Hidroponik Gita

Download Hidroponik Gita

Post on 13-Jul-2015

748 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>1</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>Latar Belakang</p> <p>Membudidayakan tanaman dengan sistem hidroponik adalah salah satu cara penanaman atau menumbuhkan tanaman. Tanaman yang umumnya dibudidayakan dengan cara hidroponik adalah tanaman sayur - sayuran, tanaman hias dan beberapa jenis dari tanaman buah-buahan. Membudidayakan tanaman dengan sistem hidroponik, dalam dunia pertanian bukan merupakan hal yang baru. Namun demikian hingga kini masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan jelas bagaimana cara melakukan dan apa keuntungannya. Dalam kajian bahasa, Hidroponik berasal dari kata Hydro yang berarti air dan Ponos yang berarti kerja. Jadi, Hidroponik memiliki pengertian secara bebas teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari bercocok tanam tanpa tanah. Dari pengertian ini terlihat bahwa munculnya teknik bertanam secara hidroponik diawali oleh semakin tingginya perhatian manusia akan pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman. Dimanapun tumbuhnya sebuah tanaman akan tetap dapat tumbuh dengan baik apabila nutrisi (hara) yang dibutuhkan selalu tercukupi. Dalam konteks ini fungsi dari tanah adalah untuk penyangga tanaman dan air yang ada merupakan pelarut unsur hara (nutrisi), untuk kemudian bisa diserap tanamanan. Dari pola pikir inilah yang akhirnya melahirkan teknik bertanam dengan hidroponik, dimana yang ditekankan adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi (hara).</p> <p>2</p> <p>Media tanah merupakan media alamiah tanaman sebagai tempat untuk melangsungkan hidup. Media tanah mempunyai bahan penyusun yang berasal dari pasir,debu dan liat. Besar persentase dari masing-masing bahan penyusun tanah ini berpengaruh terhadap tekstur tanah (liat, berpasir, lempung berpasir, lempung berliat,dsb) (Anekaplantasia, 2010). Tekstur tanah juga berpengaruh terhadap kemampuan tanah untuk mengikat nutrisi, air dan kondisi aerasi di daerah perakaran. Apabila bahan penyusun tanah persentase liatnya lebih besar, maka kemungkinan besar akan menimbulkan masalah di daerah perakaran. Hal ini disebabkan (1) liat mempunyai kemampuan menahan air lebih lama, (2) aerasi di daerah perakaran berkurang dan (3) mengurangi pertumbuhan akar (Anekaplantasia, 2010). Namun dengan segala kelebihan dan kekurangan tekstur tanah, media tanah tetap tidak tergantikan oleh media alternatif (non tanah) karena kelebihannya dalam mengikat nutrisi, air dan menjaga keseimbangan kehidupan mikrobiologi tanah (Anekaplantasia, 2010).</p> <p>Tujuan</p> <p>Tujuan dari praktikum ini adalah Mahasiswa menegerti dan memahami cara pembuatan media tanam tanah dan hidroponik.</p> <p>3</p> <p>TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>y</p> <p>Klasifikasi Tanamn Sawi Nama umum</p> <p>Indonesia: Sawi hijau, sawi bakso, caisim, caisin Inggris: False pakchoi, Mock pakchoi</p> <p>Thailand: Phakkat kheo kwangtung Cina: Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Dilleniidae Ordo: Capparales Famili: Brassicaceae (suku sawi-sawian) Genus: Brassica Spesies: Brassica rapa var. parachinensis L. Tanaman selada (Lactuca stiva) termasuk jenis tanaman sayuran daun dan tergolong ke dalam tanaman semusim (berumur pendek). Tanaman tumbuh pendek dengan tinggi berkisar antara 20 cm - 40 cm atau lebih, bergantung pada tipe dan varietasnya. Tanaman selada ada yang membentuk krop (kumpulan daun - daun yang saling merapat membentuk kepala) dan ada varietas yang tidak membentuk krop. Cai xin</p> <p>4</p> <p>Tinggi tanaman selada daun berkisar antara 30 cm - 40 cm dan tinggi tanaman selada kepala berkisar antara 20 cm - 30 cm (Santiko, 2010).