himar hakim

Download Himar Hakim

Post on 11-Jul-2015

394 views

Category:

Documents

21 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KELEDAI YANG BIJAK

PENGARANG TAUFIK AL-HAKIM

PENERJEMAH H. HARITS FADLLY, LC.

EDITOR Maya Hayati

PENERBIT AL-HAIAH AL-MASHRIYAH AL-AMMAH LIL KITAB

Distributor WWW.LENTERA-RAKYAT.SOS4UM.COM

Berkata Keledai yang bijak (Toma): Jika hari telah siang, aku akan berjalan karena aku si bodoh yang sederhana, sedangkan sahabatku adalah si bodoh yang berpangkat! Dikatakan padanya: Apakah perbedaan antara bodoh sederhana dan berpangkat? Dia menjawab: Si bodoh yang sederhana adalah yang tahu bahwa dirinya bodoh, adapun si bodoh yang berpangkat adalah yang tidak tahu bahwa dirinya bodoh. (Legenda Lama)

untuk sahabatku yang lahir dan mati tanpa berbicara denganku tetapi ia telah mengajariku!

=1=

Aku mengenalnya pada hari- hari musim panas tahun lalu, di jantung kota Kairo, di salah satu jalan rayanya. Pada pagi itu aku berjalan menuju salon cukur, ditemani udara panas yang disertai hembusan angin sepoi-sepoi. Hatiku gembira ketika aku berjumpa dengan wajah ceria berambut pirang dengan anjingnya, yang turun dari lift bersamaku di hotel tempat aku tinggal, sehingga hampir saja aku bersiul dan bersenandung. Lalu aku bergerak menuju salon cukur itu ketika tiba-tiba aku melihatnya, makhluk yang telah ditakdirkan untuk menjadi sahabatku. Aku melihatnya menanduk tembok bagaikan kijang. Di lehernya yang indah terikat simpul merah, dan di sampingnya kulihat pemiliknya, petani desa paling kumuh yang pernah kulihat. Orang-orang yang lewat berdiri memperhatikannya dengan takjub karena keindahan bentuknya, serta gemulai langkahnya. Badannya kecil bagaikan boneka, putih bagaikan kepingan keramik, bagus bentuknya bagaikan buatan seorang seniman. Dia berjalan dengan santai seolah-olah ia berkata pada tuannya: Bawalah aku ke manapun kau mau, karena semua yang ada di bumi takkan aku perhatikan. Itulah seekor anak keledai kecil yang mendapat perhatian orang banyak, di jalan yang besar. Pemandangan seperti itu di desa ini, sudah cukup menarik hati. Mata orang memancarkan cahaya takjub, dan wanita-wanita Inggris yang memasuki toko Jurubi tak dapat menahan kecintaan mereka padanya. Kalaulah ia merupakan sesuatu yang

