pengembangan bahan ajar materi kimia unsur kimia.fmipa.um.ac.id/.../04/hal-98-109-adelia- (sma/ma)...

Download Pengembangan Bahan Ajar Materi Kimia Unsur kimia.fmipa.um.ac.id/.../04/Hal-98-109-ADELIA- (SMA/MA) revisi

Post on 08-Mar-2020

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2018 Malang, 03 November 2018

    98 |Sinergi Sains, Teknologi, dan Pembelajaran dalam Bidang Kimia di Era Globalisasi

    Pengembangan Bahan Ajar Materi Kimia Unsur Golongan Alkali dan

    Alkali Tanah Berbasis Learning Cycle 5E untuk Peserta Didik SMA/MA

    Kelas XII

    Adelia Erlina 1 , Endang Budiasih

    2 , Dedek Sukarianingsih

    3

    1,2,3 Universitas Negeri Malang

    Jalan Semarang nomor 5 Malang 65145

    E-mail 1 : adeliaerlina16@gmail.com

    Abstrak: penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D yang terdiri atas

    empat tahap yaitu define, design, develop, dan disseminate. Penelitian hanya

    dilakukan sampai tahap develop. Bahan ajar divalidasi oleh tiga validator ahli. Data

    yang dihasilkan adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang dianalisis secara

    deskriptif. Rata-rata skor kelayakan dari buku guru sebesar 87,3; buku peserta didik

    sebesar 87,8; dan rata-rata skor uji keterbacaan sebesar 87. Berdasarkan penilaian

    tersebut, bahan ajar yang dikembangkan dikategorikan sangat layak untuk

    digunakan dalam proses pembelajaran.

    Kata kunci: bahan ajar, Learning Cycle 5E, alkali dan alkali tanah

    Abstract: This research was used 4D development model which consisting of four

    stages: define, design, develop, and disseminate. The development was only done

    until the develop stage. The teaching materials produced were validated by three

    expert validators. The type of data obtained was quantitative data and qualitative data which analyzed in descriptive. The average feasibility percentage of the

    teacher's book was 87.3; the learners' books was 87.8; and the average percentage of

    test readability was 87. Based on the assessment, the developed teaching materials

    were categorized as very suitable for used in the learning process.

    Key words: teaching materials, Learning Cycle 5E, alkali and alkaline earth

    Kurikulum 2013 menunjukkan adanya reformasi pendekatan pembelajaran yang

    awalnya berpusat pada guru (teacher-centered learning) berubah menjadi pembelajaran

    berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Kurikulum merupakan hal yang

    mendasar dalam pendidikan. Qomariah (2014) menyatakan, โ€œkurikulum dapat dimengerti

    sebagai suatu kumpulan atau daftar pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik

    komplit dengan cara pemberian nilai pencapaian belajar dikurun waktu tertentuโ€. Salah satu

    mata pelajaran yang dimasukkan dalam kurikulum adalah mata pelajaran kimia. Chang

    (2008: 4) menyatakan, โ€œkimia adalah ilmu yang mempelajari materi dan perubahan yang

    dialaminyaโ€. Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta

    didik, sebab banyak materinya yang bersifat abstrak. Salah satu materi yang dibahas pada

    kelas XII sesuai dengan silabus mata pelajaran kimia sekolah menengah atas/madrasah aliyah

    (SMA/MA) revisi tahun 2017 adalah materi kimia unsur. Kompetensi dasar 3.7 dan 4.7 pada

    silabus mata pelajaran sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA) revisi tahun 2017

    untuk kelas XII, materi kimia unsur mempelajari tentang kelimpahan, kecenderungan sifat

  • Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2018 Malang, 03 November 2018

    99 |Sinergi Sains, Teknologi, dan Pembelajaran dalam Bidang Kimia di Era Globalisasi

    fisika dan kimia, manfaat, dan proses pembuatan unsur-unsur golongan utama (gas mulia,

    halogen, alkali, dan alkali tanah).

    Materi kimia unsur masih dianggap sulit oleh peserta didik, karena materi yang

    dipaparkan dalam buku masih bersifat monoton dan kurang menarik minat peserta didik

    untuk membaca. Hasil observasi buku kelas XII menunjukkan bahwa buku yang digunakan

    masih bersifat naratif, verifikatif, dan deskriptif, sehingga peserta didik hanya belajar dan

    tidak berpikir. Haryani dkk (2014) menyatakan bahwa guru dan calon guru merasa kesulitan

    untuk membelajarkan materi kimia unsur pada peserta didik. Permasalahan mengenai

    sulitnya mempelajari dan membelajarkan materi kimia unsur dapat diminimalisir jika dibuat

    bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum 2013 yang dapat membangkitkan minat membaca

    peserta didik dan dapat mengembangkan pengetahuannya secara mandiri.

