137907369 abses mastoid

Download 137907369 Abses Mastoid

Post on 14-Dec-2015

41 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

GFCHGCHG

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

Abses mastoid adalah suatu perjalanan penyakit yang berkembang dari mastoiditis, di mana terjadi penumpukan eksudat berupa pus dalam sel mastoid,sebagai bagian proses peradangan dari mukosa sel-sel mastoid. Mastoiditis ini sendiri terjadi karena adanya perluasan peradangan yang terjadi pada telinga tengah (otitis media) melalui penghubung epitimpanum dengan antrum mastoid yaitu aditus ad antrum ke dalam sel-sel tulang mastoid. Otitis media yang banyak berkembang menjadi abses mastoid ini adalah otitis media supuratif kronik tipe maligna.Otitis media paling banyak terjadi pada anak-anak, hal ini berhubungan di antaranya karena bentuk tuba eustachius pada anak-anak yang masih lebih pendek dan mendatar serta imunitas anak yang belum kuat menyebabkan anak-anak cenderung untuk mengalami otitis media, akibatnya hal ini diikuti pula dengan tingginya angka kejadian abses mastoid pada anak.Pada zaman sebelum adanya antibiotik mastoidektomi dilakukan pada hampir dari 20% kasus otitis media akut. Saat dimulai era antibiotik yaitu sejak tahun 1948 angka kejadian abses mastoid yang timbul sebagai komplikasi ekstrakranial dari otitis media ini semakin menurun menurun kurang dari 3%. Namun begitu, abses mastoid masih harus mendapat perhatian serius terlebih mengenai diagnosis serta tatalaksananya karena apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat abses ini akan berkembang lebih jauh dan menjadi sumber infeksi bagi daerah-daerah yang sehat di sekitarnya.Abses mastoid sebagai komplikasi dari otitis media yang berbahaya karena penyebaran proses radang tidak hanya terbatas pada tulang mastoid saja namun dapat meluas ke tempat lain yaitu pada bagian posterior ke sinus sigmoid (yang dapat menyebabkan thrombosis), penyebaran ke posterior juga dapat mencapai tulang oksipital yang kemudian menyebabkan osteomielitis calvaria atau abses Citelli. Penyebaran ke superior dapat mencapai fossa posterior cranium, subdural, dan meningen. Penyebaran ke anterior pus menyebar melalui aditus ad antrum ke telinga tengah, ke lateral dapat membentuk subperiosteal abses, ke inferior dapat terbetuk Bezoldabscess; suatu abses pada bagian belakang insertion muskulus sternocleidomastoideus, dan medial menyebar ke apex petrous menyebabkan petrositis. Komplikasi mastoiditis intratemporal dapat berupa gangguan pada nervus facialis dan atau labirin. Adanya banyak kemungkinan komplikasi dan perkembangan lebih jauh dari abses mastoid ini, maka akan dilakukan suatu diskusi kasus yang membahas lebih jauh mengenai penyebab yang mendasari hingga tatalaksana dari kasus ini.

BAB IIPEMBAHASAN

A. Definisi Abses MastoidAbses Mastoid adalah kumpulan nanah (netrofil yang telah mati) yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan, sel-sel mastoid yang terletak di tulang temporal karena adanya proses infeksi (biasanya oleh bakteri atau parasit ) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau jarum suntik). Abses mastoid adalah suatu perjalanan penyakit yang berkembang dari mastoiditis. Mastoiditis ini sendiri merupakan salah satu komplikasi yang timbul dari otitis media akut ataupun otitis media supuratif kronik, Telinga tengah dan tulang mastoid memiliki hubungan yang langsung, sehingga jika terjadi infeksi pada telinga tengah (otitis media), akan dapat menjalar melalui penghubung epitimpanum dengan antrum mastoid yaitu aditus ad antrum ke dalam sel-sel tulang.

B. Anatomi Telinga TengahTelinga tengah terdiri dari membran timpani, kavum timpani, tuba auditiva dan prosessus mastoideus.1. Membran TimpaniMembran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani yang memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membran ini memiliki panjang vertikal rata-rata 9-10 mm dan diameter antero-posterior kira-kira 8-9 mm dengan ketebalannya rata-rata 0,1 mm. Secara Anatomis membran timpani dibagi dalam 2 bagian, yaitu: Pars tensa dan pars flaksida. Pars tensa merupakan bagian terbesar dari membran timpani suatu permukaan yang tegang dan bergetar dengan sekelilingnya yang menebal dan melekat di anulus timpanikus pada sulkus timpanikus pada tulang dari tulang temporal. Pars flaksida atau membran Shrapnell, letaknya dibagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa. Pars flaksida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu plika maleolaris anterior (lipatan muka) dan plika maleolaris posterior (lipatan belakang).

