kajian teori a. keterampilan 2- yang diperoleh oleh sang anak; melalui kegiatan menyimak dan ......

Download KAJIAN TEORI A. Keterampilan   2-  yang diperoleh oleh sang anak; melalui kegiatan menyimak dan ... sperti : boneka tangan, boneka jari, ... yaitu bercerita tanpa menggunakan alat peraga

Post on 06-Feb-2018

215 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 9

    BAB IIKAJIAN TEORI

    A. Keterampilan Berbicara1. Hakikat Berbicara

    Berbicara menurut Greene & Petty (dalam Tarigan, 2008:3-4) bahwa

    berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada

    kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan

    pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari.

    Berbicara sudah barang tentu berhubungan erat dengan perkembangan kosa

    kata yang diperoleh oleh sang anak; melalui kegiatan menyimak dan

    membaca. Kebelum-matangan dalam perkembangan bahasa juga merupakan

    suatu keterlambatan dalam kegiatan-kegiatan berbahasa.

    Selanjutnya, berbicara menurut Tarigan (2008: 16) adalah kemampuan

    mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan,

    menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sebagai

    perluasan ini berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat

    didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan otot dan

    jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau

    ide-ide yang dikombinasikan. Lebih jauh lagi menurut Tarigan (2008: 16),

    berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatka

    faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik

    sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat

    manusia yang paling penting bagi kontrol manusia.

  • 10

    Selanjutnya berbicara menurut Mulgrave (dalam Tarigan, 2008:16)

    merupakan suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang

    disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang

    pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang

    mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah

    pembicara memahami atau tidak, baik bahan pembicaraannya maupun para

    penyimaknya; apakah ia bersikap tenang atau dapat menyesuaikan diri atau

    tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya ; dan apakah

    dia waspada serta antusias atau tidak.

    Berbicara menurut peneliti yaitu aktivitas mengeluarkan kata-kata atau

    bunyi berwujud ungkapan, gagasan, informasi yang mengandung makna

    tertentu secara lisan.

    2. Tujuan Berbicara

    Menurut Tarigan (2008: 16), tujuan utama dari berbicara adalah

    berkomunikasi. Lebih lanjut, Tarigan (2008:8) menegaskan bahwa manusia

    sebagai makhuk sosial tindakan pertama dan paling penting adalah tindakan

    sosial, suatu tindakan tepat saling menukar pengalaman, saling

    mengemukakan dan saling menukar pengalaman, saling mengemukakan dan

    menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan atau saling

    mengekspresikan, serta menyetujui suatu pendirian atau atau keyakinan.

    Komunikasi mempersatukan para individu ke dalam kelompok-

    kelompok dengan jalan menggolongkan konsep-konsep umum. Selain itu,

  • 11

    menciptakan serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum,

    menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang membedakannya dari

    kelompok-kelompok lain, dan menetapkan suatu tindakan.

    Menurut Ochs dan Winker (dalam Tarigan, 2008:16), pada dasarnya

    berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu sebagai berikut.

    1) Memberitahukan dan melaporkan (to inform)

    2) Menjamu dan menghibur (to entertain)

    3) Membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (to persuade)

    3. Faktor Penunjang dan Penghambat Berbicara

    Sujanto (1988:192) membagi faktor penghambat kemampuan bercerita

    menjadi tiga, yaitu: (1) faktor fisik, yang merupakan faktor dalam dan luar

    diri partisipan, (2) faktor media, yang terdiri dari segi linguisitik dan non

    linguistik (misal: tekanan, ucapan, gesture), (3) faktor psikologis, yang

    merupakan faktor kondisi kejiwan partisipan dalam keadaan marah,

    menangis, sedih.

    James MacDonnald (dalam nadhiroh.blog.unair) mengadakan sebuah

    penelitian tentang kesulitan berbicara anak. Berdasarkan hasil penelitiannya

    James MacDonnald menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kesulitan

    berbicara anak yaitu: keterbatasan dalam pendengaran, perkembangan otot

    yang terlambat, kelambanan dalam mengerti bahasa orang dewasa, sering

    latihan berbicara dengan orang lain, peran yang terlalu pasif dalam kehidupan

    sosial, cara komunikasi kuno sudah terlalu nyaman dipakai, orang dewasa

    menganggap anak tidak mampu, orang dewasa yang suka berbicara atas nama

  • 12

    mereka, tidak cukup waktu untuk berbicara, terlalu bnyak bahasa sekolah dan

    kurang bahasa yang komunikatif, terlalu banyak rangsangan, terlalu banyak

    bermain sendiri.

