draft tesis setyo nugroho

Download Draft Tesis Setyo Nugroho

Post on 20-Jul-2015

374 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN1.1

Latar Belakang MasalahPerkembangan abad ke-21 dunia pendidikan di Indonesia masih

mengalami tiga masalah besar terutama masih rendahnya mutu pendidikan. Dengan kenyataan tersebut dikhawatirkan Indonesia akan gagal dalam memasuki APEC pada tahun 2010 dan pasar bebas pada tahun 2020. Indikasi ke arah tersebut telah tampak dari beberapa kompetisi akademis dan kenyataan di masyarakat. Mutu pendidikan yang tercermin dalam kedua studi internasional tersebut diduga akan membawa dampak terhadap daya saing sumber daya manusia Indonesia (terutama pada persaingan pasar kerja). Kebijakan telah diluncurkan oleh pemerintah terutama kebijakan tentang standarisasi dalam bidang pendidikan. Dalam implementasi kurikulum, telah dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Sebagai salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum dikembangkan berbagai model implementasi kurikulum. Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan.

2

Model pembelajaran ini pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara ndividual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistk dan otentik. Pembelajaran ini merupakan model yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan (Depdiknas, 2006). Melalui pembelajaran IPA terpadu, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk mencari, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, otentik dan aktif. Pembelajaran ini memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya secara tidak langsung mengajarkan siswa tentang belajar bagaimana mempelajari sesuatu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rubba (1993), yang menyatakan bahwa karateristik individu yang memiliki pengetahuan sains diantaranya adalah bersikap positif terhadap sains, memiliki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains, serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persooalan dalam kehidupan jangka panjang.

3

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengetahuan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pembelajaran hendaknya mampu meningkatkan motivasi peserta didik semaksimal mungkin. Hal ini berarti bahwa guru harus mampu menarik minat dan meningkatkan hasrat ingin tahu peserta didik terhadap materi yang disajikan (Slavin diacu dalam Anni et al. 2005). Tugas utama guru adalah membelajarkan peserta didik, yaitu mengkondisikan peserta didik agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dapat berkembang dengan maksimal (Suherman, 2008). Pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara memberikan informasi secara bermakna dan relevan dengan kehidupan seharihari peserta didik dimana guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Pendidikan di Indonesia sejauh ini masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Pembelajaran di kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar (Depdiknas, 2002). Menurut Mulyasa (2002), muatan dan proses pembelajaran di sekolah selama ini menjadi miskin variasi, berbasis pada standar nasional yang kaku, dan diimplementasikan di sekolah atas dasar petunjuk-petunjuk yang serba detail. Di samping itu, peserta didik dievaluasi atas dasar akumulasi pengetahuan

4

yang telah diperolehnya, sehingga lulusan hanya mampu menghapal tanpa memahami. Pembelajaran IPA berupaya untuk membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan tentang cara mengetahui dan memahami konsep ataupun fakta secara mendalam. Penentuan model pembelajaran dan sumber belajar oleh guru penting dalam pembelajaran biologi. Penggunaan sumber belajar

diharapkan dapat mempermudah peserta didik dalam menguasai dan memahami konsep. Sumber belajar dapat memberikan berbagai pengalaman baru untuk kepentingan belajar, baik sumber belajar yang langsung maupun tidak langsung. Sumber belajar biologi dapat berupa pemanfaatan lingkungan alam sekitar. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Karangtengah merupakan sekolah standar nasional. Kebanyakan metode pembelajaran yang sering dipakai di SMP Negeri 1 Karangtengah adalah ceramah dan diskusi dengan menggunakan media charta dan power point. Pemanfaatan lingkungan alam sekitar belum optimal dimanfaatkan untuk proses pembelajaran, sehingga peserta didik tidak mengalami pengalaman belajar sendiri untuk mendapatkan pengetahuan baru dalam kegiatan belajar mengajar. Aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran cenderung rendah dan kurang dapat bekerjasama dengan baik. Menurut berbagai penelitian dan studi diyakini bahwa peningkatan kebutuhan masyarakat yang tinggi banyak menimbulkan perilaku masyarakat yang eksploitatif terhadap pemenuhan kebutuhan sumber (Kementerian Lingkungan daya alam

