resume teori komunikasi

Download Resume Teori Komunikasi

Post on 22-Nov-2015

49 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gcdycgfdtfhgvhgbjhfsjjxkghfjgfhfbgcgfdvghv

TRANSCRIPT

Resume Teori Komunikasi

Oleh :Bobby Patria Ginting(1264190159)

Universitas Persada IndonesiaFakultas Komunikasi Public Relation2013

Teori Komunikasi Simbolik ( Symbolic Interaction Theory SI )A. Tema dan Asumsi Teori Interaksi SimbolikRalph LaRossa dan Donald C.Reitzes (1993) telah mempelajari teori interaksi simbolik yang berhubungan dengan kajian mengenai keluarga. Mereka mengatakan bahwa tujuh asumsi mendasari SI dan bahwa asumsi-asumsi ini memperlihatkan tiga tema besar : Pentingnya makna bagi perilaku manusia Pentingnya konsep mengenai diri Hubungan antara individu dengan masyarakat1. Pentingnya Makna bagi Perilaku ManusiaTeori komunikasi simbolik berpegang bahwa individu membentuk makna melalui proses komunikasi karena makna tidak bersifat intrinsik terhadap apapun.dinutuhkan konstruksi interpretif di antara orang-orang untuk menciptakan makna. Bahkan, tujuan dari interaksi menurut SI, adalah untuk menciptakan makna yang sama. Hal ini penting karena tanpa makna yangsama, berkomunikasi akan menjadi sangat sulit, atau bahkan tidak mungkin. Menurut LaRossa dan Reitxes, tema ini mengandung tiga asumsi SI yang diambil dari karya Herbert Blumer (1969). Asumsi-asumsi ini adalah sebagai berikut : Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia Makna dimodifikasi melalui proses interpretifa. Manusia Bertindak terhadap Manusia Lainnya Berdasarkan Makna yang Diberikan Orang Lain kepada MerekaAsumsi ini menjelaskan perilaku sebagai suati rangkaian pemikiran dan perilaku yang dilakukan secara sadar antara rangsangan dan respons orang berkaitan dengan rangsangan tersebut. b. Makna Diciptakan dalam Interaksi AntarmanusiaMead menekankan dasar intersubjektif dari makna. Makna dapat ada, menurut mead, hanya ketika orang-orang memiliki interpretasi yang sama mengenai symbol yang mereka pertukarkan dalam interaksi. Blumer (1969) menjelaskan bahwa terdapat tiga cara untuk menjelaskan asal sebuat makna. Satu pendekatan mengatakan bahwa makna adalah sesuatu yang bersifat intrinsik dari suatu benda. Pendekatan kedua terhadap asal-usul makna melihat makna itu dibawa kepada benda oleh seseorang bagi siapa benda itu bermakna (Blumer, 1969, hal. 4). Pendekatan ketiga terhadap makna, melihat makna sebagai sesuatu yang terjadi diantara orang-orang. Makna adalah produk sosial atau ciptaan yang dibentuk dalam dan melalui pendefinisian aktivitas manusia ketika mereka berinteraksi (Blummer, 1969, hal. 5).

c. Makna Dimodifikasi melalui Proses InterpretifBlumer menyatakan bahwa proses interpretif ini memiliki dua langkah. Pertama, para pelaku menentukan benda-benda yang menpunyai makna. Langkah kedua melibatkan si pelaku untuk memilih, mengecek, dan melakukan transformasi makna di dalam konteks dimana mereka berada.

2. Pentingnya Konsep DiriKonsep diri ( self-concept), atau seperangkat persepsi yang relatif stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Karakteristik yang diakui oleh roger tentang ciri-ciri fisiknya, talenta, peranan, keadaan emosi, nilai, keterampilan dan keterbatasan sosial, intelektualitas, dan seterusnya membentuk konsep dirinya. Tema ini memiliki dua asumsi tambahan menurut LaRossa dan Reitzes (1993) . Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain. Konsep diri memberikan motif yang penting untuk perilaku.a. Individu Mengembangkan Konsep Diri melalui Interaksi dengan Orang LainAsumsi ini menyatakan bahwa kita membangun perasaan akan diri ( sense of self) tidak selamanya melalu kontak dengan orang lain. Orang-orang tidak lahir dengan konsep diri; mereka belajar tentang diri melalui interaksi.b. Konsep Diri Memberikan Motif Penting untuk PerilakuPemikiran bahwa keyakinan, nilai, perasaan, penilaian-penilaian mengenai diri memengaruhi perilaku adalah sebuah prinsip penting pada Symbolic Interaction. Mead berpendapat bahwa karena manusia memiliki diri, mereka memiliki mekanisme untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri. Mekanisme ini digunakan untuk menuntun perilaku dan sikap.