    4. Ragam Seni Berbicara

    Secara garis besar, berbicara (speaking) menurut Tarigan (2008: 24) dapat

    dibagi atas:

    a. Berbicara di muka umum pada masyarakat (publik speaking) yang

    mencakup empat jenis, yaitu:

    1) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberiahukan atau

    melaporkan, yang bersifat informatif (informative speaking);

    2) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan, persahabatan

    (fellowship speaking);

    3) Berbicara dalam situasi-situasi yang membujuk, mengajak, mendesak,

    dan meyakinkan (persuasive speaking);

    4) Berbicara dalam siatuasi-situasi yang merundingkan dengan tenang dan

    hati-hati (deliberative speaking).

    b. Berbicara dalam konferensi (conference speaking) yang meliputi:

    1) Diskusi kelompok (group discussion), yang dapat dibedakan atas:

    2) Tidak resmi (informal) dan dapat diperinci lagi atas:

    3) Kelompok studi (study groups)

    4) Kelompok pembuat kebijakan (policy making groups)

    5) Komik

  • 13

    c. Resmi (formal) yang mencakup pula:

    1) Konferensi

    2) Diskusi panel

    3) Simposium

    d. Prosedur parlemen (parliamentary prosedure), dan debat.

    Nurgiyantoro (2001: 287) membagi keterampilan berbicara menjadi lima

    bentuk, antara lain: 1) berbicara berdasarkan gambar, 2) wawancara, 3)

    bercerita, 4) pidato, 5) diskusi.

    B. Hakikat Bercerita

    Bercerita merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk memberikan

    informasi tertentu kepada orang lain. Informasi yang diceritakan bisa berupa hal

    yang terjadi pada dirinya, orang lain, lingkungan sekitar, dan yang nyata ataupun

    imajiner. Bercerita perlu dipelajari oleh semua orang, karena bercerita merupakan

    kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat indonesia. bercerita merupakan

    aktivitas yang dilakukan masyarakat untuk saling mengakrabkan satu sama lain,

    melalui kegiatan bercerita seseorang dapat menyampaikan segala perasaan, ide

    gagasan dan segala perasaan dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat, dibaca,

    dan dapat mengungkapkan keinginan dan kemauan membagikan pengalaman

    yang diperoleh kepada orang lain melalui bunyi, kata-kata, dan ekspresi. Menurut

    Nurgiyantoro (2001:287), bercerita merupakan salah satu bentuk dalam

    keterampilan berbicara, lima bentuk lain antara lain: (1) berbicara berdasarkan

    gambar, (2) wawancara, (3) bercerita, (4) pidato, (5) diskusi.

  • 14

    Menurut Nurgiyantoro (2001:288-289), bercerita merupakan salah satu tugas/

    kegiatan berbicara yang dapat mengungkapkan kemamuan berbicara siswa yang

    bersifat pragmatis. Ada dua hal penting yang harus dikuasai siswa, yaitu unsur

    apa yang diceritakan yang berupa ketepatan, kelancaran, dan kejelasan cerita

    yang menunjukkan kelancara berbicara siswa.

    Bercerita berdasarkan tinjauan linguistiknya berasal dari kata dasar cerita.

    Cerita menurut Porwadarminta (2007:233), berarti: (1) tuturan yang

    membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (kejadian, peristiwa, dsb); (2)a

    karangan yang yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang

    dsb (baik yang sungguh-sungguh terjadi atau rekaan semata), (2)b lakon yang

    dipertunjukkan dalam gambar lakon hidup (sandiwara, wayang, dsb), (3) ki

    omong kosong dan mendapatkan awalan (-ber), dimana imbuhan ber memiliki

    makna melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Jadi , bercerita memiliki makna

    melakukan tindakan cerita.

    Untuk mencapai keberhasilan dalam bercerita menurut Sudarmadji (2010: 27)

    harus memperhatikan dua hal pokok yaitu:

    1. Menyiapkan naskah cerita

    a. Dari sumber yang sudah ada

    Apabila pendidik mengambil dari buku, majalah atau komik tertentu maka

    itu dinamakan menggunakan sumber cerita yang sudah ada. Tentu saja

    dalam memilih cerita sudah dipilih dengan masak-masak.

  • 15

    b. Mengarang cerita sendiri

    Apabila seorang pencerita hendak membuat naskah sendiri, maka yang

    terpenting yaitu harus menentukan terlebih dahulu alur atau plot cerita. Bisa

    dalam bentuk karangan/ sinopsis, bisa juga ditulis secara detail. Hal penting

    yang harus dilakukan apabila mengarang cerita sendiri yaitu alur dan plot

    harus benar-benar dikuasai.

    2. Teknik penyajian

    Menurut Sudarmadji (2010:32) seorang pencerita perlu menguasai

    keterampilan dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, ekspresi dsb.

    Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur

    penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. Secara garis besar unsur-

    unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional yaitu:

    (1) narasi (pemaparan cerita), (2) dialog (percakapan tokoh),(3) ekspresi(

    terutama mimik muka),(4) visualisasi gerak/ peragaan (acting), (5) ilustrasi

    suara, suara lazim dan tak lazim (suara asli, suara besar, suara kecil, suara

    hewan, suara kendaraan), (6) media atau alat peraga jika ada, (7) teknik

    ilustrasi yang lain (musik, perm