Regionalisme Sejarah Perkembangan Integrasi Eropa

Download Regionalisme Sejarah Perkembangan Integrasi Eropa

Post on 02-Jan-2016

210 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Regionalisme: Sejarah Perkembangan Integrasi EropaBab IPendahuluanDalam kajian ilmu Hubungan Internasional, regionalisme menjadi pembahasan yang mulai mendapatkanperhatiandikalanganpara ilmuwan hubungan internasional. Mulai dari perang dunia pertama yang kemudian menjadikan para ilmuwan HI menelurkan teori liberalisme yang menekankan pada aspek kerjasama internasional, interdependensi, kerjasama, dan perdamaian yang dikarenakan kondisi internasional pada waktu itu sedang dilanda perang. Kaum liberal percaya bahwa pada dasarnya manusia menginginkan damai, sehingga, kerjasama adalah pilihan terbaik untuk mencapai tujuan damai tersebut. seperti halnya ide Woodrow Wilson meyakini bahwa melalui organisasi internasional yang didesai secara rasional dan cerdas adalah, adalah mungkin untuk mengakhiri perang dan mencapai perdamaian.[1]Ide-ide liberalisme ini kemudian terwujud atas usulan Woodrow Wilson dengan berdirinya Liga Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 Januari 1919.[2]Akan tetapi berdirinya Liga Bangsa-Bangsa ini tidak bertahan lama, hanya selang beberapa tahun, yaitu pada 1939 terjadi perang dunia kedua yang dipelopori oleh Jerman. Hal ini terjadi karena ketidak mampuan organisasi internasional dalam menangkal kekuatan Jerman yang sedang maju. Akan tetapi peristiwa ini tidak membuat pesimis kaum liberal, mereka tetap meyakini bahwa manusia pada dasarnya menginginkan perdamaian, dan organisasi internasional tetap menjadi faktor pendukung untuk mewujudkan perdamaian karena dengan terbentuknya organisasi internasional maka akan tercipta interaksi transnasional.Seperti yang dikatakan Karl Deutsch, bahwa derajat hubungan transnasional yang tinggi anatara berbagai masyarakat mengakibatkan hubungan damai yang memuncak lebih dari sekedar ketiadaan perang (Deutsch 1957). Keadaan tersebut menuju pada komunitas keamanan: sekolompok masyarakat yang telah menjadi terintegrasi. Integrasi berarti bahwa rasa komunitas telah dicapai; masyarakat bersepakat bahwa konflik dan masalah mereka dapat diselesaikan tanpa mengarah pada kekuatan fisik skala besar (Deutsch 1957:5).[3]Berakhirnya perang dunia kedua telah merubah warna dalam studi hubungan internasional, khusunya dalam kaitannya dengan integrasi dan regionalisme. Pada masa ini, muncul teori neo-liberalisme yang mengasumsikan bahwa kerjasama yang dibangun tidak lagi hanya untuk mereduksi perang dan menciptakan perdamaian, akan tetapi lebih dari itu, untuk memenuhi kepentingan bersama melalui kerjasama ekonomi. Teoritisi kaum liberal terinspirasi oleh proses integrasi yang sedang berlangsung di Eropa Barat pada tahun 1950an. Mereka melihat bahwa integrasi adalah suatu kerjasama yang lebih intensif, yaitu aktivitas-aktivitas fungsional lintas batas seperti perdagangan, investasi, dan lain-lain.[4]Ditahun 1970-an Robert Keohane dan Joseph Nye mengembangkan pemikiran dari Karl Deutsch. Mereka berpendapat bahwa hubungan anatar negara-negara barat (termasuk jepang) dicorakkan oleh interdependensi kompleks(Complex Interdependence): ada banyak bentuk dalam hubungan antar masyarakat sebagai tambahan pada hubungan politik pemerintah, termasuk kaitan transnasional di antara perusahaan-perusahaan bisnis.