bab ii tinjauan pustaka - erepo.unud.ac. ii - dikategorikan ke dalam derajat ketulian yang dibagi...

Download BAB II TINJAUAN PUSTAKA - erepo.unud.ac. II - dikategorikan ke dalam derajat ketulian yang dibagi menjadi tuli ringan, tuli sedang, tuli sedang berat, tuli berat ... Penyebab tuli

Post on 20-May-2018

220 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Fisiologi Pendengaran Manusia

    Proses mendengar diawali dengan gelombang suara yang ditangkap oleh daun

    telinga yang kemudian melalui udara atau hantaran tulang mencapai membran tympani

    hingga bergetar dan diteruskan ke koklea. Selanjutnya getaran diteruskan melalui

    membran Reissner mendorong endolimfe yang menyebabkan membrane basilaris dan

    membrane tektoria bergerak relatif dan menimbulkan defleksi stereosilia sel-sel rambut

    sehingga membuka kanal ion dan terjadi pemasukan ion bermuatan listrik. Membran

    basilaris yang terletak di dekat telinga tengah lebih pendek dan kaku akan bergetar bila

    ada getaran dengan nada rendah. Getaran yang bernada tinggi pada perilymph scala

    vestibule akan melintasi membran vestibularis yang terletak dekat ke telinga tengah. Nada

    rendah akan menggetarkan bagian membran basilaris di daerah apex. Kemudian terjadi

    proses depolarisasi sel rambut yang melepas neurotransmitter ke dalam sinapsis dan

    akhirnya terjadi potensial aksi pada saraf auditorius dilanjutkan ke nucleus auditorius.

    Impuls dijalarkan melalui saraf otak yakni statoacustikus atau nervus ke VIII setelah

    proses sensori atau sensasi auditif kemudian menuju ke medulla oblongata lalu ke

    colliculus persepsi auditif, inferior otak tengah, thalamus hingga mencapai kortek

    pendengaran di lobus temporalis pada area 39-40 untuk diinterpretasikan (Astari, 2014).

  • 9

    2.2 Gangguan Pendengaran

    2.2.1 Definisi Gangguan Pendengaran

    Idealnya, telinga manusia dalam hanya mampu menangkap suara dengan intensitas

    85 dBA dan dengan frekuensi 20-20.000 Hz. Seseorang termasuk kategori pendengaran

    normal bila mampu mendengar suara dengan intensitas 25 dBA. Kebisingan sangat

    identik sebagai pemicu utama gangguan pendengaran. Perubahan pada tingkat

    pendengaran berakibat pada kesulitan melakukan aktivitas secara normal, terutama dalam

    hal memahami percakapan. Hal ini terjadi karena peningkatan ambang dengar dari batas

    nilai normal (0-25 dBA) pada salah satu telinga atau keduanya. Peningkatan ambang

    dengar dikategorikan ke dalam derajat ketulian yang dibagi menjadi tuli ringan, tuli

    sedang, tuli sedang berat, tuli berat dan tuli sangat berat (Buchari, 2007).

    Tabel 2.1 Klasifikasi Derajat Peningkatan Ambang Pendengaran

    Klasifikasi Ambang Pendengaran

    Normal 0-25 dBA

    Tuli ringan 26-40 dBA

    Tuli sedang 41-55 dBA

    Tuli sedang berat 56-70 dBA

    Tuli berat 71-90 dBA

    Tuli sangat berat Lebih dari 90 dBA

    2.2.2 Jenis-jenis Gangguan Pendengaran

    Gangguan yang ditimbulkan akibat bising menyebabkan hilangnya pendengaran

    atau ketulian yang bersifat progresif atau yang awalnya sementara dapat berubah secara

    bertahap menjadi tuli menetap bila pekerja sering terpajan bising. Menurut Hernomo

    (1998) dalam buku seri kebisingan karya Marji (2013) mengkategorikan tiga jenis utama

    gangguan pendengaran, antara lain gangguan pendengaran konduksi, sensorineural

    (perseptif) dan gangguan pendengaran campuran (Marji, 2013).

  • 10

    1. Conductive Hearing Loss

    Tipe gangguan pendengaran ini terjadi akibat lesi di bagian hantaran mulai dari

    meatus akustikus sampai ke basis stapes. Kondisi ini dikaitkan dengan permasalahan

    secara mekanikal pada telinga luar atau telinga tengah. Adapun penyebab

    kemungkinan masalah tersebut diantaranya cairan telinga yang masuk ke dalam

    metus akustikus eksternus sehingga secret ototitis eksterna, pus dan furuncel pecah.

    Adanya serumen atau benda asing yang mengeras atau menyumbat, munculnya polip

    dan granulasi, terjadi stenose (penyempitan) atresia, kerusakan membran timpani

    karena suara ledakan maupun benturan. Tuba eustachius yang tertutup akibat

    discharge karena telinga tengah menyesuaikan diri dengan tekanan atmosfir. Selain

    itu, tulang-tulang pendengaran mengalami dislokasi akibat ledakan atau pukulan di

    kepala yang menyebabkan terbatasnya pergerakan tulang-tulang tersebut.

    2. Sensorineural Hearing Loss

    Gangguan pendengaran terjadi akibat lesi di bagian penerimaan mulai dari koklea

    sampai ke otak. Jenis ketulian ini terjadi karena disfungsi dari sistem telinga dalam

    yang ditandai dengan kerusakan pada cilia (rambut) organ korti koklea yang

    berfungsi menghantarkan suara ke sistem saraf. Penyebab tuli sensorineural

    diantaranya toksin dari obat amminoglikosida (streptomisin, kanamycin), salisilat,

    kininr, sitostatika serta dari penyakit ginjal dan hepar, penyakit sistemik berupa

    diabetes mellitus, hipoteriodiea, multiple sclerosis, penyakit infeksi berupa virus

    (mobile, rubella, parotitis, meningitis. Degenerasi-akustik neurinoma, penyakit darah

    seperti anemia, leukemia, hipertensi dan akustik neurinoma.

