Proposal Fera

Download Proposal Fera

Post on 26-Nov-2015

29 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

proposal

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi dan merupakan tolak ukur untuk menilai keadaan pelayanan obstetrik. Jika Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi berarti pelayanan obstetrik masih buruk sehingga memerlukan perbaikan. Angka Kematian Ibu (AKI) juga merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan dan dijadikan acuan juga dalam penggolongan suatu negara dikatakan negara maju atau negara berkembang (Depkes, 2012).Banyak faktor yang mempengaruhi Angka Kematian Ibu (AKI) terutama pada ibu hamil pada saat akan melahirkan, Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu hamil adalah ketuban pecah dini. Ketuban Pecah Dini merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan. Penanganan yang optimal dan yang baku belum ada bahkan selalu berubah. Ketuban Pecah Dini merupakan salah satu penyulit dalam kehamilan dan persalinan yang berperan dalam meningkatkan kesakitan dan kematian meternal-perinatal yang dapat disebabkan oleh adanya infeksi, yaitu dimana selaput ketuban yang menjadi penghalang masuknya kuman penyebab infeksi sudah tidak ada sehingga dapat membahayakan bagi ibu dan janinnya (Manuaba, 2008).Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan salah satu resiko persalinan yang menurut WHO mempunyai persentase yang tinggi yaitu menempati angka 0,31% - 36,2%. Dari persentase angka yang sangat tinggi itulah perlu dilakukan suatu tindakan yang dapat mengurangi resiko kematian Ketuban Pecah Dini (KPD) yang semakin tinggi. Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut adalah dengan melakukan tindakan Sectio Caesarea (Jayanti, 2008).Sectio Caesarea merupakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko yang akan terjadi pada ibu dengan indikasi ketuban pecah dini. Sectio Caesarea ini memberikan jalan keluar bagi kesulitan yang timbul bila persalinan pervaginam tidak mungkin atau berbahaya (Mochtar, 2012).Peran perawat sangat penting dalam keberhasilan perawatan Post Sectio Caesarea. Hal ini dikarenakan ibu dengan Post Sectio Caesarea memiliki luka insisi di abdomen sehingga memerlukan perawatan yang kompleks. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam perawatan Post Sectio Caesarea antara lain perawatan luka, nutrisi, mobilisasi yang bermanfaat untuk mempercepat proses pemulihan sehingga ibu akan merasa nyaman dan tercegah dari resiko setelah pembedahan. Fokus perawatan Post Sectio Caesarea ini yaitu menekan jumlah kematian akibat Sectio Caesarea (Reeder dkk., 2011).Post partum dengan Sectio Caesarea dapat menyebabkan perubahan atau adaptasi fisiologis yang terdiri dari perubahan involusi, lochea, fisiknya, perubahan pada periode post partum, proses menjadi orang tua dan adaptasi psikologis. Selain itu juga terdapat luka post Sectio Caesarea yang menimbulkan gangguan ketidaknyamanan nyeri dan resiko infeksi yang dikarenakan terputusnya jaringan yang mengakibatkan jaringan terbuka sehingga memudahkan kuman untuk masuk yang berakibat menjadi infeksi. Upaya memberikan perawatan yang efektif dan aman bagi ibu resiko tinggi membutuhkan usaha dari seluruh anggota tim kesehatan secara bersama-sama, agar menghasilkan hasil akhir yang optimal bagi ibu dan bayi. Pasien dengan Post Sectio Caesarea dengan Indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD) salah satu kasus yang memerlukan perawatan dari perawat yang terampil untuk menjaga luka pasca-operasi tidak terjadi komplikasi (Mochtar, 2012).Mengingat perawatan pasien dengan Post Sectio Caesarea merupakan masalah yang rawan karena banyaknya komplikasi yang bisa didapatkan baik pada ibu dan janin seperti aspirasi metabolisme pulmonary, infeksi pada luka, hemorragic, infeksi saluran kemih, cedera bladder atau bowel dan komplikasi akibat anestesi di antaranya adalah perubahan pola nafas, bradikardi maupun kelemahan fisik, maka penulis tertarik untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Ny.X Dengan Post Sectio Caesarea Indikasi Ketuban Pecah Dini Hari Ke-1 Di Ruang Nusa Indah RSUD Dr.Soeselo Slawi Tahun 2014.B. TUJUAN PENULISAN1. Tujuan UmumDapat melaksanakan Asuhan Keperawatan dengan Post Sectio Caesarea Indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD).2. Tujuan khususa. Melakukan pengkajian analisis data dan perumusan diagnosa keperawatan klien deangan post sectio caesarea dengan indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD) . b. Melakukan perencanaan keperawatan pada klien post sectio caesarea atas indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD) .c. Melakukan pelaksaan rencana keperawatan pada klien post sectio caesarea atas indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD) . d. Melakukan evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien post sectio caesarea atas indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD).e. Melakukan pendokumentasikan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien post sectio caesarea atas indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD) dalam bentuk karya tulis ilmiah.C. MANFAAT PENULISAN1. Institusi Pendidikan Dapat memberikan masukan yang positif dalam proses belajar mengajar tentang asuhan keperawatan pada pasien post operasi Sectio Caesarea dengan indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD) yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi praktik mahasiswa keperawatan.2. Institusi Rumah Sakit Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperlukan dalam pelaksanaan praktek layanan keperawatan khususnya pada pasien Post Sectio Caesarea dengan Indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD).3. Bagi Penulis Sebagai sarana dan alat dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman khususnya dalam bidang Keperawatan Maternitas pada pasien Post Sectio Caesarea Indikasi Ketuban Pecah Dini (KPD).

