laporan drini fix.docx

Download laporan drini fix.docx

Post on 16-Nov-2015

18 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KEANEKARAGAMAN SERANGGADI KAWASAN HUTAN SEKITAR PANTAI DRINI , KECAMATAN TANJUNG SARI, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA

Yanuar Revandi1, Noorma Paramitha2, Restanti Solikhah3, Mailly Paitichen4, Fakrunissa Isnaini Adzikri5, Irma Susanti6

Jurusan BiologiFakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan AlamUniversitas Negeri Semarang2014

ABSTRACT

This research was conducted in Drini Beach, Gunungkidul, Semarang district. Samplings of insect species were done using pitfall trap, direct trap, and light trap. Altogether, there were 9 individual insects collected, which consist of 3 orders, and 7 families,. Based on analysis of their functional role, the insect complexes consist of 10% nocturnal insecta, 90% diurnal insecta. This study aims to determine the diversity of insect species on ecosystems teak forest areas in the Drini beach.

Penelitian ini dilakukan di Pantai Drini, Tanjung Sari, Kabupaten Gunung Kidul. Sampling spesies serangga dilakukan dengan menggunakan perangkap pitfall, light trap, dan penanakapan langsung. Secara keseluruhan, ada 9 individu serangga yang dikumpulkan, yang terdiri dari 3 ordo, dan 7 famili. Berdasarkan analisis peran fungsional mereka, terdiri dari 10% serangga tanah, dan 90% serangga terbang. Data kami lebih lanjut menyatakan bahwa ordo choleoptera mendominasi spesies di hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis serangga pada ekosistem area hutan jati di kawasan pantai Drini.

Keyword: Serangga, pitfall, Pantai Drini

PENDAHULUANLatar BelakangPantai Drini merupakan salah satu pantai istimewa di pesisir Gunungkidul karena sebuah pulau kecil di tengahnya, membagi pantai menjadi dua bagian. Konon di pulau tersebut banyak ditumbuhi santigi (Pemphis acidula) atau masyarakat di sini biasa menyebutnya drini. Itulah kenapa pantai dan pulau ini diberi nama drini. Pantai Drini berada di daerah Gunung Kidul Yogyakarta. Pantai ini satu kompleks dengan jajaran pantai pantai yang terkenal dengan Baron Kukup Krakal. Pantai pantai lain selain itu ada pantai Siung, Pantai Indrayani,pantai Sundak dll. (Ken Savitrie, 2014)Serangga merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestarian-nya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya. Serangga memiliki nilai pen-ting antara lain nilai ekologi, endemisme, konservasi, pendidikan, budaya, estetika, dan ekonomi (Little, 1957). Penyebaran serangga dibatasi oleh faktor-faktor geologi dan ekologi yang cocok, sehingga terjadi perbedaan keragaman jenis serangga. Perbedaan ini disebabkan adanya perbe-daan iklim, musim, ketinggian tempat, serta jenis makanannya (Borror & Long, 1998). Serangga adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang), karena itulah mereka disebut pula Hexapoda.Kajian mengenai peri kehidupan serangga disebut entomologi. Serangga termasuk dalam kelas insekta yang dibagi lagi menjadi 29 ordo, antara lain Diptera (misalnya lalat), Coleoptera (misalnya kumbang), Hymenoptera (misalnya semut, lebah, dan rayap), dan Lepidoptera (misalnya kupu-kupu dan ngengat. Kelompok Apterigota terdiri dari 4 ordo karena semua serangga dewasanya tidak memiliki sayap, dan 25 ordo lainnya termasuk dalam kelompok Pterigota karena memiliki sayapSerangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi.Ukuran serangga relative kecil dan pertama kali sukses berkolonisasi di bumi. Serangga merupakan bioindikator kesehatan hutan. Penggunaan serangga sebagai bioindikator akhir-akhir ini dirasakan semakin penting dengan tujuan utama untuk menggambarkan adanya keterkaitan dengan kondisi faktor biotik dan abiotik lingkungan (Speight et al. 1999). Sejumlah kelompok serangga seperti kumbang (terutama kumbang pupuk), semut, kupu-kupu, dan rayap memberikan respons yang khas terhadap tingkat kerusakan hutan sehingga memiliki potensi sebagai spesies indikator untuk mendeteksi perubahan lingkungan akibat konversi hutan oleh manusia yang se-kaligus menjadi indikator kesehatan hutan (Jones & Eggleton, 2000). Serangga tanah merupakan salah satu kelompok hewan yang penting di ekosistem tanah. Peranannya sangat menonjol padaproses dekomposisi materialorganik di tanah, sehingga menentukan siklus material di tanah. Kehidupan serangga di tanah tergantung pada tumbuh-tumbuhan dan faktor fisika - kimia tanah.Faktor lingkungan dapat mempengaruhi keberadaan hewan tanah disuatu daerah yaitu dapat berupa lingkunganabiotik dan lingkungan biotik. Faktor lingkungan abiotik secara garis besarnyadapat dibagi atas faktor fisika dan factor kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu,kadar air tanah, porositas dan struktur tanah.Faktor kimia antara lain adalah kadarorganik tanah dan unsur-unsur mineral tanah (Suin 2008).Kawasan hutan di sekitar areal pantai Drini yang menyimpan beranekaragam spesies serangga (Insecta) belum terjamah oleh manusia sehingga menjadi salah satu pilihan tempat yang cocok untuk dijadikan penelitian dalam identifikasi serangga. Selain itu, mungkin dapat ditemukan spesies-spesies Insecta baru yang belum teridentifikasi maupun sudah teridentifikasi.

