FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN hamil dan kemungkinan mempunyai bayi dengan sindroma ... juling, nistagmus, katarak ... Resiko kematian tertinggi terjadinya pada masa bayi.

Download FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN   hamil dan kemungkinan mempunyai bayi dengan sindroma ... juling, nistagmus, katarak ... Resiko kematian tertinggi terjadinya pada masa bayi.

Post on 06-Feb-2018

215 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ul><li><p>Jurnal Stikes A. Yani 14 </p><p>FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SINDROMA DOWN </p><p>DI SLB-C CIPAGANTI BANDUNG </p><p>(The relationship between mothers &amp; fathers factors that are correlated to Down </p><p>Syndrome at SLB-C Cipaganti Bandung) </p><p>Mirza Rini1, Eny Kusmiran2, Argi Virgona Bangun3 </p><p>ABSTRACT </p><p>Background: Down Syndrome is the cromosom disorder that is found in human body, and it can occur to everyone, race, and economy-social status . There are about 300.000 Indonesian people have suffered from Down Syndrome. It assumes that the process of non-disjunction of meaoses can cause the disorder, and the main cause of ot is still difficult to find. Needing a further observation that can decrease the Down Syndrome-trigger factors. The following observed factors including (womens age, DM medical record, psyco-social depression, women medical radiation record, childs genetical factor and menage). According to the data that the most Down Syndrome sufferers found at SLB-C Cipaganti in the city and district of Bandung. </p><p>Objectives : It is proposed to describe the relationship between mothers and fathers factors (womens age, DM medical record, psyco-social depression, women medical radiation record, childs genetical factor and menage). </p><p>Method : This was an observational research that used cross sectional design. The research data used primare data with sample of children with total respondent of 97 responden. The used analysis consists of univariable analysis with proportion, bivariable with chi square test with significance level of P</p></li><li><p>Jurnal Stikes A. Yani 15 </p><p>A. PENGANTAR </p><p>Sindroma Down merupakan kelainan kromosom yang paling sering ditemukan </p><p>pada manusia. Kelainan ini dapat terjadi pada setiap orang, ras dan status sosial ekonomi. </p><p>Kelainan ini ditemukan di seluruh dunia, pada semua suku bangsa dan kejadiannya 1,6 </p><p>per 1000 kelahiran dan terjadi pada bangsa kulit putih lebih tinggi daripada kulit hitam </p><p>(Stoll,1998 dalam Wong, 2000). Di Amerika Serikat, sekitar 4.000 anak dilahirkan setiap </p><p>tahun, atau sekitar 1 dari 800 - 1.000 kelahiran hidup menderita sindroma Down (NICHCY </p><p>: National Dissemination Centre for Children with Disabilities, 2004). </p><p>Di Indonesia terdapat sekitar 300.000 penderita sindroma Down ( ISDI : Ikatan </p><p>Sindroma Down Indonesia, 2005). Menurut Gunadi (2000) kejadian sindroma Down pada </p><p>penelitian yang dilakukan di RSHS tahun 1999 adalah 0,8 per 1000 kelahiran hidup. </p><p>Sedangkan pada penelitian kelainan kongenital di Medan tahun 1991-1994 didapatkan </p><p>angka penderita sindroma Down adalah 0,33 per 1000 kelahiran. </p><p>Penyebab pasti sindroma Down secara pasti belum diketahui, tetapi penelitian </p><p>pada sitogenetik studi epidemiologi mendukung tentang penyebab yang multiple. Kira-kira </p><p>95 % kasus