humanisme sartre

Download humanisme sartre

Post on 18-Jul-2015

55 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ul><li><p>5/14/2018 humanisme sartre</p><p> 1/8</p><p>}' ~, ,- -- - , ;r -.....I</p><p>ARTIKEL</p><p>K E S A D A R A N D A N T A N G G U N G JA W A B P R I B A D ' ID A L A M H U M A N IS M E JE A N -P A U L S A R T R E</p><p>Dwi Sisw an toS ta t P en ga ja r F a ku lta s F ils afa t U niv ers ita s G a dja h M a da</p><p>Humanismemerupakan salah satu</p><p>tema filsafat yang penting dalamkebudayaan modern. Abbagnano berpendapat</p><p>bahwa humanisme adalah filsafat yang menjunjungtinggi nilai dan martabat manusia, yang menjadikan manusiasebagai ukuran semua hal yang berkaitan dengan keutamaan(Edwards, 1967). Mudji Sutrisno (1995) mengatakan huma-nisme sebagai paradigma berpikir yang memperjuangkandihormatinya manusia dengan harkat dan martabatnyaserta penempatan manusia sebagai pusat perjuangan</p><p>pembudayaan dan peradaban. Tujuan pokokhumanisme adalah keselamatandan kesempurnaan manusia.</p><p>PengantarTema sentral pembicaraan human-isme adalah manusia dan kebebasan,Untuk itu berbicara mengenai human-</p><p>isme akan senantiasa aktual, Pertanyaantentang apa dan siapa manusia itu meru-pakan sebuah pertanyaan besar yang se-lalu mengganggu pikiran manusia dari</p><p>abad ke abad (Dahler, 197]). Sedangkankebebasan merupakan kata yang begitudigandrungi oleh manusia, terutama olehmanusia modern dewasa ini yang di-rnanifestasikan dalam berbagai macamgaya hidup dan mode.Humanisme sebagai paradigms ber-pikir yang menempatkan manusia seba-gai pusat pembudayaan dan peradaban</p><p>) U R N A L F llS - A F A T . J U L I 1 9 9 7 25</p></li><li><p>5/14/2018 humanisme sartre</p><p> 2/8</p><p>mempunyai arti luas, Dalam sejarah fil-safat Barat terdapat pelbagai aliran yangmenyatakan diri sebagai pemilik human-isme, meskipun memiliki perbedaan-per-bedaan prinsip bahkan tak jarang terjadikontroversi, Aliran-aliran itu antara lain:komunisme, pragmatisme, personalisrne,eksistensialisme dan lain sebagainya.Narnun, pada abad XX ini nampaknyaaliran eksistensialisme yang lebih ber-pengaruh dan banyak dibicarakan(Beerling, 1966).Humanisme yang termasuk dalarndoktrin eksistensialisme dapat dikelom-pokkan dalarn dua mazhab, yakni (1)yang berpegang pada teisme, dan (2)yang berpegang pada ateisme. Tokohyang terkenal sebagai pendukung teismeadalah Kar l . jaspers dan Gabriel Marcel;sedangkan tokoh pendukung ateismeadalah Martin Heidegger dan Jean-PaulSartre.Tulisan ini hanya akan _mengkajipernikiran humanisme Jean-Paul Sartre,sebagai salah seorang tokoh humanis ek-sistensialisrne Prancis yang terkenal, pa-ling besar, dan berpengaruh di dunia.Sartre sebagai .tokoh humanis inginmenciptakan suatu way of life bam, se-macam moral manusiawi (Weij, 1988).Boleh dikatakan seluruh pemikirannyasebagai usaha untuk melukiskan caraber-ada-nya manusia. la menempatkanmanusia sebagai pusat orientasi, danmengatakan bahwa ada atau tidakadanya Tuhan tidak menzubahpenghayatan manusia tentang duinyasebagai eksistensi. Bagi Sartre, rnanusiamengada dengan