</p> <p>y</p> <p>Morfologi Tanaman Sawi Secara morfologi, organ - organ penting yang terdapat pada tanaman selada</p> <p>adalah sebagai berikut. Daun tanaman selada memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang beragam, bergantung pada varietasnya. Misalnya, jenis selada yang membentuk krop memiliki bentuk daun bulat atau atau lonjong degan ukuran daun lebar atau besar, daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan ada yang berwarna hijau agak gelap. Sedangkan jenis selada yang tidak membentuk krop, daunnya berbentuk bulat panjang, berukuran besar, bagian tepi daun bergerigi (keriting), dan daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan merah. Daun selada memiliki tangkai daun lebar dan tulang - tulang daun menyirip. Tangkai daun bersifat kuat dan halus (Santiko, 2010). Daun bersifat lunak dan renyah apabila dimakan, serta memiliki rasa agak manis. Daun selada umumnya memiliki ukuran panjang 20 cm - 25 cm dan lebar 15 cm atau lebih. Tanaman selada memiliki batang sejati. Pada tanaman selada yang membentuk krop, batangnya sangat pendek dan hampir tidak terlihat dan terletak pada bagian dasar yang berada di dalam tanah. Sedangan selada yang tidak membentuk krop (selada daun dan selada batang) memiliki batang yang lebih panjang dan terlihat. Batang bersifat tegap, kokoh, dan kuat dengan ukuran diameter berkisar antara 5,6 cm - 7 cm (selada batang), 2 cm - 3 cm (selada daun), serta 2 cm 3 cm (selada kepala).</p> <p>5</p> <p>Tanaman selada memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Akar serabut menmpel pada baying, tumbuh menyebar, ke semua arah pada kedalaman 20 cm - 50 cm atau lebih. Sedangkan akar tunggangnya tumbuh lurus ke pusat bumi. Perakaran tanaman selada dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang subur, genbur, mudah menyerap air, dan kedalaman tanah (solum tanah) cukup dalam (Santiko, 2010). Biji tanaman selada berbentuk lonjong pipih, berbulu,agak keras, berwarna coklat, tua, serta berukuran sangat kecil, yaitu panjang 4 mm dan lebar 1mm.Biji selada merupakan biji tertutup dan berkeping dua, dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman (perkembangbiakan). Bunga tanaman selada berwarna kuning, tumbuh lebat dalam satu rangkaian. Bunga memiliki tangkai bunga yang panjang sampai data mencapai 80 cm atau lebih. Tanaman selada yang ditanam di daerah yang beriklim sedang (subtropik) mudah atau cepat berbuah (Santiko, 2010). Varietas varietas selada tersebut dibagi dalam empat kelompok, 1. capitata, selada kepala renyah (crisphead, iceberg) dan kepala mentega (butterhead) 2. longifolia, selada cos (romaine) 3. crispa, selada daun longgar 4. asparagina, selada batang (Santiko, 2010). Selada (Lactuca sativa) memiliki penampilan yang menarik. Ada yang berwama hijau segar dan ada juga yang berwama merah. Selain sebagai sayuran, daun selada yang agak keriting ini sering dijadikan penghias hidangan (Santiko, 2010).</p> <p>6</p> <p>Kandungan Gizi Sawi Hijau Tabel 1. Kandungan gizi (flap 100 g bahan) Sawi Hijau ( caisim ) adalah sebagaiberikut: Zat gizi Kandungan</p> <p>Kalori Protein Lemak Karbohidrat Vitamin B1Zat Besi</p> <p>Vitamin A Vitamin C Kalsium (Ca) Fosfor (P) Air Sumber : (Rusli Hukum dan Sri Kuntarsih, 1990)</p> <p>25 kal 1,2 g 0,20 g 2,90 g 0,04 mg 0,50 mg 162 mg 8,00 mg 22,00 mg 25 mg 94,80 g</p> <p>y</p> <p>Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Selada yang ditanam di dataran rendah cenderung lebih cepat berbunga dan</p> <p>berbiji. Suhu optimal bagi pertumbuhan selada ialah antara 15-25C. Jenis tanah yang disukai selada ialah lempung berdebu, lempung berpasir, dan tanah yang masih mengandung humus. Meskipun demikian, selada masih toleran terhadap tanah-tanah yang miskin hara asalkan diberi pengairan dan pupuk organik yang memadai. Sebaiknya tanah tersebut bereaksi netral (Santiko, 2010).