FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN hamil dan kemungkinan mempunyai bayi dengan sindroma ... juling, nistagmus, katarak ... Resiko kematian tertinggi terjadinya pada masa bayi.

Download FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN   hamil dan kemungkinan mempunyai bayi dengan sindroma ... juling, nistagmus, katarak ... Resiko kematian tertinggi terjadinya pada masa bayi.

Post on 06-Feb-2018

215 views

Category:

Documents

1 download

TRANSCRIPT

  • Jurnal Stikes A. Yani 14

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SINDROMA DOWN

    DI SLB-C CIPAGANTI BANDUNG

    (The relationship between mothers & fathers factors that are correlated to Down

    Syndrome at SLB-C Cipaganti Bandung)

    Mirza Rini1, Eny Kusmiran2, Argi Virgona Bangun3

    ABSTRACT

    Background: Down Syndrome is the cromosom disorder that is found in human body, and it can occur to everyone, race, and economy-social status . There are about 300.000 Indonesian people have suffered from Down Syndrome. It assumes that the process of non-disjunction of meaoses can cause the disorder, and the main cause of ot is still difficult to find. Needing a further observation that can decrease the Down Syndrome-trigger factors. The following observed factors including (womens age, DM medical record, psyco-social depression, women medical radiation record, childs genetical factor and menage). According to the data that the most Down Syndrome sufferers found at SLB-C Cipaganti in the city and district of Bandung.

    Objectives : It is proposed to describe the relationship between mothers and fathers factors (womens age, DM medical record, psyco-social depression, women medical radiation record, childs genetical factor and menage).

    Method : This was an observational research that used cross sectional design. The research data used primare data with sample of children with total respondent of 97 responden. The used analysis consists of univariable analysis with proportion, bivariable with chi square test with significance level of P

  • Jurnal Stikes A. Yani 15

    A. PENGANTAR

    Sindroma Down merupakan kelainan kromosom yang paling sering ditemukan

    pada manusia. Kelainan ini dapat terjadi pada setiap orang, ras dan status sosial ekonomi.

    Kelainan ini ditemukan di seluruh dunia, pada semua suku bangsa dan kejadiannya 1,6

    per 1000 kelahiran dan terjadi pada bangsa kulit putih lebih tinggi daripada kulit hitam

    (Stoll,1998 dalam Wong, 2000). Di Amerika Serikat, sekitar 4.000 anak dilahirkan setiap

    tahun, atau sekitar 1 dari 800 - 1.000 kelahiran hidup menderita sindroma Down (NICHCY

    : National Dissemination Centre for Children with Disabilities, 2004).

    Di Indonesia terdapat sekitar 300.000 penderita sindroma Down ( ISDI : Ikatan

    Sindroma Down Indonesia, 2005). Menurut Gunadi (2000) kejadian sindroma Down pada

    penelitian yang dilakukan di RSHS tahun 1999 adalah 0,8 per 1000 kelahiran hidup.

    Sedangkan pada penelitian kelainan kongenital di Medan tahun 1991-1994 didapatkan

    angka penderita sindroma Down adalah 0,33 per 1000 kelahiran.

    Penyebab pasti sindroma Down secara pasti belum diketahui, tetapi penelitian

    pada sitogenetik studi epidemiologi mendukung tentang penyebab yang multiple. Kira-kira

    95 % kasus sindroma Down disebabkan oleh kromosom extra 21, yang dinamakan trisomi

    21. Meskipun anak-anak dengan trisomi 21 dilahirkan dari orang tua pada semua umur,

    terdapat data statistik yaitu resiko pada wanita yang lebih tua akan didapatkan resiko yang

    lebih besar terutama usia lebih dari 35 tahun ketika melahirkan anak dengan sindroma

    Down (Hixon & other, 1998 dalam Wong, 2000). Banyak hipotesis dikemukakan tentang

    penyebab sindroma Down selama hampir satu abad. Tetapi sejak ditemukan adanya

    kelainan kromosom pada sindroma Down tahun 1959, maka perhatian lebih dipusatkan

    pada kejadian non disjunctional sebagai penyebabnya yaitu faktor keturunan, radiasi,

    infeksi, autoimun, usia ibu, usia ayah (Soetjiningsih, 1995).

    Insiden sindroma Down meningkat dengan meningkatnya usia ibu. Banyak ahli

    merekomendasikan perempuan yang berumur diatas 35 tahun harus mengadakan test

    prenatal untuk mengetahui adanya kelainan sindroma Down. Wanita di bawah 30 tahun

    yang hamil dan kemungkinan mempunyai bayi dengan sindroma Down diperkirakan 1 dari

    1.000, tetapi kesempatan mempunyai bayi dengan sindroma Down Meningkat pada ibu

    yang berusia 35 tahun atau lebih (Linsdjo, 2001).