Rumusan MasalahBagaimana keanekaragaman serangga pada di kawasan hutan Pantai Drini, Kabupaten Gunungkidul ?

TujuanTujuan diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman serangga pada kawasan hutan Pantai Drini, Kabupaten Gunungkidul.

ManfaatDengan di laksanakanya Kuliah Kerja Lapangan ini, diharapkan bisa memberi manfaat bagi pembaca.

METODE PENELITIANTempat dan Waktu PelaksanaanKegiatan KKL bertempat di Pantai Drini, Gunung Kidul. Kegiatan KKL ini dilaksanakan pada tanggal 9-10 November 2014. Lokasi yang dijadikan tempat penelitian adalah hutan liar yang banyak pohon jati sekitar 100 meter dari pantai. Banyak tumbuhan yang kering di daerah hutan tersebut. Hutan tersebut menanjak, dengan ketinggian sekitar 10 meter harus dilalui untuk mencapai tanah yang datar. Di samping hutan terdapat areal sawah namun tidak lagi digunakan.Bahan dan AlatBahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah serangga yang tertangkap, air bersih, detergen dan lain sebagainya.Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kain mori, kertas kalkir, milimeter block, gabus, light trap dengan lampu emergency, pit fall trap dengan menggunakan gelas aqua, lup, kertas kalkir, tali rafia,jarum suntik, kamera, mikroskop binokuler, alat tulis menulis, dan buku identifikasi. Pelaksanaan PenelitianPengambilan sampelPengambilan sampel dilakukan dengan mengambil dan mengumpulkan serangga yang tertangkap pada masing-masing titik sampel perangkap yang telah dilakukan. Sampel serangga yang diambil yaitu berupa serangga yang terperangkap. Penangkapan seranggaMetode Analisa DataAdapun metode yang digunakan dalam penelitia ini adalah metode diagonal. Ditentukan titik tengah sebagai sampling pertama, selanjutnnya dicari areal vegetasi yang sama dan dari sampling pertama tersebut diambil 9 sampling yang lain ke sembilan sisi sejauh 100 m. Jarak pengambilan sampel data satu perangkap dengan perangkap yang lain pada sampling adalah 3-4. Dari serangga-serangga yang diperoleh pada setiap penangkapan setelah dikumpulkan, dikeompokkan dan selanjutnya diidentifikasi di laboratorium Taksonomi Hewan Biologi FMIPA Unnes.Serangga Diurnal (Serangga Aktif pada Siang hari)Untuk penangkapan serangga yang aktif pada siang hari dilakukan dengan 2 (dua) metode, yaitu :1. Pit fall Trap Di lapangan hewan tanah juga dapat dikumpulkan dengan cara memasang perangkap lubang. Pengumpulan hewan permukaan tanah dengan memasang perangkap lubang yang digunakan sangat sederhana, yang mana hanya berupa bejana (gelas aqua) yang ditanam di tanah. Permukaan bejana dibuat datar dengan tanah. Agar air hujan tidak masuk ke dalam perangkap, maka perangkap diberi atap dari gabus yang ditegakkan dengan lidi atau kayu. Jarak antara perangkap satu dengan lainnya sebaiknya minimal 2-4 m. Perangkap pit fall dipasang sebanyak 10 buah dalam suatu luasan lahan. Perangkap ini digunakan untuk menangkap serangga yang hidup di atas permukaan tanah. Pemasangan perangkap dilakukan dengan sistem diagonal dengan interval pemantauan 15 menit sekali dalam waktu 2 jam. Pada masing-masing titik sampel yang telah ditentukan ditempatkan dan ditanamkan gelas aqua bekas berdiameter permukaan 5 cm, yang bagian permukaan gelas tersebut sejajar dengan permukaan tanah dengan jarak antara pit fall trap yang satu dengan titik sampel yang telah ditentukan, kemudian masing-masing dasar gelas diisi dengan detergen yang dicampur dengan air bersih sebnayak 200 ml. Perangkap jebak ini dibiarkan selama 15 jam yaitu dipasang pukul 17.00 dan diambil besok paginya pukul 08.00, serangga tanah yang tertangkap dimasukkan dalam plastik kecil. Selanjutnya semua sampel serangga tanah yang didapatkan dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi.

Gambar Pit Fall Trap2. Direct Trap (Penangkapan Langsung)Ini adalah cara yang sederhana dan cepat untuk pengambilan sampel. Kekurangannya adalah bahwa hanya serangga-serangga yang kabur saat si pengumpul mendekati vegetasi, yang dapat ditangkap. Penangkapan serangga secara langsung (direct) ini dilakukan pada pagi hari dengan cara menangkap serangga menggunakan kedua tangan, baik yang ada di tanah maupun yang sedang hinggap di tanaman, kemudian disimpan di kertas kalkir.

Serangga Nocturnal (Serangga Aktif pada Malam Hari) Untuk penangkapan serangga yang aktif pada malam hari dilakukan dengan menggunakan metode :3. Perangkap Lampu Cahaya (Light Trap) Prinsip kerja perangkap cahaya ini cukup sederhana yaitu dengan menarik serangga- serangga yang beterbangan menuju ke arah sumber cahaya. Metode light trapnya yaitu pertama dilakukan pemasangan ligh trap di tempat yang sudah ditentukan, kemudian setelah pemasangan ligh trap terpasang menunggu sampai malam hari, kemudian menyalakan lampu ligh trapnya, lalu dilakukan penangkapan serangga yang men