Laporan Kemajuan Cha

Download Laporan Kemajuan Cha

Post on 12-Aug-2015

40 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>LAPORAN KEMAJUAN COMMUNITY HEALTH ANALYSIS HUBUNGAN ANTARA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT TATANAN RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA STUDI KASUS DI DESA WANGON</p> <p>Disusun oleh: Adhini Dwirespati G1A211074 Muizza Nur Afifa G1A211079</p> <p>KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN NOVEMBER 2011</p> <p>LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KEMAJUAN HUBUNGAN ANTARA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT TATANAN RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA STUDI KASUS DI DESA WANGON</p> <p>Disusun untuk memenuhi sebagian syarat dari Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas/ Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman</p> <p>Disusun oleh: Adhini Dwirespati G1A211074 Muizza Nur Afifa G1A211079</p> <p>Telah dipresentasikan dan disetujui Tanggal November 2011</p> <p>Perseptor Lapangan</p> <p>Perseptor Fakultas</p> <p>dr. Tulus Budi Purwanto NIP. 19820327 200903 1 006</p> <p>dr. Agung S. Dwi Laksana, M.Sc.PH NIP. 19670905 200012 1 001</p> <p>I.</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>A. Latar Belakang Diare merupakan permasalahan umum yang ditemukan di seluruh dunia. Diare merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan tubuh dengan cara pembersihan saluran cerna dari kuman-kuman patogen. Dengan cara demikian diare dapat sembuh sendiri (self limiting disease), namun di sisi lain, diare dapat menyebabkan kehilangan cairan, elektrolit, dan sari-sari makanan. Bila diare terus berlangsung, akan terjadi penyulit seperti dehidrasi dengan renjatan, gagal ginjal akut, gangguan keseimbangan elektrolit, asidosis, hipoglikemia, kurang kalori protein akut, dan lain-lain. Penyulit inilah yang lebih berbahaya dan dapat menyebabkan penderita meninggal dunia (Butterton &amp; Calderwood, 2005). World Health Organization (WHO) (2004) menyebutkan bahwa diare terjadi di seluruh dunia dan menyebabkan 4% dari semua kematian. Secara umum, diare disebabkan oleh infeksi gastrointestinal dan membunuh sekitar 2,2 juta orang setiap tahun. Di Indonesia, diperkirakan 200-400 kejadian diare di antara 1.000 penduduk per tahun. Sebagian besar dari penderita (60-80%) adalah anak usia di bawah 5 tahun. Sebagian besar darinya (1-2%) akan jatuh ke dalam dehidrasi dan sebanyak 50-60% penderita ini akan meninggal bila tidak mendapatkan pertolongan (Soeparto, 2003). Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, menunjukkan angka kematian akibat diare adalah 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita adalah 75 per 100 ribu balita (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (KKRI), 2005). Diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Keadaan lingkungan terutama sanitasi dan ketersediaan air bersih merupakan salah satu faktor utama penularan diare. Faktor lingkungan ini akan berinteraksi bersama perilaku manusia, apabila faktor lingkungan yang tidak sehat karena tercemar bakteri atau virus serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare (KKRI, 2005; Irianto, 2000; Warouw, 2002). Selain itu adanya transisi demografi dan epidemiologi penyakit, maka masalah penyakit akibat perilaku cenderung</p> <p>semakin kompleks (Soemirat, 2000). Mengingat dampak dari perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, maka diperlukan berbagai upaya untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat, salah satunya adalah melalui program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Menurut Green (1990) dalam Notoatmodjo S. (2007) salah satu faktor seseorang melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah enambling factor yaitu faktor pemicu terhadap perilaku yang memungkinkan suatu tindakan atau motivasi. Faktor pemicu tersebut mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan misalnya air bersih, tempat pembuangan sampah, ketersediaan jamban, makanan bergizi dan sebagainya. Berdasarkan 7 indikator PHBS dan 3 indikator gaya hidup sehat yang berhubungan dengan kejadian diare adalah bayi diberi ASI eksklusif, mencuci tangan pakai sabun, menggunakan air bersih, dan menggunakan jamban. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tatanan rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di desa Wangon, kecamatan Wangon. 2. Tujuan Khusus a. Menggambarkan kejadian diare pada balita di desa Wangon b. Menggambarkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di desa Wangon. C. Manfaat 1. Manfaat Teoritis Menjadi dasar penelitian selanjutnya mengenai masalah kesehatan balita yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas 1 Wangon. 2. Manfaat Praktis a. Memberikan informasi kepada warga masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1 Wangon mengenai masalah diare pada balita dan perilaku hidup bersih dan sehat pada tatanan rumah tangga.</p> <p>b. Memberikan informasi mengenai karakteristik yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas 1 Wangon sebagai bahan pertimbangan menentukan kebijakan yang harus diambil untuk menyelesaikan masalah ini.</p> <p>II.</p> <p>ANALISIS SITUASI</p> <p>A. Deskripsi Situasi dan Kondisi Puskesmas dan Wilayah Kerja 1. Keadaan Geografi Puskesmas 1 Wangon merupakan Puskesmas yang terletak di Kabupaten Banyumas. Luas wilayah Puskesmas lebih kurang 39,5 km2. Wilayah kerja Puskesmas 1 Wangon mencakup tujuh desa, yaitu Desa Klapagading Wetan, Desa Wangon, Desa Klapagading Kulon, Desa Banteran, Desa Rawaheng, Desa Pengandegan, dan Desa Randegan. Desa yang memiliki wilayah paling luas adalah Desa Randegan dengan luas 10,4 km2, sedangkan desa yang paling sempit adalah Desa Banteran dengan luas 2,5 km2 (Puskesmas 1 Wangon, 2011). Batas wilayah kerja Puskesmas 1 Wangon yaitu: a. di sebelah utara : wilayah kerja Puskesmas 2 Wangon</p> <p>b. di sebelah selatan : wilayah Kabupaten Cilacap c. di sebelah barat d. di sebelah timur : wilayah kerja Puskesmas Lumbir : wilayah kerja Puskesmas Jatilawang</p> <p>Luas lahan di wilayah Puskesmas 1 Wangon terdiri dari tanah sawah sebanyak 8.625 Ha, tanah pekarangan sebanyak 57,16 Ha, tanah tegalan sebanyak 1.899,79 Ha, tanah hutan negarasebanyak 209 Ha, tanah perkebunan rakyat 85 Ha, dan lain-lain sebanyak 241 Ha (Puskesmas 1 Wangon, 2011). 2. Keadaan Demografi a. Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan data yang didapat dari Kecamatan/Desa untuk wilayah Puskesmas 1 Wangon, jumlah penduduk pada akhir tahun 2010 adalah 53.800 jiwa, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 27.205 jiwa, sedangkan perempuan sebanyak 26.595 jiwa yang tergabung dalam 15.562 kepala keluarga. Desa dengan kepadatan penduduk tertinggi pada tahun 2010 adalah Desa Klapagading Kulon yaitu sejumlah 10.977 jiwa, sedangkan desa dengan kepadatan penduduk</p> <p>terendah adalah Desa Banteran yaitu sebanyak 4.727 jiwa (Puskesmas 1 Wangon, 2011). b. Jumlah penduduk berdasarkan golongan umur Jumlah penduduk menurut golongan umur di wilayah Puskesmas 1 Wangon tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.1. Tabel 2.1. Jumlah penduduk menurut golongan umur di wilayah Puskesmas 1 Wangon tahun 2010 No 1 2 3 4 5 Golongan umur (Tahun) 0-4 5-14 15-44 45-64 &gt;65 Jumlah Laki-laki 2.443 4.741 11.842 6.623 1.556 27.205 Perempuan 2.556 4.817 11.311 6.123 1.788 26.595 Jumlah 4.999 9.558 23.153 12.746 3.344 53.800</p> <p>(Puskesmas 1 Wangon, 2011) Berdasarkan data di atas, kelompok umur dengan penduduk terbanyak yaitu golongan umur 15-44 tahun, yaitu sebesar 23.153 jiwa, maka dapat dikatakan penduduk wilayah kerja Puskesmas 1 Wangon tergolong padat penduduk usia muda/ usia