referat aspirin for prevention of preeclampsia in lupus pregnancy.doc

Download Referat Aspirin for Prevention of Preeclampsia in Lupus Pregnancy.doc

Post on 04-Oct-2015

17 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I

PENDAHULUANPreeklampsia merupakan kelainan malfungsi endotel pembuluh darah atau vaskular yang menyebar luas sehingga terjadi vasospasme setelah usia kehamilan 20 minggu, mengakibatkan terjadinya penurunan perfusi organ dan pengaktifan endotel yang menimbulkan terjadinya hipertensi (>140/90 mmHg) dan dijumpai proteinuria 300 mg per 24 jam atau 30mg/dl (+1 pada dipstick) dengan nilai sangat fluktuatif saat pengambilan urin sewaktu (Brooks, 2011). Preeklampsia dapat berakibat buruk baik pada ibu maupun janin yang dikandungnya. Komplikasi pada ibu berupa sindroma HELLP (hemolysis, elevated liver enzyme, low platelet), edema paru, gangguan ginjal, perdarahan, solusio plasenta bahkan kematian ibu. Komplikasi pada bayi dapat berupa kelahiran premature, gawat janin, berat badan lahir rendah atau intra uterine fetal death (IUFD). Angka kejadian preeklampsia berkisar antara 5 15% dari seluruh kehamilan di seluruh dunia. Di rumah sakit Cipto Mangunkusumo ditemukan 400 -500 kasus / 40005000 persalinan per tahun (Dharma, 2005).Penyakit sistemik seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dan Antiphospolipid Syndrome (APS) membuat kehamilan memiliki resiko tinggi terjadinya komplikasi ini. APS adalah kelainan protrombotik yang dapat menyebabkan terjadinya trombosis, emboli, atau stroke dan berhubungan erat dengan komplikasi kehamilan seperti preeclampsia. Resiko untuk terjadinya preeklampsia 9 kali lebih tinggi pada pasien APS jika dibandingkan dengan wanita sehat (Schramm and Clowse, 2014).Lupus eritematosus sistemik (SLE) merupakan penyakit autoimun yang ditandai oleh produksi antibodi terhadap komponen-komponen inti sel yang berhubungan dengan manifestasi klinis yang luas. SLE terutama terjadi pada usia reproduksi antara 15-40 tahun dengan rasio wanita dan laki laki 5 : 1. Kejadian SLE di Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya dilaporkan sebanyak 166 penderita dalam 1 tahun (Mei 2003 - April 2004). Resiko ibu dan janin pada komplikasi selama kehamilan secara signifikan lebih tinggi pada wanita dengan SLE dibandingkan dengan wanita sehat. Analisa nasional menunjukkan adanya resiko 20 kali lebih besar terjadinya mortalitas ibu pada pasien lupus, dan juga dapat meningkatkan angka persalinan prematur, SC, dan restriksi pertumbuhan janin. Dibandingkan dengan individu yang sehat, wanita dengan SLE yang sebelumnya memiliki riwayat penyakit ginjal atau SLE selama kehamilan, memiliki resiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi preeklampsia. Komplikasi preeklampsia pada kehamilan terjadi sekitar hampir 30 % kehamilan pada pasien lupus (Schramm and Clowse, 2014).Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin merupakan salah satu senyawa yang secara luas digunakan sebagai obat analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi. Pada pre eklamsia di tandai oleh peningkatan aktivitas tromboksan endotel, ini berarti bahwa pemberian aspirin dapat di jadikan strategi teraupetik yang efektif. Dalam penelitian terhadap 42 uji klinik, pemberian 75 mg aspirin/hari sejak kehamilan 12 hingga 20 minggu dapat mengurangi risiko pre eklamsi, kehamilan matur, dan kematian neonatal (Jordan, 2003). Aspirin dosis rendah, telah menunjukkan efek yang baik dalam uji klinis untuk pencegahan pada plasenta yang terkait dengan komplikasi kehamilan. Dua meta-analisis menunjukkan efek positif dari pemberian aspirin untuk pencegahan preeklampsia pada wanita dengan resiko komplikasi tinggi mengurangi risiko 17-21 %. Analisis menunjukan bahwa pemberian aspirin dosis rendah pada usia kehamilan < 16 minggu dapat menurunkan risiko preeklampsia berat, kematian perinatal ,dan hambatan pertumbuhan janin, jika pemberian aspirin dosis rendah setelah usia kehamilan 16 minggu tidak memberikan efek protektif. Berdasarkan peran tromboksan pada patogenesis dalam perfusi plasenta dan insidensi preeklampsia yang lebih tinggi pada kehamilan SLE, disarankan diberikan aspirin dosis rendah untuk semua wanita hamil dengan SLE , dengan onset terapi yang dimulai sebelum usia kehamilan 16 minggu dan dilanjutkan selama kehamilannya. Wanita dengan SLE dan APS harus melanjutkan pengobatan aspirin sebagai profilaksis terjadinya preeklampsia dan menambahkan heparin atau LMWH (Schramm and Clowse, 2014).BAB II

TINJAUAN PUSTAKAA. PREEKLAMPSIA

1. DefinisiPreeklampsia merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante, intra, dan maupun post partum. Berdasarkan gejala-gejala klinik, preeklampsia dapat dibagi menjadi preeklampsia ringan dan pereklampsia berat. Pembagian preeklampsia menjadi berat dan ringan tidaklah berarti adanya dua penyakit yang jelas berbeda, sebab seringkali ditemukan penderita dengan preeklampsia ringan dapat mendadak mengalami kejang dan jatuh dalam koma. Gambaran klinik preeklampsia bervariasi luas dan sangat individual. Secara teoritik urutan-urutan gejala yang timbul pada preeklampsia ialah edema, hipertensi, protenuria (Prawirohardjo, 2010).