    Pembelajaran berpusat pada peserta didik yang sesuai dengan kurikulum 2013

    termasuk paradigma konstruktivistik. Prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivistik adalah

    (1) pengetahuan dibangun oleh peserta didik sendiri baik secara personal maupun sosial (2)

    pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke peserta didik, kecuali dengan keaktifan sendiri

    peserta didik untuk menalar (3) peserta didik secara aktif mengkonstruk secara terus

    menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta

    sesuai dengan konsep ilmiah (4) guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi

    agar proses konstruksi peserta didik berjalan mulus (Suparno, 2001). Namun, paradigma

    yang lebih banyak dikembangkan di sekolah merupakan paradigma behavioristik (Haryanto,

    2008). Teori behavioristik menganggap manusia sebagai makhluk yang pasif, sehingga

    segala sesuatunya bergantung pada stimulus yang diberikan (Nahar, 2016). Hal ini tentu tidak

    sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 yang menerpakan pembelajaran berpusat pada

    peserta didik (student-centered learning).

    Penerapan paradigma konstruktivistik dalam dunia pendidikan, memerlukan bantuan

    bahan ajar. Model yang digunakan untuk menyusun bahan ajar baiknya adalah model yang

    sesuai dengan paradigma konstruktivistik. Salah satu model pembelajaran yang dapat

    digunakan sebagai dasar pembuatan bahan ajar yang sesuai dengan paradigma

    konstruktivistik adalah model Learning Cycle 5E. Model Learning Cycle 5E terdiri dari 5

    fase selama proses pembelajaran. Fase-fase dalam Learning Cycle 5E adalah fase

    engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Masing-masing fase

    menyajikan materi pembelajaran dengan cara yang berbeda, sehingga peserta didik dapat

    mengkonstruk pengetahuannya sendiri.

    Fase engagement adalah suatu fase saat pengetahuan awal peserta didik digali dan an-

    tusiasme ditumbuhkan. Dapat diberikan gambar atau video yang menarik dan berhubungan

    dengan materi yang akan dipelajari. Fase exploration adalah suatu fase saat peserta didik

    mengamati data, video, gambar, atau melakukan percobaan. Fase explanation adalah suatu

    fase saat peserta didik mengkonstruk konsep. Pada fase ini peserta didik menjawab

    pertanyaan pengarah dengan bantuan paparan materi yang telah disediakan. Fase elaboration

    adalah suatu fase saat peserta didik mengaplikasikan konsep yang telah diperoleh pada fase-

    fase sebelumnya. Pada fase ini peserta didik menjawab soal-soal dengan karakteristik berbeda

    dari fase-fase sebelumnya atau melakukan praktikum lanjutan. Fase exploration adalah suatu

  • Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2018 Malang, 03 November 2018

    100 |Sinergi Sains, Teknologi, dan Pembelajaran dalam Bidang Kimia di Era Globalisasi

    fase saat peserta didik menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi untuk

    mengetahui sejauh mana peserta didik dapat memahami materi.

    METODE

    Penelitian pengembangan ini menggunakan model 4D yang dikemukakan oleh

    Thiagarajan, Semmel, dan Semmel pada tahun 1974 yang terdiri atas empat tahap yaitu

    define, design, develop, dan disseminate (Thiagarajan, dkk., 1974). Namun, penelitian ini

    hanya dilakukan sampai tahap develop. Tahap define bertujuan untuk menentukan dan

    mendefinisikan syarat pengembangan. Tahap design dilakukan untuk menghasilkan prototipe.

    Pada tahap develop, dilakukan modifikasi prototipe yang telah dihasilkan menjadi bahan ajar

    yang siap dievaluasi. Pada tahap ini, bahan ajar divalidasi oleh tiga orang validator ahli yang

    terdiri dari satu dosen kimia Universitas Negeri Malang dan dua orang guru kimia SMA/MA.

    Hasil yang diperoleh dari proses validasi ahli akan digunakan sebagai acuan untuk merevisi

    bahan ajar. Setelah bahan ajar direvisi, dilakukan uji keterbacaan terbatas pada sepuluh orang

    peserta didik MAN 4 Kediri. Angket validasi dan uji keterbacaan disusun dengan

    menggunakan skala likert lima tingkat serta terdapat kolom tanggapan dan saran.

    Data yang akan didapatkan dari proses validasi merupakan data kualitatif dan

    kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari tanggapan dan saran perbaikan dari validator ahli

    maupun subjek uji coba. Data kuantitatif diperoleh dari pengisian angket uji kelayakan dan

    keterbacaan menggunakan skala likert dari validator ahli maupun subjek uji coba. Data-data

    tersebut dianalisis secara deskriptif. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil angket dihitung

    dengan rumus sebagai berikut.

    ๐‘‹ = ๐›ด๐‘‹๐‘–

    ๐›ด๐‘‹๐‘š๐‘Ž๐‘˜๐‘  ร— 100%

    Keterangan

    ๐‘‹ : skor rata-rata

    ๐›ด๐‘‹๐‘– : jumlah skor jawaban validator/peserta didik

    ๐›ด๐‘‹๐‘š๐‘Ž๐‘˜๐‘  : jumlah skor maksimal

    Hasil perhitungan tersebut digunakan untuk menentukan kriteria kelayakan dari bahan ajar.

    Kriteria interpretasi skor dapat dil

Recommended

View more >