[5]Sebelum memasuki pembahasan mengenai integrasi yang terjadi di Eropa, menurut penulis dibutuhkan pemahan tentang latarbelakang mengenai sejarah integrasi itu sendiri yang kemudian tersistematiskan dalam regionalisme. Sehingga pemahaman mengenai integrasi Eropa lebih mudah dipahami.Bab IIKerangka TeoriDalam studi Hubungan Internasional, Regionalisme memiliki irisan studi yang sangat erat dengan Studi Kawasan (Area Studies). Oleh karena itu, definisi tentang regionalisme akan banyak mengambil dari definisi-definisi yang berkembang dalam Studi Kawasan. Menurut Mansbach,regionatau kawasan adalah Pengelompokan regional diidentifikasi dari basis kedekatan geografis, budaya, perdagangan dan saling ketergantungan ekonomi yang saling menguntungkan, komunikasi serta keikutsertaan dalam organisasi internasional.(Raymond F. Hopkins dan Richard W. Mansbach:1973).Sementara itu, menurut Coulumbis dan Wolfe, dalam bukunya yang berjudulIntroduction to International Relation, Power and Justice,terdapat empat cara atau kriteria yang bisa dipergunakan untuk mendefinisikan dan menunjuk sebuah kawasan atauregionyang sebenarnya sangat ditentukan oleh tujuan analisisnya. Keempat kriteria tersebut adalah:[6]1.Kriteria geografis: mengelompokan negara berdasarkan lokasinya dalam benua, sub-benua, kepulauan dan sebagainya seperti Eropa dan Asia.2.Kriteria politik/militer: mengelompokan negara-negara dengan berdasarkan pada keikutsertaannya dalam berbagai aliansi, atau berdasarkan pada orientasi ideologis dan orientasi politik, misalnya blok sosialis, blok kapitalis, NATO dan Non-Blok.3.Kriteria ekonomi: mengelompokan negara-negara berdasarkan pada kriteria terpilih dalam perkembangan pembangunan ekonomi, seperti, GNP, dan output industri, misalnya negara-negara industri dan negara-negara yang sedang berkembang atau terbelakang.4.Kriteria transaksional: mengelompokan negara-negara berdasarkan pada jumlah frekuensi mobilitas penduduk, barang, dan jasa, seperti imigran, turis, perdagangan dan berita. Contoh ini dapat pada wilayah Amerika, Kanada, dan Pasar Tunggal Eropa.Kemudian, Bruce Russet[7]juga mengemukakan kriteria suatu region, yaitu:1.Adanya kemiripan sosiokultural;2.Sikap politik atau perilaku eksternal yang mirip, yang biasanya tercermin pada voting dalam sidang-sidang PBB;3.Keanggotaan dalam organisasi-organisasi supranasional atau antar pemerintah;4.Interdependensi ekonomi, yang diukur dengan kriteria perdagangan sebagai proporsi pendapatan nasional; dan5.Kedekatan geografik, yang diukur dengan jarak terbang antara ibukota-ibukota negara-negara tersebut.Selain itu, perlu ada pemahaman mengenai proses integrasi, menurut Martin Griffiths, integrasi dapat didefinisikan dalam empat hal yaitu:[8]1.Pergerakan menuju kerjasama antar negara;2.Transfer otoritas kepada institusi supranasional;3.Peningkatan penyamaan nilai-nilai; dan4.Perubahan menuju masyarakat global, pembentukan komunitas masyarakat politik yang baru.Sebagian para ahli menganggap integrasi sebagai sebuah proses, ketika beberapa unit melebur menjadi satu unit atau minimalnya beberapa fungsi tertentu dari beberapa unit bergabung di bawah satu atap koordinasi.