  • Jurnal Stikes A. Yani 16

    Apabila umur ibu di atas 35 tahun, diperkirakan terdapat perubahan hormonal

    yang dapat menyebabkan non disjunction pada kromosom. Teori lama mengatakan

    perubahan hormon, seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar

    hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiol sistemik, perubahan konsentrasi

    reseptor hormon, dan peningkatan secara tajam kadar LH (Luteinizing Hormone) dan FSH

    (Follicular Stimulating Hormone) secara tiba-tiba sebelum dan selama menopause, dapat

    meningkatkan kemungkinan terjadinya non disjunction. (Soetjiningsih, 1995)

    Peluang seorang wanita mempunyai anak dengan sindroma Down meningkat

    bersamaan dengan peningkatan usianya pada saat mengandung. Peningkatan ini

    khususnya mulai kelihatan sejak usia 35 tahun (Selikowitz, 2001). Hal yang sama juga

    dikatakan oleh NICHCY (2004) bahwa usia orang tua penderita sindroma Down bisa

    bermacam-macam tetapi insiden tertinggi terjadi pada usia ibu lebih dari 35 tahun.

    Selain pengaruh usia ibu terhadap sindroma Down, juga dilaporkan adanya

    pengaruh dari usia ayah. Penelitian sitogenetik di Norwegia pada orang tua dari anak

    dengan sindroma Down mendapatkan bahwa 20-30 % kasus extra kromosom 21

    bersumber dari ayahnya tetapi korelasinya tidak setinggi dengan usia ibu. Usia ayah yang

    dikatakan mempunyai resiko untuk terjadinya sindroma Down adalah 50 tahun atau lebih

    (Soetjiningsih, 1995).

    Grande Multipara (anak lebih dari 6) berhubungan dengan meningkatnya

    prevalensi sindroma Down pada ibu yang berusia antara 25 - 44 tahun. Prevalensi

    sindroma Down didapatkan lebih tinggi pada ibu multipara (anak 2 5) daripada primipara

    pada semua golongan usia (Forrester, 2001).

    Levine (1993) menduga adanya faktor predisposisi keturunan pada kejadian non

    disjunctional. Bukti yang mendukung teori ini didapat dari penelitian epidemiologi yang

    menunjukkan tingginya resiko kejadian sindroma Down bila ada riwayat keluarga dengan

    kelainan yang sama (Soetjiningsih, 1995 ).

    Faktor penyebab lain adalah autoimun, khususnya autoimun tiroid dan penyakit

    tiroid yang lain. Penelitian Fialkows menunjukkan perbedaan kadar autoantibodi tiroid

    antara ibu yang melahirkan anak sindroma Down dengan ibu kontrol pada umur yang

    sama. Tidak didapatkan penyakit tertentu yang secara langsung menyebabkan

  • Jurnal Stikes A. Yani 17

    peningkatan kejadian sindroma Down, tetapi beberapa peneliti menemukan peningkatan

    kejadian pada ibu dengan diabetes mellitus (Soetjiningsih, 1995).

    Beberapa orang tua penderita sindroma Down mengalami peristiwa yang

    menimbulkan stres pada saat sebelum kehamilan. Ibu dari penderita sindroma Down

    biasanya menderita beberapa penyakit/kelainan sebelum konsepsi. Pada penelitian

    Murdoch dikatakan beberapa ibu mengalami penyakit psikologis dan mendapatkan obat-

    obatan sekitar satu tahun sebelum konsepsi (Forrester, 2001).

    Radiasi dikatakan merupakan salah satu penyebab dari non disjunctinal pada

    sindroma Down. Sekitar 30 % ibu yang melahirkan anak dengan sindroma Down, pernah

    mengalami radiasi di daerah perut sebelum terjadinya konsepsi (Soetjiningsih, 1995).

    Anak dengan sindroma Down mempunyai resiko yang tinggi umtuk mendapat

    masalah kesehatan yang serius. Sindroma Down mengakibatkan kelainan hampir pada

    semua organ tubuh. Masalah kesehatan itu antara lain gangguan pendengaran, gangguan

    penglihatan jauh dan dekat, juling, nistagmus, katarak, penurunan tonus otot, mobilitas

    sendi meningkat (atlantoaksial pada tulang leher yang paling atas), kulit kering, pecah-

    pecah, kadang-kadang gatal, gigi geligi tumbuh lambat, hipotiroidisme, konstipasi, pada

    kelainan bawaan didapatkan hirschprung, atresia duodenal, leukemia dan kelainan jantung

    AVSD (Atrio Ventricular Septal Defect), Ventricular Septal Defect (VSD) dan PDA (Patent

    Ductus Arteriosus) (Selikowitz, 2001).

