ii. landasan teori 2.1 novel 2.1.1 pengertian ii.pdf · 2.1.1 pengertian novel novel dalam bahasa...

Download II. LANDASAN TEORI 2.1 Novel 2.1.1 Pengertian II.pdf · 2.1.1 Pengertian Novel Novel dalam bahasa Latin

Post on 14-Mar-2019

218 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

9

II. LANDASAN TEORI

2.1 Novel

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra. Berikut ini akan diuraikan

mengenai pengertian dan unsur novel.

2.1.1 Pengertian Novel

Novel dalam bahasa Latin novellus, berasal dari kata novies yang mengandung

arti baru, dikatakan baru karena genre novel muncul setelah kelahiran genre sastra

lainnya (Tarigan, 1991: 164). Ditinjau dari segi jumlah kata, biasanya novel

mengandung kata-kata yang berkisar antara 35.000 buah sampai tak terbatas.

Novel yang paling pendek itu harus terdiri minimal 100 halaman dan rata-rata

waktu yang dipergunakan untuk membaca novel minimal 2 jam (Tarigan, 1991:

165). Dilihat dari segi panjang cerita, novel (jauh) lebih panjang daripada cerpen.

Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan

sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan

permasalahan yang lebih kompleks (Nurgiyantoro, 1998: 11).

Novel adalah cerita fiktif yang panjang. Bukan hanya panjang dalam arti fisik,

tetapi juga isinya. Novel terdiri dari satu cerita pokok, dijalin dengan beberapa

cerita sampingan yang lain, banyak tokoh, banyak kejadian dan kadang banyak

masalah. Yang semuanya itu harus merupakan sebuah kesatuan yang bulat

10

(Sumardjo, 2004: 82). Novel ialah peniruan dari dunia kemungkinan, artinya apa

yang diuraikan di dalamnya bukanlah dunia yang sesungguhnya, tetapi

kemungkinan-kemungkinan yang secara imajinatif dapat diperkirakan bisa

diwujudkannya (Junus, 1985: 1).

Novel adalah cerita yang disusun dengan kata yang tercetak di atas lembaran

kertas, yang bisa dibawa ke mana-mana sembarang waktu. Novel bisa dibaca

kapan saja dan dalam waktu yang ditentukan oleh si pembaca (Damono, 2005:

98). Sebagai bahan bacaan, novel dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu karya

serius dan karya hiburan. Pendapat demikian memang benar tapi juga ada

kelanjutannya. Yakni bahwa tidak semua yang mampu memberikan hiburan bisa

disebut sebagai karya sastra serius. Sebuah novel serius bukan saja dituntut agar

dia merupakan karya yang indah, menarik dan dengan demikian juga memberikan

hiburan pada kita. Tetapi ia juga dituntut lebih dari itu. Syarat utama novel adalah

bahwa ia mesti menarik, menghibur dan mendatangkan rasa puas setelah orang

habis membacanya.

Novel yang baik dibaca untuk penyempurnaan diri. Novel yang baik adalah novel

yang isinya dapat memanusiakan para pembacanya. Sebaliknya novel hiburan

hanya dibaca untuk kepentingan santai belaka. Yang penting memberikan

keasyikan pada pembacanya untuk menyelesaikannya. Tradisi novel hiburan

terikat dengan polapola. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa novel serius

punya fungsi sosial, sedang novel hiburan cuma berfungsi personal. Novel

berfungsi sosial lantaran novel yang baik ikut membina orang tua masyarakat

menjadi manusia. Sedang novel hiburan tidak memperdulikan apakah cerita yang

11

dihidangkan tidak membina manusia atau tidak, yang penting adalah bahwa novel

memikat dan orang mau cepatcepat membacanya.

2.1.2 Unsur Novel

Unsur novel dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan

ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri.

Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra,

unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai ketika orang membaca karya

sastra (Nurgiyantoro, 1998: 23).

Secara umum, unsur intrinsik meliputi tema, alur atau plot, tokoh dan penokohan,

latar atau setting, sudut pandang, dan gaya bahasa. Penjelasan secara rincinya

adalah sebagai berikut.

a. Tema

Tema adalah gagasan yang menjalin struktur isi cerita (Kosasih, 2012: 60).

Senada dengan penjelasan tersebut, tema adalah ide sebuah cerita. Pengarang

dalam menulis ceritanya bukan sekadar mau bercerita, tapi mau mengatakan

sesuatu kepada pembacanya Sumardjo (2004: 22).

b. Alur atau Plot

Plot adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deret peristiwa

yang secara logik dan kronologorik yang saling berkaitan dan berakibat pada para

pelaku (Luxemburg, 1991: 149). Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian,

namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang

satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain Nurgiyantoro

(1998: 113). Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan

12

peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam

suatu cerita itu (Aminudin, 2013: 83).

c. Tokoh dan Penokohan

Penggunaan istilah tokoh merujuk pada pelaku cerita. Tokoh adalah orang-orang

yang ditampilkan dalam suatu karya naratif dan drama yang oleh pembaca

ditafsiran memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang

diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan

(Nurgiyantoro, 1998: 165).