</p> <p>y</p> <p>Media Tanam Hidroponik Dalam sejarahnya, penelitian hidroponik dikenal melalui penelitian</p> <p>Woodward (1699) yang menggunakan hidroponik untuk studi pertumbuhan tanaman, namun penelitian De Saussure (1804) lebih signifikan untuk dikatakan sebagai cikal bakal penelitian hidroponik yang menggunakan larutan nutrisi sebagai komposisi awal dengan berbagai macam komponen elemen mineral di dalam distilled water.</p> <p>7</p> <p>Hidroponik atau hydroponics, berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata hydro yang berarti air dan kata ponos yang berarti kerja, sehingga hidroponik dapat diartikan sebagai suatu pengerjaan atau pengelolaan air sebagai media tumbuh tanaman tanpa menggunakan media tanah sebagai media tanam dan mengambil unsur hara mineral yang dibutuhkan dari larutan nutrisi yang dilarutkan dalam air (Falah, 2006). Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa tanah. Bukan hanya dengan air sebagai media pertumbuhannya, seperti makna leksikal dari kata hidro yang berarti air, tapi juga dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata, potongan kayu, dan busa (Fazari, 2004). Berdasarkan media tumbuh yang digunakan, hidroponik dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu: 1. Kultur Air. Teknik ini telah lama dikenal, yaitu sejak pertengahan abad ke-15 oleh bangsa Aztec. Dalam metode ini tanaman ditumbuhkan pada media tertentu yang di bagian dasar terdapat larutan yang mengandung hara makro dan mikro, sehingga ujung akar tanaman akan menyentuh larutan yang mengandung nutrisi tersebut. 2. Kultur Agregat. Media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam padi (kuntan), dan lain-lain yang harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Pemberian hara dengan cara mengairi media tanam atau dengan cara menyiapkan larutan hara dalam tangki atau drum, lalu dialirkan ke tanaman melalui selang plastik. 3. Nutrient Film Technique.</p> <p>8</p> <p>Pada cara ini tanaman dipelihara dalam selokan panjang yang sempit, terbuat dari lempengan logam tipis tahan karat. Di dalam saluran tersebut dialiri air yang mengandung larutan hara. Maka di sekitar akar akan terbentuk film (lapisan tipis) sebagai makanan tanaman tersebut (Tim Aero Kalijati, 2009). Dalam bercocok tanam tanpa menggunakan tanah, yang biasa disebut hidroponik, media tanam tersebut biasanya digunakan pasir kasar, krikil, batu apung, vermikulit dan lain sebagainya dengan menambahkan hara lengkap secara khusus. Adapun media tersebut meliputi : 1. Komponen Aorganik, Pasir, pasir kuarsa berukuran antara 0.5 hingga 0.2 mm,cukup baik untuk digunakan sebagai bahan campuran media, karena dapat menciptakan kondisinya menjadi poreus dan aerasinya baik Vermikulit, berasal dari mineral mika yang telah dipanaskan pada suhu sampai 1.90 oC hingga terjadi pemecahan (disintegrasi) dan bebas dari hama penyakit dan biji gulma. Perlit, bahan ini berwarna putih dan dihasilkan dari lava gunung berapi yang telah dipanaskan pada suhu 760 oC. ifat perlit ini sangat menguntungkan, diantaranya mempunyai daya memegang air sebnyak 3-4 kali dari beratnya serta tahan terhadap kerusakan fisik dibandingkan dengan vermikulit. 2. Komponen Organik, Gambut (peat), substansi ini merupakan hasil pelapukan belum sempurna dari sisa-sisa vegetasi di dalam air, seperti dirawa-rawa. Berdasarkan tingkat kesempurnaan proses pelapukannya bahan ini terdapat beberapa macam peat, antara lain: moss peat (berasal dari sejenis rumput laut), reed sedge peat (berasal dari sisa-</p> <p>9</p> <p>sisa rumput, biji-bijian dan vegetasi rawa), peat humus (jenis peat yang telah mengalami dekomposisi sempurna). Shagnum moss, bahan ini merupakan residu yang mengalami dehidrasi dari bermacam-macam spesies sphagnum. Sebelum digunakan sphagnum dilumatkan terlebih dahulu. Bahan ini dapat menghambat pertumbuhan jamur penyakit. Wood