    Selain masalah kesehatan di atas, angka mortalitas penderita sindroma Down

    juga cukup tinggi. Resiko kematian tertinggi terjadinya pada masa bayi. Antara 10-20 %

    bayi sindroma Down meninggal pada tahun pertama kehidupannya. Penyebab kematian

    terbanyak pada saat itu adalah akibat kelainan jantung bawaan, malformasi organ lain dan

    infeksi. Pada anak sindroma Down dengan kelainan jantung bawaan, angka harapan hidup

    sampai usia 1 tahun adalah 72 % dan sampai usia 6 tahun adalah 45 %. Pada anak

    sindroma Down yang tidak menderita kelainan jantung bawaan, kemungkinan harapan

    hidup sampai usia 1 tahun adalah 93 % dan sampai usia 6 tahun adalah 88 % (Forrester,

    2000).

    Melihat angka morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi, para ahli sejak lama

    berusaha untuk menurunkan angka kejadian sindroma Down. Seperti juga pada kelainan-

    kelainan lain yang bersifat genetik, upaya ini terbentur pada etiologinya yang belum

  • Jurnal Stikes A. Yani 18

    diketahui pasti. Oleh karena itu diperlukan penelitian-penelitian yang bersifat epidemiologi

    sebagai usaha untuk pencegahan (Forrester, 2000).

    Berdasarkan hasil survey ke beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB)-C di kota dan

    Kabupaten Bandung yaitu di SLB-C Nurani Cimahi, SLB-C Sukapura, SLB-C Cileunyi,

    SLB-C Purnama Asih, SLB-C Nike Ardila didapatkan data penderita sindroma Down untuk

    usia sekolah (SD-SMU) berjumlah sekitar 350 orang. Pernyataan lain menurut Delpie

    (2006) mengatakan bahwa penderita tunagrahita di sejumlah SLB-C di Kota dan

    Kabupaten Bandung yaitu sekitar 600 orang.

    Hasil studi pedahuluan mengenai di SLB-C Cipaganti Bandung didapatkan kejadian

    Autisme, Sindroma Down dan Retardasi Mental. Untuk retardasi mental dibagi menjadi

    beberapa gangguan yaitu gangguan tingkah laku, hiperaktif, gangguan bicara, epilepsi,

    gangguan pendengaran dll. Penderita sindroma Down adalah yang terbanyak diantara

    penderita autisme atau retardasi mental.

    Sekolah Luar Biasa (SLB ) C Cipaganti adalah sekolah luar biasa yang khusus

    menyelenggarakan pelayanan pendidikan bagi anak-anak tunagrahita (keterbelakangan

    mental). SLB ini merupakan kelanjutan dari sekolah luar biasa untuk anak cacat mental

    yang telah ada sejak zaman Belanda. Awal berdirinya dikenal dengan nama Folker

    School yakni salah satu sekolah luar biasa yang pertama ada di Indonesia, didirikan

    tanggal 29 Mei 1927 oleh Dr. Kits Van Heijningeen dan Akkerrs Dijk. Pada tahun 1954

    baru dibuka untuk anak-anak Indonesia. Saat ini SLB C Cipaganti telah memiliki 137 murid

    yang terdiri dari tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, autisme dan sindroma Down.

    Seiring dengan banyaknya penderita sindroma Down di SLB ini, maka angka kejadian

    sindroma Down semakin tinggi pula.

    Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, walaupun secara teoritik diketahui

    banyak sekali faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian sindroma Down, sehingga

    dalam penelitian ini peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan faktor ayah dan ibu

    dengan kejadian sindroma Down khususnya di SLB-C Cipaganti Bandung.

    Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan

    dengan kejadian sindroma Down di SLB-C Cipaganti Bandung. Untuk mendapatkan

    gambaran tentang 1) kejadian sindroma Down di SLB-C Cipaganti Bandung;2) faktor ibu (

  • Jurnal Stikes A. Yani 19

    usia, riwayat diabetes mellitus, stres psikologis, radiasi ), 3) faktor ayah (usia ); 4) faktor

    keturunan dan urutan anak.

    B. BAHAN DAN CARA PENELITIAN

    Jenis penelitian deskriptif korelasional, yaitu penelitian yang bertujuan untuk

    mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian sindroma Down. Rancangan

    penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan melalui

    observasi atau pengukuran pada satu saat tertentu. Pengukuran terhadap variabel atau

    faktor resiko dalam penelitian ini adalah faktor ibu( usia, riwayat diabetes mellitus, stres

    psikologis, radiasi) dan usia ayah, keturunan dan urutan anak terhadap kejadian sindroma

    Down. Baik faktor risiko maupun efeknya, pengukuran hanya dilakukan sekali dan dalam

    waktu yang bersamaan.

    Gambar 1. Kerangka Konsep Pemikiran

    Variabel penelitian ini adalah variabel bebas faktor ibu dan ayah dengan variabel

    dependennya kejadian Sindroma Down. Faktor ibu yang akan diukur adalah Usia ibu

    Riwayat Diabetes mellitus Stres psikososial dan Radiasi. Faktor ayah adalah usia dan

    faktor lain meliputi keturunan dan urutan anak.