3. Hubungan Antara Individu dan MasyarakatAsumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah sebagai berikut : Orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosiala. Orang dan Kelompok Dipengaruhi oleh Proses Budaya dan SosialAsumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku individu. Selain itu, budaya secara kuat memengaruhi perilaku dan sikap yang kita anggap penting dalam konsep diri.

b. Struktur Sosial Dihasilkan Melalui Interaksi SosialAsumsi menengahi posisi yang diambil oleh asumsi sebelumnya. SI mempertanyakan pandangan bahwa struktur sosial tidak berubah serta mengakui bahwa individu dapat memodifikasi status sosial.Jadi sebagai rangkuman, berikut adalah tema-tema yang berkaitan dengan SI dan asumsi-asumsi yang mendukungnya :TEMA Pentingnya makna bagi manusia Pentingnya konsep diri Hubungan antara individu dengan masyarakatASUMSI Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka. Makna diciptakan dalam interaksi antarmanusia Makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif Individu-individu mengembangkan konsep diri menlalui interaksi dengan orang lain Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial

Konsep PentingA. PikiranMead mendefinisikan pikiran (mind) sebagai kemampuan untuk menggunakan symbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dan mead percaya bahwa manusia itu harus mengembangkan pikiran melalui interaksi dengan orang lain. Terkait erat dengan konsep pikiran ialan pemikiran (thought), yang dinyatakan oleh mead sebagai percakapan didalam diri sendiri. Mead berpegang bahwa tanpa rangsangan sosial dan interaksi dengan orang lain, orang tidak akan mampu mengadakan pembicaraan dalam dirinya sendiri atau mempertahankan pemikirannya.Pengambilan peran (role taking), atau kemampuan untuk secara simbolik menempatkan dirinya sendiri dalam diri khayalan dari orang lain. Proses ini disebut juga pengambilan perspektif, karena kondisi ini mensyaratkan bahwa seseorang menghentikan perspektifnya sendiri terhadap sebuah pengalaman dan sebaliknya membayangkannya dari perspektif orang lain. Mead menyatakan bahwa pengabilan peran adalah sebuah tindakan simbolis yang dapat membantu menjelaskan perasaan kita mengenai diri dan juga memungkinkan kita untuk mengembangkan kapasitas untuk berempati dengan orang lain.B. DiriMead mendefinisikan diri (self) sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain. Bagi mead, diri berkembang dari sebuah jenis pengambilan peran yang khusus, maksudnya membayangkan bagaimana kita dilihat oleh orang lain. Meminjam konsep yang berasal dari seorang sosiologis Charles Cooley pada tahun 1912, mead menyebut hal tersebut sebagai cermin diri (looking-glass self) , atau kemampuan kita untuk melihat diri kita sendiri dalam pantulan dari pandangan orang lain. Cooley (1972) meyakini tiga prinsip pengembangan yang dihubungkan dengan cermin diri : (1) kita membayangkan bagaimana kita terlihat dimata orang lain, (2) kita membayangkan penilaian mereka mengenai penampilan kita, (3) kita merasa tersakiti atau bangga berdasarkan pribadi ini.

C. MasyarakatMead mendefinisikan masyarakat (society) sebagai jejaring hubungan sosial yang diciptakan manusia. Individu-individu terlibat didalam masyarakat melalui perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela. Jadi, masyarakat menggambarkan keterhubungan beberapa perangkat perilaku yang terus disesuaikan oleh individu-individu. Masyarakat ada sebelum individu, tetapi juga diciptkan dan dibentuk oleh individu, dengan melakukan tindakan sejalan dengan orang lainnya. (Forte, 2004)Pemikiran mead mengenai orang lain secara khusus (particular others) merujuk pada individu-individu dalam masyarakat yang signifikan bagi kita. Orang-orang ini biasanya adalah anggota keluarga, teman dan kolega di tempat kerja serta supervisor. Kita melihat orang lain secara khusus tersebut untuk mendapatkan rasa penerimaan sosial dan rasa mengenai diri. Orang lain secara umum (generalized others) merujuk pada cara pandang dari sebuah kelompok sosial atau budaya sebagai suatu keseluruhan. Hal ini diberikan oleh masyarakat kepada kita dan sikap dari orang lain secara umum adalah sikap dari keseluruhan komunitas (Mead, 1934, hal.154)

Teori Disonansi KognitifLeon Festinger menamakan perasaan yang tidak seimbang ini sebagai disonansi kognitif (cognitive dissonance); hal ini merupakan perasaan yang dimiliki orang ketika mereka menemukan diri mereka sendiri melakukan sesuatu yangtidak sesuai dengan apa yang mereka ketahu, atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang (1957, hal. 4). Festinger, teori yang berpendapat bahwa disonansi adalah sebuah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.Browns menyatakan bahwa teori ini memungkinkan dua elemen untuk memiliki tiga hubungan yang berbeda satu sama lain : mungkin saja konsonan (consonant), disonan (dissonant), atau tidak relevan (irrelevant). Hubungan konsonan (consonant relationsip) ada antara dua elemen ketika dua elemen tersebut ada pada posisi seimbang satu sama lain. Hubungan disonan (dissonant relationship) berarti bahwa elemen-elemennya tidak seimbang satu dengan lainnya. Hubungan tidak relevan (irrelevant relationship) ada ketika elemen-elemen tidak mengimplikasikan apapun mengenai satu sama lain. Pentingnya disonansi kognitif bagi peneliti komunikasi ditunjukkan dalam pernyataan festinger bahwa ketidaknyamanan yang disebabkan oleh disonansi akan mendorong terjadinya perubahan.A. Asumsi dari Teori Disonansi KognitifDibawah ini kita merangkum empat asumsi da