dylan (novel)

Download Dylan (novel)

Post on 21-May-2015

782 views

Category:

Art & Photos

16 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1. Monday, June 18, 2012 Dylan, I Love You! Stephanie Zen Merci, Gracias, Arigatou, Xiexie, Danke, Tengkyuuu! Jesus Christ, my Lord and Savior. Thank you, God, for being so gracious to me... Oma Greetje Jeanne Koamesah, untuk semua doa dan kasihnya. Papa en Mama, the best parents ever! Adikku, Wiliam Ronaldo Yozen, yang udah mau buatin segitu banyak lagu dari lirik-lirik konyol yang aku buat, terutama dari novel Anak Band. Makasih, Cen ;). Keluarga besar Zen dan Koamesah di mana pun berada, terima kasih semuanya :) Dessy, my sob, ya ampyuuuunnn, yang ini terbit, Sob! (so much worries behind the scene yak, hihi...) Best friends ever: Reni, Jennie, Licu, Fanie, Meli, Jovi (maap udah nyatut nama Anda buat novel ini :D), Santi, Ingrid & family, makasiihh!!! Juga Leni si ceriwis, rajin-rajinlah bekerja, Nak! :D Tim GPU, yang udah begitu sabar menghadapiku yang bawel ini : > Luna, yang udah mau dimintain tolong ngecek website malem-malem dan bantu nanyain soal naskah melulu, huge thanx, man! :) Para endorser-ku, makasih banyak ya udah mau meluangkan waktu untuk baca naskahku :). For the inspiring songs: DAUGHTRY (of course! The BEST band EVER lah pokoknya!), ADA Band, and Craig David (Argh! Saya cinta sekali lagu kamu!). Semua di milis armADA and Innoders, for all the stories and friendships among us. Makasih banyak yaa... And last but not least, semua yang udah beli dan baca novel ini, tengkyuu! Ditunggu komennya di chubby_stephz@yahoo.com, oke? God bless us, Steph GARA-GARA PESTA KELULUSAN! JADI, lagunya apa nih? Harus yang berhubungan sama persahabatan lho! Jerry, ketua kelasku, mengoceh di depan whiteboard. Sebelah tangannya menggenggam spidol yang tutupnya terbuka, mengeluarkan bau tinta yang tajam. Lagunya itu aja, yang judulnya Graduation, Friends Forever itu! Sisca berteriak dari bangku depan. Jerry mengedikkan bahunya, lalu menoleh meminta persetujuan wali kelas kami, Bu Emmy. Beliau mengangguk, jadi Jerry menuliskan Graduation, Friends Forever besar-besar di papan tulis. Oh ya, namaku Alice, lengkapnya Alice Henrietta Hawkins. Sebelah alismu pasti terangkat gara-gara membaca namaku, ya? Yup, aku memang bule. Setengah bule, tepatnya, dan itu salah