    Kejadian

    Sindroma

    Down

    Ya

    Tidak

    Faktor ibu : - Usia > 35 tahun

    - Riwayat DM

    - Radiasi

    - Stres psikososial

    Faktor ayah :

    - Usia > 45 tahun

    Faktor:

    Keturunan

    Urutan anak

  • Jurnal Stikes A. Yani 20

    Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua biologis yang anaknya

    melakukan proses pembelajaran di SLB-C Cipaganti Bandung yang berjumlah 137 yang

    memenuhi kriteria inklusi sampel sebanyak 97 responden. Teknik sampel yang digunakan

    adalah accidental sampling . Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini

    adalah angket /kuesioner. Angket yang digunakan adalah angket berstruktur dimana

    jawaban telah tersedia dan responden tinggal memilih alternatif jawaban sehingga data

    yang didapat mudah diolah dan dianalisa. Instrumen yang akan digunakan untuk faktor

    stres psikososial menggunakan daftar pertanyaan dari Holmes dan Rahe mengenai ada

    atau tidaknya stress psikososial yang dialami pada masa 1 tahun kehamilan anak yang

    bersangkutan.

    Analisis univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan tiap

    variabel faktor ibu (usia, genetik, paritas, stres psikososial, penyakit diabetes, radiasi) dan

    faktor ayah serta faktor luar dengan distribusi frekuensi dan prosentase. Analisis bivariat

    menggunakan Chi-square tes (X2) kriteria pengujian adalah bila p-value < = 0.05 maka

    hubungan tersebut secara statistik ada hubungan yang bermakna, tetapi bila p-value > =

    0.05 maka secara statistik tidak signifikan atau tidak ada hubungan yang bermakna.

    C. HASIL

    Analisis univariat menunjukkan distribusi kejadian sindroma Down di SLB-C

    Cipaganti Bandung adalah sebagai berikut:

    Tabel 1 Distribusi Frekuensi Kejadian Sindroma Down di SLB-C Cipaganti Bandung

    Kejadian Sindroma Down Jumlah (n) Persentase (%)

    Ya Tidak

    41 56

    42,3 57,7

    Sumber : Data Primer, 2007

    Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa anak yang mengalami sindroma

    Down sebanyak 42,3 % dan anak yang tidak mengalami sindroma Down sebanyak 57.7

    %.

  • Jurnal Stikes A. Yani 21

    Analisis univariat menunjukkan distribusi frekuensi faktor ibu dan faktor ayah serta

    faktor keturunan dan urutan anak terhadap kejadian sindroma Down di SLB-C Cipaganti

    Bandung adalah sebagai berikut:

    Tabel 2 Distribusi Frekuensi Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Sindroma Down di

    SLB-C Cipaganti Bandung

    Faktor Kejadian Sindroma Down

    Ya Tidak Total

    N % n % N %

    Usia Ibu > 35 tahun 35 tahun

    4

    37

    25

    45,7

    12 44

    75

    54,3

    16 81

    16,4 83,6

    Riwayat DM ibu Ada Tidak ada

    4

    37

    36,4

    43

    7

    49

    63,6 57

    11 86

    11,34 88,66

    Radiasi pada ibu Pernah Tidak pernah

    5

    36

    38,5 42,9

    8

    48

    61,5 57,1

    13 84

    13,4 86,6

    Stres psikososial ibu Ada stres Tidak ada stres

    31 10

    41,9 43,5

    43 13

    58,1 56,5

    23 74

    76,3 23,7

    Usia Ayah > 45 tahun 45 tahun

    3

    38

    37,5 42,7

    5

    51

    62,5 57,3

    8

    89

    8,2

    91,8

    Riwayat Keturunan Ada Tidak ada

    6

    35

    42,9 42,2

    8

    48

    57,1 57,8

    14 83

    14,4 85,6

    Urutan anak > 5 orang 5 orang

    1

    40

    33,3 42,6

    2

    54

    66,7 57,4

    3

    94

    3,1

    96,9

    Sumber : Data Primer, 2007

    Berdasarkan usia ibu, dibedakan usia ibu > 35 tahun (resiko tinggi) dan usia ibu

    35 tahun (resiko rendah) pada saat melahirkan anak dengan sindroma Down. Dimana usia

    terendah ibu adalah 20 tahun dan usia tertinggi adalah 54 tahun. Hasil penelitian

    mengenai usia ibu, dapat dilihat pada tabel 4.1, yang menggambarkan bahwa dari 16 ibu

    (16,4%) yang mempunyai resiko tinggi melahirkan anak dengan sindroma Down (usia > 35

    tahun) mayoritas memiliki anak yang tidak mengalami sindroma Down, demikian juga dari

    81 ibu (83,6%) yang mempunyai resiko rendah melahirkan anak dengan sindroma Down

    mayoritas juga tidak memiliki anak dengan sindroma Down.

