ekologi kakao

Download ekologi kakao

Post on 16-Jul-2015

180 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>LAPORAN HASIL</p> <p>PENGKAJIAN PENGEMBANGAN SISTEM USAHATANI INTEGRASI KAMBING KAKAO DI SULAWESI TENGAHTAHUN ANGGARAN 2005</p> <p>Oleh: F.F. Munier, dkk</p> <p>KERJASAMA BPTP SULAWESI TENGAH, LRPI, PUSLITBANGNAK, PUSLITBANGTANAK DAN PUSLITKOKA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN 2005</p> <p>PENGKAJIAN PENGEMBANGAN SISTEM USAHATANI INTEGRASI KAMBING - KAKAO DI SULAWESI TENGAH Abstrak Kabupaten Donggala merupakan produsen kakao utama untuk propinsi Sulawesi Tengah. Luas pertanaman kakao di Kabupaten Donggala kurang lebih 42.407 ha atau 54 % dari luas tanaman kakao di Sulawesi Tengah. Akan tetapi, menurut hasil PRA yang dilakukan BP2TP di 10 desa miskin di Kabupaten Donggala menunjukkan bahwa produktivitas kakao rakyat di desa-desa tersebut hanya 300 600 kg/ha/th. Berasarkan masalah yang dilaporkan dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh BP2TP, BPTP maupun PSE, maka jenis teknologi yang disarankan untuk dilaksanakan pada pertanaman kakao milik petani koperator yaitu; pemangkasan yang benar dan pengelolaan tanaman penaung, pemupukan yang efisien, pengendalian hama dan penyakit, rehabilitasi tanaman kakao dewasa dan optimalisasi pemanfaatan lahan dengan penanaman ulang (replanting) untuk tananam kakao yang mati. Disamping untuk menjaga kelangsungan produktivitas lahan tetap optilmal perlu dilakukan kegiatan konservasi terutama pada lahan miring. Produktivitas kambing dapat ditingkatkan dengan perbaikan manajemen pemeliharaan seperti perbaikan perkandangan, pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan kambing, adanya pengendalian penyakit dan parasit. Kegiatan usahatani integrasi kambing dan kakao memerlukan dukungan kelembagaan yang berfungsi sebagai fasilitator, adanya jejering kerjasama petani yang baik serta pemberdayaan petani sebagai pelaku kegiatan usahatani. Berdasarkan hasil pengkajian ini adanya peningkatan rataan produktivitas kakao kering mencapai 345,5 kg/0,5 ha/4 bulan, atau 1.382 kg/ha/tahun. Adanya rataan pertambahan bobot badan harian kambing meningkat yaitu 56,3 g yang diikuti oleh kenaikan rataan bobot akhir yang tinggi yakni 4,2 kg. Hasil analisa kelayakan SUT integrasi kambing dan kakao pola introduksi selama 4 bulan dengan R/C 1,47. Adanya dukungan kelembagaan dalam kegiatan usahatani integrasi kambing dan kakao, adanya forum komunikasi antar pelaku kegiatan usahatani integrasi kambing dan kakao serta pemberdayaan petani maka dapat membentuk jejaring kerjasama antara petani dengan pelaku agribisnis dan pemerintah yang semakin kuat dan luas. 1. LATAR BELAKANG Kabupaten Donggala merupakan produsen kakao utama untuk propinsi Sulawesi Tengah. Luas pertanaman kakao di Kabupaten Donggala kurang lebih 42.407 ha atau 54 % dari luas tanaman kakao di Sulawesi Tengah. Akan tetapi, menurut hasil PRA yang dilakukan BP2TP di 10 desa miskin di Kabupaten Donggala menunjukkan bahwa produktivitas kakao rakyat di desa-desa tersebut hanya 300 600 kg/ha/th (Anonim, 2003b). Angka produktivitas tersebut jauh lebih rendah dibanding rata-rata produktivitas kakao nasional yang mencapai 932,94 kg/ha/th, apalagi bila dibandingkan dengan potensi produksi kakao yang dapat mencapai 2 3 ton/ha/th. Masalah lain yang dihadapi usaha</p> <p>kakao di Sulawesi saat ini adalah mutu biji kakao yang rendah (hanya mencapai grade 3) sehingga harga yang diterima oleh petani juga relative rendah. Lebih lanjut hasil PRA melaporkan bahwa rendahnya produktivitas kakao rakyat di desa-desa miskin di Kabupaten Donggala antara lain berkaitan dengan teknik produksi yang belum intensif, terutama berkaitan dengan aspek bahan tanam, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pemangkasan, dan naungan. Sementara itu, rendahnya