kesadaran sebagai diri-nya sendiri; ia (manusia) tidak bisadipertukarkan. Adanya manusia berbedadengan adanya hal-hal lain yang tanpakesadaran, Eksistensi manusia adalahketerbukaan, Hal ini mengandung artibahwa manusia bertanggung jawab ter-hadap dirinya sendiri, apa pun eksis-tensinya yang teIjadi, apa pun maknayang hendak diberikan kepada eksis-tensinya (Hasan, 1989).Menurut Sartre, semuanya tundukkepada kesadaran manusia melalui kebe-basan, Tanpa kebebasan, eksistensimanusia meniadi sesuatu yang absurd.Kebebasan melekat pada setiap tindakanmanusia. Apa yang dilakukan manusia</p><p>seharusnya diartikan sebagai ungkapandari kebebasannya. Manusia dalammembentuk dirinya sendiri, mendapatkesempatan untuk setiap kali mernilihapa yang baik dan apa yang kurang baikbaginya, Setiap pilihan yang dijatuhkanoleh manusia sebagai pribadi, tidak dapatmernpersalahkan orang lain, tidak dapatpula menggantungkan keadaannyakepada Tuhan, Melainkan harus diper-tanggungjawabkan secara pribadi, Tang-gung jawab itu harus meliputi tanggungjawab terhadap seluruh kemanusiaan.Pemikiran Sartre tersebut di atas,menarik untuk dipahami. Pemahamanterhadap ajaran Sartre akan menjadibekal yang sangat berharga dalam usahauntuk lebih memahami implikasi peng-gunaan ilmu pengetahuan modern be-serta teknologinya yang sangat menentu-kan hidup dan kehidupan manusia de-wasa ini. Walaupun seseorang mungkintidak menyetujui pandangan Sartre,tetapi ia dapat banyak belajar dari segipositip yang dapat diambil.Tulisan ini akan mengkaji pernikiranJean-Paul Sartre dengan [udul "Kesadarandan Tanggung Jawab Pribadi dalam Hu-manisme Jean-Paul Sartre". Pokokmasalah yang hendak dibeberkan dalamtulisan ini antara lain: Dasar ontologi dandasar antropologi dati humanisme .Sar-tre, Implikasi ens dari dasar humanisrneSatire itu dalam konsep kesadaran dantanggung iawab. Kemudian memperli-hatkan relevansi pemikiran Satire den-gan Pancasila.</p><p>Wawasan TeoritisWawasan teoritis yang dipakai seba-gai dasar analisis tulisan ini sebagaiberikut, Manusia sebagai realitasmemiliki taraf-taraf yan$ bertingkat atauberjenjang, yaitu fisis-kernis; biotis;psykis, human (Bakker, 1992). Hubu-ngan keempat taraf di dalam manusia inidari satu pihak memiliki 'kesendirianrelatif (berkegiatan sendiri, menurut hu-kum dan mekanisme sendiri); dari lainpihak mereka juga 'berhubungan' eratsatu sama lain 'untuk mewujudkan satu</p><p>manusia yan$ utuh. Mereka merupakanbagian tinggi dan rendah. 'Yang rendah'mendasari yang tinggi dan menga-J U R N A L f I L )A fA T . J U L I 1 9 9 7 Q6</p></li><li><p>5/14/2018 humanisme sartre</p><p> 3/8</p><p>rahkannya. Namun juga memberikanruang gerak dan kuasa penentuan bagirang. Jebih tinggi, Sedangkan 'Yanghngg(' mewarnai dan menatar yang ren-dah, sehingga dalam manusia sendiri ta-raf rendah itu sudah lain daripada bahanpembangunan, atau daripada pohon danhewan. ~amun yang tinggi tidak dapatmengabaikan yang rendah begitu saja. laakan dibantu atau diperingati oleh taraflebih rendah.. Keernpat taraf itu semuanya mengam-bil bagian dalam kerohanian-kejasma-man manusia, Semua taraf itu