  • Jurnal Stikes A. Yani 22

    Berdasarkan ada atau tidaknya riwayat penyakit DM pada ibu menunjukkan

    bahwa dari 11 ibu (11,34%) yang mempunyai riwayat diabetes mellitus mayoritas

    mempunyai anak yang tidak menderita sindroma Down, demikian pula dari 86 ibu

    (88,66%) yang tidak mempunyai riwayat DM mayoritas juga tidak memiliki anak dengan

    sindroma Down.

    Berdasarkan ada atau tidaknya radiasi pada ibu (pada saat hamil didapatkan data

    bahwa 13 ibu (13,4%) pernah dilakukan radiasi dan 84 ibu (86,6%) tidak pernah dilakukan

    radiasi, dimana keduanya mayoritas tidak memiliki anak dengan sindroma Down

    Berdasarkan ada atau tidaknya stress psikososial pada ibu (pada saat hamil),

    dapat dilihat pada tabel 1.2, didapatkan data bahwa dari 74 ibu (76,3%) yang tidak ada

    stress psikososial pada saat hamil mayoritas memiliki anak yang tidak sindroma Down,

    demikian pula dari 23 (23,7%) ibu yang mempunyai stres psikososial mayoritas tidak

    memiliki anak dengan sindroma Down juga.

    Berdasarkan usia ayah, dibedakan usia ayah > 45 tahun (resiko tinggi) dan 45

    tahun (resiko rendah) pada saat anak dengan sindroma Down lahir. Dimana usia terendah

    ayah adalah 22 tahun dan usia tertinggi adalah 60 tahun. Hasil penelitian mengenai usia

    ayah, dapat dilihat pada tabel 4.1, yang menggambarkan bahwa dari 8 ayah (8,2%) yang

    mempunyai resiko anak dengan sindroma Down mayoritas memiliki anak yang tidak

    mengalami sindroma Down, demikian juga dari 89 ayah (91,8%) yang mempunyai resiko

    rendah melahirkan anak dengan sindroma Down mayoritas juga tidak memiliki anak

    dengan sindroma Down.

    Berdasarkan faktor keturunan / genetik dengan kejadian sindroma Down

    menunjukkan bahwa dari 14 keluarga (14,4%) yang mempunyai keturunan sindroma

    Down, sebagian besar memiliki anak yang tidak menderita sindroma Down. Hal yang sama

    tampak dari 83 keluarga (85,6%) yang tidak mempunyai riwayat keturunan sindroma Down

    sebagian besar juga tidak memiliki anak yang menderita sindroma Down.Urutan anak

    dengan kejadian sindroma Down menunjukkan bahwa dari 3 anak (3,1%) dari urutan anak

    > 5, mayoritas tidak menderita sindroma Down, demikian pula dari 94 anak (96,9%)

    dengan urutan < 5, mayoritas juga tidak menderita sindroma Down.

    Analisa bivariat dimaksudkan untuk menguji hubungan faktor ibu dan faktor ayah

    dengan kejadian sindroma Down di SLB-C Cipaganti Bandung. Dari pengolahan data hasil

  • Jurnal Stikes A. Yani 23

    penelitian diperoleh pengujian faktor ibu dan faktor ayah yang berhubungan dengan

    kejadian sindroma Down adalah dapat dilihat pada tabel 3 berikut :

    Tabel 3 Hasil Uji Statistik Hubungan Faktor Ibu dan Ayah serta faktor keturunan dan urutan anak

    dengan Kejadian Sindroma Down di SLB-C Cipaganti Bandung

    Faktor

    Terjadinya Sindroma Down Jumlah

    P-

    value

    OR

    (95% CI) Sindroma

    Down Tidak Sindroma

    Down

    1. Usia Ibu > 35 thn (resiko tinggi) 35 thn (resiko rendah)

    4

    (25%) 37

    (45,7%)

    12

    (75%) 44

    (54,3%)

    16

    81

    0,210

    0,396

    (0,118 - 1,333)

    2. Riwayat DM Ada riwayat DM Tidak ada riwayat DM

    4

    (36,4%) 37

    (43%)

    7

    (63,6%) 49

    (57%)

    11

    86

    0,672

    0,757

    (0,206 2,778)

    3. Radiasi pada ibu Pernah Radiasi Tidak pernah radiasi

    5

    (38,5%) 36

    (42,9%)

    8

    (61,5%) 48

    (57,1%)

    13

    84

    1,000

    0,833

    (0,,251 2,761)

    4. Stres pada Ibu Ada Stres Tidak Ada Stres

    10

    (43,5%) 31

    (41,9%)

    13

    (56,5%) 43

    (58,1%)

    23

    74

    1,000

    0,937

    (0,364 2,411)

    5. Usia Ayah > 45 tahun < 45 tahun

    3

    (37,5%) 38

    (42,7%)

    5

    (62,5%) 51

    (57,3%)