dapat dibawa, maka mereka pasti takkan ragu-ragu untuk membelinya seperti halnya sebuah souvenir. Menurutku pemilik keledai itu akan menjualnya, karena aku telah mendengar pemiliknya berkata kepada orang-orang yang berlalu, para penjual koran, dan anakanak: Lima puluh Piester! Tiba-tiba tanpa sadar kakiku melangkah menuju kerumunan orang yang mengerubungi anak keledai itu - mataku selalu memperhatikan makhluk kecil itu- dan mulutku mengucapkan: Tiga puluh Piester! Maka kerumunan itu berpaling kepadaku dan hiruk-pikuk pun terdengar. Tibatiba aku melihat seorang lelaki muncul dari balik kerumunan. Dia adalah penjual koran yang mengenalku dan menjual korannya kepadaku. Dia menarik anak keledai itu dari tangan pemiliknya dan berteriak di mukanya: Tuan kita Beik telah meminta, dan permintaannya harus kita patuhi! Petani itu menepukkan tangannya di punggung anak keledainya seraya berteriak: Tiga puluh Piester itu seekor ayam kalkun! Beraninya kau menentang ucapan Beik! Demi Allah aku takkan menjualnya kurang dari empat puluh Piester! Kedua lelaki itu saling membentak dan tarik- menarik hingga hampir saja leher anak keledai yang miskin itu terputus di tangan keduanya. Berakhirlah pertentangan itu dengan kemenangan sang calo sukarela itu. Dengan paksa ia mengambil keledai itu dengan tangannya, lalu menoleh kepadaku seraya berkata: Beik, berikan tiga puluh Piester itu. Sang penjual itu ragu-ragu dan ingin menolaknya, tapi lelaki itu menutup mulutnya dengan tangannya seraya berteriak: Diam kamu! Tuanku Beik, berikan uangnya dan terimalah anak keledai itu. Selamat ya! Jual beli yang halal! Dia maju ke arahku sambil menarik keledai itu untuk menyerahkan kepadaku ikatan merah yang menggantung di lehernya. Di sinilah kesadaranku kembali. Perjanjian itu telah dilaksanakan meskipun sesungguhnya aku tidak menginginkannya. Segala sesuatu telah berlalu dariku seolah-olah aku tak sadarkan diri karena harga yang aku putuskan, yaitu tiga puluh Piester, tidak lain keluar dari mulutku tanpa pikir panjang. Sebuah angka yang terucap dengan main- main, tapi hal itu menjadi sungguhan dan anak keledai itu akhirnya menjadi milikku. Lalu apa yang akan aku lakukan sekarang ketika aku masuk salon cukur ini, di manakah aku harus meletakkannya, sedangkan aku tak punya rumah kecuali sebuah kamar dengan sebuah kamar mandi di sebuah hotel yang terkenal?

Apalagi pada saat itu, di kantungku tak terdapat uang sejumlah tiga puluh Piester. Pada pagi itu aku tidak membawa uang, kecuali surat berharga yang ingin aku tukarkan dengan uang kecil. Semula aku berniat ingin menarik kembali perjanjian jual beli itu, tapi niat tersebut tertahan, karena kedua penjual dan calo telah menyerahkan keledai itu padaku. Maka dengan kikuk aku berkata sambil menunjuk ke salon cukur: Tapi aku ingin bercukur. Penjual koran itu segera menjawab: Silakan Tuan bercukur, dan aku akan menunggu Tuan bersama anak keledai ini di depan pintu! Lalu aku berkata: Tapi uang itu... Lelaki itu segera memotongku: Aku akan menuka rkannya segera di kedai-kedaiku. Akhirnya kedua lelaki itu menutup jalanku, sehingga tak ada satu perkataan atau alasan pun yang dapat menolongku. Aku berisyarat kepada keduanya, dan mereka pun mengikutiku pergi ke salon cukur. Kemudian aku masuk dan berkata pada tukang cukur untuk meminjamkan aku uang dari kotak uangnya. Dia pun meminjamkannya, dan petani itu pun pergi. Penjual koran itu berdiri bersama anak keledai itu di depan pintu salon cukur. Orang-orang yang lewat bergantian berkumpul untuk memperhatikannya. Sedangkan aku sendiri, duduk sambil tercenung, bingung memikirkan apa yang akan aku lakukan dengan bawaan ini. Tukang cukur mulai menyabuni janggutku seraya memuji keindahan anak keledai itu, dan berbicara tentang makanan atau perlakuan yang layak baginya. Kemudian ia mulai membayangkan jikalau nanti anak keledai itu tumbuh besar, dan dapat berlari bagaikan seekor kuda. Pelanggan salon lainnya menungguku dan menyimpan segala tawa serta prasangka, yang terlintas di benak mereka. Sampai akhirnya aku selesai bercukur, aku bangkit dan membayarkan surat berharga itu kepada pemilik salon, dan dia pun mengambil haknya dariku. Di luar, si penjual koran segera menemuiku seraya menyerahkan tali kekang anak keledai itu kepadaku dan berkata: Lepaskan dia berlarian di padang rumput! Aku berkata seolah ditujukan kepada diriku sendiri: Andai saja padang rumput itu ada, pasti mudahlah permasalahan itu. Lelaki itu berkata: Lepaskan ia di atas loteng atau di kandang bersama kambing. Aku berkata seolah aku tidak tinggal di hotel: Bagaimana kalau kita melepaskannya di kamar mandi? Lelaki itu terbelalak: Kamar mandi?! Tanpa komentar aku memerintahkan: Bawa dia ke penginapan." Ya! Aku telah memikirkannya! Aku rasa anak keledai yang cantik itu tidaklah lebih hina atau lebih aneh daripada seekor anjing yang kulihat dibawa oleh seorang wanita berambut pirang tadi pagi. Jadi apa salahnya kalau dia pada hari ini menemaniku, kujadikan tamuku, dan kubagi kamar dengannya hingga waktu Ashar.

