referat gangguan pendengaran

Download Referat Gangguan Pendengaran

Post on 18-Jan-2016

190 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

referat

TRANSCRIPT

REFERATGANGGUAN PENDENGARAN

KONSULEN PEMBIMBING:dr. Sondang B. R. S., Sp. THT, MARS

OLEH:Lucky Miftah Saviro (2007730076)

BAGIAN THT RSUD CIANJURFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt karena berkat rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan pembuatan referat yang berjudul Gangguan Pendengaran.Ucapan terima kasih tak lupa penulis ucapkan kepada dr. Sondang B. R. S., Sp. THT, MARS selaku konsulen dibagian THT di RSUD Cianjur dan rekan-rekan yang telah membantu penulis dalam pembuatan referat ini.Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan referat ini masih banyak terdapat kesalahan. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya.Semoga referat ini dapat berguna bagi kita semua, khususnya bagi para pembaca.

Cianjur, April 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar2Daftar Isi3Daftar Gambar5Daftar Tabel6BAB I:Latar Belakang7A. Tujuan Umum7B. Tujuan Khusus8BAB II:Anatomi dan Fisiologi Pendengaran9A. Anatomi Telinga9B. Fisiologi Telinga13BAB III:Pembahasan Gangguan Pendengaran17A. Definisi17B. Faktor Penyebab18C. Derajat Ketulian19D. Gejala21E. Pembahasan Penyakit231. Gangguan Pendengaran pada Telinga Luar23a. Atresia Liang Telinga & Mikrotia23b. Fistula Preaurikular24c. Hematoma Aurikular25d. Perikondritis26e. Pseudokista27f. Cerumen Plug27g. Otitis Eksterna Akut27h. Otomikosis33i. Keratosis Obliterans & Kolesteatoma Eksterna332. Gangguan Pendengaran pada Telinga Tengah34a. Miringitis34b. Otosklerosis42c. Otitis Media Akut43d. Otitis Media Supuratif Kronis473. Gangguan Pendengaran pada Telinga Dalam59a. Noise Induction Hearing Loss (NIHL)59b. Tuli Akibat Obat Ototoksik64c. Menieres Disease66d. Presbikusis76BAB IV:Penutup79A. Kesimpulan79B. Saran79Daftar Pustaka80

DAFTAR GAMBAR

Anatomi Telinga Luar9Anatomi Telinga9Membrana Timpani10Vestibulum11Anatomi Telinga Dalam12Pola getaran membran basiler untuk frekuensi suara yang berbeda14Jalur Pendengaran15Jalur Saraf Pendengaran16Mikrotia23Atresia pada canalis auditorius externus24Fistula preaurikular25Hematom aurikula26Perikondritis disertai abses preaurikular26Otitis eksterna sirkumskripta telinga kiri29Kolesteatoma eksterna pada telinga kiri34Radang pada membrana timpani (miringitis)36Timpanoplasti tipe I57Timpanoplasti Tipe II (b), Tipe III (c), Tipe IV (d)58Timpanoplasti Tipe Va (e), Tipe Vb (f)58Perbedaan vestibulum normal dan vestibulum penderita penyakit Meniere68Tes posisi pada penderita vertigo75Maneuver Hallpike76

DAFTAR TABEL

Klasifikasi derajat gangguan pendengaran menurut InternationalStandard Organization (ISO) dan American Standard Association (ASA)19

Tipe-tipe Timpanoplasti58

Baku tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB) peruntukankawasan/lingkungan60