    8

    89

    0,774

    0,805

    (0,181 3,579)

    6. Keturunan Ada keturunan Tidak ada keturunan

    6

    (42,9%) 35

    (42,2%)

    8

    (57,1%) 48

    (57,8%)

    14

    83

    1,000

    1,029 (0,327 3,231)

    7. Urutan Anak Resiko tinggi > 5 Resiko Rendah 5

    1

    (33,3%) 40

    (42,6%)

    2

    (66,7%) 54

    (57,4%)

    3

    94

    0,747

    0,675

    (0,059 7,706)

    Sumber : Data Primer, 2007

  • Jurnal Stikes A. Yani 24

    Hasil uji statistik antara usia ibu dengan kejadian sindroma Down menunjukkan

    bahwa pada tingkat kepercayaan 95% dapat dibuktikan tidak adanya hubungan yang

    bermakna antara usia ibu dengan kejadian sindroma Down, karena p-value = 0,210 > =

    0,05. Pada riwayat penyakit DM pada tingkat kepercayaan 95% dapat dibuktikan tidak

    adanya hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit DM dengan kejadian sindroma

    Down, karena p-value = 0,672 > = 0,05. Pada riwayat radiasi pada tingkat kepercayaan

    95% dapat dibuktikan tidak adanya hubungan yang bermakna antara riwayat radiasi

    dengan kejadian sindroma Down, karena p-value = 1,000 > = 0,05. Pada stress

    psikososial pada tingkat kepercayaan 95% dapat dibuktikan tidak adanya hubungan yang

    bermakna antara stress psikososial ibu dengan kejadian sindroma Down, karena p-value =

    1,000 > = 0,05.

    Pada usia ayah dan pada tingkat kepercayaan 95% dapat dibuktikan tidak adanya

    hubungan yang bermakna antara usia ayah dengan kejadian sindroma Down, karena p-

    value = 1.000 > = 0,05.

    Pada riwayat keturunan dapat dibuktikan tidak adanya hubungan yang bermakna

    antara riwayat keturunan dengan kejadian sindroma Down, karena p-value = 1,000 > =

    0,05. Pada urutan anak dapat dibuktikan tidak adanya hubungan yang bermakna antara

    urutan anak dengan kejadian sindroma Down, karena p-value = 0,747 > = 0,05.

    D. PEMBAHASAN

    1. Hubungan Usia Ibu dengan Kejadian Sindroma Down

    Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara usia ibu dengan

    kejadian sindroma Down karena p-value = 0,210 > = 0,05. Resiko kelahiran bayi dengan

    sindroma Down relatif meningkat dengan meningkatnya usia ibu, meskipun demikian pada

    penelitian ini ternyata ditemukan angka kejadian yang cukup tinggi pada ibu-ibu yang

    melahirkan anak dengan sindroma Down dengan usia 35 tahun yaitu sebanyak 45,7%.

    Hal ini sesuai dengan pernyataan Pueschel (1993) bahwa kebanyakan bayi

    dengan sindroma Down (lebih dari 85%) lahir dari ibu yang berusia kurang dari 35 tahun.

    Penelitian di Ghost (1995) juga didapatkan data bahwa terdapat insiden yang tinggi ibu

    yang melahirkan anak dengan sindroma Down di usia muda, dari penelitian tersebut

  • Jurnal Stikes A. Yani 25

    ditemukan juga bahwa usia rata-rata ibu yang melahirkan penderita sindroma Down

    adalah 26 tahun.

    2. Hubungan Penyakit Diabetes mellitus pada Ibu dengan Sindroma Down

    Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara riwayat penyakit

    diabetes mellitus pada ibu dengan kejadian sindroma Down. karena p-value = 0,672 > =

    0,05 dan dari 41 penderita sindroma Down, hanya 4 ibu yang mempunyai riwayat penyakit

    DM. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Narchi (1997) yang menemukan

    peningkatan kejadian sindroma Down pada ibu dengan diabetes mellitus, dan ditunjang

    pula penelitian fialkows (1999) menunjukkan perbedaan kadar autoantibodi tiroid antara

    ibu yang melahirkan anak dengan sindroma Down dengan ibu kontrol pada umur sama.

    Tidak didapatkan penyakit tertentu yang secara langsung menyebabkan peningkatan

    kejadian sindroma Down, tetapi beberapa peneliti menemukan peningkatan kejadian pada

    ibu dengan diabetes mellitus.

    3. Hubungan Radiasi pada Ibu dengan Sindroma Down

    Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara riwayat radiasi pada

    ibu dengan kejadian sindroma Down karena p-value = 1,000 > = 0,05. Dari 41 penderita

    Sindroma Down hanya 5 ibunya pernah dilakukan radiasi di daerah perut selama hamil.