sindroma Down disebabkan oleh kromosom extra 21, yang dinamakan trisomi </p><p>21. Meskipun anak-anak dengan trisomi 21 dilahirkan dari orang tua pada semua umur, </p><p>terdapat data statistik yaitu resiko pada wanita yang lebih tua akan didapatkan resiko yang </p><p>lebih besar terutama usia lebih dari 35 tahun ketika melahirkan anak dengan sindroma </p><p>Down (Hixon &amp; other, 1998 dalam Wong, 2000). Banyak hipotesis dikemukakan tentang </p><p>penyebab sindroma Down selama hampir satu abad. Tetapi sejak ditemukan adanya </p><p>kelainan kromosom pada sindroma Down tahun 1959, maka perhatian lebih dipusatkan </p><p>pada kejadian non disjunctional sebagai penyebabnya yaitu faktor keturunan, radiasi, </p><p>infeksi, autoimun, usia ibu, usia ayah (Soetjiningsih, 1995). </p><p>Insiden sindroma Down meningkat dengan meningkatnya usia ibu. Banyak ahli </p><p>merekomendasikan perempuan yang berumur diatas 35 tahun harus mengadakan test </p><p>prenatal untuk mengetahui adanya kelainan sindroma Down. Wanita di bawah 30 tahun </p><p>yang hamil dan kemungkinan mempunyai bayi dengan sindroma Down diperkirakan 1 dari </p><p>1.000, tetapi kesempatan mempunyai bayi dengan sindroma Down Meningkat pada ibu </p><p>yang berusia 35 tahun atau lebih (Linsdjo, 2001). </p></li><li><p>Jurnal Stikes A. Yani 16 </p><p>Apabila umur ibu di atas 35 tahun, diperkirakan terdapat perubahan hormonal </p><p>yang dapat menyebabkan non disjunction pada kromosom. Teori lama mengatakan </p><p>perubahan hormon, seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar </p><p>hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiol sistemik, perubahan konsentrasi </p><p>reseptor hormon, dan peningkatan secara tajam kadar LH (Luteinizing Hormone) dan FSH </p><p>(Follicular Stimulating Hormone) secara tiba-tiba sebelum dan selama menopause, dapat </p><p>meningkatkan kemungkinan terjadinya non disjunction. (Soetjiningsih, 1995) </p><p>Peluang seorang wanita mempunyai anak dengan sindroma Down meningkat </p><p>bersamaan dengan peningkatan usianya pada saat mengandung. Peningkatan ini </p><p>khususnya mulai kelihatan sejak usia 35 tahun (Selikowitz, 2001). Hal yang sama juga </p><p>dikatakan oleh NICHCY (2004) bahwa usia orang tua penderita sindroma Down bisa </p><p>bermacam-macam tetapi insiden tertinggi terjadi pada usia ibu lebih dari 35 tahun. </p><p>Selain pengaruh usia ibu terhadap sindroma Down, juga dilaporkan adanya </p><p>pengaruh dari usia ayah. Penelitian sitogenetik di Norwegia pada orang tua dari anak </p><p>dengan sindroma Down mendapatkan bahwa 20-30 % kasus extra kromosom 21 </p><p>bersumber dari ayahnya tetapi korelasinya tidak setinggi dengan usia ibu. Usia ayah yang </p><p>dikatakan mempunyai resiko untuk terjadinya sindroma Down adalah 50 tahun atau lebih </p><p>(Soetjiningsih, 1995). </p><p>Grande Multipara (anak lebih dari 6) berhubungan dengan meningkatnya </p><p>prevalensi sindroma Down pada ibu yang berusia antara 25 - 44 tahun. Prevalensi </p><p>sindroma Down didapatkan lebih tinggi pada ibu multipara (anak 2 5) daripada primipara </p><p>pada semua golongan usia (Forrester, 2001). </p><p>Levine (1993) menduga adanya faktor predisposisi keturunan pada kejadian non </p><p>disjunctional. Bukti yang mendukung teori ini didapat dari penelitian epidemiologi yang </p><p>menunjukkan tingginya resiko kejadian sindroma Down bila ada riwayat keluarga dengan </p><p>kelainan yang