Klasifikasi presbikusis menurut Schuknecht77

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangBerdasarkan survei "Multi Center Study" di Asia Tenggara, Indonesia termasuk 4 negara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6%, sedangkan 3 negara lainnya yakni Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%), dan India 6,3%). Angka prevalensi sebesar 4,6% tergolong cukup tinggi, sehingga dapat menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan pada tahun 2000 terdapat 250 juta penduduk dunia menderita gangguan pendengaran dan 75 juta - 140 juta diantaranya terdapat di Asia Tenggara.1Berdasarkan Survei Kesehatan Indera Tahun 1993 - 1996 yang dilaksanakan di 8 Provinsi Indonesia menunjukkan prevalensi morbiditas telinga, hidung dan tenggorokan (THT). Angka prevalensi tersebut sebesar 38,6%, morbiditas telinga 18,5%, gangguan pendengaran 16,8% dan ketulian 0,4%. (1)Gangguan pendengaran mempunyai tiga jenis, yaitu bisa berbentuk tuli konduksi (Conduction Hearing Loss [CHL]), tuli sensorineural (Sensoryneural Hearing Loss [(SNHL]), dan tuli campur (Mixed Hearing Loss). Penyebab dari ketulian tersebut bermacam-macam, mulai dari infeksi, kongenital, trauma kepala atau telinga, pajanan suara yang terlalu keras, dan lain-lain. Jika dibiarkan, infeksi dapat menyebar ke seluruh organ mulai dari jantung sampai ke otak ataupun sesorang harus memakai ala bantu dengar (ABD) secara permanen.Mengingat besarnya masalah tersebut dan pentingnya kesehatan indera pendengaran sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia, maka diperlukan adanya perhatian yang lebih terhadap masalah kesehatan indera pendengaran.B. Tujuan Penulisana. Tujuan UmumSetelah mempelajari gangguan pendengaran maka diharapkan dokter muda dapat memahami mengenai gangguann-gangguan pendengaran. Dan untuk menambah pengetahuan dokter muda secara teoritis sehingga mudah dalam menangani kasus yang ada. Akan berguna pula untuk para pembaca referat ini sebagai penambah ilmu pengetahuan yang ada sekaligus untuk untuk mendiagnosis secara tepat.Selain itu, tujuan pembuatan referat ini adalah untuk memenuhi tugas sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti ujian akhir dari serangkaian kegiatan kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit THT di RSUD Cianjur periode 19 Maret 2012 21 April 2012.

b. Tujuan KhususDengan mempelajari laporan kasus ini, diharapkan dokter muda dapat :1. Mengetahui pengertian penyakit-penyakit yang membuat gangguan pendengaran.2. Mengetahui patofisiologi penyakit-penyakit yang membuat gangguan pendengaran.3. Mengetahui penyebab penyakit-penyakit yang membuat gangguan pendengaran.4. Mengetahui gejala-gejala dan cara mendiagnosis penyakit-penyakit yang membuat gangguan pendengaran.5. Mengetahui penatalaksanaan penyakit-penyakit yang membuat gangguan pendengaran.

BAB IIANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN

A. Anatomi Pendengarana. Telinga Luar

Gambar 2.1 Anatomi telinga luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 3 cm.Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. (2)

Gambar 2.2 Anatomi Telinga

Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadap liang telinga sementara procesus mastoideus terletak dibelakangnya. Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalam ke lateral menuju prosesus stilodeus di posteroinferior liang telinga, dan berjalan dibawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. (3)

b. Telinga TengahTelinga tengah adalah rongga berisi udara didalam tulang temporalis yang terbuka melalui tuba auditorius (eustachius) ke nasofaring dan melalui nasofaring keluar. Tuba biasanya tertutup, tetapi selama mengunyah, menelan, dan menguap saluran ini terbuka, sehingga tekanan dikedua sisi gendang telinga seimbang. (4)

Gambar 2.3 Membran timpani

Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar yaitu membran timpani, batas depan yaitu tuba eustachius, batas bawah yaitu vena jugularis (bulbus jugularis), batas belakang yaitu aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis. Batas atas yaitu tegmen timpani (meningens/otak), dan batas dalam berturut-turut dari atas kebawah yaitu kanalis semisirkularis horizontal, kanalis facialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan promomtorium.Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar ke dalam, yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran di dalam telinga saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang pendengaran merupakan persendian. Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid. (5)Tuba eustahius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. (3)

c. Telinga DalamLabirin (telinga dalam) mengandung organ pendengaran dan keseimbangan, terletak pada pars petrosa os temporal. Labirin terdiri dari labirin bagian tulang dan labirin bagian membran. Labirin bagian tulang terdiri dari kanalis semisirkularis, vestibulum dan koklea. Labirin bagian membran terletak didalam labirin bagian tulang, dan terdiri dari kanalis semisirkularis, utrikulus, sakulus, sakus dan duktus endolimfatikus serta koklea. (6)Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus dan kanalis semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel-sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar daripada endolimfe. Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor.

Gambar 2.4 Vestibulum

Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus sempit yang juga merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada bidang yang tegak lurus terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada utrikulus. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista. Sel-sel rambut menonjol pada suatu kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam kanalis semisirkularis akan menggerak