produktif. Sedangkan untuk golongan penduduk dengan jumlah terendah yaitu penduduk usia &gt; 65 tahun sejumlah 3.344 jiwa (Puskesmas 1 Wangon, 2011). c. Kepadatan Penduduk Penduduk di wilayah Puskesmas 1 Wangon penyebarannya tidak merata hal ini dibuktikan dengan adanya jumlah penduduk yang jumlahnya tinggi dan rendah pada masing-masing desa. Jumlah kepadatan di wilayah Puskemas 1 Wangon sebesar 12.362 jiwa /km2 dan di desa terpadat adalah Desa Klapagading Kulon sebesar 3.136 jiwa setiap km2. Sedangkan kepadatan penduduk terendah di Desa Randegan sebesar 634 jiwa/km2 (Puskesmas 1 Wangon, 2011). 3. Keadaan Sosial Ekonomi Tingkat pendidikan penduduk di wilayah Puskesmas 1 Wangon (Puskesmas 1 Wangon, 2011):</p> <p>a. Tidak/belum sekolah b. Tidak/belum tamat SD c. SD/MI d. Tamat SLTP/MTs e. Tamat SLTA/MA</p> <p>: 2.679 orang (6,5%) : 6.789 orang (16,5%) : 14.727 orang (35,8%) : 8.577 orang (20,9%) : 5.825 orang (14,2%)</p> <p>f. AK/Diploma/Universitas : 2.511 orang (6,1%)</p> <p>B. Capaian Program Puskesmas Pembangunan kesehatan di Kabupaten Banyumas masih diarahkan pada rendahnya derajat kesehatan, status gizi, dan kesejahteraan sosial, oleh karena itu pembangunan kesehatan diarahkan dalam upaya perbaikan kesehatan masyarakat melalui perbaikan gizi, kebersihan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, penyediaan air bersih, serta kesehatan ibu dan anak (Puskesmas 1 Wangon, 2011). 1. Derajat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas 1 Wangon, 2011). a. Angka kesakitan 1) DBD Berdasarkan data yang dihimpun petugas surveillance selama tahun 2010 ditemukan 10 kasus DBD di seluruh desa. 2) Malaria Tidak ada kasus malaria di Puskesmas 1 Wangon pada tahun 2010. 3) TB paru Kasus TB paru positif pada tahun 2010 di Puskesmas 1 wangon sebanyak 11 kasus. Jumlah kasus ini tidak tercerminkan keadaan yang sesungguhnya, karena masih ada penderita TB paru yang berobat ke dokter praktik swasta dan tidak dipantau oleh Puskesmas. 4) Diare Jumlah diare di Puskesmas 1 Wangon tahun 2010, sebanyak 754 kasus. 5) Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Angka kunjugan penderita ISPA sebanyak 5046 jiwa, pada pneumonia sebanyak 143 jiwa, kekurangan ini dimungkinkan karena:</p> <p>a) Sistem pencatatan dan pelaporan kurang baik b) Kerja sama lintas program kurang baik b. Angka kematian Angka kematian bayi Menurut data yang dihimpun petugas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terdapat 15 kasus kematian bayi dari 980 kelahiran hidup. Angka kematian bayi sebesar 15,3/1.000 kelahiran hidup. Sedangkan kasus bayi lahir mati sebanyak 4 kasus (Puskesmas 1 Wangon, 2011). c. Status gizi Penentuan gizi menggunakan indikator tabel pada buku pedoman pemantauan status gizi tahun 2001 diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Kategori I 2) Kategori II 3) Kategori III 4) Kategori IV 5) Kategori V : status gizi buruk : status gizi kurang : status gizi sedang : status gizi baik : status gizi lebih</p> <p>Status gizi balita dibagi menjadi 2, yaitu : 1) Status gizi bayi baru lahir Dari jumlah bayi lahir hidup sebanyak 96 bayi. 2) Status gizi balita (umur 12 sampai dengan umur 59 bulan) Dari jumlah balita yang ada dapat dipaparkan sebagai berikut : a) Balita yang ditimbang b) Berat badan naik c) Bawah garis merah d) Bawah garis titik-titik d. Status gizi dan ibu hamil 1) Ibu hamil dengan anemia gizi besi (AGB) Dari jumlah 1.041 ibu hamil yang diperiksa, jumlah ibu hamil dengan anemia gizi besi (AGB) tidak ada. : 3.220 anak : 2.481 anak : 20 anak : 3 anak</p> <p>2) Status gizi ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) Pada tahun 2010 ini status gizi ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) ditemukan ibu hamil KEK sebanyak 363 ibu hamil (Puskesmas 1 Wangon, 2011). 