    Angka ini lebih kecil daripada penelitian Uchida (1991), yang menyatakan bahwa sekitar

    30% ibu yang melahirkan anak dengan sindroma Down, pernah mengalami radiasi di

    daerah perut sebelum terjadinya konsepsinya. Radiasi dikatakan merupakan salah satu

    penyebab terjadinya non disjunctional pada sindroma Down ini. Sedangkan peneliti lain

    tidak mendapatkan hubungan antara radiasi dengan penyimpangan kromosom.

    Kecelakaan reaktor atom Chernobil dikatakan merupakan penyebab beberapa kejadian

    sindroma Down di Berlin (Forrester, 2001).

    4. Hubungan Stres Psikososial ibu dengan Sindroma Down

    Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara stress psikososial ibu

    dengan kejadian sindroma Down karena p-value = 1,000 > = 0,05 dan menurut data

    didapatkan hasil bahwa dari 41 penderita sindroma Down ada sebanyak 10 ibu yang

  • Jurnal Stikes A. Yani 26

    menderita stress psikososial pada saat mengandung anak yang bersangkutan. Hal ini tidak

    sesuai dengan pernyataan bahwa ibu dari penderita sindroma Down biasanya menderita

    gangguan stress berat / gangguan jiwa sebelum konsepsi. Pada penelitian Murdoch (1994)

    dikatakan beberapa ibu mengalami penyakit psikologis, dan mendapat obat-obatan sekitar

    1 tahun sebelum konsepsi.

    5. Hubungan Urutan Anak dengan Sindroma Down

    Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara urutan anak dengan

    kejadian sindroma Down karena p-value = 0,747 > = 0,05 dan dari data didapatkan

    bahwa dari 41 penderita sindroma Down urutan anak yang lebih dari 5 hanya didapatkan

    pada 1 kasus. Hal ini sesuai dengan penelitian Schimmel dkk.(1997) yang mengatakan

    bahwa prevalensi sindroma Down didapatkan lebih tinggi pada ibu multipara (2-5) daripada

    ibu yang mempunyai 1-3 anak pada semua golongan usia.

    6. Hubungan Faktor Keturunan / Genetik dengan Kejadian Sindroma Down

    Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara faktor keturunan

    dengan kejadian sindroma Down karena p-value = 1,000 > = 0,05. Hal ini berbeda

    dengan pendapat Pueschel (1993) yaitu diperkirakan terdapat predisposisi genetik

    terhadap non-disjunctional. Hasil penelitian epidemiologi menyatakan adanya peningkatan

    resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan sindroma Down. Diperkirakan

    resiko untuk mendapat anak dengan sindroma Down lagi adalah 1 dari 100 pada tipe

    trisomi 21 dan mosaikisme, dan bila anak yang terkena mempunyai tipe translokasi atau

    salah satu orang tua merupakan karier translokasi, resiko untuk mendapat anak dengan

    sindroma Down lagi meningkat secara bermakna.

    7. Hubungan Usia ayah dengan Sindroma Down

    Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara usia ayah dengan

    kejadian sindroma Down karena p-value = 0,774 > = 0,05 dan dari 41 penderita

    sindroma Down hanya 3 yang ayahnya berusia > 45 tahun ketika anaknya lahir. Hal ini

    sesuai denganpendapat Walker (1995) yang mengatakan bahwa usia ayah tidak

    berpengaruh terhadap terjadinya sindroma Down. Pernyataan yang sama dikemukakan

  • Jurnal Stikes A. Yani 27

    oleh Friedman (1991) yang mengatakan bahwa tidak terdapat keterkaitan antara

    aneuploidi dan usia ayah. Hal ini mungkin karena sperma aneuploidi tidak dapat

    membuahi sel telur.

    Jika kedua orang tua si bayi berusia lebih dari 35 tahun, maka konsultasi genetik

    sangat dianjurkan karena resiko abnormalitas kromosom diduga akan meningkat 5 % pada

    situasi tersebut. Kini banyak dianjurkan agar pria menjadi ayah dari anak-anak sebelum

    mereka berusia 40 tahun. Namun, hingga kini masih diperlukan data dan penelitian yang

    mendukung tentang pernyataan pengaruh usia ayah pada kehamilan.

    Pendapat lain mengatakan selain pengaruh usia ibu terhadap sindroma Down,

    juga dilaporkan pengaruh dari usia ayah (> 45 tahun. Penelitian sitogenetik pada orang tua

    dari anak dengan sindroma Down mendapatkan bahwa 20 30 % kasus ekstra kromosom

    21 bersumber dari ayahnya. Tetapi korelasinya tidak setinggi dengan usia ibu. Tesh dan

    Glover (1996) menunjukkan bahwa gamet laki-laki yang sudah lanjut juga akan

    berpengaruh pada embrio dan janin. Mereka melaporkan bahwa penuaan sperma pada

    traktus reproduksi kelinci jantan menyebabkan kemampuannya untuk kapasitasi dan

    fertilisasi sangat menurun. Bila sel telur dibuahi oleh sel sperma tersebut maka akan

    dihasilkan embrio dengan kemungkinan kelainan bawaan yang meningkat.