residu, materi ini berasal dari hasil samping tanaman yang telah dipanen, seperti serpihan kulit kayu dan serbuk gergaji. Sisa-sisa panen tanaman, bermacam-macam sisa tanaman seperti jerami, klobot jagung, ampas tebu, sekam. Rabuk organik, baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Penggunaan media ini banyak diformulasikan dengan komposisi tertentu, Sebelum media digunakan harus disterilkan terlebih dahulu dengan jalan dipanaskan dengan suhu 71 oC selama 3 menit atau disterilkan dengan bahan kimia kloropikrin atau kloropikrin di campur dengan metibromida (Ashari, 1995). Tanaman hidroponik bisa dilakukan secara kecil-kecilan di rumah sebagai suatu hobi ataupun secara besar-besarandengan tujuan komersial. Beberapa kelebihan tanaman dengan sistim hidroponik ini antara lain: Ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida atau obat hama yang dapat merusak tanah, menggunakan air hanya 1/20 dari tanaman biasa, dan mengurangi CO2 karena tidak perlu menggunakan kendaraan atau mesin. Tanaman ini tidak merusak tanah karena tidak menggunakan media tanah dan juga tidak membutuhkan tempat yang luas. Bisa memeriksa akar tanaman secara periodik untuk memastikan</p> <p>pertumbuhannya</p> <p>10</p> <p>Pemakaian air lebih efisien karena penyiraman air tidak perlu dilakukan setiap hari sebab media larutan mineral yang dipergunakan selalu tertampung didalam wadah yang dipakai</p> <p>Hasil tanaman bisa dimakan secara keseluruhan termasuk akar karena terbebasdari kotoran dan hama</p> <p>Lebih</p> <p>hemat</p> <p>karena</p> <p>tidak</p> <p>perlu</p> <p>menyiramkan</p> <p>air</p> <p>setiap</p> <p>hari,</p> <p>tidakmembutuhkan lahan yang banyak, media tanaman bisa dibuat secara bertingkat Pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terjaga Bisa menghemat pemakaian pupuk tanaman Tidak perlu banyak tenaga kerja Lingkungan kerja lebih bersih Tidak ada masalah hama dan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri, kulatdan cacing nematod yang banyak terdapat dalam tanah Dapat tanam di mana saja bahkan di garasi dan tanah yang berbatu Dapat ditanam kapan saja karena tidak mengenal musim (Click, 2009). Kekurangan Hidroponik antara lain larutan nutrient harus seimbang, perawatan yang cukup mahal, hanya khusus tanaman tertentu.</p> <p>y</p> <p>Media Tanam Tanah Media tanah merupakan media alamiah tanaman sebagai tempat untuk</p> <p>melangsungkan hidup. Media tanah mempunyai bahan penyusun yang berasal dari pasir,debu dan liat. Besar persentase dari masing-masing bahan penyusun tanah ini berpengaruh terhadap tekstur tanah (liat, berpasir, lempung berpasir, lempung berliat,dsb) (Anekaplantasia, 2010).</p> <p>11</p> <p>Tekstur tanah juga berpengaruh terhadap kemampuan tanah untuk mengikat nutrisi, air dan kondisi aerasi di daerah perakaran. Apabila bahan penyusun tanah persentase liatnya lebih besar, maka kemungkinan besar akan menimbulkan masalah di daerah perakaran. Hal ini disebabkan (1) liat mempunyai kemampuan menahan air lebih lama, (2) aerasi di daerah perakaran berkurang dan (3) mengurangi pertumbuhan akar (Anekaplantasia, 2010). Demikian pula bila persentase pasir lebih besar, maka kemungkinan menimbulkan masalah (1) kondisi tanah cepat kering dan (2) kemampuan mengikat air dan nutrisi yang rendah, sehingga berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Namun dengan segala kelebihan dan kekurangan tekstur tanah, media tanah tetap tidak tergantikan oleh media alternatif (non tanah) karena kelebihannya dalam mengikat nutrisi, air dan menjaga keseimbangan kehidupan mikrobiologi tanah (Anekaplantasia, 2010). Demikian halnya dengan media alternatif mempunyai kelebihan, yaitu (1) media tanam tampak bersih, (2) ringan dan (3) mudah dirawat</p> <p>(mengganti/menambah media lagi). Contoh media alternatif campuran sekam bakar denga...</p>