Gambar 1. Membran timpani2. Cavum TimpaniKavum timpani merupakan rongga yang disebelah lateral dibatasi oleh membran timpani, disebelah medial oleh promontorium, di sebelah superior oleh tegmen timpani dan inferior oleh bulbus jugularis dan n. Fasialis. Dinding posterior dekat ke atap, mempunyai satu saluran disebut aditus, yang menghubungkan kavum timpani dengan antrum mastoid melalui epitimpanum. Pada bagian posterior ini, dari medial ke lateral, terdapat eminentia piramidalis yang terletak di bagian superior-medial dinding posterior, kemudian sinus posterior yang membatasi eminentia piramidalis dengan tempat keluarnya korda timpani.

Gambar 2. Kavum timpaniKavum timpani terutama berisi udara yang mempunyai ventilasi ke nasofaring melalui tuba Eustachius. Menurut ketinggian batas superior dan inferior membran timpani, kavum timpani dibagi menjadi tiga bagian, yaitu epitimpanum yang merupakan bagian kavum timpani yang lebih tinggi dari batas superior membran timpani, mesotimpanum yang merupakan ruangan di antara batas atas dengan batas bawah membrane timpani, dan hipotimpanum yaitu bagian kavum timpani yang terletak lebih rendah dari batas bawah membran timpani. Di dalam kavum timpani terdapat tiga buah tulang pendengaran (osikel), dari luar ke dalam maleus, inkus dan stapes. Selain itu terdapat juga korda timpani, muskulus tensor timpani dan ligamentum muskulus stapedius.

3. Tuba AuditivaTuba Eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani, bentuknya seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan antara kavum timpani dengan nasofaring. Tuba Eustachius terdiri dari 2 bagian yaitu : bagian tulang yang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian) dan bagian tulang rawan yang terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian).

Gambar 3. Tuba Eustachius

Fungsi tuba Eusthachius untuk ventilasi telinga yang mempertahankan keseimbangan tekanan udara di dalam kavum timpani dengan tekanan udara luar, drainase sekret yang berasal dari kavum timpani menuju ke nasofaring dan menghalangi masuknya sekret dari nasofaring menuju ke kavum timpani.Pada bayi dan anak kecil, saluran ini pendek (10 mm) dan lurus, pada orang dewasa panjangnya sekitar 30-40 mm dan melengkung. Pada posisi berbaring, tuba ini pada bayi dan anak kecil berkedudukan tegak lurus sehingga memudahkan masuknya lendir (dan infeksi) dari sekitar hidung ke tuba ini. Keadaan ini memudahkan terjadinya infeksi rongga telinga tengah pada bayi dan anak kecil (otitis media akut).

4. Prosessus MastoideusRongga mastoid berbentuk seperti segitiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fossa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak di bawah duramater pada daerah tersebut dan pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum.

C. Hubungan antara Telinga Tengah dan Tulang MastoidTelinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan enam sisi. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut berbentuk baji. Promontorium pada dinding medial meluas ke lateral ke arah umbo dari membran timpani sehingga kotak tersebut lebih sempit pada bagian tengah.Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fosa kranii media. Pada bagian atas dinding posterior terdapat aditus ad antrum tulang mastoid dan di bawahnya adalah saraf fasialis. Otot stapedius timbul pada daerah saraf fasialis dan tendonnya menembus melalui suatu piramid tulang menuju ke leher stapes. Saraf korda timpani timbul dari saraf fasialis di bawah stapedius dan berjalan ke lateral depan menuju inkus tetapi di medial maleus, untuk keluar dari telinga tengah lewat sutura petrotimpanika. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingua1is dan menghantarkan serabut-serabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan serabut-serabut pengecap dari dua pertiga anterior lidah.

Gambar 4. Letak tulang mastoid pada telinga tengahDasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang di sebelah superolateral menjadi sinus sigmodeus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya adalah a1iran vena utama rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke telinga tengah dari dasarnya. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus. Di atas kanalis ini, muara tuba eustacius dan otot tensor timpani yang menempati daerah superior tuba kemudian membalik, melingkari prosesus kokleariformis dan berinsersi pada leher maleus

Gambar 5. Letak Tulang mastoid di antara tulang-tulang sekitarnya

Dinding lateral dari telinga tengah adalah dinding tulang epitimpanum di bagian atas, membrana timpani, dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah. Bangunan yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran koklea yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintas promontorium ini. Fenestra rotundum terletak di posteroinferior dari promontorium, sedangkan kaki stapes terletak pada fenestra ovalis pada batas posterosuperior promontorium. Kanalis falopii bertulang yang dilalui saraf fasialis terletak di atas fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis di anterior hingga piramid stapedius di posteriorRongga mastoid berbentuk seperti piramid bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoideus terletak di bawah duramater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Tonjolan kanalis semisir