    Keterbatasan penelitian ini adalah perlunya memasukkan variabel-variabel lain

    selain variabel diatas dengan rancangan penelitian yang lebih tinggi tingkatan seperti

    kasus kontrol dengan menggunakan instrumen penelitian yang dapat lebih mengukur

    variabel yang berhubungan dengan sindroma Down.

    E. SIMPULAN

    Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai

    berikut :1) Terdapat 42,3% anak yang menderita sindroma Down, dan sebesar 57,7 anak

    tidak menderita sindroma Down; 2) Tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor ibu

    (usia, riwayat DM, radiasi dan stress psikologis) dengan kejadian sindroma Down; 3) Tidak

    terdapat hubungan signifikan antara faktor ayah (usia, riwayat DM, radiasi dan stress

    psikologis)dengan kejadian sindroma Down;4) Tidak terdapat hubungan signifikan antara

    faktor lain (keturunan dan urutan anak) dengan kejadian sindroma Down.

  • Jurnal Stikes A. Yani 28

    Dari penelitian ini dapat disampaikan saran-saran: 1) Secara teoritik hasil

    penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk penelitian lebih lanjut untuk mencari faktor resiko

    antara berbagai faktor penyebab kejadian sindroma Down dan diharapkan juga penelitian

    ini dapat dikembangkan juga kearah penelitian multivariat untuk mencari lebih dalam lagi

    hubungan antar faktor-faktor lain yang lebih kuat dengan kejadian sindroma Down; 2)

    Secara praktek Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pemikiran bagi para

    tenaga kesehatan terkait dalam melakukan upaya promotif dan preventif dalam pemberian

    konseling bagi pasangan usia subur tentang faktor ayah dan ibu yang mempengaruhi

    terjadinya sindroma Down. Bagi keluarga hasil penelitian ini sebagai bahan informasi dan

    pengetahuan bagi responden dan keluarganya untuk mengetahui tentang faktor resiko

    terjadinya sindroma Down, sehingga keluarga dapat melakukan pendekatan married

    conselling atau melakukan prenatal conselling.

    DAFTAR PUSTAKA Behrman, dkk. (1996). Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Jakarta: EGC. Buckingham JC, Cowell AM, Gillies GE. (1997). The Neuroendocrine System : Anatomy,

    Physiology & Responses to Stress. Chicester. Debra. (2001). Risk Factors of Down Syndrom. Http://www.ndss.org Delphie Bandi. (2006). Pembelajaran Anak Tunagrahita. Jakarta : Universitas Pendidikan

    Indonesia. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, (1993). Pedoman Penggolongan & Diagnosis

    Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan pertama, Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

    Eijkman Institute for Molecular Biology. (2005). Diagnosis Prenatal Kelainan Kromosom.

    Jakarta. Http://www.eijkman.go.id Fakultas Kedokteran Universitas Indoesia. (1995). Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah I,

    Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Forrester, M. (2000). Birth Defect Risc Faktor Series : Down Sindrome. Texas :Texas

    Department Health, Document E58-10957 D

  • Jurnal Stikes A. Yani 29

    Gunadi. (1995). Beberapa Aspek dari Cacat Bawaan Pada Neonati Yang Lahir Di Rsup dr. Hasan Sadikin, Bandung. Program Pascasarjana. Unpad, Tesis.

    National Dissemination Center for Children with Disabilities/ NICHCY. (2004). Disability

    Fact Sheet. Washington 2003. http://www.nichcy.org. Notoatmodjo, S. Metodology Penelitian Kesehatan, Cetakan Ketiga. Jakarta: Rineka Cipta. Sacharin, RM. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta ; EGC. Sastroasmoro, S. (2002). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Edisi kedua. Jakarta :

    Sagung Seto. Selikowitz, M. (2001). Mengenal Sindroma Down. Jakarta : Arcan. Shannon, M. (1999). Down Syndrome & Folic Acid Nutrition & Down Sindroma Shephard B, Kupke. (1998). Specific Genetic Disorders Presenting in the Newborn. Dalam

    : Taeusch Hw, Ballard RA, (Eds). Averys diseases of the Newborn. Edisi ke-7. Philadelphia. WB Saunders Company.

    Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak, Edisi ke-1. Jakarta : EGC Sugiyono. (2005). Statistika untuk penelitian. Bandung : Alfabeta. Suryo, H. (1995). Sitogenetika. Yogyakarta :Universitas Gadjah Mada. Riduwan. (2005). Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula.

    Bandung : Alfabeta Wong Donna. L. (1997). Wongs Essentials of Pediatric Nursing. Sixth Edition. Mosby Inc. Wong Donna. L. (2000). Wongs and Whaleys Clinical Manual of Pediatric Nursing. Fifth

    Edition. Mosby Inc.

Recommended

View more >