  • 11

    3. Mixed Hearing Loss

    Ketulian ini berupa gabungan dari conductive hearing loss dan sensorineural hearing

    loss yang ditandai dengan kondisi penderita yang mengalami permasalahan di bagian

    telinga luar atau tengah seperti infeksius dan rambut pengantar suara ke saraf yang

    bermasalah akibat pajanan bising yang berlebihan (Akbar, 2012).

    2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Dengar

    Seseorang yang terpajan kebisingan tingkat tinggi dalam jangka waktu yang cukup

    lama dapat memicu penurunan pendengaran atau ketulian. Banyak faktor risiko yang

    berpengaruh terhadap derajat atau tingkat keparahan penurunan pendengaran atau

    ketulian, antara lain intensitas kebisingan, lama pajanan bising, masa kerja, kepekaan

    individu yang meliputi umur, konsumsi obat-obatan ototoksik dan kepatuhan penggunaan

    alat pelindung telinga.

    1. Intensitas Kebisingan

    Tingkat intensitas kebisingan yang melebihi nilai ambang batas akan menyebabkan

    gangguan pendengaran yang serius dan bersifat akumulatif sehingga bila terpapar

    kebisingan dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan pendengaran

    permanen. Telinga manusia mempunyai ambang dengar terendah 0,00002 N/m2 dan

    tertinggi adalah 200 N/m2. Untuk mempermudah penggunaannya maka digunakan

    skala logaritma yang disebut decibel (dB), sehingga peningkatan tiga decibel pada

    tingkat suara sudah merupakan penggandaan dari intensitas kebisingan. Sedangkan

    untuk memperhitungkan sensitifitas telinga manusia yang berbeda untuk frekuensi

    yang berbeda, maka kekuatan atau intensitas kebisingan diukur dalam satuan dBA

    (Work n.d. 2008). Di lingkungan industri, umumnya kebisingan dapat berasal dari

  • 12

    lebih satu sumber suara. Mengingat perhitungan intensitas bunyi dalam bentuk desibel

    logaritmik, maka bunyi secara kumulatif bukan penjumlahan aljabar. Efek kebisingan

    gabungan dapat dihitung dengan berpedoman pada tabel berikut ini (Pusat

    Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes, 2006).

    Tabel 2.32 Intensitas Kebisingan Gabungan

    Perbedaan Intensitas Bunyi dalam

    dB

    Penambahan pada Intensitas yang

    Lebih Tinggi

    0 atau 1 3

    2 atau 3 2

    4 sampai 9 1

    10 atau lebih 0

    Catatan: Jika 2 sumber bunyi 90 dan 93 dB maka kebisingan kumulatif adalah 93+2 =

    95 dB.

    2. Lama Pajanan Bising

    Untuk mengetahui tingkat bahaya suatu kebisingan selain memperhatikan faktor

    intensitas kebisingan, indikator lain yang juga berperan penting terhadap penentuan

    bahaya kebisingan adalah durasi pajanan bising. Time-weighted Average (TWA)

    dalam hal ini digunakan pada waktu kerja 8 jam. Dasar pertimbangan dari TWA ini

    untuk menilai efek kebisingan yang diterima sebanding dengan lama pekerja terpajan

    bising (Work n.d. 2008). Besaran pajanan bising yang diterima diukur dengan

    perhitungan L equivalent yaitu jumlah rata-rata pajanan bising yang diterima pekerja

    selama waktu kerja tertentu dalam satuan dBA. Perhitungan dilakukan dengan

    menggunakan rumus (Akbar, 2012):

  • 13

    Keterangan:

    T = Total waktu

    t1,2,n = waktu pada tingkat kebisingan tertentu

    L1,2,n = Tingkat kebisingan selama periode waktu tertentu

    Sedangkan untuk mengetahui persentase tingkat bising yang diterima pekerja selama

    bekerja dengan mengurangi daya reduksi alat pelindung telinga yakni NRR (Noise

    Reduction Rate) dapat merujuk pada data spec product dan menggunakan rumus

    (Akbar, 2012):

    Leq NRR

    Kemudian besar dosis pajanan efektif dalam decibel ini dikonversikan ke dalam

    bentuk persentase (%) dengan menggunakan rumus berikut ini yang selanjutkan

    dikalikan 100% untuk melihat persentase dosis pajanan bising yang diterima pekerja

    (Akbar, 2012).

    D = 85 + 10 log(f)

    3. Umur Pekerja

    Faktor umur menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan terjadinya gangguan

    pendengaran yang harus diperhatikan walau sebagai faktor perancu (confounding).

    Pertambahan usia memberi kontribusi terhadap perubahan fisiologi pendengaran. Hal

    ini dikarenakan membran yang ada di telinga bagian tengah, termasuk gendang telinga

    menjadi kurang fleksibel, kekakuan pada tulang-tulang kecil di telinga bagian tengah

    dan kerusakan sel-sel rambut pada telinga bagian dalam dan koklea. Penurunan

    persepsi terhadap bunyi frekuensi tinggi dan penurunan kemampuan membedakan

    bunyi disebut Presbycusis. Kondisi ini diasumsikan dapat menyebabkan kenaikan

  • 14

    ambang dengar 0,5 dB setiap tahun yang dimulai dari usia 40 tahun. Kondisi ini

    menggambarkan bahwa pertambahan usia me

Recommended

View more >