2. satu alasan kenapa aku sebal banget nget nget sama hidupku! Bokapku orang Australia, kalau nyokap blasteran Jawa-Cina. Sayangnya, ingredients yang bagus itu ternyata nggak membuat aku jadi cantik kayak Nadine Chandrawinata atau Julie Estelle. Aku pesek, pendek, dan jerawatan. Ditambah lagi, rambutku warnanya kusam kayak baju yang sudah bulukan. Pokoknya, penampilanku bisa digambarkan dengan satu kata: menyedihkan. Aku sekarang duduk di kelas satu di SMA Harapan, salah satu SMA di Jakarta. Aku bukan anak populer, tapi juga bukan nerd yang doyannya mojok di perpus tiap jam istirahat. Yah... pokoknya aku termasuk golongan netral deh, satu hal yang membuatku nggak pernah jadi istimewa di antara ratusan murid lainnya di sekolah ini. Hoi, ngelamun mulu! Grace, teman sebangkuku, menyikuku keras. Lo kasih saran dong mau nyanyi lagu apa? Ah, ya. Sekarang ini kelasku lagi mengadakan rapat kelas untuk memutuskan kami bakal menyanyikan lagu apa di pesta kelulusan anak-anak senior. Aturannya, setiap angkatan harus menyumbang satu penampilan, dan kelasku terpilih mewakili kelas satu untuk ngeband. Tapi, sampai sekarang kami belum tahu mau membawakan lagu apa, padahal acara kelulusan itu tinggal tiga minggu lagi! Emangnya lagu apa aja sih yang udah diusulkan? Aku mendongak menatap whiteboard. Jerry sudah menuliskan beberapa judul lagu hasil usul anak-anak sekelas di sana. 1. Graduation, Friends Forever Vitamin C 2. Untuk Sahabat Audy feat. Nindy 3. Pengyou gak tau penyanyinya siapa 4. Sahabat Peterpan 5. Hmm... apa ya? Gue bilang sih udah bagus tuh pilihan lagunya. Jadi nyanyi berapa lagu? tanyaku ke Grace. Katanya sih mau dua aja, tapi gue nggak sreg tuh sama pilihan lagunya. Grace merengut, bersedekap. Emangnya lo mau ngusulin lagu apa? Hehe... nggak tau. Dia nyengir, memamerkan gigi-giginya yang dipasangi behel. Aku menopang daguku dengan tampang nggak berminat. Gila, anak-anak kelasku memang hobi banget bikin segala sesuatu dengan persiapan minim, selalu dibuat menjelang detik terakhir. Kayaknya nggak bakal ada satu pun alumnus kelas ini yang jadi pemilik EO suatu saat nanti. Kalaupun ada, pasti EO itu bakal kacau-balau. Alice, tiba-tiba Bu Emmy memanggilku, kamu ada ide? Ups. Aku menatap whiteboard dengan mata membesar, berharap satu judul lagu bakal muncul di kepalaku. Aku ogah banget kelihatan culun di depan seisi kelasku. Mmm..., aku menggumam, saya... Dan tiba-tiba saja, lagu itu melintas di kepalaku! Lagu yang kudengar di radio dalam perjalanan ke sekolah tadi pagi! Bagaimana kalau lagunya Skillful? Alis Bu Emmy terangkat, dan aku maklum banget melihatnya. Mungkin beliau nggak tahu bahwa Skillful itu nama band. Skillful? Jerry menatapku bingung. Yang judulnya apa? Eh... Otakku berusaha keras mengingat judul lagu itu. Tetap Sahabatku? Yang kayak apa sih lagunya? Kali ini Sisca menoleh dari bangkunya dan menatapku juga. 3. Oh, yang ini nih, aku mulai menyanyikan sepotong refreinnya, kau masih tetap sahabatku... biar kita terpisah waktu... tapi ku kan s lalu mengenangmu... mengingat dan menjagamu... Senyap. Aku langsung mencelos. Gawat, kenapa tadi aku pakai nyanyi segala? Omigod, pasti aku tadi kelihatan tolol banget! Sekarang tatapan anak-anak sekelasku menghunjam seolah aku ini hewan yang hampir punah. Sebentar lagi pasti bakal terjadi hal yang membuatku menyesal dilahirkan. Bageeeesssss...! Lo aja yang jadi vokalisnya, Lice! seru Oscar, cowok jangkung yang sudah terpilih sebagai gitaris band kelas kami, menirukan gaya bicara Indy Barends. Nah lho, benar, kan, aku sudah tau kalau sesuatu yang buruk pasti bakal terjadi. Dan kenapa juga aku lupa band kelas ini belum punya vokalis? Nggak ada satu pun yang dengan rela mengajukan dirinya jadi vokalis, orang yang bakal jadi pusat perhatian puluhan anak kelas tiga dan guru-guru sekolah ini di pesta kelulusan nanti. Wah, ternyata suara lo boleh juga, Lice, Grace mengedip-ngedipkan