mutu produksi kakao di desa-desa tersebut selain karena tidak dilakukan fermentasi juga karena terjadi serangan hama penggerek buah kakao (PBK, Conopomorpha cramerella) dan busuk buah. Selain itu, tidak adanya lembaga ekonomi petani yang tangguh</p> <p>menyebabkan para petani mendapat kesulitan dalam memperoleh input dan modal (yang mereka perlukan untuk meningkatkan produksi) serta dalam memperoleh jaminan harga kakao yang memadai. Sebenarnya peluang pasar bahan baku industri makanan cokelat yang berupa biji kakao berkualitas untuk ekspor sangat besar. Konsistensi mutu dan kuantum yang cukup sesuai dengan kebutuhan pasar sangat berperan dalam mendapat pasar yang baik. Kebutuhan biji kakao bermutu (terfermentasi) saat ini sangat besar, misalnya kebutuhan Malaysia sangat besar untuk mencukupi bahan baku industri hilirnya. Selama ini kakao yang ada dipasar mempunyai mutu rendah sehingga petani belum dapat menikmati harga yang optimum, dengan melakukan peningkatan mutu biji kakao para petani optimis akan mendapatkan manfaatnya khususnya dari sisi kesejahteraan. Peningkatan kesejahteraan petani kakao juga dapat dicapai dengan melakukan diversifikasi usaha yang berbasis pada komoditas kakao, yaitu integrasi kakao + kambing + hijauan pakan ternak serta melalui upaya pengelolaan lahan berbasis teknologi konservasi dan pemanfaatan air. Tumpangsari antara kakao dengan usaha ternak kambing sangat tepat karena kulit buah kakao dapat digunakan sebagai pakan ternak. Selain itu kotoran kambing dapat</p> <p>digunakan sebagai bahan baku produksi bahan organik (pupuk kandang) sehingga penggunaan input pupuk kimia diharapkan dapat ditekan dan produk kakao yang dihasilkan bisa diarahkan kepada produk organik. Permintaan produk-produk organik di pasaran internasional cukup banyak sehingga akan meningkatkan daya saing produk kakao tersebut.</p> <p>2</p> <p>Masalah lain yang dihadapi para petani kakao di Kabupaten Donggala adalah kendala-kendala biofisik lahan yang relatif buruk. Berdasarkan survei pendasaran (baseline survey) oleh tim terdahulu, daerah ini umumnya memiliki iklim kering dengan curah hujan bervariasi antara 760-1.959 mm/tahun. Kondisi ini sangat beresiko pada pemenuhan kebutuhan air untuk tanaman kakao. Kondisi iklim yang umumnya memiliki bulan basah (&gt; 200 mm) 2 bulan dengan bulan kering (&lt; 100 mm) 5 bulan juga memperkecil peluang peningkatan produktivitas kakao. Bentuk wilayah yang umumnya bergunung dengan kemiringan lereng &gt; 45% dan tanahnya yang dangkal (&lt; 30 cm) dan berbnatu (&gt; 60%) sangat beresiko terhadap bahaya erosi dan longsor serta penurunan produktivitas lahan (degradation). Relatif rendahnya produktivitas dan mutu kakao yang dihasilkan petani yang disertai dengan rendahnya harga yang diterima petani menjadi salah satu penyebab rendahnya pendapatan petani. Bahkan banyak diantara petani kakao di daerah tersebut</p> <p>yang pendapatannya kurang dari 1 juta/ rumahtangga/tahun. Keadaan ini lebih lanjut memiliki kontribusi terhadap tingginya jumlah petani miskin di daerah tersebut. Menurut Data dan Informasi Kemiskinan yang diterbitkan oleh BPS, pada tahun 2002 proporsi penduduk miskin di Kabupaten Donggala mencapai 26,05 % atau sebanyak 195,300 orang (Anonim, 2002c). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pada komunitas petani kakao angka kemiskinannya relatif tinggi. Hasil penelitian Puslitbangbun dan Bank Dunia (2003c) menunjukkan bahwa kemiskinan pada komunitas petani kakao di kabupaten Pinrang; Bulukumba, dan Kendari (Sulawesi) masing-masing mencapai angka 18 %, 33%, dan 49 %. Angka tersebut lebih tinggi dari kemiskinan penduduk di masing-masing propinsi. Hasil penelitian Puslitbangbun dan Bank Dunia juga menunjukkan bahwa sebuah keluarga petani kakao yang memiliki anggota keluarga sebanyak lima orang baru dapat melepaskan diri dari garis kemiskinan bila kebun milik yang diusahakannya sendiri minimal 1,14 ha (dengan asumsi produktivitas 600 kg/ha/tahun dan harga kakao Rp. 7.000/kg). Namun dengan luasan tersebut mereka mampu memelihara dan meremajakan kebunnya. Selain itu, hasil PRA BP2TP dan BPTP bahwa di sebuah desa miskin di</p> <p>kabupaten Donggala mengungkapkan bahwa petani kakao yang hanya memiliki kebun kakao seluas 1 ha atau kurang mencapai angka 86,5 % dan produktivitas kebun kakao</p> <p>3</p> <p>mereka hanya 300 600 kg/ha/tahun (Anonim, 2003b). Dengan menggunakan acuan hasil penelitian Puslitbangbun dan Bank Dunia, maka sebagian besar petani kakao di desa-desa miskin di Kabupaten Donggala berada dalam keadaan miskin (Anonim, 2003c). Untuk mendorong kemajuan petani kakao yang berada di kabupaten Donggala maka perlu dilakukan penelitian dan pengkajian (litkaji) terhadap masalah yang mereka hadapi dan mencarikan solusinya. Masalah yang harus disentuh adalah aspek teknis serta aspek social-ekonomi dan budaya, termasuk didalamnya perubahan tingkat pendapatan petani kakao sebelum dan sesudah dilakukan litkaji. Aspek teknis yang perlu dilakukan litkajinya adalah aspek teknis yang bertujuan meningkatkan produksi dan mutu melalui penyediaan paket teknologi lengkap dan terintegrasi sejak penyediaan bahan tanam, pemeliharaan tanaman yang meliputi pemangkasan, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit serta penanganan pasca panen. Selain itu, perlu juga dikaji usaha ternak kambing dan hijauan pakan ternak yang pengusahaannya diintegrasikan dengan budidaya kakao. Dalam hal pasca panen, aspek yang perlu dilakukan litkajinya adalah prosedur dan teknik panen dan fermentasi untuk menghasilkan mutu yang baik. Dalam hal penumbuhkembangan kelembagaan ekonomi petani, aktivitas litkaji harus dapat meningkatkan kemampuan usaha petani termasuk membangun pasar kakao dan ternak sehingga petani merasakan manfaat secara optimal. Sementara itu, pemberdayaan petani dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam penguasaan teknologi, peningkatan penguasaan asset produksi dan modal.</p> <p>2. DASAR PERTIMBANGAN Secara umum, kemiskinan yang muncul pada masyarakat dapat terjadi karena miskinnya sumber-sumber alam (physical endowment), akibat keadaan struktural atau akibat kebudayaan (Billah, 1983 dan Warsito, 1993). Secara struktural kemiskinan dapat terjadi karena disparitas penguasaan lahan, hubungan struktural asimetris-ekploitatif, disparitas penguasaan modal (sendiri, akses terhadap kredit), disparitas penguasaan pengetahuan dan keterampilan/ teknologi (pendidikan), disparitas bakat wirausaha, ketergantungan komunitas terhadap sistem yang lebih besar (struktur pasar, nilai tukar), tidak ada atau lambannnya mobilitas sosial. Secara historis, kemiskinan struktural dapat terjadi sejak sebelum masa</p> <p>4</p> <p>modernisasi (zaman feodalistik) dan tidak tertutup kemungkinan menjadi semakin parah keadaannya pada masa modernisasi. Pada masa ini kemiskinan struktural menjadi semakin kuat akibat pendekatan pembangunan yang serba berpihak kepada sebagian masyarakat yang memiliki kelebihan kemampuan sedangkan sebagian masyarakat lainnya yang</p> <p>kemampuannya relative kurang se-ringkali ditinggalkan.