sama (Soetjiningsih, 1995 ). </p><p>Faktor penyebab lain adalah autoimun, khususnya autoimun tiroid dan penyakit </p><p>tiroid yang lain. Penelitian Fialkows menunjukkan perbedaan kadar autoantibodi tiroid </p><p>antara ibu yang melahirkan anak sindroma Down dengan ibu kontrol pada umur yang </p><p>sama. Tidak didapatkan penyakit tertentu yang secara langsung menyebabkan </p></li><li><p>Jurnal Stikes A. Yani 17 </p><p>peningkatan kejadian sindroma Down, tetapi beberapa peneliti menemukan peningkatan </p><p>kejadian pada ibu dengan diabetes mellitus (Soetjiningsih, 1995). </p><p>Beberapa orang tua penderita sindroma Down mengalami peristiwa yang </p><p>menimbulkan stres pada saat sebelum kehamilan. Ibu dari penderita sindroma Down </p><p>biasanya menderita beberapa penyakit/kelainan sebelum konsepsi. Pada penelitian </p><p>Murdoch dikatakan beberapa ibu mengalami penyakit psikologis dan mendapatkan obat-</p><p>obatan sekitar satu tahun sebelum konsepsi (Forrester, 2001). </p><p>Radiasi dikatakan merupakan salah satu penyebab dari non disjunctinal pada </p><p>sindroma Down. Sekitar 30 % ibu yang melahirkan anak dengan sindroma Down, pernah </p><p>mengalami radiasi di daerah perut sebelum terjadinya konsepsi (Soetjiningsih, 1995). </p><p>Anak dengan sindroma Down mempunyai resiko yang tinggi umtuk mendapat </p><p>masalah kesehatan yang serius. Sindroma Down mengakibatkan kelainan hampir pada </p><p>semua organ tubuh. Masalah kesehatan itu antara lain gangguan pendengaran, gangguan </p><p>penglihatan jauh dan dekat, juling, nistagmus, katarak, penurunan tonus otot, mobilitas </p><p>sendi meningkat (atlantoaksial pada tulang leher yang paling atas), kulit kering, pecah-</p><p>pecah, kadang-kadang gatal, gigi geligi tumbuh lambat, hipotiroidisme, konstipasi, pada </p><p>kelainan bawaan didapatkan hirschprung, atresia duodenal, leukemia dan kelainan jantung </p><p>AVSD (Atrio Ventricular Septal Defect), Ventricular Septal Defect (VSD) dan PDA (Patent </p><p>Ductus Arteriosus) (Selikowitz, 2001). </p><p>Selain masalah kesehatan di atas, angka mortalitas penderita sindroma Down </p><p>juga cukup tinggi. Resiko kematian tertinggi terjadinya pada masa bayi. Antara 10-20 % </p><p>bayi sindroma Down meninggal pada tahun pertama kehidupannya. Penyebab kematian </p><p>terbanyak pada saat itu adalah akibat kelainan jantung bawaan, malformasi organ lain dan </p><p>infeksi. Pada anak sindroma Down dengan kelainan jantung bawaan, angka harapan hidup </p><p>sampai usia 1 tahun adalah 72 % dan sampai usia 6 tahun adalah 45 %. Pada anak </p><p>sindroma Down yang tidak menderita kelainan jantung bawaan, kemungkinan harapan </p><p>hidup sampai usia 1 tahun adalah 93 % dan sampai usia 6 tahun adalah 88 % (Forrester, </p><p>2000). </p><p>Melihat angka morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi, para ahli sejak lama </p><p>berusaha untuk menurunkan angka kejadian sindroma Down. Seperti juga pada kelainan-</p><p>kelainan lain yang bersifat genetik, upaya ini terbentur pada etiologinya yang belum </p></li><li><p>Jurnal Stikes A. Yani 18 </p><p>diketahui pasti. Oleh karena itu diperlukan penelitian-penelitian yang bersifat epidemiologi </p><p>sebagai usaha untuk pencegahan (Forrester, 2000). </p><p>Berdasarkan hasil survey ke beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB)-C di kota dan </p><p>Kabupaten Bandung yaitu di SLB-C Nurani Cimahi, SLB-C Sukapura, SLB-C