Djarum Family Business

Download Djarum Family Business

Post on 26-Dec-2015

289 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Djarum Family Business

TRANSCRIPT

  • FAMILY BUSINESS

    Case: PT Djarum

    Entrepreneurship MMBM 27 PRASETIYA MULYA BUSINESS SCHOOL - Hamirza Rizki Maharani - 0152123037

  • BUSINESS DETAIL

    Djarum PT adalah salah satu dari tiga produsen di Indonesia dari "kretek" rokok, bentuk

    dominan tembakau di negara yang peringkat di atas sepuluh di antara negara-negara dengan

    tingkat tertinggi dari perokok. Rokok kretek berisi lokal berkembang tembakau dicampur

    dengan cengkeh - yang biasanya mewakili sekitar sepertiga dari rokok, tetapi dapat berkisar

    setinggi 50 persen dari rokok kretek yang konten-dan dicampur dengan "saus" khusus (saus)

    khusus untuk masing-masing merek. Saus dapat berisi hingga 100 bahan yang berbeda,

    termasuk perasa, rempah-rempah, buah-buahan, kopi, dan bumbu lainnya. Ada dikatakan lebih

    dari 2.000 merek rokok kretek, yang diproduksi oleh sebanyak 500 perusahaan yang berbeda,

    di Indonesia, namun hanya segelintir kecil pendekatan ukuran Djarum. Perusahaan

    memproduksi berbagai merek Kretek untuk pasar domestik, termasuk kapal Djarum Super,

    merek terlaris, Djarum Coklat, Inspiro, LA Lights, dan lain-lain. Jika Djarum terus bersaing

    mengalahkan saingan utama Gudang Garam dan Sampoerna, itu akan mengklaim saham

    terkemuka pasar internasional untuk rokok kretek. Ekspor merek perusahaan, yang meliputi

    Djarum Asli, Djarum Black, Djarum Bali Hai, LA Lights, dan LA Lights Menthol, dan rokok rasa

    buah seperti Djarum Cherry, membantu mempertahankan pangsa pasar posisi setinggi 70

    persen, seperti di Amerika Serikat. Pada awal abad ke-21, Djarum telah memulai diversifikasi

    drive, didorong oleh arus kas yang kuat yang disediakan oleh penjualan rokok tersebut. Pada

    tahun 2001, perusahaan ini menjadi pemegang saham mayoritas di gagal Suharto dikendalikan

    Bank Central Asia (BCA), kemudian, pada tahun 2003, memasuki sektor pembangunan properti

    dengan pembangunan $ 100.000.000 kompleks perbelanjaan. Perusahaan juga telah memasuki

    produksi alat elektronik, dan pada tahun 2004 mulai kontrak 30-tahun untuk meng-upgrade

    dan mengelola dua hotel Jakarta yang menonjol, Hotel Indonesia dan Hotel Wisata.

    Perusahaan ini dimiliki oleh keluarga Hartono rahasia, dan telah dipimpin oleh saudara Budi

    dan Bambang Hartono sejak awal abad ke-21 yang kini menguasai 20% pangsa pasar rokok di

    Indonesia, dengan Domestic Brands sebagai berikut:

  • Dan International Brands sebagai berikut:

  • Kini Djarum Group memperluas usahanya ke dalam beberapa sektor usaha antara lain:

    1. Perbankan

    Di sektor perbankan, Djarum awalnya memiliki Bank Haga dan Bank Hagakita. Djarum

    makin agresif ketika masuk dalam konsorsium Faralon Investment Limited yang

    membeli BCA pada 2002. Djarum masuk di konsorsium itu melalui Alaerka Investment.

    Porsi Djarum sekitar 10% di BCA. Belakangan, Djarum meningkatkan porsi sahamnya

    menjadi 47,15% pada 2007 dan 51% pada Desember 2010. Sebelum menambah porsi

    saham itu, Djarum melego sahamnya di Bank Haga dan Bank Hagakita.