[9]dalam suatu prosesakan melahirkan suatu hasil, maka hasil dari suatu integrasi adalah terciptanya komunitas politik dan masyarakat yang terintegrasi. Lebih jauh lagi, proses integrasi akan meningkatkan rasa saling ketergantungan terhadap sistem yang lebih luas lagi.Kerangka teori ini akan mempermudah kita dalam memahami integrasi yangterjadidi Eropa, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa integrasi dapat terjadi karena beberapa hal. Secara garis besar, kedekatan emosional adalah faktor dominan dalam pelaksanaan proses integrasi, sepertihalnyakemiripan budaya, kedekatan letak geografis, dan perkembangan sejarah yang sama. Selain itu ada faktor lain yang dapat mempermudah terjadinya proses integrasi, yaitu persamaan dalam sikap politik dan kepentingan, interdependensi ekonomi, dan keuntungan yang akan diraih melalui kerjasama.Jika teori ini dikaitkan dengan integrasi Eropa, maka kita dapat memahami latarbelakang negara-negara Eropadalamberintegrasi. Sudah jelas bahwa mereka (negara-negara di Eropa) berada dalam satu wilayah yang sama (benua Eropa), mereka jugamemiliki sejarah yang sama yaitumengalami masa-masa kelam dalam kaitannya dengan peperangan, yaitu perang salib,perang dunia pertama dan perang dunia kedua yang juga melibatkan negara-negara di Eropa. Kemiripan budaya dan agama juga mempengaruhi proses integrasi di Eropa yaitu yang sebelumnya Islam telah masuk ke beberapa negara Eropa kemudian Kristen kembali mengambil alih pengaruhnya di Eropa, hal ini dapat menggambarkan bagaimana Eropa telah memiliki perkembangan sejarah dan budaya yang sama. Pada perkembangan selanjutnya, kesamaan tujuan dari negara-negara Eropa untuk menciptakanperdamaianyang dipengaruhi oleh pemikiran liberalisme sangat menentukan bagi kemajuan integrasi di Eropa. Bahwa dalam pandangan liberalisme perdamaian akan tercipta melalui kerjasama internasional, dan kerjasama internasional tersebut kemudian membentuk organisasi internasional yang menciptakan hukum internasional demi keteraturan dalam tatanan dunia internasional.Kesamaan tujuan untuk damai ini merangsang negara-negara Eropa untuk membentuk kerjasamadengan tujuanmenghindariterjadinya perang, hal ini tidak lepas dari pengalamanataspeperangan yang pernah berlangsungdi Eropa. Integrasi Eropa diawali dengan kerjasama ekonomi dan pada perkembangan selanjutnya membentuk organisasi supranasional yang sekarang ini dikenal dengan Uni Eropa.Bab IIIPerkembanganIntegrasi diEropaa.Sejarah Terbentuknya Uni EropaPengalaman buruk mengenai peperangan membuat bangsaEropa mengembangkan berbagai kemungkinan untuk melakukan kerjasama guna menghindarkan berulangnya peperangan di kawasan ini. Terdapat beberapa organisasi regional yang tumbuh dikawasan ini sebagai wujud keseriusan bangsa Eropa untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih damai.Tahapan mencapai integrasi Eropa seperti sekarang melalui proses yang cukup panjang dimulai dari pembentukanEuropean Coal and Steel(ECSC),European Economic Community(EEC), danEuropean Atomic Community(Euratom), kemudian berkembang menjadiEuropean Union(Uni Eropa) seperti saat ini.Langkah awal integrasi Eropa sudah dimulai secara legal formal melalui pembentukancustoms unionsBenelux antara Belgia, Netherland (atau Belanda) dan Luxemburg yang mulai beroperasi pada Januari 1948. Selanjutnya Menteri Luar Negeri Perancis, Robert Schuman, mengusulkan penyatuan produksi dan perdagangan batu bara dan baja antara Perancis dan Jerman dengan pembentukanEuropean Coal and Steel Community(ECSC). Tujuannya adalah untuk menyatukan produksi dan transportasi batu bara dan baja dari negara-negara Eropa yang meratifikasi perjanjian kerjasama tersebut dari k