</p> <p>Dalam konteks pembangunan</p> <p>tersebut, muncul anggapan bahwa masyarakat lapisan bawah akan menerima tetesan hasil pembangunan dari lapisan atas. Akan tetapi, ternyata tetesan hasil pembangunan tidak terjadi. Berkaitan dengan itu, maka dua hal pokok yang harus menjadi reorientasi dalam program penelitian dan pengkajian ini adalah: 1) para peneliti bersama-sama petani miskin menggali persolaan hambatan budaya dan struktur sosial-ekonomi yang selama ini menghalangi mereka keluar dari keadaan miskin yang melilitnya, 2) peneliti bersama petani miskin menggali dan memperkuat potensi solusi yang dapat mereka kuasai (peluang bekerja, peluang berusaha, peluang penguasaan aset) untuk mengatasi keadaan miskinnya. Hal pertama dapat dilakukan melalui studi komunitas (community study) yang bersifat partisipatif dan interdisiplin, dimana para peneliti dan para petani sama-sama menjadi subjek. Hal</p> <p>kedua dapat dilakukan melalui penelitian aksi (action research) yang berbasiskan pemberdayaan komunitas petani dan peningkatan networking baik pada aras lokal maupun aras regional dan nasional, dimana peranan para peneliti sebagai fasilitator bagi para petani dan para aktor terkait lain yang memiliki kaitan dengan para petani. Tanaman kakao yang merupakan salah satu komoditas perkebunan andalan saat ini sedang digiatkan penanamannya karena cukup diminati oleh masyarakat. Keadaan ini terjadi karena tanaman kakao dapat dipanen setiap minggu sehingga petani dapat jaminan penghasilan setiap bulan apalagi saat ini harganya cukup menarik. Hal ini sangat membantu perekonomian petani di pedesaan terutama yang dituntut untuk memenuhi kebutuhan rutin seperti kebutuhan sehari-hari, biaya menyekolahkan anak, pembayaran rekening listrik, dan lainnya. Pemasaran hasil tanaman kakao di Donggala saat ini tidak mengalami kesulitan, dan respon masyarakat untuk penanaman kakao cukup tinggi. Solusi pengentasan kemiskinan para petani di lokasi penelitian tentunya harus berbasiskan sumberdaya alam dan komunitas lokal. Oleh karena itu pengembangan</p> <p>komoditas kakao serta usaha lain yang dapat diintegrasikan di Kabupaten Donggala</p> <p>5</p> <p>diharapkan dapat meningkatkan peluang berusaha dan bekerja serta pendapatanan petani yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan dan dapat mengatasi kemiskinan di daerah tersebut. Melalui pintu masuk penguasaan peluang bekerja dan berusaha tersebut diharapkan dimensi-dimensi kemiskinan lainnya secara berangsur akan juga turut teratasi. Secara garis besar, untuk mendukung berjalannya sistem agribisnis kakao yang produktif, efisien, dan berkelanjutan maka komponen teknologi inovatif dan komponen kelembagaan yang dapat menjamin penerapan teknologi tersebut harus ditumbuhkan secara bersamaan. Tantangan lain yang juga harus dijawab oleh penelitian ini adalah menghasilkan pendekatan penelitian dan transfer teknologi yang berbasiskan sumberdaya, komunitas, dan sistem pengetahuan lokal. Hal ini perlu mendapat perhatian agar program pembangunan yang disepakati untuk dilaksanakan dapat berkelanjutan dan memberikan ruang seluasluasnya kepada para petani miskin untuk menjadi pesertanya, meskipun mereka menghadapi sejumlah persoalan dan keterbatasan yang membuat respon mereka terhadap perubahan relatif lambat. 3. TUJUAN 3.1. Tujuan Umum (Akhir) Menghasilkan paket teknologi inovatif lengkap dan terpadu (sistem usaha hulu - hilir kakao, integrasi kambing kakao dan hijauan pakan serta teknologi konservasi lahan yang berbasis sumberdaya dan pengetahuan lokal. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani tentang paket teknologi inovatif lengkap dan terpadu. Menumbuhkembangkan Lembaga Ekonomi Petani yang dapat menunjang adopsi teknologi secara berkelanjutan. Meningkatkan kemampuan petani dalam penguasaan asset produksi, modal, dan pasar agar dapat menerapkan paket teknologi inovatif lengkap dan terpadu. Merumuskan pendekatan penelitian dan transfer teknologi yang tepat untuk para petani miskin.</p> <p>6</p> <p>3.2. Tujuan Tahunan (2005) Tujuan pengkajian tahun ini adalah untuk meningkatkan pendapatan petani dengan pengembangan sistem usahatani integrasi kambing dan kakao dengan paket teknologi: Pemanfaatan kulit buah kakao dan hijauan untuk pakan kambing. Budidaya hijauan pakan dilahan kakao untuk konservasi. Pengelolaan hama dan penyakit, rehabilitasi tanaman kakao dan penanaman...</p>