matanya menggodaku. Maksud lo, suara gue nggak jelek? tanyaku takut-takut. Ya enggak lah! Suara lo tuh bagus! Unik, lagi! Iya, Bu Emmy, Alice aja yang jadi vokalisnya! dukung Oscar. Iya, iya, gue juga setuju, tambah Sisca. Aku nyengir bego, dan cengiran itu semakin kelihatan tolol waktu Bu Emmy mengumumkan, Oke, jadi Alice yang akan jadi vokalis band kita di pesta kelulusan nanti. Sekarang, sudah ada lima pilihan lagu, kita voting saja, ya? Voting dilakukan, dan lidahku semakin kelu begitu tahu lagu yang terpilih adalah lagu Pengyou dan Tetap Sahabatku. Ya ampun, aku kan nggak bisa bahasa Mandarin!!! * * * Hei! Ini CD-nya! Grace mengacungkan sebuah CD, dengan ilustrasi awan berarak bertuliskan Skillful, tinggi-tinggi. Aku bergegas menghampirinya. Yah, apa boleh buat, nggak ada yang mau menggantikan aku jadi vokalis band kelas, jadi mau nggak mau aku harus mulai berlatih lagu-lagu yang harus dinyanyikan itu. Langkah pertamanya sudah jelas, aku harus beli CD Skillful, soalnya aku nggak hafal lirik Tetap Sahabatku itu seperti apa. Aku juga nggak tau pasti lagunya, cuma ingat bagian refreinnya doang. So, di sinilah aku sekarang, di Duta Suara PS, memaksa Grace menemaniku membeli CD Skillful itu. Eh, vokalisnya Skillful ini udah ganti, ya? tanya Grace sambil menunjuk foto seorang cowok super-duper-ganteng di back cover CD Skillful. Dahiku berkerut. Kalau nggak salah sih band ini memang pernah bongkar-pasang personel beberapa kali, dan vokalisnya yang dulu juga keluar lalu solo karier. Setelah itu, Skillful sempat vakum sekitar tiga tahun, dan tiba-tiba nongol lagi dengan formasi baru. Aku nggak menyangka vokalis barunya ternyata cakep buangeeeettt! Wah, malah ngelamun dia! Grace menepuk bahuku kuat-kuat. Udah, nggak usah terpesona gitu deh ngeliatnya! Aku merengut. Ya deh, ya deh... Ayo cepet bayar CD-nya, habis itu kita cari makan yuk! Gue laper banget! Aku menuding perutku yang (maunya) kelihatan berkurang lima senti dari 4. ukuran normal. Yeee... emangnya yang ngajak beli CD siapa? Lo, kan? Ya udah, ayo deh! * * * Oh Tuhan. Oh Tuhan. Oh Tuhan... Skillful ternyata keren banget! Aku baru saja mendengarkan CD mereka sampai habis, dan (hampir) merasa nggak menyesal karena ditunjuk jadi vokalis band kelas tadi siang! Ternyata si vokalis ganteng itu (namanya Dylan), nggak cuma bertampang super-dupercakep, tapi juga punya suara yang merdu banget! Suer deh, baru kali ini aku tahu ada cowok bersuara berat dan ngebas tapi merdu! Ah, gila gila gila... kayaknya aku mulai ngefans nih! Kira-kira dia udah punya pacar belum, ya? Kalau belum... Ah, enggak, enggak... Aku kok jadi sinting gini! Alice! Suara Mama menyentakku kembali ke dunia normalku yang membosankan. Mama sudah masuk ke kamarku, gayanya persis prajurit yang hendak melakukan agresi militer ke daerah kekuasaan lawan. Ada apa, Ma? tanyaku sok cool. Aku lagi latihan nyanyi nih... Dipanggil Daddy, disuruh makan tuh! Enggak ah, aku kenyang... Yang bener? tanya Mama. Iya, Ma, bener. Lagi pula, tiga minggu lagi aku bakal jadi vokalis band kelas di acara kelulusan anak kelas tiga, aku kan kepingin tampil oke. Ini juga aku lagi hafalin lagunya. Oh, gitu. Oke, tapi jangan lupa kerjakan tugas-tugasmu yang lain lho ya, ujar Mama mewanti-wanti. Aku mengangguk, tapi langsung mengernyit sepet begitu melihat tumpukan buku teks dan kertas di meja belajarku, di samping komputer. Ada dua deadline tugas besok, yang satu tugas membuat skrip talkshow untuk pelajaran bahasa Indonesia (yang sudah kukerjakan dengan senang hati, soalnya aku memilih topik kehidupan selebriti untuk temanya). Satunya lagi PR biologi, esai seribu kata tentang klasifikasi hewan, yang baru kutulis judulnya saja di MS Word komputerku. Oke, udah beres semua kok tugas-tugasnya, aku berbohong. Mama tersenyum kecil, dan nyaris keluar dari kamarku waktu aku memanggilnya lagi. Ma... sini deh! Bentar aja! Apa? tanya