    Kantor pusat BCA berada di Menara BCA, di kompleks Grand Indonesia. Bersatunya

    pusat operasional BCA milik Djarum di kompleks Grand Indonesia yang juga milik

  • Djarum itu seakan menjadikannya sebagai tugu kehebatan Djarum dalam percaturan

    bisnis di Indonesia.

    Awalnya, kantor pusat BCA berada di Wisma BCA di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

    Rencana BCA berpindah kantor sudah ada sebelum 2004. Ide itu muncul karena Wisma

    BCA yang ditempati berdasarkan sewa jangka pendek tiga tahunan. Wisma BCA

    bukanlah aset Bank BCA.

    Rencana pindah kantor itu juga muncul jauh sebelum Djarum menjadi pemilik

    mayoritas saham di BCA. Boleh jadi, ini memang menjadi skenario kelompok usaha

    Djarum dari dulu.

    Gedung perkantoran di kompleks Grand Indonesia itu dinamai Menara BCA, karena BCA

    adalah penyewa utamanya. BCA menyewa 25.645 meter persegi di gedung perkantoran

    57 lantai itu mulai 1 Juli 2007 hingga 30 Juni 2035. Yang disewa mulai dari lantai dasar,

    mezanin, lantai 12, hingga lantai 25. BCA punya opsi memperluas lantai sewa di lantai

    26 dan 27. Sehingga luasnya mencapai 29.222 meter persegi.

    Kini Djarum menguasai 51% saham Bank Central Asia sejak tahun 2007.

    2. Properti

    Antara lain Puri Cugni, Graha Padma Internusa, Bukit Muria Jaya Estate, Fajar Surya

    Perkasa, Nagaraja Lestari, dan Cipta Karya Bumi Indah.

    Puri Cugni mengelola Bali Padma Hotel, Hotel Malya Bandung, dan Sekar Alliance Hotel

    Management. Graha Padma Internusa membangun kompleks Perumahan Graha Padma

    Semarang dan Bukit Muria membangun kompleks Perumahan Karawang Resinda di

    Karawang, Jawa Barat.

    Adapun Fajar Surya Perkasa membangun Mal Daan Mogot, Jakarta. Sedangkan

    Nagaraja Lestari membangun pusat belanja dan grosir Pulogadung Trade Center,

    Jakarta.

    Djarum juga membangun pusat belanja Whole Trade Center (WTC) Mangga Dua,

    Jakarta, melalui Inti Karya Bumi Indah. Lewat perusahaan ini pula, Djarum makin

  • menancapkan kukunya di sektor properti dengan membangun megaproyek Grand

    Indonesia di bekas lokasi Hotel Indonesia.

    Djarum mendapat konsesi pengelolaan kawasan di jantung kota Jakarta itu dengan

    model built operation transfer (BOT) berdurasi 30 tahun. Ada empat bangunan penting

    di sana, yakni gedung perkantoran 57 lantai, apartemen, pusat belanja, dan hotel

    renovasi dari Hotel Indonesia. Kompleks ini dibangun dengan total investasi 1,3 Triliun

    Rupiah.

    Dengan model kerja sama itu, Djarum menyediakan dana investasi, mendirikan

    bangunan, mengelolanya, dan kemudian menyerahkan seluruh aset yang ada kepada

    negara setelah 30 tahun. Pemerintah sebagai pemilik lahan mendapatkan kompensasi.

    Yang mengikat kontrak perjanjian dengan pihak Djarum adalah PT Hotel Indonesia

    Natour (HI Natour), perusahaan BUMN yang sebelumnya mengelola Hotel Indonesia.

    Berdasarkan perjanjian, HI Natour akan menerima Rp 1,65 trilyun dalam tiga tahap.