berupadimensi-dimensi yang digayakan dandiorganisasi dan dalam; atau sebaliknya:berupa gaya/intensitas yang menghayatidid dalam wujud tertentu.Manusia sebagai realitas di sampingmemiliki taraf yang bertingkat juga ber-struktur bipoiaritas, artinya mempunyaidua aspek realitas yang tidak dapat diek-strirnkan, yangtidak dilihat secara sek-toral dalam salah satu aspek kehidupan-nya, tetapi secara integral denganmengikutsertakan dan memperhatikansegala segi yang membentuk keutuhanpribadi manusia dan yang mempengaru-hinya, yaitu materialitas-spiritualitas; in-dividualitas-sosialitas; transendensi -im-manensi; eksteriorisasi -interiorisasi(Soerjanto, 1989).Sesuai dengan struktur eksistensinya,korelasi manusia dengan 'yang lain' ber-hubungan bmb~l-balik,. dengan salingmemberikan arti dan nilai, dan salingmengadakan. Bersama-sama merupakankeseluruhan pusat-pusat yang bero-tonomi -di -dalam- korelasi, dan berkore-Iasi-di-dalam-otonomi. Atau dengan katalain, yal1$ identik-di-dalam-distingsi, dandisting-di-dalam-identitas, Dalam hidupbersama rnanusra perlu saling menghor-mati sebagai yang memiliki harkat danmartabat yang luhur, memiliki otonomidan keunikan sendiri-sendiri, Maka me-nurut peneliti, sikap atau tindakan hu-manis yang mampu mewuiudkanmanusia sempuma, yaitu: (1) manusiayang mampu mengharrnoniskan seluruhaspek itu secara proporsional, artinyatidak menganggap aspek yang satu lebihpenting dati aspek yang lain, ataumenghargai aspek yang satu tetapimeremehkan aspek yang lain; (2) dalam</p><p>~ebel'samaan teljelma adanya sifat dansikap dasar 'subsidiaritas' dan 'solidaritas',Karakteristik Humanisme Satire</p><p>Ditinjau dati sudut sejarah perkem-bangan humanisme dalam filsafat Barat,humanisme Sartre memiliki corak yangkhas. Humanisme filsafat Yunani kunobercorak antroposentris; humanisme fil-safat Abad Tengah bercorak teosentris;sedangkan humanisrne abad modernsekurang-kurangnya memiliki tiga corakyal'!$ berbeda, yaitu humanisme renaisan,rasionalis, dan naturalis, Sedangkan hu-marusme Sartre dikategorikan sebagaihumanisme Abad XX yang berciri sekulerdan berorientasi pada pemikiran eksis-tensialisme yang ateis. Humanisme ini di-dasarkan atas eksistensi nilai-nilai ke-manusiaan, bukan nilai-nilai esensialyang: berasal dari Tuhan.Humanisme Sartre didasarkan padasuatu. ontologi yang bereorak duahstik,meskipun tidak munu bersifat Cartesiantempi sernangatnya hampir sarna. Dasarontologi Sartre ini tertuang dalam bukuBeing and Nothingness (1956) (Ada danKetiadaan), suatu ontologi atas dasarfenornenologi, Sartre berusaha menielas-kan makna cam berada, dan ia membagi.Ieru.sdan cam berada iru dalam dua kate-801'1 yang berbeda secara radikaJ. Per-tarna, "Ada-dalam-dirinya' (Being-in-!tselfJ. untuk menunjuk "Ada" yangI~enhk dengan dirinya sendiri, "Ada yangtidak berkesadaran", Kedua, "Ada-bagi-dirinya'' (Bemg-fi....,r-itself)? untukmenunjukkan "kesadaran", "Ada yangberkesadaran", Kesadaran dalam hal initidak identik dengan dirinya sendiri.Namun Sartre dalam pembicaraan lebihmemfokuskan kepada pembicaraan(Being-lor-itself) yang merupakan cirikhas