udem pupil. 3. Perdarahan intra serebral Perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri, kapiler dan vena. Gejala gejalanya : 1). Nyeri kepala

2). Penurunan kesadaran 3). Komplikasi pernapasan 4). Hemiplegi kontra lateral 5). Dilatasi pupil 6). Perubahan tanda tanda vital 4. Perdarahan Subarachnoid Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak, hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat. Gejala gejalanya : 1). Nyeri kepala 2). Penurunan kesadaran 3). Hemiparese 4). Dilatasi pupil ipsilateral 5). Kaku kuduk. 2.7 Penanganan Pertama Kasus Cidera Kepala Pertolongan pertama dari penderita dengan cidera kepala mengikuti standart yang telah ditetapkan dalam ATLS (Advanced Trauma Life Support) yang meliputi, anamnesa sampai pemeriksaan fisik secara seksama dan stimultan pemeriksaan fisik meliputi Airway, Breathing, Circulasi, Disability (ATLS ,1997). Pada pemeriksaan airway usahakan jalan nafas stabil, dengan cara kepala miring, buka mulut, bersihkan muntahkan darah, adanya benda asing. Perhatikan tulang leher, Immobilisasi, Cegah gerakan hiperekstensi, Hiperfleksi ataupun rotasi, Semua penderita cidera kepala yang tidak sadar harus dianggap disertai cidera vertebrae cervikal sampai terbukti tidak disertai cedera cervical, maka perlu dipasang collar barce. Jika sudah stabil tentukan saturasi oksigen, minimal saturasinya diatas 90 %, jika tidak usahakan untuk dilakukan intubasi dan support pernafasan. Setelah jalan nafas bebas sedapat mungkin pernafasannya diperhatikan frekwensinya normal antara 16 18 X/menit, dengarkan suara nafas bersih, jika tidak ada nafas lakukan nafas buatan, kalau bisa dilakukan monitor terhadap gas darah dan pertahankan PCO 2 antara 28 35 mmHg karena jika lebih dari 35 mmHg akan terjadi vasodilatasi yang berakibat terjadinya edema serebri. Sedangkan jika kurang dari 20 mmHg akan menyebabkan vasokonstruksi yang berakibat terjadinya iskemia, Periksa tekanan oksigen (O2) 100 mmHg jika kurang berikan oksigen masker 8 liter/menit. Pada pemeriksaan sistem sirkulasi Periksa denyut nadi/jantung, jika (tidak ada) lakukan resusitasi jantung, Bila shock (tensi < 90 mmHg nadi >100 X/menit) dengan infus cairan RL, cari sumber perdarahan ditempat lain, karena cidera kepala single pada orang dewasa hampir tidak pernah

menimbulkan shock. Terjadinya shock pada cidera kepala meningkatkan angka kematian 2x. Pada peme