Tokoh dalam karya fiksi menurut perannya dibagi ke dalam dua kategori, yaitu

tokoh utama dan tokoh tambahan (Nurgiyantoro: 1998: 176-178). Dari segi

penampilan tokoh, terdapat dua jenis tokoh yaitu tokoh protagonis dan tokoh

antagonis. (Luxemburg, 1989: 145).

Jika tokoh adalah pelaku dalam cerita sedangkan penokohan menunjukkan pada

sifat, watak atau karakter yang melingkupi diri tokoh yang ada. Penokohan adalah

pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah

cerita (Nurgiyantoro, 1998: 165).

Karakter atau perwatakan atau penokohan adalah gambar rupa atau pribadi atau

watak dalam pelaku (Ibrahim, 1986: 53). Penokohan erat hubungannya dengan

alur karena tokoh-tokoh cerita ikut berbuat dan bermain dan menghubungkan

peristiwa demi peristiwa yang terdapat dalam cerita.

Ada beberapa cara untuk melukiskan rupa, watak, atau pribadi tokoh pelaku,

antara lain:

13

a) melukiskan bentuk lahir pelaku

b) melukiskan jalan pikiran pelaku atau apa yang terlintas dalam pikirannya

c) melukiskan bagaimana interaksi pelaku itu terhadap kejadian-kejadian

d) pengarang dengan langsung menganalisis watak pelaku

e) pengarang melukiskan keadaan sekitar pelaku

f) pengarang melukiskan bagaimana pandangan pelaku lain dalam suatu cerita

terhadap pelaku utama

g) pengarang melukiskan bagaimana pelaku-pelaku lain menceritakan keadaan

pelaku utama.

d. Latar atau Setting

Latar atau setting disebut juga landasan tumpu yang menyaran pada pengertian

tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terwujudnya peristiwa-peristiwa

yang diceritakan. Latar dibagi atas latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar

tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa dalam sebuah karya fiksi

(Nurgiyantoro, 1998: 216).

Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa yang

diceritakan. Dan latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan

prilaku kehidupan sosial di suatu tempat untuk diceritakan dalam karya fiksi.

Latar sosial bisa berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, dan keyakinan

(Nurgiyantoro: 1998: 230-233).

e. Sudut Pandang

Sudut pandang atau point of view, menyaran pada cara sebuah cerita dikisahkan.

Sudut padang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara

14

sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya

(Nurgiyantoro, 1998: 248).

Penceritaan dibagi ke dalam penceritaan persona ketiga dia dan penceritaan

persona pertama aku. Penceritaan persona ketiga dibagi atas dia maha tahu dan

dia terbatas. dia mahatahu disebut juga dengan omnicent,yaitu tehnik dimana

cerita dikisahkan dari sudut pandang dia yang dapat menceritakan apa saja dan

mengetahui segala hal yang menyangkut tokoh. Sementara dia terbatas

penceritaan hanya terpaku pada apa yang dilihat, dirasakan, didengar, dan dialami

oleh tokoh cerita dan terbatas pada satu tokoh saja (Nurgiyantoro, 1998: 256-266).

f. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah tingkah laku pengarang dalam menggunakan bahasa

(Nurgiyantoro, 1998: 9). Dua orang penulis karya sastra, meskipun menggunakan

alur, karakter dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda.

Perbedaan tersebut secara umum terletak bahasanya.

Unsur pembangun karya sastra lainnya yaitu unsur ekstrinsik. Unsur Ekstrinsik

adalah unsur yang berada di luar tubuh karya sastra itu sendiri. Unsur ekstrinsik

adalah unsur luar sastra yang ikut mempengaruh penciptaan karya sastra. Unsur-

unsur tersebut meliputi latar belakang kehidupan pengarang, keyakinan dan

pandangan hidup pengarang, adat-istiadat yang berlaku saat itu, situasi politik,

persoalan sejarah, ekonomi, pengetahuan, agama dan lain-lain Suroto, 1993: 138).

15

2.2 Tokoh dalam Karya Sastra

Penggunaan istilah tokoh merujuk pada pelaku cerita. Tokoh adalah orang-orang

yang ditampilkan dalam suatu karya naratif dan drama yang oleh pembaca

ditafsiran memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang

diekspresikan dalam ucapan dan apa yang

Recommended

View more >