hidup, 2007). Kurangnya kesadaran masyarakat

dalam menata kelestarian lingkungan, dituduh sebagai penyebab terjadinya krisis

5

yang berkepanjangan. Krisis lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini, berakar dari perilaku manusia yang berasal dari cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Menciptakan kesadaran masyarakat yang berwawasan lingkungan merupakan fondasi untuk menjaga agar lingkungan merupakan fondasi untuk menjaga agar lingkungan terhindar dari berbagai macam pengrusakan dan pencemaran (Ernawan, 2007). Sejalan dengan harapan agar masyarakat dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang ramah, harus diciptakan masyarakat yang sadar pentingnya memelihara lingkungan dan memiliki etika terhadap lingkungan. Penanaman konsep dan perilaku tersebut dapat dilakukan dari berbagai aspek dan pendidikan. Materi pencemaran lingkungan merupakan materi yang bersifat abstrak dan memerlukan pemahaman serta eksplorasi kemampuan analisis siswa. Oleh karena itu, diperlukan sumber belajar dan model pembelajaran yang dapat membantu peserta didik untuk memahami konsep tersebut. Salah satu sumber belajar yang dapat digunakan adalah pemanfaatan lingkungan alam sekitar. Pemanfaatan lingkungan alam sekitar mengajak peserta didik untuk lebih mengenal dan peka terhadap kondisi di lingkungan sekitarnya. Pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah atau peserta didik sebagai sumber belajar dapat dilakukan dengan pendekatan jelajah alam sekitar. Menurut Marianti (2006), pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) menekankan kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata melalui pemanfaatan alam sekitar peserta didik. Pembelajaran ini dapat membuka wawasan berpikir peserta didik. Selain itu, pembelajaran ini juga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengkaitkan

6

materi yang telah didapat dengan kehidupan dunia nyata. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar peserta didik yang diindikasikan dengan meningkatnya hasil belajar peserta didik yang lebih berdaya guna bagi kehidupan.Salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan adalah pembelajaran berdasar masalah dengan pendekatan JAS . Model pembelajaran ini mengajak peserta didik berinteraksi secara langsung atau tidak langsung dengan kehidupan sehari-hari dan melatih peserta didik menerima kemajemukan masyarakat. Adanya kerjasama kelompok dalam model

pembelajaran investigasi kelompok, dapat mendukung peserta didik belajar dengan efektif. Berdasarkan kesimpulan penelitian Ngabekti et al. (2006) tentang pembelajaran investigasi kelompok dengan pendekatan JAS menyatakan bahwa pembelajaran tersebut efektif diterapkan pada konsep makhluk hidup dan lingkungannya di SMP 32 Semarang. Oleh karena itu, dalam rangka mengembangkan penelitian tersebut, model pembelajaran investigasi kelompok dengan pendekatan JAS diterapkan pada konsep yang berbeda, yaitu materi pencemaran lingkungan. Model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan JAS pada

materi pokok pencemaran lingkungan dirancang untuk membimbing peserta didik mendefinisikan masalah alam pencemaran sekitar lingkungan air sungai; tersebut;

mengeksplorasi

lingkungan

mengenai

masalah

mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan, dan menarik kesimpulan. Pada kerangka ini, guru dituntut untuk mengorganisasikan proses pembelajaran

7

melalui kerja kelompok dan mengarahkannya, membantu peserta didik menemukan informasi, dan mengelola terjadinya berbagai interaksi dan aktivitas belajar. Pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan kinerja peserta didik dalam pembelajaran, sehingga hasil belajar peserta didik dapat meningkat. Proses pembelajaran yang berorientasi pada kerangka peduli dan berbudaya lingkungan. Kebijakan SMP Negeri 1 Karangtengah telah menerapkan kebijakan pada kepedulian terhadap lingkungan hidup. Tetapi kebijakan sekolah pada kepedulian lingkungan hidup belum diimbangi dengan proses pembelajaran siswanya. Pendidikan keped