keberadaan manusia. Manusia ber-beda dengan jenis ada yang lain karenadi dalam dirinya ada aspek "kesadaran"yang memiliki sifat terbuka, baik kesada-ran akan dirinya sendiri maupun kesada-ran terhadap sesuatu yang berada di luardirinya sendiri.Analisa tentang Ada-bagi-dirinya(Being-lor-itself) mernperlihatkan bahwadalam kesadarannya, manusia bukan saiamenciptakan ketiadaan di dalam diliny'a1tetapi Juga rnemuat ketiadaan ttu, Hal iru</p><p>J U R N P J .. F I L S "A fA T . J U L I 1 9 9 7 Q7</p></li><li><p>5/14/2018 humanisme sartre</p><p> 4/8</p><p>mernbuktikan adanya sifat unik realitasrnanusia, bahwa ia dapat menyembunyi-kan dirinya dari sesuatu objek dan dapatmenyembunyikan dirinya sebagai sesuatuyang bukan objek. Hal ini berarti bahwamanusia tidak senantiasa terikat oleh re-alitas duma objektif. Manusia adalah se-bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri(man is nothing else but that which hemakes of himself) (Sartre, 1960). Ke-hidupan yang manusiawi hanya mungkinapabila manusia benar-benar bebas.</p><p>Kebebasan dalam Humanisme SartreBagi Sartre, kebebasan merupakantema yang paling sentral dalam filsafathumanistiknya. Pernikiran humanisme</p><p>eksistensialis Sartre seperti pada eksisten-sialisme umumnya, yakni menentang se-gala bentuk objektivitas dan impersonali-las yang tercermin dalam sains modemdan masyarakat industri yang cenderunguntuk menganggap manusia sebagai no-mor dua sesudah benda (Titus, 1984).Sartre menghargai dan meniunjungtinggi eksistensi pribadi serta subjektivi-tas dalam kehidupan bersama. Sartredalam Eksistenti'alism and Humanism(1960) mengatakan:'~. . existensislism; in our sense of theword, is a doctrine that does render l1U-man life possible, a doctrine, also, whichaffirms that every truth and every actionimply roth an environment and a humansubjectivity" (Ssrtre, 1960).Pendek kata kebebasan merupakandasar antropologi dalam humanisme Sar-hoe.Dalam soal kebebasan, ada dua halyang hendak dilakukan oleh Sartre, Per-tarna, Sa111'e hendak menghantam semuabentuk determinisme, Kedua, Sartre inginmenentang pandangan yang menyatakanbahwa mungkin tanpa disadari manusiatelah membangun suatu kondisi tertentuyang hams dipertanggungjawabkan, Sar-tre tidak setuju dengan pandangandemikian, sebab pada hakikatnyamanusia adalah bebas membuat apa sajabagi dirinya sendiri, Untuk sampaikepada hal tersebut SaL11'e mengemu-kakan beberapa tesis mendasar tentangkebebasan.Pertama, manusia mengalami dilerna:manusia sarna sekali bebas atau sama</p><p>sekali tidak bebas; kemungkinan ketigatidak ada. Sartre dalam hal ini memihhalternatif pertama, yaitu bahwa manusiabebas sarna sekali. Kebebasan rnanusiabetul-betul bersifat absolut. Tidak ada ba-tas-batas bagi kebebasan. Kebebasan ti-dak dapat dibatasi oleh berbagai"prakonsepsi" yang sudah jadi dan haki-kat manusia yang tidak dapat berubah;selain batas-batas yang ditentukan olehkebebasan itu sendiri. Maka tidak adaTuhan, sebab keberadaannya dapatmembatasi kebebasan.Kedua, kebebasan merupakan halyang paling dasar bagi keberadaanmanusia. Tanpa kebebasan eksistensimeniadi "absurd", sebab tanpa kebebasanmanusia hanya menjadi esensi belaka,sebagaimana watak Being-in-itself yangbersifat massif. Ia hanya dapat dikatakanbahwa ia ada, lain tidak. Pandangan ke-bebasan Sartre yang radikal itu menjadidasar pandangan ateisnya. Dalam kaitandengan pandangan ateisnya diungkap-kan:'rf God did not exist, everythin$ wouldbe permitted"; and that, for existential-ism, is the starting point. EvcrytJllilg isindeed permitted if God does not exist,and man is in consequence forlorn, for hecannot find anythfJl$ to depend upon ei-ther within or outside himself. ..... For ifindeed existence precedes essence, onewill never be able to explain one's actionby reference to Il given lind specific hu-man nature" (Sartre, 1960).Lebih lanjut ungkapan itu ditegas-kan oleh Bertens dalam buku FilsafatBarat Abad XX Jilid II Perancis (1985)sebagai berikut:''SeandainyaAllah ada, tidak mung-kin saya bebss: Allah itu mahatahu yangsudsh mengetahui segala-galanya sebe-Ium saya melskuksn dan Allah pulalshyang sksn menentuksn hukum moral.Kalsu begitu, tidsk ada pc/uang lagi bagikrestivitas kcbcbssan. Allah sebagm AdaAbsolut tidak boleh tidak sksn memus-nahksn kebebasa.Jl manusia" (Bertens,1985).</p><p>Ketiga, manusia dalam kebebasannyayang mutlak menemukan kenyataanyang tak terelakkan yang disebut"faktisitas" yang ikut mengkondisikankeberadaan manusia, Faktisitas ini terdiriJ UR N A l F t L~ flfA l J UL t 19 97 28</p></li><li><p>5/14/2018 humanisme sartre</p><p> 5/8</p><p>atas: tempat-ku berada, masa lampau-ku,lingkungan sekitar-ku, adanya sesamamanusia, dan kernatian-ku (Sartre,1956). Walaupun ikut mengkondisikaneksistensi, tetapi faktisitas fidak dapatmengurangi kemutlakan kebebasan. Fak-tisitas itu hanya mempengaruhipenghayatan manusia akan kebebasan-nya yang mutlak. Dalam menghadapifaktisitas in i setiap individu tergantungpada subjektivitas pribadi. Sekalipundemikian subjektivitas ini tidak bersifatsolipsistik (tertutup), melainkan bersifatterbuka.Kebebasan didasarkan atas kesadaran,bersifat intensional, dan bukan meru-pakan pergumulan antara kehendak danemosi. Kebebasan manusia itu oleh Sar-tre digambarkan dalam satu pernyataansebagaimana disampaikan Rollo May.'~... msnusispada mulanys hanyaJahsekedsr eds, menjumpai diriny terom-beng-ambing di dalam dunis - dan hamkemudien merumusksn dirinys sebagaisesuatu ..... Dis tidak aksn menjadi aps-epa ssmpsi kemudien dis menjadi se-sustu yang dis bentuk sendiri ....." (May,1958).Manusia dengan kebebasan senan-tiasa memilih dan menentukan sendiriperbuatan-perbuatannya tanpa paksaandati orang lain. Namun setiap mdividudalam mengaplikasikan kebebasan inidituntut suatu tanggung jawab, Dalamkerangka moral kebebasan, kesadarandan tan~ung jawab adalah tiga aspekyang saling berkaitan,</p><p>Dasar-Dasar Kesadarandan TanggungJawabDalam pemikiran Satire ditegaskanbahwa kesadaran dan tanggu~ jawabmerupakan ciri manusia sebagai Being-for-itself. Dengan demikian Being-for-itself bersifat sarna luas (Co-e;.'fensive)dengan dunia kesadaran yang terbukayang cenderung ke luar did sendiri, Da-lam k...</p></li></ul>