    Setiap tahap berjangka 10 tahun. Pada masa akhir perjanjian, bangunan yang ada di

    Grand Indonesia menjadi milik negara. Perjanjian kerja sama itu diteken pada Februari

    2004. Sebagian besar bangunan selesai pada akhir 2007, sisanya pada 2008.

    3. Agrobisnis

    Sejak tahun 2008 memulai usaha perkebunan sawit dengan bendera PT Hartono

    Plantations Indonesia dan mengelola 65.000 hektar perkebunan sawit di Kalimantan

    Barat.

    Di sektor agrobisnis, Djarum berkiprah melalui Hartono Plantations Indonesia yang

    bergerak di perkebunan kelapa sawit. Djarum juga ikut ambil bagian dalam konsorsium

    yang beranggotakan Wings Group dan Lautan Luas ketika membeli Salim Oleochemicals

    (produsen palm dan coconut oil untuk sampo) dari Badan Penyehatan Perbankan

    Nasional pada 2001.

  • Jalinan antara Djarum dan Wings tak hanya di dunia bisnis, melainkan juga keluarga.

    Martin B. Hartono, anak Budi Hartono, menikah dengan Grace L. Katuari, anak pemilik

    Wings Group, Eddy William Katuari.

    4. Elektronik

    Melalui bendera PT Polytron yang telah eksis dalam bidang industri elektronik sejak 30

    tahun yang lalu.

    Perusahaan Polytron ini kini juga memproduksi ponsel yang sebelumnya hanya

    meproduksi AC, kulkas, produk video dan audio, dan dispenser.

    5. On-line site

    Melalui perusahaan yang baru dibuat yakni Ventures Global Prima Digital, mereka juga

    membeli Kaskus, situs Indonesia yang paling populer.

  • FAMILY HISTORY

    Generasi Pertama : Oei Wie Gwan (Pendiri)

    Oei Wie Gwan, yang berasal dari Lasem, Jawa Tengah, adalah pendiri ikon perusahaan rokok

    kretek PT Djarum. Perusahaan ini didirikan pada April 21, 1951 pada Bitingan Kudus dengan

    bantuan 10 karyawan.

    Oei Wie Gwan memiliki pandangan jauh ke depan untuk merencanakan bisnisnya jauh di depan

    dan di pertengahan 1950-an, ia membeli merek Djarum dari pemegang izin. Kata "Djarum"

    mengacu pada jarum gramofon.

    Usaha bisnis pertamanya adalah pembentukan sebuah pabrik kembang api di bawah merek

    Leo, yang terletak di Rembang, Jawa Tengah. Leo menjadi merek kembang api terkemuka di

    Indonesia. Sayangnya pabrik yang didirikan sebelum Perang Dunia II berhenti produksi setelah

    bangsa merdeka karena larangan pemerintah yang mengakibatkan penutupan pabrik kembang

    api di seluruh Indonesia.

    Kretek menjadi bisnis Oei Wie Gwan pilihan setelah penutupan bisnis kembang api nya. Di

    bawah merek PT Djarum perusahaan-pencampuran tembakau dan cengkeh, semua komoditi

    yang dihasilkan oleh perkebunan Indonesia perkebunan cepat tumbuh menjadi pemimpin

    dalam rokok kretek Indonesia.

    Selama waktu Oei Wie Gwan sering dapat ditemukan duduk di lantai melinting rokok dengan

    karyawannya, merupakan bukti komitmen dan cinta untuk bisnis serta refleksi filsafat

    pribadinya "Tumbuh dan berkembang dengan lingkungan", sebuah filsafat berakar pada nilai-

    nilai budaya dan agama di Indonesia dari tradisional berharga saling membantu dan kerja sama

    tim.

    Pada tahun 1963, kematiannya meninggalkan anak-anaknya Michael Bambang Hartono dan

    Robert Budi Hartono di pucuk pimpinan perusahaan tempat mereka terus memelihara warisan.

  • Generasi kedua : Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono (CEO sekarang)

    Robert Budi Hartono Michael Bambang Hartono

    Michael Bambang Hartono alias Oei Hwie Siang, kelahiran Semarang, 2 Oktober 1939, menjadi

    nakhoda PT Djarum sepeninggal Ayah