2. EpidemiologiKejadian preeklampsia di Amerika Serikat berkisar antara 2-6% dari ibu hamil nulipara yang sehat. Di negara berkembang, kejadian preeklampsia berkisar antara 4-18%. Angka kejadian preeklampsia ringan terjadi sebanyak 75% dan preeklampsia berat terjadi sebanyak 25%. Dari seluruh kejadian preeklampsia, sekitar 10% terjadi pada usia kehamilan kurang dari 34 minggu. Kejadian preeklampsia meningkat pada wanita dengan riwayat preeklampsia, kehamilan ganda, hipertensi kronis dan penyakit ginjal. Pada primigravida terutama dengan usia muda lebih sering menderita preeklampsia dibandingkan dengan multigravida. Faktor predisposisi lainnya adalah usia ibu hamil dibawah 25 tahun atau diatas 35 tahun, mola hidatidosa, polihidramnion dan diabetes (Ariani, 2010).3. Faktor RisikoBeberapa faktor risiko terhadap timbulnya preeklampsia adalah sebagai berikut (Rahajuningsih et al, 2005):

a. Usia

Insidensi preeklampsia tinggi pada primigravida muda dan terjadi peningkatan pada primigravida tua. Wanita hamil yang berusia kurang dari 25 tahun insidensinya meningkat 3 kali lipat. Hipertensi dapat menetap pada wanita hamil yanng berusia lebih dari 35 tahun. b. Paritas

Paritas merupakan faktor resiko terhadap kejadian preeklampsia, dimana angka kejadian tinggi pada primigravida, baik muda maupun tua. Primigravida tua memiliki risiko lebih tinggi untuk preeklampsia berat.

c. Faktor Genetik

Jika ada riwayat preeklampsia/eklampsia pada ibu/nenek penderita, faktor risiko meningkat sampai 25%. Kejadian tersebut diduga akibat adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang ditentukan genotip ibu dan janin. Terdapat bukti bahwa preeklampsia merupakan penyakit yang diturunkan, penyakit ini lebih sering ditemukan pada anak wanita dari ibu penderita preeklampsia atau mempunyai riwayat preeklampsia/eklampsia dalam keluarga.d. Diet/gizi

Menurut WHO, tidak ada hubungan bermakna antara menu/pola diet tertentu dengan kejadian preeklampsia. Namun pada penelitian, didapatkan hasil bahwa kekurangan kalsium berhubungan dengan tingginya angka kejadian preeklampsia, begitu juga pada ibu yang obesitas/overweight. e. Tingkah laku/sosioekonomi

Merokok selama hamil memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat yang jauh lebih tinggi. Aktifitas fisik selama hamil atau istirahat baring yang cukup selama hamil akan mengurangi kemungkinan/insidens hipertensi dalam kehamilan.f. Mola hidatidosa

Degenerasi trofoblas berlebihan berperan menyebabkan preeklampsia. Pada kasus mola, hipertensi dan proteinuria terjadi lebih dini/pada usia kehamilan muda, dan ternyata hasil pemeriksaan patologi ginjal juga sesuai dengan preeklampsia.g. Obesitas

Hubungan antara berat badan wanita hamil dengan resiko terjadinya preeklampsia jelas ada, dimana terjadi peningkatan insiden dari 4,3% pada wanita dengan Body Mass Index (BMI) < 20 kg/m2 menjadi 13,3% pada wanita dengan BMI > 35 kg/m2.h. Kehamilan multiple

Preeklampsia dan eklampsia tiga kali lebih sering terjadi pada kehamilan ganda, dari 105 kasus kembar dua didapatkan 28,6% preeklampsia dan satu kematian ibu karena eklampsia. Pada penelitian Agung Supriandono dan Sulchan Sofoewan disebutkan bahwa 8 (4%) kasus preeklampsia berat mempunyai jumlah janin lebih dari satu, sedangkan pada kelompok kontrol, 2 (1,2%) kasus mempunyai jumlah janin lebih dari satu.4. Etiologi

Penyebab terjadinya preeklampsia hingga saat ini belum diketahui secara pasti, namun terdapat beberapa teori yang menjelaskan terjadinya preeklampsia. Adapun teori-teori tersebut antara lain:a. Peran Prostasiklin dan Tromboksan

Pada preeklampsia dan eklampsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga sekresi vasodilatator prostasiklin oleh sel-sel endotelial plasenta berkurang, sedangkan pada kehamilan normal, prostasiklin meningkat. Sekresi tromboksan oleh trombosit juga bertambah sehingga timbul vasokonstriksi generalisata dan menurunnya sekresi aldosteron. Perubahan ini menyebabkan pengurangan perfusi plasenta sebanyak 50%, hipertensi dan penurunan volume plasma (Gabriella, 2009).b. Peran Intoleransi Imunologik antara Ibu dan Janin

Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama karena pada kehamilan pertama terjadi pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna sehingga timbul respons imun yang tidak menguntungkan terhadap histikompatibilitas plasenta. Pada preeklampsia terjadi kompleks imun humoral dan aktivasi komplemen. Hal ini dapat diikuti dengan terjadinya pembentukan proteinuria (Gabriella,2009).

Pada perempuan hamil normal, respon imun tidak menolak adanya hasil konsespi yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya human leukocyte antigen protein G (HLA-G) yang berperan penting dalam modulasi respons imun, sehingga ibu tidak menolak hasil konsepsi (plasenta). Adanya HLA-G pada plasenta juga dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel Natural Killer (NK) ibu (Prawirohardjo, 2010). Selain itu HLA-G akan mempermud