Aku memang berniat untuk pergi hari ini -tepatnya pada waktu Ashar- ke sebuah desa terdekat demi keperluan aneh yang akan kuceritakan kisahnya sebentar lagi. Jadi, dia bisa tinggal bersamaku sampai nanti aku membawanya pergi ke ladang dan melepasnya bermain, karena yang aku pikirkan hanyalah keperluan makanannya pada hari ini. Tukang cukur tadi berbicara tentang makanannya, ia takkan makan kecuali susu karena tukang cukur itu melihatnya seakan-akan baru lahir sehari atau dua hari lalu, dan ia diharamkan dari tetek ibunya untuk dijual d i jalanan kota Kairo. Mungkin saja karena kesusahan yang menimpa pemiliknya, karena seorang petani jika merasa lapar, ia akan menjual segala sesuatu yang bisa dijual. Siapa yang tahu kalau anak keledai ini merupakan akhir jalan cerita kesusahannya yang berkepanjangan? Belum selesai aku melamun, lagi- lagi orang-orang mengerumuni kami. Aku mengisyaratkan kepada penjual koran untuk segera membawa anak keledai itu dan aku akan membuntutinya dari jauh. Lalu ia menarik tali kekang merah itu, dan anak keledai tersebut hanya berjalan sebagaimana mestinya tanpa mengetahui pergantian pemilik. Aku hanya memperhatikannya dari jauh. Terkadang aku berfikir bahwa caranya berjalan mirip denganku. Karena terbayang olehku, seolah-olah kepalaku terangkat dari permukaan menuju angkasa luar yang tak terlihat, dan aku mengendalikan kehidupan tanpa berkumpul dengan orang yang bersamaku atau mengetahui tujuanku. Ya, cara jalanku terkadang sepertinya, pandanganku juga terkadang seperti pandangannya yang kering terhadap dunia tenang yang aneh, dan pandangan itu telah menghalangi manusia dari ketujuh pintu yang dicap itu. Ya Allah, ampunilah kelalaian ini, karena aku telah menempatkan diriku untuk menyerupai makhluk aneh ini!

=2=

Kami pun tiba di hotel. Aku melirik seorang pelayan yang berdiri di depan pintu, dan dia datang kepadaku. Dia adalah orang Noubi terpercaya yang biasa membantuku, dan aku pun tak segan-segan untuk memberinya tips. Ketika ia sudah dekat, aku menunjuk ke arah anak keledai yang dipegang oleh calo itu, dan membisikkan padanya untuk membawanya melalui tangga pelayan serta

meletakkannya di kamar mandi dalam kamarku. Lelaki itu terbelalak. Lalu kukeluarkan kepingan perak dan meletakkannya di telapak tangannya. Maka dia pun segera tersadar dari keheranannya dan bergegas untuk melaksanakan permintaanku yang hampir tak masuk di akal. Dia menutupi anak keledai itu dan menggendongnya, lalu sambil

menoleh kiri dan kanan karena takut kalau ada orang yang melaporkannya kepada Direktur hotel, ia seegra membawanya. Lalu aku beralih ke si penjual koran. Ia sudah menungguku sambil menepuknepukkan tangannya untuk menagih upah. Aku pun memberinya kepingan perak sehingga ia gembira d