Cileunyi, </p><p>SLB-C Purnama Asih, SLB-C Nike Ardila didapatkan data penderita sindroma Down untuk </p><p>usia sekolah (SD-SMU) berjumlah sekitar 350 orang. Pernyataan lain menurut Delpie </p><p>(2006) mengatakan bahwa penderita tunagrahita di sejumlah SLB-C di Kota dan </p><p>Kabupaten Bandung yaitu sekitar 600 orang. </p><p> Hasil studi pedahuluan mengenai di SLB-C Cipaganti Bandung didapatkan kejadian </p><p>Autisme, Sindroma Down dan Retardasi Mental. Untuk retardasi mental dibagi menjadi </p><p>beberapa gangguan yaitu gangguan tingkah laku, hiperaktif, gangguan bicara, epilepsi, </p><p>gangguan pendengaran dll. Penderita sindroma Down adalah yang terbanyak diantara </p><p>penderita autisme atau retardasi mental. </p><p>Sekolah Luar Biasa (SLB ) C Cipaganti adalah sekolah luar biasa yang khusus </p><p>menyelenggarakan pelayanan pendidikan bagi anak-anak tunagrahita (keterbelakangan </p><p>mental). SLB ini merupakan kelanjutan dari sekolah luar biasa untuk anak cacat mental </p><p>yang telah ada sejak zaman Belanda. Awal berdirinya dikenal dengan nama Folker </p><p>School yakni salah satu sekolah luar biasa yang pertama ada di Indonesia, didirikan </p><p>tanggal 29 Mei 1927 oleh Dr. Kits Van Heijningeen dan Akkerrs Dijk. Pada tahun 1954 </p><p>baru dibuka untuk anak-anak Indonesia. Saat ini SLB C Cipaganti telah memiliki 137 murid </p><p>yang terdiri dari tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, autisme dan sindroma Down. </p><p>Seiring dengan banyaknya penderita sindroma Down di SLB ini, maka angka kejadian </p><p>sindroma Down semakin tinggi pula. </p><p>Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, walaupun secara teoritik diketahui </p><p>banyak sekali faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian sindroma Down, sehingga </p><p>dalam penelitian ini peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan faktor ayah dan ibu </p><p>dengan kejadian sindroma Down khususnya di SLB-C Cipaganti Bandung. </p><p>Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan </p><p>dengan kejadian sindroma Down di SLB-C Cipaganti Bandung. Untuk mendapatkan </p><p>gambaran tentang 1) kejadian sindroma Down di SLB-C Cipaganti Bandung;2) faktor ibu ( </p></li><li><p>Jurnal Stikes A. Yani 19 </p><p>usia, riwayat diabetes mellitus, stres psikologis, radiasi ), 3) faktor ayah (usia ); 4) faktor </p><p>keturunan dan urutan anak. </p><p>B. BAHAN DAN CARA PENELITIAN </p><p>Jenis penelitian deskriptif korelasional, yaitu penelitian yang bertujuan untuk </p><p>mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian sindroma Down. Rancangan </p><p>penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan melalui </p><p>observasi atau pengukuran pada satu saat tertentu. Pengukuran terhadap variabel atau </p><p>faktor resiko dalam penelitian ini adalah faktor ibu( usia, riwayat diabetes mellitus, stres </p><p>psikologis, radiasi) dan usia ayah, keturunan dan urutan anak terhadap kejadian sindroma </p><p>Down. Baik faktor risiko maupun efeknya, pengukuran hanya dilakukan sekali dan dalam </p><p>waktu yang bersamaan. </p><p> Gambar 1. Kerangka Konsep Pemikiran </p><p>Variabel penelitian ini adalah variabel bebas faktor ibu dan ayah dengan variabel </p><p>dependennya kejadian Sindroma Down. Faktor ibu yang akan diukur adalah Usia ibu </p><p>Riwayat Diabetes mellitus Stres psikososial dan Radiasi. Faktor ayah adalah usia dan </p><p>faktor