2. Perilaku masyakarat Perilaku masyarakat ditentukan pada peran serta masyarakat di bidang kesehatan melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) baik di masyarakat, di sekolah, maupun di instansi dalam rangka penurunan angka kematian bayi, balita, dan ibu serta berbagai upaya mewujudkan derajat kesehatan yang tinggi. a. Posyandu Berdasarkan data 2010, jumlah Posyandu di Puskesmas 1 Wangon sebanyak 78 Posyandu. 1) Desa Wangon Jumlah Posyandu Jumlah Kader 2) Desa Klapagading Jumlah Posyandu Jumlah Kader : 12 : 54 kader, 44 kader aktif : 13 : 57 kader, 44 kader aktif</p> <p>3) Desa Klapagading Kulon Jumlah Posyandu Jumlah Kader 4) Banteran Jumlah Posyandu Jumlah Kader 5) Rawaheng Jumlah Posyandu Jumlah Kader 6) Pengadegan Jumlah Posyandu Jumlah Kader : 12 : 60, 43 kader aktif :5 : 26 (aktif) :8 : 36 (aktif) : 17 : 71, 62 kader aktif</p> <p>7) Randegan Jumlah Posyandu Jumlah Kader : 11 : 55 (aktif)</p> <p>b. SD/MI yang bebas Narkotika, Psikotropika, dan Zat-Zat Aditif (NAPZA) Pada tahun 2010, dari 38 SD/MI yang ada di wilayah Puskesmas 1 Wangon, seluruh sekolah bebeas NAPZA atau sebesar 100%. c. Penduduk yang terlindungi Asuransi Kesehatan Dari jumlah penduduk di Puskesmas 1 Wangon, yaitu sebanyak 53.800 orang. Penduduk yang menggunakan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) sebanyak 22.816 (Puskesmas 1 Wangon, 2011). 3. Kesehatan Lingkungan Keadaan lingkungan masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi derajat kesehatan di samping perilaku masyarakat itu sendiri. Upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, beberapa indikator penting yang dapat mempengaruhi kesehatan lingkungan, yaitu sebagai berikut : a. Rumah sehat Dari 900 rumah yang diperikasa ternyata yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 374 buah atau sebesar 42,6% dari jumlah yang diperiksa. b. Sekolah sehat Jumlah sekolah yang ada di wilayah Puskesmas 1 Wangon, sebanyak 58 sekolah yang diperiksa sebanyak 58 sekolah, dan semuanya merupakan sekolah sehat. c. Sarana ibadah 1) Masjid Sehat Jumlah masjid sebanyak 79 buah yang diperiksa kesehatannya 79 buah, sedangkan masjid yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 46 buah atau 58%.</p> <p>2) Pesantren Jumlah pesantren sebanyak 3 buah, yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 3 buah. d. Tempat-Tempat Umum (TTU) Pada tahun 2010, jumlah TTU yang diperiksa syarat kesehatannya sebanyak 87 buah atau sebesar 72,5% dari jumlah TTU yang diperiksa. e. Keluarga yang memiliki sarana kesehatan lingkungan Pembuangan air limbah atau tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan rendahnya kualitas air, dapat</p> <p>menimbulkan penyakit menular di masyarakat. Sarana kesehatan lingkungan di wilayah Puskesmas 1 Wangon dari jumlah keluarga sebanyak 15.562 keluarga, adapun kondisi sarana kesehatan lingkungan adalah sebagai berikut : 1) Tempat Buang Air Besar (BAB) atau jamban Jumlah keluarga yang ada 15.562, sedangkan jamban yang periksa syarat kesehatannya sebanyak 4209 buah atau sebesar 53,87% dari jumlah keluarga yang punya. 2) Tempat sampah Dari 15.562 keluarga yang diperiksa tempat sampahnya terdapat 7823 rumah yang punya atau sebesar 50% tempat sampah yang diperiksa. 3) Pengelolaan air limbah Sebanyak 2.728 Sistem Pembuangan Akhir Limbah (SPAL) yang diperiksa dari 1.456 dari SPAL keluarga yang mempunyai atau sebesar 17,29% jumlah SPAL yang diterima. 4) Persediaan air bersih Sebanyak 15.562 persediaan air bersih yang diperiksa 1480 keluarga yang mempunyai sarana persediaan air bersih atau sebesar 9,5% jumlah sarana persediaan air bersih yang diperiksa (Puskesmas 1 Wangon, 2011).</p> <p>4. Pelayanan Kesehatan a. Sarana kesehatan dasar Jumlah sarana kesehatan dasar di wilayah Puskesamas I Wangon pada tahun 2010 sebanyak 6 sarana kesehatan dasar, baik itu milik pemerintah maupun swasta, yaitu sebagai berikut : 1) Puskesmas 2) Puskesmas pembantu 3) Puskesmas keliling 4) Polinde...</p>