D. METODE PENULISANMenurut Sarwono (2008) metode yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini sebagai berikut :1. Studi KepustakaanMempelajari berbagai literatur yang ada relevansinya dengan ketuban pecah dini antara lain : Membaca buku dari berbagai sumber, mengakses data melalui internet, dan mempelajari karya tulis yang ada.2. Studi KasusDengan menggunakan metode pendekatan pemecahan masalah dalam asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, merumuskan diagnosa / masalah aktual maupun potensial, implementasi dan evaluasi serta mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah diberikan pada klien post sectio caesaria indikasi ketuban pecah dini. Untuk memperoleh data yang akurat maka penulis menggunakan teknik :a. AnamnesePenulis melakukan wawancara dengan klien dan keluaganya, di ruang Nusa Indah RSUD Dr. Soeselo Slawi guna mendapatkan data yang diperlukan untuk memberikan asuhan keperawatan pada klien.b. Pemeriksaan FisikPemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis mulai kepala sampai kaki yang meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.c. Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan diagnostik lainnya seperti ultrasonografi (USG), elektrokardiografi (EKG), foto rontgen dan lain lain.3. Studi DokumenterMembaca dan mempelajari status kesehatan klien yang bersumber dari catatan dokter, bidan, perawat, petugas laboratorium dan hasil pemeriksaan penunjang lainya.4. DiskusiMengadakan konsultasi dengan dokter, bidan dan perawat yang menangani konsultasi langsung klien tersebut serta mengadakan diskusi dengan pembibing karya tulis ilmiah mengenai masalah yang dialami klien yaitu ketuban pecah dini.Adapun model konseptual keperawatan yang penulis pilih adalah model konseptual menurut Dorothea orem 1978. Hal ini di karenakan model ini mengajarkan kemandirian pada pasien post Sectio Caesarea untuk melatih mobilisasi fisik pada klien. Menurut OREM asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempelajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan. Teori ini dikenal dengan TEORI SELF CARE (Perawatan Diri) Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia dan orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka. Orem mengklasifikasikan self care dalam 3 syarat-Syarat universal : fisiologi dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas dan istirahat, sosial, pencegahan bahaya. Syarat pengembangan : untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup. Penyimpangan kesehatan berhubungan dengan kerusakan atau penyimpangan cara, struktur norma dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care. Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantungan atau kebutuhan pasien dan kemampuan pasien.

1

40

BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. KONSEP DASAR NIFAS1. Pengertian NifasMasa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lama masa nifas 6-8 minggu (Ambarwati, 2009). Masa nifas disebut juga masa post partum yaitu masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim sampai 6 minggu (Suherni, 2009).2. Periode Nifas a. Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.b. Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu.c. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau sewaktu persalinan mempunyai komplikasi.(Handayani, 2011).

3. Perubahan Fisiologis Masa NifasMenurut Handayani (2011), perubahan fisiologis masa nifas yaitu :1. Sistem Reproduksi a. UterusProses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di tengah garis, kira-kira 2 cm di bawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar. Dalam waktu 12 jam tinggi fundus uteri kurang lebih 1 cm di atas umbilicus, fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari ke-6 p