lain meliputi keturunan dan urutan anak. </p><p>Kejadian </p><p>Sindroma </p><p>Down </p><p>Ya </p><p>Tidak </p><p> Faktor ibu : - Usia &gt; 35 tahun </p><p>- Riwayat DM </p><p>- Radiasi </p><p>- Stres psikososial </p><p>Faktor ayah : </p><p>- Usia &gt; 45 tahun </p><p>Faktor: </p><p>Keturunan </p><p>Urutan anak </p></li><li><p>Jurnal Stikes A. Yani 20 </p><p>Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua biologis yang anaknya </p><p>melakukan proses pembelajaran di SLB-C Cipaganti Bandung yang berjumlah 137 yang </p><p>memenuhi kriteria inklusi sampel sebanyak 97 responden. Teknik sampel yang digunakan </p><p>adalah accidental sampling . Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini </p><p>adalah angket /kuesioner. Angket yang digunakan adalah angket berstruktur dimana </p><p>jawaban telah tersedia dan responden tinggal memilih alternatif jawaban sehingga data </p><p>yang didapat mudah diolah dan dianalisa. Instrumen yang akan digunakan untuk faktor </p><p>stres psikososial menggunakan daftar pertanyaan dari Holmes dan Rahe mengenai ada </p><p>atau tidaknya stress psikososial yang dialami pada masa 1 tahun kehamilan anak yang </p><p>bersangkutan. </p><p>Analisis univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan tiap </p><p>variabel faktor ibu (usia, genetik, paritas, stres psikososial, penyakit diabetes, radiasi) dan </p><p>faktor ayah serta faktor luar dengan distribusi frekuensi dan prosentase. Analisis bivariat </p><p>menggunakan Chi-square tes (X2) kriteria pengujian adalah bila p-value &lt; = 0.05 maka </p><p>hubungan tersebut secara statistik ada hubungan yang bermakna, tetapi bila p-value &gt; = </p><p>0.05 maka secara statistik tidak signifikan atau tidak ada hubungan yang bermakna. </p><p>C. HASIL </p><p>Analisis univariat menunjukkan distribusi kejadian sindroma Down di SLB-C </p><p>Cipaganti Bandung adalah sebagai berikut: </p><p>Tabel 1 Distribusi Frekuensi Kejadian Sindroma Down di SLB-C Cipaganti Bandung </p><p>Kejadian Sindroma Down Jumlah (n) Persentase (%) </p><p>Ya Tidak </p><p>41 56 </p><p>42,3 57,7 </p><p> Sumber : Data Primer, 2007 </p><p> Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa anak yang mengalami sindroma </p><p>Down sebanyak 42,3 % dan anak yang tidak mengalami sindroma Down sebanyak 57.7 </p><p>%. </p></li><li><p>Jurnal Stikes A. Yani 21 </p><p> Analisis univariat menunjukkan distribusi frekuensi faktor ibu dan faktor ayah serta </p><p>faktor keturunan dan urutan anak terhadap kejadian sindroma Down di SLB-C Cipaganti </p><p>Bandung adalah sebagai berikut: </p><p>Tabel 2 Distribusi Frekuensi Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Sindroma Down di </p><p>SLB-C Cipaganti Bandung </p><p>Faktor Kejadian Sindroma Down </p><p>Ya Tidak Total </p><p>N % n % N % </p><p>Usia Ibu &gt; 35 tahun 35 tahun </p><p> 4 </p><p>37 </p><p> 25 </p><p>45,7 </p><p> 12 44 </p><p> 75 </p><p>54,3 </p><p> 16 81 </p><p> 16,4 83,6 </p><p>Riwayat DM ibu Ada Tidak ada </p><p> 4 </p><p>37 </p><p> 36,4 </p><p>43 </p><p> 7 </p><p>49 </p><p> 63,6 57 </p><p> 11 86 </p><p> 11,34 88,66 </p><p>Radiasi pada ibu Pernah Tidak pernah </p><p> 5 </p><p>36 </p><p> 38,5 42,9 </p><p> 8 </p><p>48 </p><p> 61,5 57,1 </p><p> 13 84 </p><p> 13,4 86,6 </p><p>Stres psikososial ibu Ada stres Tidak ada stres </p><p> 31 10 </p><p> 41,9 43,5 </p><p> 43 13 </p><p> 58,1 56,5 </p><p> 23 7...</p></li></ul>

Recommended

View more >